Showing posts with label Semarang. Show all posts
Showing posts with label Semarang. Show all posts

Thursday, March 20, 2014

BUKU PENAMAAN JALAN BARU DI SEMARANG

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
BUKU PENAMAAN JALAN BARU DI SEMARANG

Ivan Taniputera
16 Maret 2014




Judul: Nama Djalan Baru Kota Besar Semarang
Penulis: M. Djais Surjaatmadja
Penerbit: Toko Buku "Liong," Semarang, 1955
Jumlah halaman: 12


Buku ini berisikan nama-nama jalan lama dan baru di Semarang. Penggantian nama jalan ini merupakan penerapan surat keputusan No. 39/Kep/D.P.R.D./55 Semarang, tertanggal 4 Agustus 1955, dimana nama-nama jalan tersebut diganti ke dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan buku ini kita mengetahui bahwa dahulu di Semarang terdapat nama-nama jalan berdasarkan nama para tokoh Tionghoa, seperti jalan Oei Tiong Ham, yang sekarang berada di kawasan jalan Gajah Mada (halaman 3). Lalu jalan Karangsana dahulu disebut jalan Gg. Liem Boen. Selanjutnya Jl. Sepaton dahulu bernama Gg. Liem Bo Swie. Masih banyak lagi yang lainnya. Jl. Sidorejo dahulu bernama Jl. Kebon-tionghoa. Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:



Buku ini patut dimiliki oleh penggemar sejarah kota Semarang.

Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Thursday, December 12, 2013

DIJUAL TANAH JALAN PADI RAYA SEMARANG

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
DIJUAL TANAH JALAN PADI RAYA SEMARANG
Ivan Taniputera
12 Desember 2013

DIJUAL tanah jalan Padi Raya Semarang. Luas 1,8 hektar dengan harga penawaran Rp. 30 milyar (bisa nego). Ada sedikit bangunan. cocok untuk pabrik. Jika ada yang berminat silakan hubungi ivan_taniputera@yahoo.com. Berikut ini adalah foto-fotonya.



Peminat hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Saturday, February 16, 2013

MENELISIK KEBERADAAN NASKAH-NASKAH POORTMAN: MITOS ATAU FAKTA?

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

MENELISIK KEBERADAAN NASKAH-NASKAH POORTMAN: MITOS ATAU FAKTA?

Ivan Taniputera
16 Februari 2013



Sudah lama saya ingin mengetahui fakta keberadaan mengenai naskah-naskah Poortman sebagaimana yang dimuat dalam buku Slamet Muljana berjudul "Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara." Meskipun demikian, hingga saat ini saya belum menemukan bukti meyakinkan mengenai keberadaan naskah-naskah yang konon ditemukan oleh Poortman di kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Semarang, tersebut. Sebelumnya, saya mengutipkan dari buku "Tuanku Rao" karya Mangaradja Onggang Parlindungan:

"Residen Poortman selaku autodidactic Sinoolog mengerti, bahwa Djin Bun didalam Bahasa Tionghwa/Dialect Yunnan artinya "Orang Kuat." Resident Poortman the experienced Hystory Detective, jang sudah memetjahkan soal "Mythos Iskandar Zulkarnain Dynasty" mendjadi very clear Kesultanan Kuntu/ Kampar, terpaksa fikir2 panjang. Dia memeras otak, dimana mendapatkan sesuatu sumber perihal "Djin Bun The Strong man". Didalam annals Tiongkok/Ming Dynasty, nama Djin Bun sama sekali tidak disebutkan. Mana ja??

Eureka!! Resident Poortman pergi ke Semarang. Didalam suasana Pemberontakan Komunis/1928, Resident Poortman di Semarang dengan bantuan Polisi menggeledah of all places: Klenteng Sam Po Kong!! Tulisan2 Tionghwa jang disitu disimpan sedjak +- 400 @ 500 tahun, seluruhnya disita oleh Resideng Poortman. Tiga tjikar banjaknja!! Itu dia sumber2 perihal Djin Bun, jang tidak diduga oleh siapa pun. Memang pandai Poortman selaku Detective Sedjarah." (1)

Hal ini lantas dikutip pula dalam buku "Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara" karya Prof. Dr. Slamet Muljana:

"Residen Poortman pada tahun 1928 dengan bantuan polisi menggeledah klenteng Sam Po Kong di Semarang. Tulisan2 Tionghwa jang tersimpan disitu seluruhnja disita oleh residen Poortman. Banjaknya sampai tiga tjikar. Tulisan2 itu umurnja sudah 400 atau 500 tahun. Bahan yang disusun oleh Ir. Parlindungan ini berguna sekali untuk mengetahui sampai dimana Babad Tanah Djawi dan Serat Kanda boleh dipertjaja sebagai karja sedjarah..." (2)

Dengan demikian, Slamet Muljana seolah-olah hanya menggemakan kembali apa yang ditulis dalam buku karya Mangaradja Onggang Parlindungan.

Keberadaan naskah-naskah tersebut sangat lemah dari segi sejarah. Kita akan menelusuri alasan-alasannya:

1. Tidak ada sumber lain yang mengatakan mengenai keberadaan naskah-naskah sitaan tersebut.

Satu-satunya yang menyebutkan mengenai keberadaan naskah-naskah sitaan Poortman tersebut hanya dari buku karya Mangaradja Onggang Parlindungan. Tidak adanya sumber pembanding menjadikannya sangat lemah dari sisi sejarah. Bahkan, Poortman sendiri yang menemukan naskah tersebut tidak pernah menulis mengenainya. Yang menulis adalah justru Mangaradja Onggang Parlindungan dalam bukunya "Tuanku Rao," sebagaimana yang telah dikutipkan di atas.

2. Sampai sekarang tidak diketahui keberadaan naskah-naskah sitaan Poortman tersebut.

Pada buku Tuanku Rao diuraikan sebagai berikut:

"Hatsil/karja dari Resident Poortman jang begitu gilang/gemilang atas permintaan dia sendiri: Tetap dirahasiakan oleh Pemerintah Koloniaal Belanda. Tersimpan didalam sesuatu "GZG/Monogram, Uitsluitend Voor Dientsgebruik Ten Kantore" (RSR, hanja untuk dinas, tidak boleh dibawa ke rumah). (3)

Berdasarkan kutipan di atas barangkali ada berargumen, karena dirahasiakan wajar saja tidak diketahui keberadaan naskah-naskah tersebut. Masalahnya pada masa sekarang perahasiaan naskah itu tidak lagi relevan, sehingga jika naskah itu benar-benar ada, pasti sudah dapat dijumpai atau diakses semua orang. Selanjutnya, jika memang dirahasiakan, mengapa orang dapat mengetahui kisah yang terdapat di dalamnya, melalui buku "Tuanku Rao"? Jika isinya (meskipun katanya hanya ringkasan) sudah ke luar pada publik maka namanya bukan rahasia lagi.  Selanjutnya karena gagal dengan argumen di atas, maka ada lagi yang menyatakan bahwa naskah itu sudah dimusnahkan oleh Belanda. Namun jika benar sudah dimusnahkan, maka apakah ada bukti nyata bahwa Belanda pernah memusnahkan naskah tersebut? Jika tidak ada buktinya, maka ini adalah pernyataan bahwa "Belanda sudah memusnahkan naskah tersebut" adalah spekulatif dan tak dapat dibuktikan kebenarannya.

