Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, December 7, 2018

Cerpen "Andai Kami Bisa Bersaksi" Aris Munandar

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Andai Kami Bisa Bersaksi
Oleh: Aris Munandar
  
Warna bumi menjingga, pertanda hari menyuruh surya untuk tidur dan  digantikan bulan untuk lembur. Di permukaan kursi masih mengepul espresso yang baru lima menit ditinggal si pemesan. Maksud hatinya ingin memesan begitu si wanita yang ditunggunya tiba, namun si wanita tak kunjung menampakkan diri. Uap espresso-lah yang jadi pilihannya menenangkan jiwa yang menanti. Si pria bosan menunggu, lima menit kemudian ia menyerah, lalu pergi.
“Kasihan pria itu, aku tahu dia sedang menunggu,” Ucap Meja.
“Kadang kau memang suka sok tahu, tapi kali ini aku setuju,” Jawab Kursi setuju.
            Bunga yang dibawa si pria tadi jatuh pasrah menghantam lantai caffe  yang dingin, Lemas batal menjadi saksi kebahagiaan pertemuan yang telah lama di nanti. Kenapa sang wanita ingkar janji? Entahlah.
********
            Lonceng yang menggantung di atas pintu masuk berbunyi. Seorang pria memakai baju dan celana dengan warna senada membuka pintu. Memasang badan tegap layaknya Brigade Gurkha, namun sedikit berbeda dengan simpulan senyum hormat di wajahnya. Setelah itu masuk pria berusia lebih separuh baya, tapi masih tampak gagah bergaya perlente berbalut jas hitam tersetrika rapi yang tak mampu menutupi perut buncitnya.
“Kau lihat pria tua yang mengarah ke sini, aku rasa dia pejabat tinggi,” Kata si meja
“Bagaimana kau bisa merasa begitu yakin?,” Tanya si Kursi
“Kau lihat dandanannya, mulai dari jasnya, kemejanya, ikat pinggangnya, jam tangannya, sepatunya?, kau masih mempertanyakan mengapa aku begitu yakin?,” Kilah Meja memberi alasan.
“Ah, kata siapa harus jadi pejabat tinggi untuk memiliki barang-barang branded itu, pejabat rendahan pun bisa,” ucap Kursi menyanggah.
            Obrolan mereka terhenti kala pria berjas tadi duduk. Mungkin sifat alamiah mereka yang khawatir akan terdengar obrolannya oleh manusia. Padahal itu tidak mungkin. Itu hanya sebuah kekhawatiran.
Lama menunggu pelayan tak kunjung datang, si ajudan menghampirinya sendiri dan dengan setengah marah memesan. Setelah itu kembali duduk tenang mengawasi sekeliling. Sedari awal masuk, 15 menit berselang datang dua orang pria yang samar-samar dari kejauhan membawa masing-masing satu koper. Dua pria ini terlihat lebih santai karena hanya menggunakan kaos polo dan celana jeans. Pria yang berjalan di depan menggunakan kaos polo warna biru tua dan yang satunya menggunakan baju warna biru yang lebih lembut.  Dibumbuhi dengan topi dan kacamata, dengan sepatu kets adidas sebagai alas kakinya.
            Pria perlente menyodorkan tangan tanda mempersilakan tanpa mengangkat satu sentipun bokongnya dari kursi dan dibalas senyum seadanya oleh salah satu dari pria yang memegang koper. Sementara ajudannya terus mengawasi sekeliling dari meja lain.
“Ku kira kalian tipe orang berpikiran sama dengan orang Jepang, yang menganggap waktu adalah uang. Kalian terlambat 10 menit dan bodohnya aku berpikir datang lima menit lebih awal agar tidak terlambat,” Ucap si pria perlente dengan nada sedikit marah, namun menunjukkan air muka senyum meremehkan.
“Kalau terlambat sedikit untuk uang yang banyak bukannya tak jadi masalah,” Sanggah salah satu pria berkaos polo berwarna biru tua. “Ku dengar Anda sedang uji  materi kasus sengketa pilkada, bagaimana kemajuannya?” Sambungnya bertanya, sekedar berbasa-basi sebelum membuka koper.
