sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Tetesan Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Tetesan Kenangan. Show all posts
Sunday, January 1, 2012
Tentangku, Jika Kau Ingin Tahu II
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sedikit saja. Kali ini benar-benar sedikit saja tentangku ^_^
Namaku Yuliana Setia Rahayu, panggilanku Yuli. Lahir di kelurahan Dorongao, kota Dompu, pada 10 Januari 1991. Hobi besarku sejak kecil adalah membaca. Cita-citaku dulu menjadi guru, jika ditanya sekarang, entah mau jadi apa. Aku tak punya banyak prestasi, tapi aku mulai suka menulis, apalagi beberapa waktu terakhir, ada motivasi besar menjadi penulis. Akhirnya kubuat nama pena untuk tulisan-tulisanku nanti, Yuli Ramahayu. Semoga bisa kucoretkan pada karya-karyaku.
Di SDku, SD Darussalam, selama 1996-2002, aku hanya pernah menjadi finalis nasyid SD Ma'arif se-Surabaya bersama timku. Aku menjadi 3 dari siswa di sekolahku yang diterima di SMP Negeri. Sebuah prestasi di zaman itu.
Di SMPku, SMPN 38 Surabaya, aku hanya beberapa kali dikirim sebagai peserta lomba yang tak pernah menang, Olimpiade IPA Nasional, Olimpiade Matematika Se-Jawa Timur, dan Lomba Pidato SMP Negeri Se-Surabaya. Aku banyak lupa, kemungkinan sih tak ada prestasi lain. Tapi di kelasku, 1E, kelas terbaik angkatan 2002-2003, aku punya nama di peingkat 3 besar. Setelahnya, aku masuk kelas unggulan, 2A dan 3A. Disana aku bersaing bolak-balik di 3 besar bersama 3 sahabatku. Di kelas ini, aku selalu masuk 3 besar juara paralel sekolah. Di kelulusan, di UNAS tahun 2005, aku menjadi juara 3 dengan nilai ujian tertinggi. Prestasi yang lumayan kan? hehehe.
Di SMPku, SMPN 38 Surabaya, aku hanya beberapa kali dikirim sebagai peserta lomba yang tak pernah menang, Olimpiade IPA Nasional, Olimpiade Matematika Se-Jawa Timur, dan Lomba Pidato SMP Negeri Se-Surabaya. Aku banyak lupa, kemungkinan sih tak ada prestasi lain. Tapi di kelasku, 1E, kelas terbaik angkatan 2002-2003, aku punya nama di peingkat 3 besar. Setelahnya, aku masuk kelas unggulan, 2A dan 3A. Disana aku bersaing bolak-balik di 3 besar bersama 3 sahabatku. Di kelas ini, aku selalu masuk 3 besar juara paralel sekolah. Di kelulusan, di UNAS tahun 2005, aku menjadi juara 3 dengan nilai ujian tertinggi. Prestasi yang lumayan kan? hehehe.
Saat menjajaki dunia SMA, prestasi belajarku menurun, mungkin ini karena tingkat minder yang luar biasa tinggi ketika harus belajar di SMAN 1 Surabaya. Seperti mindernya Raju Rastogi di film 3 idiots, lama-lama aku tak pandai lagi di sekolah. Bukan aku membenarkan sikapku, tapi aku benar-benar tidak mengerti mengapa aku tidak bisa bersaing lagi dalam prestasi sekolah. Teman-temanku yang borjuis dan pintar, benar-benar mebuatku minder. Bagaimana tidak, SMPku yang pinggiran, tentu tak sepadan dengan lulusan SMPN 1, SMPN 2, SMPN 3, dan SMP-SMP lainnya yang favorit di Surabaya. Aku menyesali masa-masa minder itu, aku menyesali sikap bodohku yang merasa takut berlebihan. Padahal siapapun boleh hidup dengan baik, berhak maju dengan caranya masing-masing, dari manapun asal mereka.