Penulis beberapa waktu yang lalu pernah berdebat dengan seorang penganut sekte agama tertentu mengenai keaslian atau otentitas kitab suci mereka.Konon kitab suci mereka diterjemahkan dari lempengan-lempengan emas yang ditemukan pada sebuah bukit oleh pendiri sekte mereka. Jika benar bahwa kitab itu "diterjemahkan" oleh pendiri sekte dari lempengan-lempengan emas, apakah lempengan-lempengan itu masih dapat dibuktikan keberadaannya. Mereka mengatakan bahwa lempengan-lempengan itu sudah dibawa kembali ke surga oleh malaikat. Dengan demikian, otentitasnya tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Tidak berbeda antara naskah-naskah Poortman dengan kitab suci bagi sekte di atas. Yang satu menyatakan bahwa naskahnya sudah dimusnahkan Belanda, sedangkan yang satu lagi mengatakan bahwa naskah aslinya sudah dibawa malaikat ke surga. Apakah bedanya? Intinya naskah itu sekarang TIDAK ADA.

3.Poortman itu masih menimbulkan kontroversi, sebagaimana yang dapat dibaca pada http://id.wikipedia.org/wiki/Poortman. Perhatikan pada laman tersebut bahwa Ricklefs dan Reid juga meragukan tentang naskah-naskah Poortman.

4.Disebutkan bahwa naskah itu berusia 400-500 tahun. Namun pada kenyataannya Kelenteng Sam Po Kong dahulu belum seperti sekarang. Pada zaman dahulu masih berupa rumah kecil dan kemudian pernah pula mengalami perpindahan. Jika demikian, mustahil naskah itu dapat tersimpan lama di kelenteng Sam Po Kong, karena kondisinya yang dahulu tidak memungkinkan disimpannya naskah begitu banyak. Jadi pertanyaannya, adalah selama 400 atau 500 tahun itu naskahnya disimpan di mana?


5.Tambahan dari Bapak. Kwa Thong Hay, penulis buku "Dewa-Dewi Kelenteng" yang diterbitkan oleh yayasan Kelenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Semarang.
Bapak Kwa Thong Hay juga tidak meyakini keberadaan naskah itu. Kurang lebih tahun 70-an Bapak Kwa Thong Hay pernah bertanya soal ini pada Bapak Lie Hoo Soen yang dulu menjabat sebagai ketua pertama Yayasan Sam Poo Kong. Ia adalah anggota volksraad di Kodya Semarang, katanya naskah tersebut jelas tidak ada di Sam Poo Kong. Namun KALO MEMANG ADA mungkin di Gedong Dhuwur yaitu rumah tuan tanah Johanness.
Selanjutnya dalam buku "Semarang Tempoe Doeloe," Amen Budiman juga mencari naskah Poortman, dan tidak menemukannya.
Lalu soal nama-nama yang sumbernya dari naskah Poortman, itu aneh menurut Bapak Kwa Thong Hay, mana ada nama Hokkian Bong Swie Hoo, Gan Eng Cu, atau Djin Bun? Djin bun ini tulisannya bagaimana sehingga dapat dikatakan dialek Yunnan. Apabila naskah itu ditulis dengan aksara Tionghua, bagaimana mungkin kita dapat mengetahui bahwa itu dialek Yunnan, Hokkian atau yang lainya? Bagaimana mungkin namanya diartikan sebagai "Orang Kuat"? Menurut Bapak Kwa Thong Hay nama itu nampaknya hanya hasil karangan saja.

Menurut saya pandangan Bapak Kwa Thong Hay di atas sangat telak, karena jika kita hanya menilik huruf Mandarinnya saja, mustahil mengetahui dialek yang dipergunakan. Beragam dialek itu menggunakan huruf yang sama. Dengan kata lain, jika dituliskan kita tak mengetahui lagi dialeknya.

Demikian beberapa pertanyaan mengenai keberadaan naskah tersebut.  Sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kita perlu meluruskan sejarah yang ada, sebagai warisan bagi generasi mendatang agar mendapatkan informasi yang benar dan bukannya naskah fiktif yang dianggap ada.


(1) Tuanku Rao, halaman 652.
(2) Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara, halaman 12.
(3) Tuanku Rao, halaman 664.

DAFTAR PUSTAKA

Muljana, Slamet. Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara2 Islam di Nusantara, Bhratara, Djakarta, 1968.
Parlindungan, Mangaradja Onggang. Tuanku Rao, LkiS, Yogyakarta, 2007.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, December 16, 2012

Saya Memberikan Konsultansi Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan Astrologi di Tengah-tengah Pandanaran Art Festival-Semarang

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Saya Memberikan Konsultansi Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan Astrologi di Tengah-tengah Pandanaran Art Festival-Semarang

Ivan Taniputera
15 Desember 2012

Terdapat empat etnis yang turut membangun dan membentuk kota Semarang, yakni Arab, Belanda, China, dan Jawa. Hal inilah yang menjadi konsep penyelenggaraan Pandanaran Art Festival tanggal 15 Desember 2012 di Semarang. Festival ini diselenggarakan di sepanjang Jalan Pemuda dan terbagi menjadi empat kawasan yang disebut "kampung." Sesuai dengan konsep di atas, maka terdapat "kampung" Arab, Belanda, China, dan Jawa. Pada festival yang diselenggarakan semalam suntuk itu kita dapat menjumpai berbagai stand penjual makanan, pakaian, beserta barang-barang khas etnis masing-masing. Demi memeriahkan acara tersebut saya memberikan konsultasi bazi, ziweidoushu, dan astrologi.



Selain itu, pada stand yang sama terdapat pula meja Xiangqi (Catur China), kaligrafi, dan penjual bubur ayam.
Masih di kesempatan festival tersebut, pada panggung yang terletak di kampung China dipagelarkan sendratari mengenai Sun Go Kong (Sun Wukong) oleh SSTD Mekar Teratai.