            Meja merasa ada yang tidak beres. Tetesan keringat dari dahi pria perlente itu menyiratkan ada yang janggal di sini. Terlebih lagi dengan gaya dua pria berbaju biru yang layaknya intel yang tak ingin identitasnya diketahui sekitar.
 “Hei Kursi, aku melihat wajah si perlente sangat tak nyaman. Mungkin karena dilihat orang dan aku yakin ada yang tidak beres” Kata Meja dengan berbisik kepada Kursi disela obrolan manusia-manusia di atasnya.
“Yang nampak olehku hanya tengkuknya, namun aku bisa merasakan degup jantung gugup yang saking kuatnya sampai menembus punggungnya dan terasa olehku,” Jawab Kursi dengan analisanya. Kursi kayu jati dengan dudukan lembut ini memang suka mengidentifikasi orang yang mendudukinya, meski dengan kesan asal-asalan dan terlihat sok tau, namun jarang meleset.
            Pria berbaju biru muda membuka koper yang ada di tangannya. Terlihat beberapa daftar yang diperjelas dengan uraian di bagian lainnya. Ada sepuluh lembar kertas. Ditelungkupkan bagian tulisannya pada permukaan meja, hingga si Meja dapat mengintip tulisannya.
Shit, benar dugaan kita,” Maki Meja
“Ada apa kau tiba-tiba menghujat seperti itu?” Tanya Kursi
“Mereka sedang melakukan suap,” Jawab si Meja
 “Benarkah? terkutuklah kita jadi termpat transaksi,” Balas Kursi yang masih terkejut. “Dasar manusi feodal, membeku saja kau dalam waktu. Upeti untuk memuluskan rencana hati seperti zaman-zaman kerajaan masih saja dilakukan,” Lanjutnya.
“Lihatlah begitu kolotnya manusia-manusia ini, ketika zaman sudah mengalami evolusi, dari monarki sampai pada demokrasi, budayanya lama masih saja mengilhami sampai kini. Memang dulu itu dianggap biasa, tapi sekarang merupakan kejahatan luar biasa,” Meja panjang lebar menjelaskan.
 “Itulah Indonesia teman, tak tahu apakah manusia atau birokrasinya yang harus disalahkan, tapi jelas jika terdapat kekuasaan yang berlebihan, disitu timbul kecenderungan untuk berbuat curang,” Ucap Kursi
            Setelah itu mereka membisu, Kursi berekspresi yang sulit dibaca. Entah sedih, marah, kecewa, semua seperti samar-samar dan menyatu.
“Sungguh terhormatkah seorang Dirut perusahaan ekspor impor hasil pangan sampai hal seperti inipun menyuruh kalian,” Ucap si perlente menyindir.
“Dia sedang di luar negeri, dan dia tidak ingin membuang waktu emasmu dengan menunggu,” Ucap  pria berbaju biru tua. Sedang pria di sebelahnya hanya diam, mungkin fungsinya disini hanya menemani, memegang koper, dan membawa koper.
“Oh, sungguh mulia jika dia sendiri yang mengatakannya, aku pasti dengan senang hati menunaikan kewajibanku setelah aku mendapat apa yang menjadi hakku,”
            Pria baju biru muda membuka koper, lalu diserahkan kepada teman sebelahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, seakan keduanya sudah hafal betul setiap tindakan yang akan dilakukan. Lalu pria satunya menyerahkan kepada si perlente. Tapi tak sampai betul-betul di hadapannya, hanya setengah meja. Dia biarkan si perlente sedikit berusaha meraihnya.
“Cek itu baru dapat dicairkan lima hari setelah ini dan ku harap kau telah selesai membaca permintaan itu. Setelah itu kau haruspasti tau apa yang harus kau lakukan,” Pria berbaju biru menjelaskan. Namun hanya dibalas anggukan dengan senyum seadanya oleh si perlente.