Beruntunglah, Allah menggantikannya dengan hal lain. Untuk pertama kalinya, aku bangga menjadi aktivis yang mengenal dunia organisasi. Aku menjadi organisatoris yang aktif sejak mengenal SKI SMAN 1 Surabaya atau yang lebih dikenal dengan SKI_One. Disana aku mengasah semua kemampuan organisasiku. Disana aku menemukan tempat yang mengasyikkan, dengan belajar Islam lebih dalam, setelah di SMP sama sekali tak tersentuh pelajaran ruhiyah, aku punya banyak teman dan pengalaman.
Di tahun pertama, 2005-2006, meski tak ikut OPSKI (Orientasi Pemantapan Sie Kerohanian Islam) atau diklatnya anak-anak SKI_One, kakak-kakak kelas memberiku kesempatan masuk menjadi pengurus. Aku menjadi ketua bidang Buletin SKI_One. Selanjutnya di kelas dua, aku diangkat menjadi Koordinator Keputrian SKI_One 2006-2007. Aku masih berusaha memfokuskan perjuanganku dalam prestasi sekolah, tapi masih saja merasa tertinggal. Aku terus hanyut dalam organisasi, menjadi Ketua 1 KIR (Karya Ilmiah Remaja) SMAN 1 Surabaya tahun 2006-2007. Selanjutnya di kelas 3, aku dan demisioner kepengurusan SKI_One sebelumnya, masuk sebagai DPP (Dewan Pertimbangan dan Penasehat) atau sederhananya Dewan Syuro untuk kepengurusan selanjutnya.
Masa-masa SMA selalu menjadi masa yang indah kan? aku juga merasakannya. Kemampuan organisasiku berkembang baik. Jiwa Sosialku muncul dari berbagai kepanitiaan yang kujabati. Menjadi sekertaris, sie acara, atau sie-sie lain yang penting yang mengasah skillku. Aku menjadi yakin untuk memimpin rapat, berdiplomasi, me-loby-loby, sampai menemukan bakatku untuk memotivasi orang lain. Sayangnya, aku belum pernah dipercaya untuk mengurusi urusan keuangan. Bakatku untuk urusan satu itu belum terasah
Ternyata Allah lagi-lagi punya rencana lain, sesaat sebelum lulus SMA, aku ditunjuk menjadi bendahara karang taruna di kampungku. Urusannya pun bukan urusan mudah, aku dan ketua karang taruna harus keliling setiap bulan menarik iuran di rumah-rumah warga kampung. Itu berarti aku bertemu berbagai macam orang di kampung, dengan berbagai kisah mereka jika sedang ditagih membayar iuran. Namun hanya beberapa bulan menjabat, aku harus pindah ke kosku di Madura, untuk kuliah. Jadilah aku lengser dari jabatanku di karang taruna setelah pengumuman SNMPTN. Aku diterima di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di program studi Ilmu Komunikasi.
Sejak awal kuliah, 2008 lalu, aku bertekad bulat memperbaiki prestasi akademikku. Allah meluluskannya. Perlahan tapi pasti semangat menuntut ilmu kembali merasukiku. Di kampus, aku jadi mahasiswa yang aktif secara akademik, juga aktif berorganisasi. Sungguh ini balasan Allah atas doa-doaku, memberiku daya untuk melakukan banyak aktivitas. Di semester pertama, aku fokus saja pada kuliah dan tugas, tidak tertarik untuk terjun dalam dunia organisasi. Namun di semester kedua, aku mulai memproyeksikan sedikit kemampuan dan skillku. Aku masuk menjadi penyiar di RASI 107,9 FM, Radio Komunikasi milik Prodi Ilmu Komunikasi. Selanjutnya aku mendaftar menjadi Asisten dosen, untuk dosen super disiplin bernama Drajat Wicaksono, yang sekarang sedang mengejar gelar doktornya di UGM. Selama 2 semester, banyak pengalaman luar biasa menjadi seorang Asisten. Sayangnya aku harus segera lengser ketika beliau berangkat studi lagi.