Kisahnya mengenai Tong Sam Cong yang menghukum Sun Go Kong karena membunuh siluman. Sang siluman menyamar menjadi seorang gadis, namun Sun Go Kong mengenalinya dan membunuh siluman tersebut. Bhikshu Tong tidak mengetahui kalau gadis itu adalah siluman dan mengira bahwa Sun Go Kong telah membunuh orang tak bersalah. Akibatnya Sun Go Kong dijatuhi hukuman. Ini merupakan sendratari yang sangat menarik.

Berikut ini terdapat beberapa foto mengenai festival tersebut.



Nampak seorang gadis sedang mengenakan pakaian bergaya Belanda, sesuai dengan tema festival.



Suasana persiapan Pandanaran Art Festival 2012, waktu itu mobil saya masih dapat melintas, karena jalan belum ditutup sepenuhnya.


Tampak barisan stand saat festival.


Wartawan sedang meliput festival.



Suasana saat malam hari.

Festival ini sangat bagus karena dapat menumbuh-kembangkan semangat kerja sama dan saling memahami antar sesama etnis. Oleh karenanya,  kemajuan kota Semarang dapat dicapai melalui upaya bersama yang saling bahu-membahu. Semoga festival semacam ini dapat tetap diselenggarakan di tahun-tahun mendatang. Majulah kota Semarang.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wednesday, October 31, 2012

Sejarah Kerusuhan Rasial di Surakarta dan Semarang

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

SEJARAH KERUSUHAN RASIAL DI SURAKARTA DAN SEMARANG TAHUN 1980

Ivan Taniputera
31 Oktober 2012
Saya mendapatkan buku menarik berjudul "Huru Hara Solo Semarang: Suatu Reportase" yang disusun oleh Bambang Siswoyo, diterbitkan oleh PT Bhakti Pertiwi, cetakan pertama, Maret 1981.



Waktu peristiwa ini terjadi, saya masih duduk di bangku TK dan belum mengetahui duduk perkaranya. Saya ketika itu, dijemput pulang lebih awal oleh ayah saya dan hanya diberi tahu bahwa ada "rame-rame" (keributan atau kerusuhan). Tetapi kerusuhan apa pastinya, saya waktu itu tidak bertanya lebih lanjut. Kemudian seingat saya, sekolah libur selama beberapa hari dan dari televisi saya pertama kali mendengar mengenai apa yang disebut "jam malam." Lalu orang tua saya dan para tetangga menulisi pintu dan pagar dengan tulisan "Pribumi" atau "ABRI." Saat itu, saya juga belum tahu apa maksudnya.

Dari kejauhan saya melihat asap membumbung tinggi, yang katanya kawasan Perbalan sudah dibakar. Kendati demikian, saya juga belum tahu mengapa alasan pembakaran itu. Lalu peristiwa lain yang saya masih ingat adalah mobil pemadam kebakaran milik kompleks perumahan dijadikan penghalang di ujung gang agar perusuh tidak masuk.  Setelah beberapa hari kemudian, saya masuk sekolah lagi dan melihat kaca jendela pecah-pecah.

Kini 31 tahun kemudian, setelah membaca buku ini saya baru mulai mendapat kejelasan mengenai duduk perkaranya. Baiklah mari kita simak bersama buku ini. Pada halaman 9 terdapat sub-judul "Barang Kriwikan Dadi Grojogan." Kriwikan adalah tetesan air, sedangkan grojogan adalah air terjun. Jadi secara harafiah, artinya adalah "tetesan air menjadi air terjun." Makna peribahasa Jawa ini adalah sesuatu yang sepele akhirnya menjadi perkara besar.

Kerusuhan diawali ketika pada tanggal 19 November 1980 seorang pemuda Tionghoa bernama Ompong alias Kicak terserempet para pengendara sepeda yang merupakan siswa SGO (Sekolah Guru Olah Raga). Ribut mulut terjadi dan Kicak memukul salah seorang siswa SGO itu dengan batu hingga berdarah. Sesudah itu Kicak melarikan diri ke dalam toko Orlane yang juga dimiliki oleh orang Tionghoa dan melarikan diri lewat pintu belakang. Ia lantas menghilang di kompleks SMPN XIII, jalan Urip Sumoharjo, Surakarta.

Siswa SGO yang terluka itu bernama Pipit Supriyadi lalu kembali ke sekolah mereka. Kebetulan jaraknya hanya 200 meter dari tempat kejadian. Pipit yang kebetulan ketua OSIS SGO menghimpun teman-temannya guna mendatangi toko Orlane dan meminta agar mereka menyerahkan Kicak, namun gagal. Lima puluh orang siswa yang berasal dari kelas I dan II itu juga gagal menemui Kicak di rumahnya di Stabelan.

Hingga Kamis pagi, tuntutan para pelajar itu belum dipenuhi, sehingga 100 pelajar SGO yang berasal dari kelas I, II, dan III kembali mendatangi toko Orlane. Karena gagal mendapatkan yang mereka harapkan, mulailah mereka melempari sejumlah toko dan rumah di jalan Urip Sumoharjo. Tujuh toko mengalami kerusakan ringan dan sebuah mobil yang diparkir depan Konimex dipecah kacanya.

Pasukan keamanan segera bertindak. Pipit dibawa ke KODIM 0735 Sala guna menanda-tangani perjanjian tertulis disaksikan ibunya serta kepala SGO Negeri Solo, bahwa ia tak akan mengulangi merusak toko (halaman 10). Tetapi ia juga meminta agar pihak keamanan menangkap orang yang melukai kepalanya. Kamis malam tanggal 20 November 1980 memang tidak terjadi pengrusakan, namun masa mulai berkumpul untuk menyaksikan sisa-sisa kerusuhan.

Hari Jumat tanggal 21 November 1980, kondisinya tenang. Dikabarkan bahwa petugas keamanan malam itu berhasil mencegah serombongan orang dari luar kota yang ingin masuk ke Surakarta. Hal itu terjadi karena adanya isu bahwa Pipit tewas karena luka-lukanya. Konon, sepulangnya Pipit dari kantor Kodim pada hari sebelumnya, ia diikuti tiga orang tak dikenal yang ternyata merupakan mahasiwa Universitas negeri Surakarta Sebelas Maret. Mereka mengajak Pipit agar meneruskan masalah itu, sehingga pada tanggal 21 November diadakan rapat dengan mahasiswa da ketua OSIS di Solo. Pertemuan ketika itu terjadi di Jembatan Jurug, Solo (halaman 11):

"Kemudian pertemuan dipimpin oleh Endu Marsono atas ide dari Hari Mulyadi. Setelah pertemuan dimulai, pelaksanaan tehnik ditangani oleh Eddy Wibowo, mahasiswa Fakultas Sastra Budaya UNS jurusan Sastra Jawa, tingkat II. Pertemuan itu menghasilkan keputusan sebagai berikut:

1.Para pelajar menuju ke Coyudan dengan berjalan kaki pada jam 10.00 hari Sabtu tanggal 22 Nopember untuk mengadakan perusakan toko-toko Cina.
Tugas setelah itu, bubar.
2.Membuat pamplet-pamplet.
3.Semua pelajar tidak boleh mengejek, menghina semua petugas yang bisa menimbulkan kemarahan petugas." (halaman 11-12).