            Lima menit setelah itu berlangsung tanpa sepatah katapun. Hanya diselingi sesapan kopi pria perlente. Setelah merasa tak ada lagi keharusan yang mereka kerjakan, dua pria berbaju biru tadi pun pergi, masih dengan masing-masing satu koper. Hanya saja tanpa isi. Selang beberapa detik setelah teman si perlente menghadap kasir, mereka pun beranjak.
“Aku merasa berdosa,” Kata Kursi
“Kau pikir aku tidak, hah,” Meja tak mau diam
“Apa mereka tidak merasa bersalah,”
“Kau lupa, mereka manusia. Mereka punya nurani, cuma sedang kabur oleh tumpukan upeti,”
“Bukan hanya karena diduduki tikus itu aku merasa berdosa, terlebih karena aku menyesali diriku yang tak dapat meneriakkan bahwa ada sesuatu disini,”
“Ah sudahlah Si, mungkin lebih berdosa mereka yang tahu dan bisa, tapi membisu,”
“Aku hanya berharap jika mereka tertangkap, negara kita tidak berbaik hati seperti Rumania yang memaafkan para korutor,”

***TAMAT***
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Thursday, December 6, 2018

Saat Maut Batal Menjemput

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Saat Maut Batal Menjemput
Sumber: http://duniamenggambar.blogspot.co.id
Penulis: Radhar Panca Dahana
Disadur dari Kompas edisi Minggu, 2 Maret 2017
Aku tahu, di tiap “sakit itu”, “tak siapa pun di situ”. Kesendirian, kadangkala juga sebuah kesunyian, memang, adalah watak sakit yang sebenarnya. Tapi tidak kali ini. “Sakit ini”, rasa sakit yang ada sekarang ini, bahkan “aku pun tidak ada di sini”. Entah kenapa. Aku belum paham, apakah ini hikmah atau jati diri sakit yang sesungguhnya. Yang melampaui kesadaran biologis dan kepekaan psikologisku. Ah... Aku...tidak cemas pada “sakit ini atau itu”, aku juga tidak peduli ini watak atau jati diri sakit yang sesungguhnya atau bukan. Apa yang kucemaskan hanyalah kesadaran dan kepekaan itu. Adakah aku masih memilikinya?
Aku mencoba paham, jangan-jangan aku sudah “mengatasi” sakit itu, atau ini keadaan yang “meng-atas-i” sakit ini? Aku mencoba sekuatnya untuk merasakan, menghayati, sebagaimana biasanya sakit semacam ini datang padaku. Tapi aneh, bahkan ajaib, untuk pertama kali aku tidak bisa mempekerjakan kesadaran fisiologis juga kepekaan psikologisku. Akal? Sejak mula sebenarnya sudah tidak bekerja. Ia berhenti dengan sendirinya. Ia bukan lagi sentrum atau pusat di mana seluruh kapasitas berbicara tubuh dan perasaanku ditentukan. Akal adalah bagian yang lebih cepat mati.
Mati? Jangan-jangan tak hanya akalku. Menurut ukuran medis di Amerika Serikat yang kutahu, kematian (biologis setidaknya) ditentukan oleh daya kerja otak, sebagai bagian paling sentral dari kehidupan (yang mereka percaya, tentu saja). Sebagai orang yang bukan-Amerika, sekurangnya menolak menjadi bagian dari sejarah peraaban mereka, aku tidak begitu peduli atau tergantung pada otak alias akal. Aku hidup dengan mengoperasikan secara lebih kuat daya kerja fisik dan mental-emosional. Katakanlah secara sempit dan reduktif, refleks dan rasa.
Begitu kali ini, di tingkat “sakit” ini”. Seluruh daya kukerahkan untuk mempekerjakan kekuatan, ilmu hingga kesadaran biologis dan psikisku. Namun sekian lama, sekian waktu yang kuanggap lebih dari cukup, aku tak merasakan apa-apa, tak menyadari apa-apa. Apa tubuh dan emosiku sudah tak bekerja lagi? Atau ia mati akibat kematian otakku? Tidak. Tubuh dan emosi adalah ilmu dan kesadaran, budaya dan peradaban tersendiri, kadang lebih kuat dari akal.