Kala itu, di sela menjadi penyiar dan asisten, aku di beri jabatan juga di LDK MKMI UTM sebagai anggota departeman PPSDM (Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia) 2009-2010, sekaligus menjabat bendahara umum BEM FISIB UTM di tahun yang sama. Biasanya di malam atau sore hari aku juga mengajar privat untuk anak SD. Jadi masa itu masa yang sungguh sibuk dan penuh tantangan. Banyak sekali aktivitas rapat dari pagi hingga malam. Banyak juga aktifitas menyenangkan, jalan-jalan, studi banding, seminar, workshop, rakernas, silatnas, dan kegiatan lain, baik dalam maupun luar kota. Termasuk karena aku ikut menjadi anggota IMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia).
Ternyata begini nasib orang-orang berdinas, bisa keliling kemana-mana. Aku sampai ke kota impianku Jogja, bertandang ke Solo, Malang, Jember, Bali, Kediri, Tulungagung, hingga Jakarta. Itupun tak sekali dua kali. Impianku keliling Indonesia, sedikit demi sedikit terjawab juga. Berkat organisasi juga aku punya banyak teman dan tidak minder. Kelak aku akan mengunjungi teman-temanku nun jauh di Medan, Makassar, Aceh, Padang, Semarang, Bandung, NTT dan Papua. Tahun-tahun ini tahun yang benar-benar mengasyikkan. Meski sibuk di organisasi, aku juga masih sempat lolos seleksi Mahasiwa Berprestasi hingga bisa ikut seleksi ke tingkat universitas, sayangnya aku tak juara. Aku hanya mendapat piagam dan hadiah untuk juara 3 Mahasiswa Berprestasi tingkat FISIB UTM 2009-2010 dan juara 1 Mahasiswa Berprestasi tingkat Prodi Ilmu Komunikasi di tahun yang sama. Ini juga salah satu dari sekian banyak impian yang dikabulkan Allah untukku.
Karena prestasiku yang baik, aku selalu mendapat beasiswa untuk IPK Tertinggi di Prodi. Alhamdulillah, ini juga mimpi yang tak pernah putus kuperjuangkan. Dengan ini, aku selalu termotvasi untuk memberikan yang terbaik dalam hidupku, aku bisa menabung untuk masa depanku, menyambung mimpi-mimpi yang lain. Untuk itu, meski kadang kurang total dalam menjalankan amanah, wujud syukurku pada Allah adalah dengan terus berjuang di LDK MKMI bersama saudara-saudara yang lain sebagai Bendahara Umum 2010-2011.
Begitulah perjalanan panjangku di dunia pendidikan dan organisasi, belum terlalu banyak prestasi. Sekarang aku hanya Dewan Syuro di LDK MKMI. Meski tak banyak pengalaman di dunia tulis menulis, aku juga ditunjuk saudara-saudaraku sebagai Ketua Harian FLP Bangkalan. Semoga bisa lebih banyak menimba ilmu dan mewujudkan prestasi.
Yuli Ramahayu,
Mojokerto, 1 Januari 2012
Sejak awal kuliah, 2008 lalu, aku bertekad bulat memperbaiki prestasi akademikku. Allah meluluskannya. Perlahan tapi pasti semangat menuntut ilmu kembali merasukiku. Di kampus, aku jadi mahasiswa yang aktif secara akademik, juga aktif berorganisasi. Sungguh ini balasan Allah atas doa-doaku, memberiku daya untuk melakukan banyak aktivitas. Di semester pertama, aku fokus saja pada kuliah dan tugas, tidak tertarik untuk terjun dalam dunia organisasi. Namun di semester kedua, aku mulai memproyeksikan sedikit kemampuan dan skillku. Aku masuk menjadi penyiar di RASI 107,9 FM, Radio Komunikasi milik Prodi Ilmu Komunikasi. Selanjutnya aku mendaftar menjadi Asisten dosen, untuk dosen super disiplin bernama Drajat Wicaksono, yang sekarang sedang mengejar gelar doktornya di UGM. Selama 2 semester, banyak pengalaman luar biasa menjadi seorang Asisten. Sayangnya aku harus segera lengser ketika beliau berangkat studi lagi.
