Showing posts with label Tetesan Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Tetesan Ilmu. Show all posts

Friday, December 30, 2011

Esensi sebuah nama: Yuli

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Setiap orang selalu ingin mengenalkan dirinya, atau membuat orang lain mengenalnya. Bahkan belakangan sering muncul sindrom eksistensi diri; individu ingin dikenal, didengar, diperhatikan, dan mendapat pujian. Seringkali kemunculan sindrom ini tidak berimbang, karena hanya teraktual pada dirinya, tanpa melakukan feedback untuk memperhatikan dan juga mengenali orang lain. I hope I'm not like it.

Aku juga ingin mengenalkan diriku, dan sedikit mengingat-ingat prestasiku yang tidak pernah aku appresiasi. Baru kali ini aku coba-coba mengingatnya kembali sambil membuka piagam-piagam zaman sekolah dulu. Ternyata ada juga, semangat itu, semangat anak sekolahan.

Nama lengkapku Yuliana Setia Rahayu. Nama yang mudah dieja, tapi terkadang masih salah dalam penulisan. Kesalahan paling sering pada 'Setia' yang ditulis 'Setya'. Kata setia memang kurang lazim untuk nama, tapi ejaannya sempurna kan? sesuai EYD, hehehe. Kesalahan fatal yang pernah dialami namaku, ketika ditulis menjadi Yuliana Setianingsih, atau Yulia Setiana Rahayu. Ini akibat kalau tak benar-benar terkenal ya, huft.

Di usiaku yang sekarang, aku paling suka dipanggil Yuli. Jangan Yuliana, aku merasa asing dengan nama itu. Nama kecilku Liana. Panggilan dari seluruh keluarga dan tetangga. Nama panggilan yang indah, namun selalu asing jika disebut oleh orang yang tak biasa memanggilku dengan nama itu. Setiap kenaikan jenjang pendidikan, aku selalu berusaha mengubah panggilan Yuli dengan Liana. Tapi sayang, teman-temanku lebih mudah memanggilku Yuli. Jika dipikir-pikir, nanti aku juga yang akan bingung, punya banyak nama di antara teman-temanku, jangan-jangan nanti akan sulit mengidentifikasi diriku. Sekarang aku malah begitu mencintai nama itu. Kata Yuli dan Rahayu, adalah dua yang paling kusenangi dari namaku.

Nama panjangku itu, pernah kutanyakan artinya pada ibuku. Waktu itu aku sudah duduk di bangku SMA, karena baru pada usia itu aku bisa sedikit dekat dengan ayah dan ibuku. Sebelumnya, tepatnya di kelas 4 SD, ketika sudah ada pelajaran bahasa daerah di sekolah, aku tahu arti kata "Rahayu" dari buku Pepak Basa Jawa, artinya keselamatan, ucapan selamat datang. Setelah kukonfirmasi, memang bapak yang asli Jawa yang menyandingkannya dengan kata Yuliana Setia. Nama Yuliana sendiri, inspirasinya adalah sebuah Telenovela tahun '90-an (kalau tidak salah, kata ibuku judulnya Little Miss) yang tokoh protagonisnya bernama Yuliana. Kata ibuku, dia adalah tokoh yang cantik, baik hati, pintar dan sabar. Jadilah nama itu diambilnya untukku. Ah ibu, untungnya dulu sinetron belum booming, bisa-bisa namaku jadi Binar, Bening, Berlian, atau bahkan Amira.

Ketika mendalami Islam, aku pernah bersedih atas namaku. Namaku tidak diambil dari bahasa Al Qur'an. Nama yang demikian akan dipanggil oleh Allah di urutan terakhir, karena pelafalannya berbeda dengan bahasa Kalamullah. Sampai pernah terbesit dalam benakku untuk berganti nama. Tapi sungguh, nama ini adalah doa paling kekal yang dipanjatkan kedua orang tuaku. Aku harus bangga dengannya. Kelak aku akan memperbaikinya pada keturunan-keturunanku.