Tapi kini keduanya diam, sunyi sendiri. Apakah mereka pun mati? Apa artinya sesungguhnya sakit ini adalah mati yang sejati? Namun mengapa aku masih bisa melihat? Dengan penglihatan apa, dengan mata yang mana? Memang, pemandangan yang kulihat berbeda dari biasa. Langit, awan dan bintang misalnya nampak hanya kejembaran atau keluasan yang tak membutuhkan tepi bahkan isi. Kekosongan ini memnuhi pandang, bahkan mataku. Bahkan seluruh diriku kini seakan menjadi mata. Mata apa ini? Mataku mana? Mata siapa?
Kosong ini memadati aku seperti tenaga yang terus mengumpul tiada henti, dengan daya atau kekuatan tak terperi. Aku seperti noktah dengan gravitasi terbesar yang segera akan menciptakan bang, semacam ledakan yang sangat hebat. Seperti ereksi yang tak mungkin ditahan oleh kejadian atau perasaan apa pun. Beginikah kematian, puncak semua kesakitan, melenyapkan keseluruhan diri dengan ledakan besar untuk mengisi kosong yang penuh ini? Bagaimana aku sanggup menanggungnya? Tidak...tidak aku tak sanggup, Tuhan.
“Memang...bagaimana kau sanggup? Kau cuma manusia...cuma.”
“Betul. Apa daya manusia di keluasan, kepenuhan semesta.”
“Kamu bukan apa-apa...”
“Betul aku bukan apa-apa.”
....
“Lalu, aku apa?”
“Kamu sekedar mata.”
“Mata? Maksudmu?”
“Kamu hanya penglihatan. Hanya bisa melihat. Mungkin memahami, sedikit. Tapi tak bisa menyentuh...merasakan, memiliki...menciptakan, apalagi.”
“Oh...betul. Tapi mata ini saja sudah begitu luar biasa. Hingga apa yang kulihat tak mampu menangkapnya, menyimpan atau mencernanya. Tak ada sel otak mana pun, bahkan kata, huruf sekalipun dapat tersusun untuk memahami semua...semua yang ada pada mataku saat ini.”
“Inilah kenyataan kedua. Kenyataan yang harus kau baca.”
“Harus kubaca? Melihat pun aku tak bisa seluruhnya.”
“Apa kamu beragama?”
“Tentu saja.”
“Pernahkan kau membaca kitab-kitab dalam agamamu?
“Tentu.”
“Untuk apa?”
“Kewajiban.”
“Apa tujuannya?”
Ya...memahami isinya.”
“Pahamkah kamu?”
“...Saya tak tahu, tak bisa menilai.”
“Apa sebenarnya paham itu?”
“Aku tak mengerti maksudmu...?”
“Paham itu buka melulu mengerti arti, tersirat atau tersurat.”
....
Bukan sesuatu yang teranalisa, tersimpan dan tercerna dalam 11.300 cc isi otakmu. Bukan hal yang melulu akal.”
“Maksudmu...”
“Huruf terlalu terbatas dan miskin, bagi paham yang sebenarnya. Bagi kenyataan yang terlalu besar untuk tertangkap dan dicerna indra. Seluas apapun akal dan imajinasi, ia hanya sungai di samudra hidup sesungguhnya.”
....
“Sesungguhnya paham harus terjadi di seluruh bagian dirimu.”
“Bukan hanya pikiran?”
“Jantung, jempol, mata, rambut, tungkai, usus, batin, emosi, semua.”
“Bagaimana...?”
“Pertanyaannya keliru. Jawaban pasti juga salah. Berhentilah hidup hanya dengan akal. Tubuhmu terlalu hebat hanya untuk diperintah, diakali akal.”
“Sungguh...aku tak paham.”