Akibatnya kerusuhan meledak pada hari Sabtu tanggal 22 November. Masa yang terdiri dari para pelajar berbondong-bondong melempari toko dan bangunan milik keturunan Tionghoa. Pada hari Minggu tanggal 23 November 1980 kerusuhan semakin meluas karena ditunggangi oleh para penjahat. Para penjahat ini adalah apa yang di Jawa Tengah kerap disebut "gali" (gang anak liar).

MENJALAR KE SEMARANG

Kerusuhan ini mulai merembet ke Semarang pada tanggal 25 November 1980 yang juga diawali oleh serombongan pelajar. Dengan cepat kerusuhan menyebar ke seluruh penjuru kota. Pihak Laksusda Jateng/ DIY segera memberlakukan jam malam. Dasar pemberlakuan jam malam adalah:

1.Peristiwa pengrusakan dan pembakaran bangunan beserta kendaraan telah menjalar ke Semarang, sehingga menimbulkan kerugian harta benda beserta ancaman terhadap ketenangan dan kesalamatan warga Semarang.
2.Oleh karenanya diberlakukan jam malam di Kodya Semarang dan sekitarnya termasuk Ungaran, mulai dari jam 20.00 hingga 05.00.

Pengumuman pemberlakuan jam malam ditanda-tangani atas nama Laksus Pangkopkamtib Jateng/ DIY, Kepala Staf Harian Brigjend TNI Sawarno. (halaman 16).

Sarana transportasi umum berupa bis kota dan bis antar kota sempat lumpuh selama dua hari, dan setelah keadaan mereka maka pada tanggal 30 November, jam malam diperpendek antara pukul 22.00 hingga 04.00. Sementara itu, sekolah-sekolah yang diliburkan semenjak 26 November, dibuka kembali pada tanggal 1 Desember. Jam malam akhirnya dihapus sama sekali pada tanggal 6 Desember 1980. Warga Semarang dapat bernafas lega walaupun desas desus masih bertebaran di mana-mana.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Monday, May 23, 2011

MASJID TINGGALANE SUNAN KALIJAGA ING DESA JATIREJO

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

 
Ora akeh sing ngerti yen sawijining masjid tinggalane Sunan Kalijaga sing ana ing desa cilik Jatirejo. Desa Jatirejo kuwi dumunung ing kecamatan Susukan, kabupaten Semarang. Masjid iku jenenge Masjid Baiturrohim. Konon dibangun dening sSunan Kalijaga in taun 1914 M.
Ceritane, sawijining dina Sunan Kalijaga lan Sunan Gunung Jati singgah ing sijining dhaerah. Sunan Kalijaga duwe karep arep bangun masjid ing dhaerah iku. Nalika Sunan Kalijaga lan Sunan Gunung Jati lagi golek panggonan sing apik kanggo ngadekake masjid. Sakwise wis nemokake panggonan sing apik ing kana malah ana wong lanang sing lagi ngewurake winih jagung.
Nanging sing ora bisa dicandak dening nalar winih jagung iku thukul dadi wit jati. Wiwit iku panggonan iku diceluk Jaten lan dhaerah sak sisihe diceluk Desa Jatirejo. Sing artine Jaten sing ayem tentrem, masyarakate makmur lan ora kurang sandang pangan.
Sakdurunge ngadekake masjid iku, Sunan Kalijaga ngejak tokoh masyarakat sakperlu rembugan. Panggonan kanggo rembugan iku ana ing Balai Panjang. Masyarakat percaya yen rembugan iku dianaake ana ng dina kemis pahing. Lan syukurane dianakake sesukke. Yaiku jumat legi. Mulakna wiwit biyen tekan saiki saben dina jumat legi dianaake syukuran lan dianggep dina kramat
Kala jaman dhisik masyarakat duweni tradisi yen duwe anak utawa sedulur sing lara, diajak neng Balai Panjang lan ditukokake jajan pasar ing kana. Banjur ndak wis mulih tekan omah larane iku wis mari.
Sakliyane iku uga ana crita yen jaman dhisik ana muadzin yen adzan bisa krungu tekan adoh banget sinaoso ara nganggo speaker. Sakwise muadzin iku seda, piyambake dimakamke ing sakcedake masjid. Tekan saiki makam iku esih rame diziarahi dening masyarakat sakperlu njaluk kaberkahan lan dongane bisa ijabah.
Amarga masjid Baiturrohim iku wis tuwa umure, masyarakat wis nganaake pemugaran marang masjid iku. Akeh hal-hal mistik sing wis kedadean ing masjid iku. Salah sijining tinggalane Sunan Kalijaga iku saka cagak ing sajerone masjid.


sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, January 2, 2011

LEGENDA DESA BERAHAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Miturut carita, menawa Desa Berahan kuwi nduweni legenda. Nalika ing zaman ndhisik ing tlatah Kecamatan Wedung iseh sepi wargane amarga isih rupa alas. Ing sawijining dina teka ana wong kang asma Kanjeng Raden Burhan, dheweke kuwi sawijining pemuka agama Islam. Nalika wis tekan ing tlatah Wedung, Kanjeng Raden Burhan mlaku terus nganti tekan Desa Berahan. Ing wektu kuwi Desa Berahan uga iseh rupa alas, mula Kanjeng Raden Burhan nduwe tekad arep mbabati tanduran ing Desa Berahan nganti enthek. Kanjeng Raden Burhan kersa mbabati amarga dheweke wis krasa krasan urip ing tlatah kana lan dheweke uga wis nduwe pepinginan arep urip utawa omah-omah ing kana.
Kanjeng Raden Burhan urip karo bojone ing Desa Berahan. Ndhisike Desa Berahan kuwi durung dhuwe jeneng, sakbubare tanduran wis padha dibabati karo Kanjeng Raden Burhan, dheweke terus ngendika yen tanduran kang ana kene kok akehe ngene yo, ambrah-ambrah ora karuan, mula desa kuwi diarani Berahan.
Ndhisike wong kang urip ing Desa Berahan namung Kanjeng Raden Burhan karo bojone, nanging saya suwe saya akeh amarga saka anake dhewe Kanjeng Raden Burhan karo para warga saka desa liya.
Amarga Desa Berahan gedhe, mula dipisah dadi loro yaiku kang sisih wetan diarani Berahan Wetan lan kang sisih kulon diarani Berahan Kulon. Berahan Kulon kang dadi panggonane Kanjeng Raden Burhan sakulawarga.
Bedhane Berahan Kulon karo Berahan Wetan ora namung panggonane, gedhene desa uga dadi bedane. Menawa Desa Berahan Kulon kuwi desane cilik, wargane sithik nanging bandha desane akeh. Menawa Berahan Wetan desane gedhe, wargane uga akeh, desane kapisah-pisah maneh dadi akeh dusun, lan bandha desane akeh. Kang dadi wates antarane Desa Berahan Kulon karo Desa Berahan Wetan yaiku kali.
Sakiki Kanjeng Raden Burhan kang dadi perintis Desa Berahan wis suwe seda. Kanggo ngormati jasane dheweke, Kanjeng Raden Burhan dimakamake ing mburine Mejid Jami` Al Burhan, yaiku masjid Desa Berahan Kulon. Nanging makame bojone Kanjeng Raden Burhan ing Desa Wedung ora sesandingan karo makame Kanjeng Raden Burhan.
Ndhisike makame Kanjeng Raden Burhan ora dirumati karo warga, nanging sakwise ana kadadeyan-kadadeyan kang dianggep aneh mula para warga gotong royong mbangun makame Kanjeng Raden Burhan.
Makam Kanjeng Raden Burhan nganti sakiki isih dirumati kanthi gemati mula isek apik. Menawa ana apa-apa kang rusak cepet-cepet didandani. Kanggo ngeling-eling jasane Kanjeng Raden Burhan nalika tanggal 1 Sura dianakake khoul.
Neng Desa Berahan Kulon kuwi ana Mejid Jami` Al Burhan kang sejatine kuwi gaweyane Kanjeng Raden Burhan. Mejide kuwi ndhisike bangunane kaya Masjid Agung Demak. Ing Masjid Agung Demak ana lawang bledege, ing Berahan Kulon masjide uga ana lawang bledege. Nanging sakiki mejide wis akeh kang diowah-owahi amarga wis tuwa.
Nalika Kanjeng Raden Burhan taksih gesang, dheweke nduwe kawibawan lan sekti mandraguna lan diajeni karo warga. Anggone nyebarake agama Islam nganti ngrembaka.
Ing carita yen putri Dewi Amiswati putrane Prabu Brawijaya, raja Majapahit kang pungkasan, kepingin sowan ing daleme kanjeng Raden Burhan amarga dheweke kepingin namba penyakit kulite. Dewi Amiswati gandhane amis, gudhigen mula dheweke kepingin namba supaya waras. Dewi Amiswati sakwise tekan ing Desa Berahan Kulon kepanggih kaliyan Kanjeng Raden Burhan kang kaya disaranake, dheweke banjur diutus Kanjeng Raden Burhan supaya adus ing Sendhang Kencana. Ing carita Sendhang Kencana kuwi panggonane adus bidadari saka kahyangan, lan Sendhang Kencana kuwi dalan kang tumuju kuburan ing Desa Berahan Wetan karo Dukuh Ketapang. Ing kuburan kuwi ana sumure kang ajaib, banyune bisa kanggo tamba warga liya-liyane, menawa ana bayi kang lair driji tangane utawa driji sikile kumpul, lan menawa ana bayi kang lair embon-embonane wis thukul rambut putih yaiku namung ana embon-embon.
Kebeneran ana bayi loro lair kang diajab mau ana. Mula banyu saka sumur mau bisa kanggo tamba warga kana lan liya-liyane. Amarga ana kadadeyan kaya mau, ndadekake dukane Pemerintahane Landa, amarga bisa nggawe cuwane dokter. Terus sumur mau diurug lan ditutup karo Landa nganti sakiki.
Dewi Amiswati saklebare adus ing Sendhang Kencana mau mbasuh pasuryane lan kulite dadi waras lan gandane malih dadi wangi, ora amis maneh. Kanggo mbales budine Kanjeng Raden Burhan, Dewi Amiswati ora gelem bali menyang Majapahit nanging ngabdi karo Kanjeng Raden Burhan lan gelem didadekake bojo. Saklebare Dewi Amiswati seda, dheweke dimakamake ing mburine mejid Berahan Wetan, Kanjeng Raden Burhan dimakamake ing mburine Mejid Jami` Al Burhan Berahan Kulon lan bojo kang tuwa dimakamake ing mburine Mejid Al Falah Wedung. Asal usul tembung Wedung kuwi amarga Kanjeng Raden Burhan mbabat alas ing kana, alate kang jenenge Wadhung ilang, lan ilange kuwi ing kali mburine Balai Rama Wedung. Nganti sakniki Wedung dadi jeneng Kecamatan.
Ndhisike carita wong-wong tuwa cedhak karo ilange Wadung ing kreteg, menawa ana wong kang liwat atawa nyebrang ngambet gandha banger, banjur ngidu teras kemawon tutuke wong mau perot.
Mula carita asal usul Desa Berahan Kulon mau ditulis ing buku gedhe nganti kertase mangkak lan tulisane nganggo tulisan arab gundul. Berahan saka tembung ambrah-ambrah ora karuan maksude akeh bandha desane, wong Jawa pakulinane ngucapake Berahan.
Ing Desa Berhan Kulon sisih kidul ana mejid tiban amarga ujug-ujug ana mejid lan menawa wis mlebu wektu sholat, bedhuge muni dhewe. Kadadeyan kaya mau ana terus naganti suwe. Amarga ing wektu kuwi kampung mejid kana ana seni budaya barongan utawa jaran kepang utawa jathilan lan wargane lali marang Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, kang dielingi namung jathilan. Lan anehe masjid tiban mau sirna utawa ilang lan bedhuge sakniki ana ing Mejid Terboyo Semarang lan ana tulisane Bedhug Berahan. Bebarengan karo ilange mejid tiban mau, malah ana tiban maneh yaiku Balai Rama ana ing sisih wetane lan madhepe adhep-adhepan karo mejid tiban mau. Balai Rama sakiki isih ana lan menawa wulan apit ana Sedekah Desa yaiku ringgit kanggo ngresiki desa. Papan kang dhisike ana mejid tibane sakniki dibangun Mushola Al Falah.      



sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Thursday, October 7, 2010

Ki Ageng Pandanaran

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
    Crita iki diwiwiti saka Kerajaan Demak Bintara, kerajaan Islam sing sepisan neng tlatah Jawa, rajane jenenge Raden Patah. Dheweke keturunan Brawijaya sing omah-omah karo putri Tiongkok. Merga tlaten dheweke bisa mbangun krajaane sing ndadekake rakyate urip makmur lan bias tentrem anggone nglakoni ibadah agamane. Sawise Raden Patah seda, mula sing nggenteni dadi raja ora liya anak mbarepe sing jenenge Pangeran Sepuh utawa Pangeran Sepuh Sabrang Lor. Pangeran iki duwe anak lanang jenenge Pangeran Made Pandan lan dikarepake sing bakal nggenteni dheweke.