Soal nama, ternyata masih panjang. Ada nama-nama lain yang pernah kubuat sebagai identitasku. Saking banyaknya sampai aku bingung, mana yang harus aku kenalkan sebagai nama penaku nanti, jika suatu saat aku benar-benar menjadi penulis. Yah, nama pena. Kata orang kita perlu dikenal dengan nama yang menjual. Tapi bukan jual nama ya.

Nama pertama yang selalu kucoretkan pada lembar-lembar karyaku adalah "U_Ly" yang kata teman-temanku keren. Sebenarnya ini menyalahi ejaan dan sok Inggris. Pelafalannya menggunakan bahasa inggris campuran. loh, memang ada? Ada. Ya nama itu. "U" di eja Yu, dan "Ly" di eja Li. bacaanya tetap Yuli. Tapi harusnya jika memang memakai ejaan inggris, membacanya Yu-Lay kan? Begitulah bahasa gaul era milenium.

Nama kedua Liliput. Nama ini masih terus kupakai sebagai ID jika sedang bermain game. Game apapun, selalu kumasuki dengan nama ini. Nama yang gamers kan?

Nama selanjutnya, Qathrun Yuli Nada. Aku paling suka nama ini. Qathrunnada adalah bahasa Arab yang artinya setetes embun. Sebenarnya aku merencanakan nama ini untuk nama anakku nanti. Tapi kok lama sekali, jadi kupakai saja, hohoho. Aku menemukan nama ini ketika sedang membuka-buka buku Kumpulan Nama Anak Islami, yang dibeli bule'ku untuk mencarikan nama anaknya. Di ID ini aku sisipkan nama Yuli, karena seperti yang kubilang, aku benar-benar menyukainya. Nama ini adalah nama kedua untuk akun facebookku, setelah nama asliku.

Nama keberapakah Ummi Yuli Hurairah? Nama ini muncul akibat kegandrunganku pada kucing. Hewan satu itu memang sangat menggemaskan. Dimanapun aku menemui mereka, aku selalu menyapa dan mengajak mereka bermain. Apalagi kucing-kucing kecil yang baru lahir. Mereka sangat lucu, lincah, dan menggemaskan. Kebiasaan ini membuatku mendapat julukan Ummi Hurairah dari beberapa saudara dan sahabat. Akhirnya ini memotivasiku untuk mengubah nama akunku setelah Yuli Yang Baru dan Yuli Lebih Baru menjadi Ummi Yuli Hurairah. Wah, gandrung sekali aku gonta-ganti nama akun ya. Ini mungkin karena aku yang gampang sekali bosan.

Nama terakhir -semoga aku tak ingin membuat nama lagi-, adalah Yuli Ramahayu. Nama ini akhirnya menjadi nama penaku, arena paling dekat dengan nama asliku. Sebenarnya cukup dengan Yuli Rahayu, tapi ternyata nama ini sangat banyak, angat pasaran, hehehe. Jadilah Kusisipi kata Rama disana, yagn jika digabung dengan namaku menjadi Yuli Ramah-ayu. Sedikit doa untuk diriku sendiri.

Yuli Ramahayu, Telang, 301211

Sudah, itu saja soal namaku. Tapi daripada bacaan di atas tiada manfaatnya, aku copaskan sebuah artikel ya:

Oleh: Anna Mariani Kartasasmita, SH. MPsi. dipostkan di http://daruljannah.blogdetik.com/2008/05/09/pengaruh-nama-pada-anak/

Pengaruh Nama pada Anak

Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri si pemilik nama.

Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di belakang namanya”. Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.

Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to” demikian alasannya.

Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti.

Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak.

Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:

1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).

Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”

2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah:

Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian“.

* Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.

* Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.

Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:

* Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang.

* Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negatif.

* Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.

Pengaruh nama pada anak:

Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.

Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.

Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri.

Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang memiliki huruf ‘R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman) dilafalkan menjadi Auda.

Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa.

Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?

Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya. Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar, ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan dengan orang yang tidak baik.

Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.