Kala itu, di sela menjadi penyiar dan asisten, aku di beri jabatan juga di LDK MKMI UTM sebagai anggota departeman PPSDM (Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia) 2009-2010, sekaligus menjabat bendahara umum BEM FISIB UTM di tahun yang sama. Biasanya di malam atau sore hari aku juga mengajar privat untuk anak SD. Jadi masa itu masa yang sungguh sibuk dan penuh tantangan. Banyak sekali aktivitas rapat dari pagi hingga malam. Banyak juga aktifitas menyenangkan, jalan-jalan, studi banding, seminar, workshop, rakernas, silatnas, dan kegiatan lain, baik dalam maupun luar kota. Termasuk karena aku ikut menjadi anggota IMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia).
Ternyata begini nasib orang-orang berdinas, bisa keliling kemana-mana. Aku sampai ke kota impianku Jogja, bertandang ke Solo, Malang, Jember, Bali, Kediri, Tulungagung, hingga Jakarta. Itupun tak sekali dua kali. Impianku keliling Indonesia, sedikit demi sedikit terjawab juga. Berkat organisasi juga aku punya banyak teman dan tidak minder. Kelak aku akan mengunjungi teman-temanku nun jauh di Medan, Makassar, Aceh, Padang, Semarang, Bandung, NTT dan Papua. Tahun-tahun ini tahun yang benar-benar mengasyikkan. Meski sibuk di organisasi, aku juga masih sempat lolos seleksi Mahasiwa Berprestasi hingga bisa ikut seleksi ke tingkat universitas, sayangnya aku tak juara. Aku hanya mendapat piagam dan hadiah untuk juara 3 Mahasiswa Berprestasi tingkat FISIB UTM 2009-2010 dan juara 1 Mahasiswa Berprestasi tingkat Prodi Ilmu Komunikasi di tahun yang sama. Ini juga salah satu dari sekian banyak impian yang dikabulkan Allah untukku.
Karena prestasiku yang baik, aku selalu mendapat beasiswa untuk IPK Tertinggi di Prodi. Alhamdulillah, ini juga mimpi yang tak pernah putus kuperjuangkan. Dengan ini, aku selalu termotvasi untuk memberikan yang terbaik dalam hidupku, aku bisa menabung untuk masa depanku, menyambung mimpi-mimpi yang lain. Untuk itu, meski kadang kurang total dalam menjalankan amanah, wujud syukurku pada Allah adalah dengan terus berjuang di LDK MKMI bersama saudara-saudara yang lain sebagai Bendahara Umum 2010-2011.
Begitulah perjalanan panjangku di dunia pendidikan dan organisasi, belum terlalu banyak prestasi. Sekarang aku hanya Dewan Syuro di LDK MKMI. Meski tak banyak pengalaman di dunia tulis menulis, aku juga ditunjuk saudara-saudaraku sebagai Ketua Harian FLP Bangkalan. Semoga bisa lebih banyak menimba ilmu dan mewujudkan prestasi.
Yuli Ramahayu,
Mojokerto, 1 Januari 2012
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Tentangku, Jika kau Ingin tahu
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Melanjutkan sedikit saja tentang profilku. Rencananya menjadi satu file saja di bagian nama kemarin, tapi ternyata malah menemukan artikel lain yang pas untuk dicantumkan. Sedikit saja, supaya aku lebih dikenal, hehehe.