     Nanging, apa sing dikarepake dening Pangeran Sepuh Sabrang Lor ora bakal kawujud, merga Pangeran Made Pandan ora gelem dadi Sultan. Dheweke kepengin dadi ulama gedhe lan nyepi arep nglakoni tapa, uga ngangsu kawruh bab agama. Dhek bapake seda, kuwasane diwenehake marang Paklike, Raden Trenggana diangkat dadi Sultan Demak ketelu. Pangeran Made Pandan banjur ninggalake Kasultanan Demak lan ngumbara nuju arah Kidul sig ora bakal dingerteni dening sedulur Kasultanan.




    Sajroning pangumbaran, dheweke mesthi ngajarake lan ngangsu kawruh bab agama Islam. Saya suwe anggone mlaku, lan ora dirasa dheweke wis tekan ing sawijining panggonan sing diarani Bergota. Neng panggonan iku, dheweke ngedegake pondho-pondhok pesantren kanggho para pandhereke kanggo ngangsu kawruh lan nyebarake agama Islam. Kanthi sarujuke Sultan Demak, Pangeran Made Pandan mbukak alas anyar lab ngedegake omah uga gawe kampung. Ngelingi alas mau akeh wit asem arang-arang, tegese asem sing jarake adoh-adoh, mula diarani Semarang (asale saka tembung asem “asam”, lan arang “jarang”). Merga tlaten lan sabar anggone mulang warga bab agama, Pangeran Made Pandan banjur kesuwur kanthi paraban Ki Ageng Pandanaran. Banjur dheweke ngedegake Kabupaten Semarang sing diestoni dening Sultan Demak lan Ki Ageng Pandanaran diangkat dadi bupati sing sepisanan ing Semarang. Dheweke nglakoni pamarentahan kanthi wicaksana lan tlaten. Ki Ageng Pandanaran duwe anak sing uga kesuwur kanthi paraban Ki Ageng Pandanaran. Pungkasane, Bupati Pandanaran (Pangeran Made Pandan) tilar donya. Lan disarekake ig Pegunungan Pakis Aji (Telomoyo) sing manggon ing sisih wetan Bergota. Ki Ageng Pandanaran nggantekake kalungguhane bupati Semarang merga saka warisane jenate bapake. Dheweke mimpin Pamarentahan kanthi apik lan mesthi manut karo ajaran-ajaran Islam kaya dene jenate bapake. Nanging suwe-suwe ana owah-owahan. Dheweke sing maune apikan aten iku saiki wis malih dadi luntur. Tughas-tugas pamarentah sing maune digarap nganti rampung lan tumata kanthi thirik-thirik, saiki wis wiwit kerep ora digubres lan digarap, apa maneh pondhok-pondhok pesantrene lan panggonan kanggo ngibadah sing wis wiwit ora dirumat maneh. Nanging bejane sing kaya mangkono mau nuli dimangerteni dening Sultan Bintara, mula oa dadi kedarung-darung tekan ngendi-endi.

    Sultan Demak ngupayakake kanggo nginsyafke Ki Ageng Pandanaran kanthi prantaran utusane, nanging kekarepane Sultan Demak ora diwangsuli nanging malah diece entek-entekan. Ngerteni kahanan sing kaya mangkono, mula Sultan Demak nganakake rembugan gedhen sing bakal ditekani dening para pejabat lan tokoh agama, ing antarane para Walisanga. Kanggo ngemban tugas kuwi, diputuske yen sunan Kalijaga ditunjuk dadi utusan Sultan Demak.

Sunan kalijaga nyamar dadi tukang suket sing nawakake dagangan sukete neng plataran Kabupaten Semarang kanggo pakan jaran piyaraane. Sawise suket mau dituku, banjur dibongkar dening tukang jaran sing pranyata ing jerone mau ditemokake emas sakepel sing pating kumeclap. Emas sakepel mau banjur diakoni dening sang bupati dadi duweke. Kahanan kaya mangkono iku kedadeyan nganti ping pirang-pirang nganti emas sing ditampa yen dijumlahke wis mesthi akeh banget lan samsaya srakah lan tamak bae bupati mau. Nalika tukang mau ngandhakake marang sang bupati ngenani emas sakepel mau nanging kasunyatane ora diakoni yen dhewee nympen emas duweke tukang suket.

    Mula si tukang suket mau meneng sedhela ndonga marang Gusti kang Murbng Dumadi supaya diwenehi pituduh lan dalan kanggo nakluke sag bupati Semarang tanpa mancing tukaran utawa padudon. Si tuang suket ngandharake yen sang bupati ora ngakoni ora dadi ngapa, malah yen sang bupati isih kepengin emas s9ing luwih akeh maneh, dheweke saguh kanggo nduduhake neng endi panggonan emas-emas mau. Sawise ngrungokake tembung-tembung mau, tanpa isin-isin sang bupati terus meksa supaya age-age diduduhake neng endi panggonan emas sing dimaksud mau.

    Sing dodol suket ngongkon sang bupati supaya macul lemah neng platarane Kabupaten. Wiwitane sang bupati ngrasa mamang, nanging merga anggone duwe kekarepan kpengin entuk emas sing luwih akeh, mula pangrasa sing kaya mangkono iku dilalekake, lan panjaluke tukang suket mau dituruti. Kanthi gedhe lan kuwasane Sang Maha Wikan, mula kasunyatane saben kilan lemah sing dipacul mau dadi emas. Mula sang bupati kanthi rasa ati sing bungah, banjur nerusake anggone macul, dheweke ngrasa samsaya kesel lan wis ora saguh maneh anggone ngayunke pacule.

    Wiwit saka kedadeyan sing lagi bae dilakono, dheweke sadhar yen apa sing diadhepi kuwi dudu sembarang wong. Merga ora percaya yen wong sing dodol suket bias nggenti lemah dadi emas. Dheweke ngrumangsani yen dheweke wis kesasar lan keblusuk ing padonyanan. Pungkasane dheweke takon sapa sejatine sing dodol suket iku, lan wangsulane yen dheweke sejatine Sunan Kalijaga, salah sijine saka Walisanga. Krungu kaya mangkoni iku, sang bupati age-age njaluk ngapura ngenani apa sing wis dadi kaluputane, lan sang bupati pungkasane gelem diangkat dadi murite Sunan Kalijaga, nanging kudu ana syarate. Banjur Sunan Kalijaga pamit arep ngadhep marang sang Baginda Sultan Demak, lan ing wektu sing ditemtokake dheweke arep tka maneh padha karo kanggo ngumbara.