Sumber: Dakwatuna
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, May 1, 2011

media cetak

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Pengantar
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.

Manajemen Media Cetak
Kata manajemen berasal dari management (Inggris) yang diadobsi dari kata manaj (iare) (Italia) yang bermuara pada mamis (Latin) dengan makna tangan. Jadi manajemen dalam arti asalnya adalah memimpin, membimbing atau mengatur (Djuroto, 2000). Secara sederhana manajemen dimaknai sebagai getting result through the work of others. Sementara definisi yang sedikit lebih lengkap dengan mengutip pandangan pakar manajemen Hendry Fayol: “management is the direction of enterprise throught the planning, coordinating and controlling of its human materials resources toward the attainment of pre determined objectives”.Dengan kata lain manajemen mengandung dua pengertian
● Pertama, POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).
● Kedua, 6 M (Men, Materials, Machine, Methods, Money, Market) (Soehoet,2002).

Manajemen merupakan konsekuensi logis dari kepercayaan (responsibility) dan kenyataan (reality) yang harus dibuktikan melalui struktur organisasi media cetak yang bersifat formal dan kecakapan yang bersifat fungsional (authority). Diantaranya bidang: redaksi, iklan, pemasaran dll.Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya: peluang usaha, kemampuan SDM, kapital, SWOT dengan kompetitor, keinginan pembaca, perubahan sosial berupa teknologi, ekonomi, politik, budaya dll. Langkah yang perlu dilakukan antara lain: perhatian terhadap lingkungan eksternal, menjual ruang untuk iklan, efesiensi di semua unit usaha, suntikan modal dll. Semua pendapatan diperoleh dari penjualan produk media cetak (eceran, langganan, barter dll), penjualan kolom (iklan baris, duka cita dll) dan penjualan jasa kegiatan off print seperti seminar, pameran dll untuk membentuk image posistif (Djuroto, 2000).

Dengan mengutip pakar komunikasi Kanada Marshall McLuhan yang mengatakan the press is the extention of man, Jakob Oetama mengatakan pers merupakan perpanjangan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap informasi, hiburan, pendidikan dan keingintahuan mengenai peristiwa yang terjadi di sekitarnya (Oetama, 1987). Inilah yang dimanifestasikannya dalam surat kabar KOMPAS yang didirikannya bersama dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965 dengan struktur yang kurang lebih sebagai berikut: Pertama, owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top manager. Terkadang owner identik dengan top manajer. Kedua, top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Ketiga, pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. Keempat, wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas pemimpin umum atau menggantikannya dalam operasionalisasi harian. Kelima, bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. Keenam, bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. Ketujuh, bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi.

Zona Pasar Media Cetak
Pertama, CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. Kedua, PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita dan pelayanan iklannya. Ketiga, RTZ (Retail Trading Zone): wilayah di luar CZ tempat media cetak itu diperjualbelikan. Keempat, NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak itu sebagai pasarnya.

Format Media Cetak

1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia, Republika dll.
2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.
3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.
4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll.

Struktur Organisasi Media Cetak
Ada dua bagian besar sebuah penerbitan pers atau media massa: Bagian Redaksi (Editor Department) dan Bagian Pemasaran atau Bagian Usaha (Business Department). Bagian Redaksi dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Bagian Pemasaran dipimpin olen Manajer Pemasaran atau Pemimpin Usaha. Di atas keduanya adalah Pemimpin Umum (General Manager). Ada juga Pemimpin Umum yang merangkap Pemimpin Redaksi.
Bagian Redaksi tugasnya meliput, menyusun, menulis, atau menyajikan informasi berupa berita, opini, atau feature. Orang-orangnya disebut wartawan. Redaksi merupakan merupakan sisi ideal sebuah media atau penerbitan pers yang menjalankan visi, misi, atau idealisme media.Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi.
Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis. Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi. Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang-orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian. Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita. Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.

Tugas
1. Pemimpin Umum (General Manager)
Ia bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Ia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.