Nama panjangku Yuliana Setia Rahayu. Di keluarga aku dikenal dengan nama Liana. Di kalangan teman aku dipanggil Yuli. Aku lahir di kota Dompu, kota yang disekelilingnya adalah gunung batu. Meskipun pedesaan, kota ini tak begitu asri pada musim kemarau. Sangat berdebu dan gersang. Namun di musim penghujan, akan sangat hijau dan sejuk. Air disana selalu dingin, sejak pagi, hingga malam. Itu jadi alasan tepat aku malas mandi, hihihi. Dari Surabaya, perjalanan ke Dompu ditempuh selama 36 jam menggunakan bus. Lama sekali ya? Tapi perjalanan ini akan sangat menyenangkan dengan berbagai macam view. Nanti akan kuceritakan pemandangannya di lain case.
![]() | |
| Ini wilayah Donggo, Bima, NTB. Tapi beginilah kira-kira Dompu jika gersang. Masih satu kepulauan. |
Meski sudah ada RSUD di Dompu, ibuku melahirkan ke-5 anaknya di rumah, tapi dengan bantuan dokter atau bidan. Keren banget ibuku, zaman susah aja udah bisa panggil dokter ke rumah. Jadilah kami berlima memang anak gunung batu asli. Rumahku memang tepat berada di bawah kaki gunung batu, sebuah gunung mati di kelurahan Dorongao. Dorongao sendiri artinya gunung kucing. Karena di sana banyak sekali berkeliran kucing, sampai-sampai nama kelurahan tempat tinggalku disebut gunung kucing. Mungkin ini juga yang melatarbelakangi aku dan keempat saudaraku ditambah ibu, sangat menggilai kucing. Kecuali bapak, kami sekeluarga selalu bisa akrab dengan kucing-kucing peliharaan kami.
![]() | ||
| Keempat saudaraku dengan kucing peliharaan kami |
![]() | ||
| Ibuku, si bungsu, dan kucing-kucing tersayang |
![]() |
| Dorongao yang kupotret September 2011. Rumah sebelah kanan itu dulunya milik orang tuaku. |
Akupun termasuk yang lahir di rumah, pada 10 Januari 1991. Tahun ini, tahun-tahun booming-nya Telenovela berjudul Sinha Moca (Little Missy) keluaran Brazil, yang di dalamnya ada sahabat si tokoh utama bernama Juliana. Gara-gara tuh film namaku keluarnya jadi Yuliana, meski ada sedikit perbedaan ejaan. Tahun-tahun itu yang namanya televisi juga belum merajalela seperti sekarang. Hanya ada satu dua rumah saja yang memilikinya, apalagi untuk ukuran desa. Alhamdulillah keluargaku yang termasuk memilikinya. Eits, tapi tak selalu menguntungkan ya. Saking booming-nya film Little Missy ini, setiap hari tetangga ibuku berjubel di rumah untuk melihatnya. Tak sampai disitu, ibuku jadi sering kehilangan isi jemurannya, karena kalau pulang, ibu-ibu tetangga suka bawa oleh-oleh (seperti yang dituturkan ibuku).
Di usiaku yang ke-4, aku masuk sekolah TK, nama TKnya seingatku TK Bhayangkara, di kota Dompu. Namun tak sampai selesai aku di sana, karena aku memang anak nakal yang tak mau pergi sekolah. Bahkan pernah suatu ketika selama 1 bulan aku tak masuk. Kenakalanku tak sampai disitu, di sekolah aku termasuk jahil. Pernah sekali kubuat menangis temanku karena iseng menekuk jari kelingkingnya. Maksudku ingin uji coba, sakit atau tidak sih, kebiasaan orang-orang melipat dan dan membunyikan tulang-tulang jarinya. Walhasil uang sakuku yang Rp 50,- kupersembahkan untuk mendiamkan tangis temanku, hehehe. Kalau diingat-ingat temanku itu mata duitan ya, mudah aja disogok. Kenakalan lainnya juga terjadi ketika bersama-sama teman lain membohongi anak baru yang culun banget. Ceritanya, si anak baru suka sekali memenuhi buku gambarnya dengan corat-coret abstrak yang tak terdefinisi, sampai habis lembarannya untuk hari berikutnya. Aku dan teman-temanku malah menyemangati dan berbohong kalau gambarnya bagus. padahal sebenarnya kami sedang mengoloknya. Wah, nakal sekali aku.