    Sawise Sunan Kalijaga lunga, bupati Pandanaran wiwit tata-tata kanggo nyiapake pangumbarane. Sakliyane kuwi dheweke mesthi sedekah lan ngamalke bandhane kanggo fakir miskin, kanggo netepi janjine. Ki Ageng Pandanarang karo bojone ngumbara kanggo nggolek sing dinggo nemeni plajarane marang agama Islam, khususe ing Jawa. Pungkasane Ki Ageng pandanaran netep ing Klaten Jawa Tengah nganti seda lan diarekake ing Gunung Jabalkat, nganti saiki kuburan Sunan Tembayat isih rame ditekani dadi objek wisata ziarah sakgandheng karo ziarah Walisanga.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Friday, July 3, 2009

NYAI DHAPU

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Jaman mbiyen kutha utawa kabupaten Semarang, diasta dening Ki Ageng Pandanaran II yaiku kulawarga saka Sultan Demak. Wektu semana penyebaran agama Islam lagi maju-majune, lan gedhe banget pengaruhe tumrap para pengembating negara, kalebu uga Ki Ageng Pandanaran II ing Semarang.
Sawise tuwuk ngasta bupati ing Semarang lan dirasa wis akeh nesep ajaran agama Islam, mula Ki Ageng Pandanaran II terus kepengin leren kawibawan. Ki Ageng Pandanaran II terus lunga ninggal kutha Semarang, lunga menyang Tembayat (Bayat) wilayah Klaten, ora pamitan karo kulawargane lan garwane.