2. Pemimpin Redaksi
Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di suratkabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan yang perintah atau kebijakannya harus dipatuhi bawahannya. Kewenangan itu dimiliki katena ia harus bertanggung jawab jika pemberitaan medianya ?digugat? pihak lain. Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi (Desk opinion). Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun ? dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi? yang mampu menulisnya dengan menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.

3. Dewan Redaksi
Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.

4. Redaktur Pelaksana
Di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred/Wapemred, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.

5. Redaktur
Redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb.

Redaktur Pracetak
Setingkat dengan Redaktur/Editor adalah Redaktur Pracetak atau Redaktur Artistik. Ia bertanggung jawab menangani? Naskah Siap Cetak? (All In Hand/All Up) dari para redaktur, yaitu semua naskah berita yang sudah diturunkan ke percetakan dan sudah diset bersih, desain cover dan perwajahan (tataletak, lay out, artistik), dan hal-ihwal sebelum koran dicetak. Bagian lain di yang berada di bawah koordinasi Redaktur Pracetak adalah Setter atau juruketik naskah. Ia bertugas mengetik naskah yang akan dimuat. Ada pula Korektor yang bertugas mengoreksi (membetulkan) kesalahan ketik pada naskah yang siap cetak.
• Reporter
Di bawah para editor adalah para Reporter. Mereka merupakan? prajurit? di bagian redaksi. Mencari berita lalu membuat atau menyusunnya, merupakan tugas pokoknya.
• Fotografer
Fotografer (wartawan foto atau juru potret) tugasnya mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang bernilai berita atau untuk melengkapi tulisan berita yang dibuat wartawan tulis. Ia merupakan mitra kerja yang setaraf dengan wartawan tulisan (reporter). Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalistik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik (Journalistic Photography, Photographic Communications). Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan (to inform), meyakinkan (to persuade), dan menghibur (to entertain).
• Koresponden
Selain reporter, media massa biasanya memiliki pula Koresponden (correspondent) atau wartawan daerah, yaitu wartawan yang ditempatkan di negara lain atau di kota lain (daerah), di luar wilayah di mana media massanya berpusat.

Kontributor
Kontributur atau penyumbang naskah/tulisan secara struktural tidak tercantum dalam struktur organisasi redaksi. Ia terlibat di bagian redaksi secara fungsional. Termasuk kontributor adalah para penulis artikel, kolomnis, dan karikaturis. Para sastrawan juga menjadi kontributor ketika mereka mengirimkan karya sastranya (puisi, cerpen, esei) ke sebuah media massa. Wartawan Lepas (Freelance Journalist) juga termasuk kontributor. Wartawan Lepas adalah wartawan yang tidak terikat pada media massa tertentu, sehingga bebas mengirimkan berita untuk dimuat di media mana saja, dan menerima honorarium atas tulisannya yang dimuat. Termasuk kontributor adalah Wartawan Pembantu (Stringer). Ia bekerja untuk sebuah perusahaan pers, namun tidak menjadi karyawan tetap perusahaan tersebut. Ia menerima honorarium atas tulisan yang dikirim atau dimuat.
Bidang Pendukung Redaksi
Bagian yang tak kalah pentingnya untuk membantu kelancaran kerja redaksi adalah bagian Perpustakaan dan Dokumentasi serta bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Litbang memantau perkembangan sebuah penerbitan, survei pembaca, dan memberikan masukan-masukan bagi pengembangan redaksional dan bagian lainnya, termasuk pembinaan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Bagian Usaha (Business Department)
Bertugas menyebarluaskan media massa, yakni melakukan pemasaran (marketing) atau penjualan (saling) media massa. Bagian ini merupakan sisi komersial meliputi sirkulasi/distribusi, iklan, dan promosi. Biasanya, bagian pemasaran dipimpin oleh seorang. Pemimpin Perusahaan atau seorang Manajer Pemasaran (Marketing Manager) yang membawahkan Manajer Sirkulasi, Manajer Iklan, dan Manajer Promosi.

Proses Media Cetak
Pertama, kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.

