Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Sunday, September 9, 2012
SEJARAH KOTA LAMPUNG
Putra mahkota Banten, Sultan Haji, menyerahkan beberapa wilayah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa kepada Belanda. Di dalamnya termasuk Lampung sebagai hadiah bagi Belanda karena membantu melawan Sultan Ageng Tirtayasa.
Permintaan itu termuat dalam surat Sultan Haji kepada Mayuchet MS, sans-serif;">Dari angka itu dapat disimpulkan bahwa Lampung kala itu dikenal sebagai penghasil lada hitam utama. Lada hitam pula yang mengilhami berbagai negara Eropa ambil bagian dalam konstelasi politik Nusantara kala itu. Penguasaan sumber rempah-rempah dunia berarti menguasai perdagangan dunia-dan tentu saja wilayah.
Kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga tercipta lagu Tanoh Lada. Bahkan, ketika Lampung diresmikan menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada hitam menjadi salah satu bagian lambang daerah itu. Namun, sayang saat ini kejayaan tersebut telah pudar.
Saturday, November 13, 2010
Persiapan Anjas-Ira pada Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional

Wednesday, October 13, 2010
Lagi, KBPL Gelar Duta Bahasa 2010
Ketua Panitia Pelaksana Ninawati Syahrul menjelaskan, kegiatan ini bertujuan mendapatkan generasi-generasi muda yang tangguh di bidang kebahasaan, sekaligus ajang pengenalan budaya Lampung ke tingkat nasional. ’’Duta bahasa yang terpilih akan mewakili Lampung dalam Pemilihan Duta Bahasa Bahasa Tingkat Nasional di Pusat Bahasa, Jakarta,’’ katanya belum lama ini.
Karena itu, lanjut Nina, duta bahasa memiliki tanggung jawab yang besar untuk membawa harum Lampung ke tingkat nasional. Beberapa tahun lalu, wakil Lampung bahkan menorehkan prestasi sebagai juara II duta bahasa tingkat nasional. ’’Kami menargetkan tahun ini gelar tersebut dapat kita raih kembali,” yakinnya.
Ia mengakui, selama ini duta bahasa telah berperan cukup baik dalam pemasyarakatan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta pengenalan seni dan budaya termasuk bahasa Lampung. Khususnya di kalangan remaja dan generasi muda di Bandarlampung.
Selain itu, keberadaan duta bahasa Provinsi Lampung itu juga telah mendukung peran dan fungsi KBPL dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sekaligus mendorong pelestarian bahasa daerah Lampung serta pengenalan seni dan budaya daerahnya.
Sebagai informasi, pendaftaran duta bahasa ini telah dibuka sejak 25 Agustus–10 Oktober 2010. Tempat pendaftaran dilakukan di KBPL di Jalan Beringin No. 40 Kompleks Gubernuran, Telukbetung, Bandarlampung.
Adapun persyaratan yang diperlukan, antara lain menguasai bahasa Indonesia; memiliki wawasan budaya Lampung yang memadai; berusia 17–25 tahun; berpenampilan menarik; memiliki tinggi dan berat badan ideal; menyerahkan fotokopi KTP atau identitas lain yang sah; serta menyertakan foto warna close-up.
Tahap seleksi kebahasaan berlangsung pada 11 Oktober. Berdasarkan tes inilah, nantinya dipilih 30 peserta terdiri atas 15 putra dan 15 putri yang masuk babak final pada 14 Oktober. Malam penobatan dilaksanakan di Hotel Seraton pada 15 Oktober. (ade)
Sumber: Radar Lampung, 27 September 2010
Wednesday, July 22, 2009
Edi S. dan Rahmadianti Duta Bahasa Lampung 2009
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Edi Susila dan Rahmadianti terpilih sebagai duta bahasa tahun 2009 dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa yang digelar di Aula Kantor Bahasa Pemprov Lampung, Rabu (24-6).
Edi yang berstatus sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Lampung itu mengantongi nilai 1.055, mengungguli Kristian Adiputra yang hanya memperoleh nilai 993 sekaligus menduduki peringkat kedua. Sementara peringkat ketiga diraih oleh Septian Trisilo Prabowo yang memperoleh nilai 990.
Untuk kategori putri, juara pertama diraih oleh Rahmadianti Gazadinda wakil dari SMAN 2 Bandar Lampung dengan total nilai 1.025. Juara kedua diraih oleh Nia Selfia yang mendapai nilai 1.014 dan di peringkat ketiga diraih oleh Yuni Anggraini 982.
Dewan juri dalam lomba ini antara lain Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, dosen FKIP Universitas Lampung Farida Ariani, Fajar Isnawan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung , dan Amirudin Sormin, wartawan Lampung Post.
Fajar Isnawan berharap agar para finalis mampu mengharumkan Provinsi Lampung baik di kancah nasional dan internasional. "Ke depan ajang pemilihan seperti ini dapat diadakan di tempat keramaian seperti mal supaya gaungnya lebih terasa," ujarnya.
Para peserta yang berjumlah 30 orang dan berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa ini diwajibkan menjawab pertanyaan dari dewan juri tentang kebahasaan dan pengetahuan umum.
Tresia peserta dari FKIP Unila berharap kepada Pemprov Lampung untuk mengeksplorasi objek-objek wisata di Provinsi Lampung seperti Taman Wisata Batu Putu. "Hal itu perlu dilakukan supaya turis tertarik dan lebih banyak lagi yang datang ke Provinsi Lampung," kata dia.
Sumber : Lampung Pos, 25 Juni 2009