“Keluarlah dari huruf. Temui kenyataan dan hidupmu yang sebenarnya, dengan seluruh yang ada pada dirimu. Dapatkanlah ilmu dalam jiwamu, dalam batinmu, dalam betismu, dalam jakunmu, gigimu, dalam langkahmu...”
“Bagaimana...bisa?”
“Tidak akan bisa. Karena kamu sudah terjebak sejak dini. Dalam huruf.”
“Tapi tulisan, itulah kebudayaan, kemajuan manusia, hidup sebenarnya?”
“Kebudayaan yang membuat keliru manusia, begitu lama.” Bibir misteri itu tersenyum , membuat langit terbuka dan seperti sebuah mata mengintip dibaliknya.
“Hah, jadi...”
“Jadilah mata sesungguhnya, untuk membaca...”
“Membaca apa? melihat pun tidak bisa.”
“Karena kau merasa ini matamu yang dulu, mata yang biasa, di kepala.”
“Maksudmu...ini mata yang lain lagi? Mata hati begitu?”
“Mata seluruh dirimu.”
“Diri yang menjadi mata?”
....
“Mata sebenarnya mata?”
....
“Mata yang melihat nyata yang sebenarnya nyata?”
Tersenyum lagi.
Kali ini langit lenyap. Semesta kosong, suwung. Aku tak dimana, tapi di sana. Semua senyum semata.
***
Sejak tadi, ya sejak tadi, aku berdialog. Begitu saja. Tanpa kesadaran, seperti dengan diri sendiri, seperti mimpi yang menguap. Begitu saja. Tapi...yang ini, bukan mimpi. Di depan mataku kini muncul satu wajah. Bukan ilusi atau fana. Nyata sebenarnya nyata. Wanita pula. Wanita yang tersenyum. Ya, senyum yang tadi. Senyum yang seperti ironik, mengejek, juga senang dan bahagia karena jawaban-jawaban terakhirku tadi? Monalisa?
Bukan. Ia lebih sempurna, jauh lebih indah, terlebih kedalaman samudera dibalik pandangnya. Ia memandangku dengan cara yang membuatmu tak berdaya karena ia memenuhi seluruh kosong yang sebelumnya memadatiku. Sinar matanya seperti riwayat jutaan tahun peradaban manusia, menukik ke bagian terdalam hati, merenggut dan menenggelamkanku, untuk selamanya. Untuk selamanya.
Mengapa? Karena kau merasa seperti mendapat bantalan tidur yang tidak memberi sedikit pun rasa ingin untuk bangun. Aku henyak, seperti duduk di pelaminan Adam.
“Apa kamu Eva?”
“Aku adalah semua Hawa yang kau butuhkan untuk kosongmu”
Ah...kalimat itu diakhiri oleh nafas yang menghembuskan udara dimana molekul-molekul penyusunnya bukan hanya menghidupkan makhluk, tapi juga benda mati. Inilah nafas Kun, benih yang menghidupkan. Begitu pun aku. Barang mati karena sakit ini.
 Dan apa yang dilakukan wanita sepenuh semesta dihadapanku ini selanjutnya, adalah mimpi semua lelaki dari masa paling purba. Termasuk, tentu saja, penderitaan lelaki yang sepanjang sejarah sebudayaannya sambil berurai airmata harus menindas perempuan karena inferioritasnya di hadapan perempuan. Menjadikanku lelaki sesungguhnya lelaki, memberi rasa bangga dan penghormatan sesungguhnya. Menjadi manusia sempurna dalam inferioritasnya.
Ia meladeniku jauh lebih baik dari cara terbaikku meladeninya. Ia mengasihiku jauh lebih indah ketimbang cinta termulia yang kurasa dapat kuberikan padanya. Ia melengkapi semua yang kosong seperti melesapnya air ke celah rendah manapun yang ia lewati. Tanpa pamrih, apalagi prasangka. Aku sungguh merasa menjadi lebih manusia, manusia-sempurna ketika ia membiarkan membaca, mengenali dan memahaminya lebih dalam.
“Ternyata kamu memang ada untuk menjadi bacaan terbaikku.”