Contoh LayOut Media Cetak

Majalah
Surat Kabar
Brosur

Pamflet

Baliho

Daftar Pustaka
http://tonz94.wordpress.com/2009/05/02/manajemen-media-massa
http://stefanusakim.wordpress.com/2007/12/09/manajemen-keredaksian
http://komunikasi-kita.blog.friendster.com/2007/02/manajemen-media-media-cetak-dan-elektronik
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Perubahan Sosial Masyarakat Madura sebagai Akibat dari Pembangunan Suramadu

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Menjelang detik – detik peresmian jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), seperti menjelang detik – detik ijab qabul pasangan suami istri. Setelahnya, akan ada kehidupan baru bagi kedua pasangan, Surabaya dan Madura, yang dipersatukan oleh jembatan Suramadu. Kehidupan baru ini, memicu adanya perubahan sosial yang pasti terjadi, khususnya di sekitar jalur jembatan Suramadu. Perubahan sosial yang muncul dipastikan akan mempengaruhi banyak aspek – aspek kehidupan masyarakat sekitar jembatan Suramadu, khususnya Masyarakat Madura sebagai objeknya. 

Tentu saja disini perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Madura bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses. Perubahan sosial ini merupakan sebuah keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat Madura sebagai reaksi adanya perubahan teknis kewilayahan akibat dari pembangunan jembatan Suramadu.

Kurt Lewin yang dikenal sebagai bapak manajemen perubahan, mengenalkan konsep yang dikenal dengan model force-field yang diklasifikasi sebagai model power-based karena menekankan kekuatan-kekuatan penekanan. Menurutnya, perubahan terjadi karena munculnya tekanan-tekanan terhadap kelompok, individu, atau organisasi. Ia berkesimpulan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan penolakan (resistences) untuk berubah. Sama halnya dengan yang sedang dihadapi masyarakat Madura yang mendapat tekanan, yaitu tekanan menghadapi fakta keberadaan Suramadu yang sangat disadari akan membawa banyak pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat Madura sendiri. Namun, masyarakat Madura menanggapi driving forces sebagai pengaruh positif yang dapat dimanfaatkan untuk perubahan sosial ke arah positif pula. Masyarakat Madura justru mereduksi resistences to change, dengan menemukan peluang perbaikan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, dan peningkatan pelayanan kesehatan. Dengan adanya Suramadu diharapkan mampu mentransfer pola – pola kehidupan sosial penduduk Surabaya sebagai servis baru dalam pola kehidupan masayarakat Madura.

Dalam sebuah master plan yang dirancang untuk kedua wilayah jalur Suramadu, tergambar perubahan model tata ruang wilayah yang sangat signifikan. Digambarkan bahwa di kedua wilayah berubah menjadi pusat kehidupan dari wilayahmasing- masing, dengan jalan utama dan bangunan – bangunan utama yang menunjang segala kebutuhan dua wilayah tersebut. Gambar ini menunjukkan adanya reaksi terhadap perubahan sosial. Dalam hal ini perubahan sosial tidak muncul dengan sendirinya, melainkan memang direncanakan.

Masyarakat Madura menyadari sepenuhnya bahwa akan ada perubahan sosial, sehingga, diluar keterkaitan dengan master plan yang dimaksudkan, masyarakat madura juga telah merencanakan sendiri perubahan sosial tersebut. Masyarakat mulai mencari peluang dan menemukan kesempatan – kesempatan untuk memperbarui pola – pola kehidupan. Terlihat setelah diresmikannya Jembatan Suramadu, masyarakat berbondong – bondong membuka lapangan penghasilan disekitar jembatan Suramadu. Mengarah masuk ke Kota Bangkalan, juga mulai mucul berbagai fasilitas kemasyarakatan yang dibangun sebagai bentuk penerimaan terhadap adanya orang – orang baru dan investor yang nantinya akan mendatangi Madura. Telah muncul gerai fastfood, pasar induk yang diimplementasikan dari bentuk mall, cafe, dan bangunan – bangunan lain yang mengidentifikasikan kehidupan perkotaan seperti di Surabaya. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Madura akan banyak meniru pola kehidupan sosial masyarakat Surabaya, sebagai bentuk transfer, yang kini telah mudah, yaitu melalui Jembatan Suramadu.