Nyai Ageng Pandanaran sawise ngerti menawa ditinggal karo rakane, terus karaya-raya nusul lunga saperlu nggoleki lungane Ki Ageng Pandanaran II nganti saketemune. Nyai Ageng Pandanaran bisa ketemu garwane, mula terus melu dumunung neng Bayat.
Neng Tembayat, Ki Ageng Pandanaran II lajeng katelah nama Sunan Bayat, nganti tekan sedane, uga disarekake neng Bayat. Makame tekan saiki tansah diziarahi karo para warga masyarakat, jalaran kaanggep keramat lan isih ana sejarahe.
Lungane Ki Ageng Pandanaran neng Bayat, isih ninggal adhi wedhok yaiku Ni Pandhansari, sing uga melu nusul tindake Ki Ageng Pandanaran, kanthi ditutake abdi loro yaiku Ki Wonobodro lan Ki Wonosari. Lungane ngliwati alas, nrabas lungiting samudra amarga ora ngerti menyang ngendi tindake kakange. Neng ndalan, Ni Pandhansari saabdine krungu pawarti yen ing sakidul kulone kutha Semarang ana sawijining pondhok pesantren sing misuwur, disesepuhi dening Ki Jiwaraga, dene papan panggonane neng dhusun Blimbing, sakidule dhusun Boja.
Ni Pandhansari terus lunga menyang dhusun kasebut, ing pangajab muga-muga bisa ketemu kakange neng papan kono. Nanging nyatane Ki Ageng Pandanaran ora bisa ditemukake mula Ni Pandhansari saabdine terus kepengin dadi muride Kyai Jiwaraga. Sawise dirembug, Ni Pandhansari saabdine terus ditampa dadi muride. Ni Pandhansari kuwi sawijining kenya sing arep ngancik dewasa tur ayu banget. Mula ora mokal yen sedhela wae dadi kembange para mudha lan para siswa neng dhusun kono. Khususe para mudha padha gandrung, lan malah ngaturke panglamar neng Kyai Jiwaraga, amarga padha kasmaran arep ngepek bojo Ni Pandhansari.
Temtu wae panglamar kuwi ora ditampa, amarga Ni Pandhansari durung gelem nikah, isih kepengin nambah ilmune. Senajan sejatine, Ni Pandhansari kuwi kenya sing sregep nyambut gawe lan olah-olah.
Sawijining dina, Ni Pandhansari kepengin dolan ndhelok tegal sing papan panggonane neng sawetane dhusun. Neng pategalan kuwi akeh kembang sing maneka warna. Mula yen kembange mekar bebarengan bisa marahi resepe pandulu, kahanan kuwi sing narik kawigatane Ni Pandhansari.
Gandheng pategalan kuwi akeh kembange, mula diarani tegal sekaran. Neng tegal sekaran kuwi Ni Pandhansari seneng lan kerep nganakake sayembara karo siswane Kyai Jiwaraga. Sayembara kuwi antarane mangkene : “Sing sapa bisa nyipta sumbering toya, bakal entuk nugraha.”
Akeh para siswa sing melu sayembara kuwi, nanging siji wae ora ana sing bisa ngleksanani. Akhire Ni Pandhansari terus njabut cise sing ditancepake neng lemah. Sanalika lemah kuwi metu banyune dadi sumber. Sumber kuwi diarani Sendhang Sebrayat, sing ngemu arti sawijining sendhang sing banyune bisa kanggo nyukupi kabutuhane wong sakulawarga utawa sabrayat.
Nanging suwe-suwe jeneng sendhang mau owah pangucapane dadi sendhang Sebrayut tekan saiki. Dene papan pangonane neng sawijining grumbul mbulungan tengah sawah, sakidule dhusun Boja.
Banyu sendhang kuwi pranyata gedhe banget paedahe tumrap masyarakat dhusun Boja lan sakiwa tengene kayata kanggo ngombe, sesuci lan kanggo ngileni sawah. Neng jaman mbiyen ana kapercayan yen para pawestri sing wis omah-omah suwe, nanging durung oleh momongan utawa anak, kanthi sarana ngombe banyu sendhang kuwi saka keparengane Gusti Allah saged gadhah putra.
Sabanjure lemah tegal sekaran kuwi, kanthi anane banyu Sendang Sebrayut terus diolah dadi sawah sing subur banget, kamangka maune dadi papan panggonan raja kaya lan akeh kembang sing ora krumat. Ewa semana ora kethang sithik, saperangan lemah Tegal Sekaran ditanduri kembang sing maneka warna.
Kejaba Sendhang Sebrayut, Tegal Sekaran uga akeh manfaate tumrap para umat sing lagi nglesanakake khajad dhateng Gusti Allah, kayata neng mangsa ketiga sing dawa, akeh kali sing asat kurang banyu, wit-witan padha garing, lan sapanunggale. Nalika kuwi, para umat Islam neng Boja, padha nindakake shalat istisqo’ neng tegal sekaran.
Ora suwe, Kyai Jiwaraga nampa siswa anyar saka Cirebon, asmane Ki Dhapuraja sing isih ana hubungane karo Sultan Cirebon. Mula suwene-suwe Ki Dhapuraja tuwuh rasa tresna marang Ni Pandhansari. Akhire Ki Dhapuraja matur marang Kyai Jiwaraga yen arep nggarwa Ni Pandhansari. Panglamar kuwi ditampa, kanthi entuk restu saka Kyai Jiwaraga minangka gantine wong tuwane, Kyai Dhapuraja banjur nikah kaliyan Ni Pandhansari. Sawise nikah, Ki Dhapuraja kepengin omah-omah dhewe. Kyai Jiwaraga uga sarujuk lan maringi ijin marang Ki Dhapuraja sekalian.
Ki Dhapuraja sagarwa banjur nggolek papan palereman sing cocok. Kalorone banjur lunga ngetan saka dhusun Blimbing nganti tekan pinggir dhusun Boja. Neng wetan dhusun Boja kuwi griyane Ki Dhapuraja sekaliyan saiki dadi langgar wakaf yaiku Masjid Baitul Makmur.
Awit dedalem neng dhusun Boja, Ni Pandhansari banjur disebat Nyai Dhapuraja utawa Nyai Dhapu, dene Ki Dhapuraja uga disebat Kyai Dhapuraja utawa Kyai Dhapu.
Kanggo nyukupi kabutuhan urip, Nyai Dhapu banjur matur marang Kyai Dhapu, supaya digawekake ilen-ilen banyu. Dening Kyai Dhapu panjaluk mau banjur diikhtiyarake nanging wis bola-bali usaha tetep ora bisa. Akhire Nyai Dhapu nyalirani dhewe, carane Nyai Dhapu nggawe ilen-ilen banyu kuwi kanthi ngetog kasektene yaiku kanthi nggered setagene saka Sendhang Sebrayut nganti tekan daleme.
Banyu kuwi bisa mili kanthi lancar, cukup kanggo kabutuhane para warga masyarakat khususe para tani. Saluran banyu kuwi diarani saluran Sidhapu. Asmane Nyai Dhapu saya ngambar arum tekan dhusun liya. Kabeh pada kurmat marang Nyai Dhapu, nanging kosok baline pekurmatan marang Nyai Dhapu kuwi, ndadekake isine Kyai Dhapu, mula piyambakipun kepengin lunga saka dhusun Boja ninggal Nyai Dhapu.
Sadurunge Kyai Dhapu lunga, Nyai Dhapu duwe panjaluk supaya Kyai Dhapu gelem nuduhake isi atine kanthi nancepake cise ning lemah. Cis banjur ditancepake, dumadakan lemah mau ngetokake banyu sing panas. Dene Nyai Dhapu uga banjur nancepake cise neng lemah sacedhake lan sanalika lemah kuwi ngetokake banyu sing anyes. Papan panggonan mau neng sisih lore dhusun Boja lan diarani Pasinan utawa Masinan.
Kanthi metune banyu sing panas mau miturut pemanggihe Nyai Dhapu mbok bilih penggalihe Kyai Dhapu mau pinuju panas, kosokbaline dene banyu anyes saka cise Nyai Dhapu mratandhani penggalihe Nyai Dhapu asrep, lan ayem. Mula bisa dadi pangayome tumrap wong cilik lan bebrayan agung.
Kyai Dhapu banjur lunga ninggal Nyai Dhapu, tindak saka dhusun Boja terus ngulon, tekan neng sawijing dhusun yaiku Kaliputih. Kyai Dhapu manggen neng dhusun kasebut tekan sedane. Panggonan palereman lan pasareane Kyai Dhapu diarani dhusun Kali Dhapu, makame dirumat lan diziarahi dening masyarakat.
Sapungkure Kyai Dhapu, Nyai Dhapu nerusake mbangun dhusun Boja. Ora mokal yen sedhela wae asmane wis kondhang lan ngambar arum neng masyarakat, saengga akeh para sedulur saka njaba dhusun sing sowan saperlu njaluk pituduh, sakliyane kuwi uga njaluk piwulang agama Islam.
Kanthi rancas, dhusun Boja dadi maju, rame, jalaran tansaya tambah jiwane. Saiki Nyai Dhapu wis dadi randha, amarga wis ditinggal karo Nyai Dhapu. Salah siji abdine, yaiku Kyai Wonosari pengin nggarwa Nyai Dhapu. Temtu wae Nyai Dhapu ora gelem nampa, malah ndadekake nesune. Akhire Ki Wonosari ditundhung lunga, jalaran dening Nyai Dhapu dianggep ngalangi mbangun dhusun Boja. Ki Wonosari banjur lunga, manggon neng dhukuh Pilang, sawetan lore dhusun Boja.
Ki Wonobodro abdi sijine duwe anak lanang. Sabanjure anake Ki Wonobodro kuwi sing mbiyantu Nyai Dhapu mbangun dhusun Boja. Piyambake dipercaya banget dadi lurah dhusun Boja, mula katelah nama Kyai Boja. Kyai Boja kejaba dadi abdine Nyai Dhapu sing dipercaya, uga dadi garwane Nyai Dhapu, nanging kanggo njaga arum asmane Nyai Dhapu, mula Kyai Boja tetep disebut abdi kinasih.
Akhire, Nyai Dhapu, Kyai Boja lan Ki Wonobodro seda neng Boja lan disarekake neng Boja. Nanging makame dhewe-dhewe ora kumpul dadi siji. Nyai Dhapu neng sisih lor, dene Kyai Boja neng sisih kidul. Dene pasareane Ki Wonobodro mapan neng sandinge Nyai Dhapu, ana ing sawijining pager tembok. Miturut prasajane sifat pribadhine Kyai Boja, nganti saiki makame ora gelem dibangun luwih apik, cukup kaya makam-makam umum liyane, kuwi nuduhake yen pribadhine Kyai Boja kuwi pemimpin sing jiwane tetep merakyat.
Kanggo pangemut-emut jasa perjuangane Nyai Dhapu tumrap masyarakat ing dhusun Boja, lan kanggo ngurmati agunge asmane, ing saben taun yaiku tanggal 7 wulan Syawal dianakake Merthi Dhusun lan Syawalan. Jumbuh karo adat lan manut tatanan utawa ajaran agama para masyarakat padha ziarah neng makame Nyai Dhapu.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info