Ia tersenyum.
“Menjadi pintu terbaik atau bahkan satu-satunya untuk memahami makna dari semesta tak terkatakan ini.”
Ia memeluk.
“Eva...kamu bukan hanya potongan yang melengkapi, tapi memang kesempurnaan itu sendiri.”
Ia mencium.
“Eva...tetaplah di sini. Selamanya. Atau kau akan membuatku jadi puing hina, sia-sia.”
Ia menggeluti seluruh inci dan saat hidupku, menciptakan kenyamanan yang bahkan nyawa tak mampu membayarnya. Aku tak kuat menahan airmata untuk kebahagiaan surgawi ini. Eva...kaulah surga sesungguhnya. Aku tak membutuhkan lagi apel, buah apapun, pohon apapun, karna kau pohon dan buah itu yang sebenarnya. Tolong, jangan renggut dirimu dariku, renggut aku dalam dirimu.
Ya Tuhan, mengapa Kau memberi nikmat yang begitu berlebih ini. Jangan...jangan, Tuhan. Janganlah berlebih begini, karena pasti aku tak mampu menanggung bayi yang pasti lahir dari surga yang kumiliki ini, yakni bayi kecemasan. Cemas karena Kaulah yang menghadirkan dan meluputkan surga...Eva, wanita bagi semua Adam ini.
“Eva...kamu dengar itu?”
Hmm...ia memagutku.
“Eva, dengar. Dengar ketakutanku itu.”
Hmmhh...ia merasuk ke seluruh celah kenikmatan dan menutup seluruh pandang.
“Eva...eh...jangan kamu pergi..ok?”
Ia tak bersuara, seperti kebisuan perempuan mencipta peradaban manusia pada intinya.
“Eva..eh...”
....
“Ehhh...ehhhh....”
Ya Tuhan, maaf...maaf, tak mampu aku menanggung kebahagiaan seperti ini.
Pluk...ada tetes, ya airmata yang jatuh. Tapi bukan punyaku.
“Eva...”
Pluk...
“Kamu menangis?”
Langit basah, semesta pun samudera airmata.
“Mengapa...mengapa menangis?”
Ia harus bisu. Tapi matanya seperti dulu. Dengan laut yang lebih dalam, sehingga tak ada malaikat maupun iblis mampu menjangkaunya. “Eva....”
Aku tak tahu apa yang terjadi. Dengan muka yang kuyup...entah sedih atau gembira terlukis di bibirnya...wanita segala nabi itu seperti gambar yang merabun menjelang magrib tiba. Menjauh.
“Mengapa...mengapa Eva?”
Ia tetap menjauh. Tangan tak menggapai. Jiwa pun tak sampai. Kecemasan itu bertamu selekas dan sekuat kepergian itu. Apa yang terjadi?
“Mengapa...mengapa, Tuhan?”
Aku ingin berteriak. Tapi Eva seperti lenyap juga sebagai nama. Berganti ketakutan yang datang seperti kepepatan dimana satu elemen udara pun tak tercipta untuk menghasilkan nafas. Semua terasa menghimpit dan sesak. Bahkan air mata tak tersisa. Hanya sakit. Ya rasa “sakit itu”. “Sakit ini” pun bersatu.
Tuhan.
***
Gelap
Dengan putus asa atau frustasi yang begitu genap, aku memejamkan mata. Menghiang pandang. Aku ingin buta. Aku buta. Aku tak perlu mata. Betapa hikmah besar itu tak tertanggungkan dalam kekerdilan manusiaku. Gelap...Cuma gelap yang kita rasa mampu menghindari kita dari cemas dan takut yang luar biasa.
Namun kau pun paham. Itu sia-sia, tipu daya percuma. Gelap justru mendatangkan cemas yang memalu hatiku kian pilu. Tuhan, betapa sakitnya. Betapa sunyi dan sendirinya, sakit seperti ini. Kenapa gelap tak mampu menutupinya, kenapa cahaya tak kuasa mengusirnya. Tuhan, apa mesti kuperbuat? Masihkah aku membutuhkan mata. Mata mana lagi?