Asumsi masyarakat adalah bahwa dengan adanya Jembatan suramadu tidak sekedar menghubungkan, melainkan telah menyatukan antara Surabaya dengan Madura. Sehingga sesuatu yang satu itu adalah sama. Masyarakat Madura yang notabene secara kultural maupun bahasa sangat berbeda dengan masyarakat Surabaya, nantinya akan menjalani proses perubahan sosial untuk menyamakan diri dengan masyarakat Surabaya, sebagai suatu hal yang satu. Mengapa bukan sebaliknya? Tentu kita menyadari, bahwa perubahan selalu terkait dengan arah yang positif dan maju, sehingga yang berubah itu adalah dari yang tradisional menuju modernisasi. 

Menurut Max Weber dalam Berger (2004), bahwa, tindakan sosial atau aksi sosial (social action) tidak bisa dipisahkan dari proses berpikir rasional dan tujuan yang akan dicapai oleh pelaku. Perubahan sosial yang diupayakan masyarakat Madura, diharapkan mengarah kepada arah yang positif, yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan sosial. Peningkatan kualitas perekonomian, perbaikan mutu pendidikan, kelengkapan fasilitas kehidupan, serta kelayakan berkehidupan menjadi harapan yang digantungkan pada pemanfaatan jembatan Suramadu. Sudah barang tentu, perubahan sosial ini nantinya akan menyebabkan perubahan kultural, bahasa, dan moralitas. 

Perubahan tersebut tidak selalu mengarah kepada hal yang positif sebagaimana yang diharapkan, sekalipun telah direncanakan. Khususnya perubahan moralitas, mengikuti modernisasi, dimana masyarakat modern Surabaya telah sangat dipengaruhi oleh modernisasi Barat. Perilaku – perilaku Barat telah menjadi tolak ukur, sekalipun banyak yang bertentangan dengan nilai ke-Timuran. Sehingga yang menjadi tantangan terberat bagi masyarakat Madura adalah bagaimana nantinya mengambil sari – sari kehidupan masyarakat Surabaya tanpa menghilangkan nilai moralitas dan kultural masyarakat Madura itu sendiri. Masyarakat Madura sebagai masyarakat yang agamis harus tetap menjaga nilai – nilai yang telah melekat, sekalipun nantinya perubahan telah benar – benar terjadi pada masyarakat Madura Pasca tejadinya transfer kehidupan sosial dari Surabaya menuju Madura melalui Jembatan Suramadu. Semoga Madura semakin maju dan modern. (UTM; 2009)


 Artikel ini mengantarkanku terpilih sebagai Asisten Dosen dalam seleksi bersama dua peserta lainnya, pada semester ketiga kuliahku..
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

contoh questioner - ROP

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Questioner ini digunakan untuk mengetahui opini Mahasiswa Ilmu Komunikasi terhadap kegiatan Belajar Mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo
Periode 2010-2011 serta sebagai evaluasi bersama

Nama:…………………………………………… NPM:……………………………………
Jawablah seluruh pertanyaaan di bawah ini dengan sungguh-sungguh.. (lingkari jawaban anda)

1. Berapakah usia anda? ……..

2. Anda berada di semester ….
1. II (dua) 2. IV (empat) 3. VI (enam) 4. VIII (delapan) 8.Lainnya…(sebutkan)

3. Anda berjenis Kelamin……..
1. Laki-laki 2. Perempuan

4. Anda ada di konsentrasi komunikasi…..
1. Politik 2. Bisnis 

5. Daerah asal anda ……
1. Madura 2. Luar Madura

6. Apakah anda mengenal dosen ilmu komunikasi?
1. Seluruhnya 2. Sebagian 8. Tidak sama sekali

7. Berapa banyak dosen yang anda kenal?
1. 1 5. 5 9. 9 13. 13
2. 2 6. 6 10. 10 14. 14
3. 3 7. 7 11. 11 15. 15
4. 4 8. 8 12. 12 16. 16

Soal 8-39 [beri centang pada kolom yang Anda pilih (v)]

Kenalkah Anda dengan nama-nama dosen jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo di bawah ini?

