Showing posts with label Agama Buddha. Show all posts
Showing posts with label Agama Buddha. Show all posts

Thursday, March 20, 2014

BUKU PERINGATAN WAISAK 2503 (1959)

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU PERINGATAN WAISAK 2503 (1959)

Ivan Taniputera
9 Maret 2014




Judul: Buku Peringatan Perajaan Waisak 2503: Sambutan, Peladjaran, Sedjarah, Sutta-Sutta, dan Lain2.
Penerbit: Panitya Pusat Perajaan Waisak Semarang.
Jumlah halaman: 68.

Buku ini berisi beberapa pelajaran dan artikel mengenai Agama Buddha. Pada halaman 4 terdapat pesan Presiden Rajendra Prasad dari India. Ada pun kutipannya adalah sebagai berikut:

"Pada hari jang berbahagia ini, maka kami mengirimkan salam kami kepada semua machluk, baik jang ada didalam negara ini, mamupun diluar negeri.
Hari ini adalah HARI BESAR untuk Seluruh Dunia, karena perhatian kita dipusatkan kepada salah satu jang Termulia dari PESANAN2 dalam Harta Warisan manusia. PESAN SANG BUDDHA kelihatannja bertentangan dengan dunia sekarang, tetapi walaupun demikian PESAN itu dapat menarik dengan mudah seorang manjsia jang modern, terutama karena keluhurunNja...."

Pada halaman 6 hingga 7 terdapat pesan dari perdana menteri India waktu itu, yakni Pandit Jawaharlal Nehru, bertajuk "Hanja Sang Buddha Dapat Menjelamatkan Kita."

Pada halaman 8 terdapat pesan dari J.M. Ven. M. Pannasiha Maha Nayaka Thera, Vajirarama, dari Srilanka.

Pada halaman 9-11 terdapat pesan dari J.M. Bhikkhu A. Jinarakkhita. Berikut ini adalah kutipannya:

"Sangha ini adalah suatu badan jang terdiri dari mereka jang telah meninggalkan segala keduniawian, setelah mendjalankan berberaa upatjara berdasarkan peraturan-peraturan tertentu..."

Kemudian terdapat daftar para bhikkhu yang berkunjung pada perayaan Waisak 2503.

Selanjutnya masih terdapat berbagai iklan dan artikel-artikel menarik lainnya.

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

BUKU TENTANG HIKAYAT SERTA LEGENDA DALAM AGAMA HINDU DAN BUDDHA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU TENTANG HIKAYAT SERTA LEGENDA DALAM AGAMA HINDU DAN BUDDHA

Ivan Taniputera
16 Maret 2014




Judul: Gewijde, Verhalen en Legenden van Hindoes en Boeddhisten
Penulis: Dr H. J. van Prooye-Salomons
Penerbit: Zutphen-W.J. Thieme & Cie., 1916
Jumlah halaman: 409
Bahasa: Belanda

Pada buku ini terdapat keterangan sebagai berikut:

"Vrij bewerkt naar

Myths of the Hindus and Buddhists by the Sister Nivedita (Margaret E. Noble) of Ramakrishna-Vivekananda and Ananda K. Coomaraswamy."

Terjemahan:

"Saduran bebas dari


Myths of the Hindus and Buddhists by the Sister Nivedita (Margaret E. Noble) of Ramakrishna-Vivekananda and Ananda K. Coomaraswamy."

Berikut ini adalah daftar isinya:




Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya.




Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Tuesday, February 18, 2014

BUKU PELAJARAN AGAMA BUDDHA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU PELAJARAN AGAMA BUDDHA

Ivan Taniputera
17 Februari 2014



Judul: Buddhism: Beberapa Azas-Peladjaran Hinayana
Terdapat keterangan: "Diterdjemahkan setjara bebas dan disadur dari "Buddhism" karangan C.H.S. Ward, dengan sekedar pendjelasan oleh penterdjeman."
Penerbit: Duduaku d/a Tata Usaha Harian "Sin Min", Semarang 1957
Jumlah halaman: 52

Buku ini memaparkan ajaran-ajaran Agama Buddha. Berikut ini adalah kutipan dari halaman 3:

"Philosofi dari Buddhism utamakan Psychology, sedang ethikanja tidak dapat dipisahkan sama sekali dari Metaphysikanja. Tudjuan utama dari Philosofi itu bukan berdasarkan intelektuil tetapi mengenakan achlak-mentjapai pembebas dari penderitaan dan ketiada ketentraman dalam penghidupan, tudjuan jang sutji dan agung dari Buddhism, Nirvana.

Dalam Pitakas dinjatakan bahwa Gotama Buddha tidak menaruh minat dalam soal2 metaphysika, baginja soal itu merupakan persoalan jang tidak berikan manfaat dan mengsia-siakan waktu melulu. Sampaipun dalam peladjaran2nja jang keliwat sukar dapat dimengertikan tudjuannja ialah berdasarkan achlak...."

Berikut ini adalah penjelasan mengenai konsep anatta sebagaimana yang terdapat pada halaman 9:

"Dalam keadaan demikian karena kita tidak pula memiliki persepsi ataupun konsepsi bagi terdapatnja "kesatuan", mungkin karena itu Buddha katakan, bahwa pada manusia tiada terdapat sesuatu kesatuan atau suka ialah "tanpa sukma". ......"

Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:



Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, February 17, 2014

CACING PADA KOTORAN ANJING

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
CACING PADA KOTORAN ANJING

Artikel Dharma ke-42, Februari 2014

Ivan Taniputera
17 Februari 2014



Alkisah ada dua orang guru yang merasa bahwa mereka telah berhasil menghilangkan keakuannya. Oleh karenanya, mereka lantas bertanding guna membuktikan hal itu. Caranya adalah dengan bertanding menyebut dirinya menjadi sosok atau sesuatu yang paling hina. Siapa yang bersedia menjadikan dirinya sebagai sosok atau sesuatu paling hina, maka dialah yang menang. 