“Bukalah matamu, Adam.”
?
“Hei bukalah matamu!”
?!! Eva?
“Eva siapa? Buka matamu, jangan bersandiwara lagi. Eva siapa?”
Plak!
Aku merasakan sakit, kali ini di pipi. Pipi?
Plak, plak!
Ya, pipiku terasa perih, sakit benar sehingga refleks aku membuka mata.
“Apa yang kamu pikirkan, lamunkan? Perempuan itu lagi? Eva sekarang namanya?”
Sekarang aku benar membuka mata, memandang. Dan sebuah pandangan di depan menghadang.  Pandangan kenyataan: seorang perempuan hampir empat puluhan, dengan tubuh yang coba ia pelihara dengan baik. Tegak di depanku, dengan mata tajam, berupaya lebih tajam dari pisau Swiss, tapi tak berhasil karena keluar negeri manapun ia tak pernah.
Ya, aku kenali sekali siapa yang menghadang pandanganku itu. Dia perempuan yang puluhan tahun ini bersamaku. Istri, istilah umumnya orang. Perempuan yang sudah memberi empat anak, dan menurut dia, membantuku untuk mendapatkan jabatan sebagai manajer di perusahaan exim tempatku bekerja sekarang.
Ia sungguh memandangku dengan serius, dan sinarnya seperti cahaya LED TV terbaruku, atau suratkabar, atau buku sejarah yang mengisahkan sejarah perempuan dengan riwayat-riwayat dahsyat tapi mengalami penindasan permanen oleh kebudayaan yang menurut mereka diciptakan lelaki. Dan aku adalah kompeni yang dilawan habis-habisan oleh keadaban padat dendam ini.
“Dik...”
“Tidak perlu dakdik dakdik...aku mau kamu jawab jujur saja...siapa Eva?”
“Aku gak tahu, Dik...gak ngerti.”
Plak!!
“Dik!”
Bibir perempuan itu tidak perlu monyong untuk cemberut atau marah. Tapi cemberut itu, yang ia sebut seksi, memang menjadi penggoda banyak pria saat aku dulu coba memacarinya. Aku sukses. Ya menikahi dia. Menikahi sejarah masa depan yang hampir membuatku menyesal menjadi lelaki.
Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti animasi yang berulang, suara berdebam yang melewati tiga dinding tetangga akan menjadi musik pembuka saat ia membanting pintu kamar tidur. Lalu seharian ia tidak keluar. Dan keluar beberapa lama setelah aku keluar rumah menjalani general menejerku.
Bila aku tidak bisa memberi jawaban memuaskan mengenai “siapa Eva”, tragik masa depan itu terjadi lagi, jadi semacam tradisi. Aku bangun menjelang subuh, berbenah sendiri, membuat sarapan sendiri, makan sendiri, melap mobil sendiri, memanaskannya, dan berangkat sendiri, tanpa satu pun bisa kusalami.
Sampai bila? Siapa bisa menerka. Karena hingga bila aku bisa menjawab pertanyaan absurd itu: “siapa Eva?” Aku memang tak mengenalnya. Tahu atau ingat pun tak. Hanya seolah ia bayangan yang sangat buram yang pernah menjadi bagian ingatan dari kulit, daging, kepala, hingga mataku. Tapi siapa?
Sesungguhnya kau tidak berani mengorek lebih dalam lagi. Memang masih ada getar aneh yang membuat kudukku meremang, seperti saat aku melihat Jennifer Lawrence berakting atau Adele bernyanyi. Hanya ada satu perasaan gelap sembunyi di situ, ketakutan mengerikan yang tak mampu aku tanggungkan. Apa? Siapa? Mautkah jangan-jangan itu?
Aku tak berani spekulasi lebih jauh. Saat makan siang tiba. Aku membuka tas dan mengeluarkan kotak plastik dimana udapan yang kumasak sendiri menjadi pengisi lunch time-ku. Di meja general manajer ini. Sendiri.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info