No. Nama Kenal(1) Tidak Kenal(2)
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.

Sukakah anda terhadap dosen jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo di bawah ini?

No. Nama Suka (1) Tidak Suka (2)
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.

40. Menurut Anda, bagaimanakah proses belajar Mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi?
1. Sangat Baik 2. Baik 3. Buruk 4. Sangat Buruk 8. Lainnya……………

41. Apakah pembelajaran bapak/ibu dosen mudah dipahami oleh mahasiswa?
1. Mudah dipahami 2. Sulit dipahami 3. Tidak sama sekali 8. Lainnya……………

42. Metode pembelajaran apa yang paling sering digunakan oleh bapak/ibu dosen dalam kelas?
1. Presentasi Mahasiswa 4. Hanya memutar Slide
2. Diskusi 5. Praktek Lapangan
3. Menerangkan 8. Lainnya ………………..

43. Metode pembelajaran apa yang paling Anda sukai?
1. Presentasi Mahasiswa 4. Hanya memutar Slide
2. Diskusi 5. Praktek Lapangan
3. Menerangkan 8. Lainnya ………………..

44. Metode pembelajaran apa yang paling TIDAK Anda sukai?
1. Presentasi Mahasiswa 4. Hanya memutar Slide
2. Diskusi 5. Praktek Lapangan
3. Menerangkan 8. Lainnya ………………..

45. Apakah bapak/ibu dosen sering datang terlambat ke kelas?
1. Ya 2. Tidak 3. Kadang-kadang 8. Jarang

Soal no 46 - 61[beri centang pada kolom yang anda pilih (v)]

Apakah dosen di bawah ini datang terlambat?
No. Nama Sering (1) Kadang-kadang (2) Jarang (3) Tidak Pernah (8)
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.

62. Apakah Anda mengingat materi yang diterangkan oleh bapak/ibu dosen pada semester sebelumnya?
1. Sangat Mengingat 2. Cukup Mengingat 3. Sedikit Mengingat 8. Lupa sama sekali

63. Apakah Anda mengingat materi yang diterangkan oleh bapak/ibu dosen pada semester ini?
1. Sangat Mengingat 2. Cukup Mengingat 3. Sedikit Mengingat 8. Lupa sama sekali

64. Apakah Anda suka dengan sistem penilaian yang diterapkan bapak/ibu dosen?
1. Sangat Suka 2. Cukup suka 3. Sedikit suka 8. Tidak sama sekali

65. Apakah Anda puas dengan nilai yang diberikan oleh bapak/ ibu dosen?
1. Sangat Puas 2. Cukup Puas 3. Sedikit Puas 8. Tidak sama sekali

66. Apakah menurut Anda bapak/ibu dosen bersifat terbuka terhadap nilai yang di peroleh oleh siswanya? (mencakup nilai keseharian, UTS, UAS)
1. Sangat terbuka 2. Cukup terbuka 3. Sedikit terbuka 8. Tidak sama sekali

67. Apakah Anda mengetahui keberadaan Laboratorium komunikasi?
1. Tahu 2. Tidak tahu

68. Apa Anda mengenal seluruh ruangan Lab. Komunikasi?
1. Seluruhnya 2. Sebagian 8. Tidak sama sekali

69. Apa Anda mengenal seluruh peralatan dalam dalam lab.komunikasi?
1. Seluruhnya 2. Sebagian 8. Tidak sama sekali

70. Pernahkah Anda diperkenalkan pada alat-alat dalam Lab.komunikasi?
1. Pernah seluruhnya 2. Pernah sebagian 8. Tidak sama sekali

71. Apakah Anda menggunakan alat-alat dalam Lab.komunikasi ?
1. Sangat sering 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