Guru pertama berkata, "Aku adalah seekor anjing."
Guru kedua berkata, "Aku adalah kotoran anjing."
Guru pertama berkata lagi," Aku adalah cacing pada kotoran anjing."
Guru kedua berkata, "Baik kamu menang."

Bagaimanakah kita memaknai perlombaan di atas. Sesungguhnya perlombaan di atas adalah suatu anekdot menarik. Meskipun berlomba membuktikan keakuan siapa yang paling rendah, namun sesungguhnya perlombaan di atas justru memperkuat keakuan masing-masing. Suatu perlombaan adalah mengenai menang dan kalah: Aku menang dan kamu kalah. 

Pada kenyataannya di muka bumi banyak orang yang melakukan "perlombaan spiritual" semacam itu. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan bahwa dirinya memiliki lebih sedikit keakuan, lebih sedikit kekotoran batin, lebih sedikit kemelekatan, dan lain sebagainya. Tetapi benarkah spiritualisme adalah sesuatu yang dapat dilombakan? Inilah yang perlu kita renungkan bersama. Benarkah mereka memiliki lebih sedikit kemelekatan. Bukankah pada suatu perlombaan itu terdapat unsur "kemelekatan untuk menang"?

Guru kedua yang berkata, "Baik kamu menang," pun sebenarnya mengatakan demikian untuk menang. Karena membiarkan guru pertama menang, maka ia hendak menyatakan bahwa dirinya "lebih hina" dibandingkan guru pertama. Karena menyatakan dirinya "lebih hina" dari guru pertama, maka dirinyalah secara kata-kata yang menang. Jadi taktiknya adalah memenangkan orang lain demi memenangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, guru kedua lebih cerdik, tetapi dari sisi realisasi spiritual tetap saja ia masih memiliki keakuan dan keakuannya tidak lebih kecil dibandingkan guru pertama.

Jadi, perlombaan tersebut adalah gagal karena perealisasian spiritual tidak bisa dilombakan. Anda memiliki realisasi spiritual lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan orang lain itu tidaklah penting.

Kini adakah di antara Anda sekalian yang masih ingin berlomba membuktikan keakuannya paling rendah atau tidak lagi memiliki keakuan? Atau siapakah di antara kalian yang tidak lagi memiliki keakuan (atta)? Silakan tunjuk jari.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, January 25, 2014

BELAJAR DARI SEONGGOK LEMPUNG

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BELAJAR DARI SEONGGOK LEMPUNG

Artikel Dharma ke-40, Januari 2014

Ivan Taniputera.
24 Januari 2014



Banyak umat Buddha masih melekat pada "sosok" dalam mempelajari Dharma. Dalam artian hanya mau mendengarkan Dharma dari "sosok-sosok" yang mereka kagumi. "Sosok-sosok" yang pandai berbicara dan sanggup menyentuh sanubari mereka. Jika ada "sosok" yang tidak mereka sukai namun sama-sama mengajarkan Dharma, kemungkinan besar mereka akan menolaknya. Padahal, Dharma itu tidak ada kaitannya dengan sebuah "sosok." Jika masih melekat pada "sosok," maka itu masih bukan merupakan Dharma yang "sejati."

Sebagai contoh, dapatkah kita belajar pada seonggok lempung? Seonggok lempung adalah sesuatu yang kerap kita pandang sebagai kotor dan menjijikkan. Sesuatu yang ingin kita jauhi, berbeda dengan "sosok-sosok" agung dengan banyak pengikut yang duduk di atas singgasana Dharma sebagaimana sumber kekaguman kita. Padahal seonggok lempung mengajarkan banyak kebenaran hakiki pada kita. Yang pertama adalah mengenai ketidak-kekalan (anicca, anitya). Seonggok lempung itu saat ini ada, namun entah beberapa saat lagi. Mungkin ada kendaraan yang melindasnya dan bentuknya sudah berubah. Mungkin pula hujan turun dan lempung itu menjadi larut, sehingga tidak meninggalkan jejak keberadaannya lagi. Lempung adalah sesuatu yang mudah sekali berubah. Demikianlah hakikat ketidak-kekalan.

Pelajaran kedua, mari kita renungkan, seonggok lempung mengajarkan pada kita kebenaran tersebut, tanpa tendensi atau niat tersembunyi apa pun. Kita tidak mengetahui apakah "sosok" yang kita kagumi memendam niat atau tendensi tersembunyi atau tidak dalam mengajarkan Dharma. Apakah ia mengajar Dharma secara tulus atau tidak, kita tidak mengetahuinya. Namun seonggok lempung sudah pasti tidak memendam tendensi apa pun. Seonggok lempung adalah seonggok lempung. Tidak lebih dan tidak kurang.

Marilah kita menghaturkan hormat pada seonggok lempung yang telah mengajarkan kita kebenaran berharga.

Dalam mendengarkan Dharma, perhatian kita janganlah terpaku pada "sosok" melainkan pada Dharma yang diajarkannya. Kebenaran apakah yang disampaikannya? Kita pelajari dan serap semuanya. Bahkan dari gemerisik dedaunan dan orang awam yang menyelamatkan nyawa seekor anjing pun kita dapat menimba kebenaran berharga. Termasuk dari ajaran-ajaran yang kita "labeli" sebagai bukan-Dharma pun kita dapat memperoleh pengetahuan sejati. Dharma atau kebenaran sejati itu sesungguhnya tiada terbatas, oleh karenanya ia disebut anuttara atau melampaui segalanya.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info