72. Kapan anda menggunakan alat-alat Lab.komunikasi ?
1. Dalam perkuliahan 2. Dalam kegiatan 8.Lainnya.....

73. Menurut anda sudah lengkapkah peralatan yang dipunyai oleh Lab.komunikasi?
1. Ya lengkap 2. Tidak lengkap 3. Kurang lengkap 8. Tidak sama sekali

74. Menurut anda penggunaan Lab.komunikasi mendukung perkuliahan atau tidak?
1. Sangat mendukung 2. Cukup mendukung 3. Kurang 8. Tidak sama sekali

75. Tahukah anda tentang keberadaan Ruang Baca Jurusan Ilmu Komunikasi?
1. Tahu 2. Tidak tahu

76. Pernahkah anda berkunjung ke Ruang Baca Jurusan Ilmu Komunikasi?
1. Sering 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak pernah

77. Pernahkah anda meminjam buku di Ruang Baca Jurusan Ilmu Komunikasi?
1. Sering 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak pernah

78. Apakah menurut anda ruang baca tersebut mendukung perkuliahan anda?
1. Sangat mendukung 2. Cukup mendukung 3. Kurang 8. Tidak sama sekali

79. Apakah Anda tahu Ruang Kuliah yang dimilikui Jurusan Ilmu Komunikasi?
1. Tahu 2. Tidak tahu

80. Apakah ruang kuliah yang dimiliki jurusan ilmu komunikasi mendukung perkuliahan Anda?
1. Sangat mendukung 2. Cukup mendukung 3. Kurang 8. Tidak sama sekali

81. Menurut anda, apakah mata kuliah di jurusan ilmu komunikasi memenuhi kebutuhan pengetahuan Anda?
1. Sangat memenuhi 2. Cukup memenuhi 3. Kurang memenuhi 8. Tidak sama sekali

82. Apakah perlu penambahan mata kuliah di jurusan ilmu komunikasi?
1. Perlu (sebutkan) …………........................ 2. Tidak perlu

83. Apakah Anda mengikuti seluruh perkuliahaan di mata kuliah yang anda ambil?
1. Selalu 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

84. Apakah Anda pernah membolos/tidak mengikuti perkuliahan?
1. Sering 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

85. Mengapa Anda membolos/ tidak mengikuti perkuliahan?
1. Ikut kegiatan Ekstra/UKM/UKMF 2. Sakit 3. Terlambat
4. Malas 5. Dosen tidak menyenangkan 8. Lainnya…………..

86. Apakah Anda selalu mengerjakan tugas dari dosen Anda?
1. Selalu 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

87. Mengapa Anda tidak mengerjakan tugas? (lewati jika Anda selalu mengerjakan tugas)
1. Sibuk berkegiatan Ekstra/UKM/UKMF 2. Sakit 3. Tugas terlalu sulit
4. Malas 5. Dosen tidak menyenangkan 8. Lainnya…………..

88. Pernahkah Anda terlambat datang ke kelas?
1. Sering 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

89. Mengapa Anda datang terlambat ke kelas?
1. Sibuk berkegiatan Ekstra/UKM/UKMF 2. Sakit 3. Terlalu pagi/kesiangan
4. Malas 5. Dosen tidak menyenangkan 8. Lainnya…………..

90. Ketika mengerjakan tugas, apa sumber pemikiran anda?
1. Catatan dari dosen 2. Buku 3. Internet
4.Hasil diskusi dengan teman 5. Pemikiran sendiri 8. Lainnya…………..

91. Apakah Anda mengerjakan tugas perkuliahan Anda dengan sungguh-sungguh?
1. Selalu 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

92. Apakah Anda mengikuti perkuliahan Anda dengan sungguh-sungguh?
1. Selalu 2. Kadang-kadang 3. Jarang 8. Tidak sama sekali

Silahkan mengopinikan pendapat Anda mengenai kegiatan Belajar Mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi (jika belum tercantum dalam pertanyaan) ………………………………………………………………….
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info