Tak sampai setahun di sekolah TK, aku diajak bapakku berkunjung ke rumah nenek di Surabaya dan tak pernah kembali ke tanah kelahiranku lagi. Aku tinggal dan besar di Surabaya sampai usiaku yang sekarang. Sesekali saja aku berlibur, tapi tak pernah benar-benar menetap di sana. Ada sejarah panjang tentang kepindahanku, lain waktu akan kuceritakan. Habislah masa kanakku di tanah Jawa, di kota metropolitan yang megah. Oleh bule' yang mengasuhku, adik bungsu bapak, aku di sekolahkan di SD Darussalam. Sebuah SD di dalam perkampungan Pesapen yang berbasis NU. Disini aku belajar tak hanya ilmu umum, tapi juga ilmu agama. Sekolahku ini meski di kota termasuk sekolah yang kecil, tempatnya saja di dalam sebuah gang. Sekolah ini juga mulai sepi dan sedikit siswanya, tak seramai zamanku dulu. Kabar terakhir yang kudapat, sekolah ini hampir tutup. Hal ini terjadi mungkin karena pengurus yayasan dan gurunya banyak yang beralih ke sekolah-sekolah negeri. Bahkan pernah kutemui wali kelas 1 ku yang sabar, pindah mengajar di SD Negeri. Seingatku dulu, guru-guruku kebanyakan memang tenaga honorer. Bahkan wali kelas enamku, bu Lika, pernah masuk surat kabar, sedang berdemo untuk kemudahan pengangkatan bagi-bagi guru-guru sekolah swasta. Nasib SDku jadi seperti kisah sekolahnya Ikal di Laskar Pelangi ya.
Meski kecil, guru-guru di sekolahku sangat hebat. Aku tak pernah lupa bagaimana guru-guru yang hebat itu sangat sabar mengajar, memberi tambahan pelajaran sampai tambahan uang jajan pada murid-muridnya. Masa sih? Ini berlaku hanya padaku lho, karena aku termasuk murid kesayangan ibu-ibu guru. Pernah suatu ketika aku liburan kenaikan kelas 3, aku hendak liburan ke Dompu, untuk pertama kalinya setelah tak pernah bertemu ibuku, Bu Zahroh, wakil kepala sekolahku, memberiku uang jajan dengan menangis dan mencium pipiku sambil berpesan, "hati-hati di jalan ya." Aku yang masih ingusan hanya mengangguk saja. Waktu itupun bu Zahroh yang sebenarnya arah rumahnya berlawanan dengan rumahku mengantarku pulang, karena khawatir. Memang, di antara teman-temanku, hanya aku yang rumahnya paling jauh dan kala itu sedang terjadi kerusuhan besar. Ingatkan masa reformasi 1998? Dimana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana orang merasa khawatir dan tidak tenang. Pun Surabaya, di kampung-kampung sering terjadi perampokan di toko-toko warga keturunan Tionghoa, sekan-akan kejahatan menjadi halal sejak itu.
Lain bu Zahroh, lain Bu Min. Beliau wali kelasku di kelas 3 dan 4. Dialah ibu keduaku. Setiap kali pulang sekolah, beliau selalu menggandeng tanganku sampai persimpangan jalan antara rumahku dengan rumah beliau. Orang-orang yang selalu kulewati rumahnya, berangkat dan pulang sekolah sampai mengira aku adalah anak beliau. Selain pintar, aku juga tidak pernah nakal di sekolah. Mungkin karena di negeri orang, aku tak pernah senakal masa TKku dulu. Terakhir kali, aku bertemu bu Min di mall dekat rumahku, beliau meski terlihat lebih tua, masih cantik dan sebaik dulu.
Di kelas 4, aku sangat suka pelajaran bahasa Inggris yang diajar guru cantik bernama bu Atik Selain cantik beliau pintar sekali, namun sedikit galak. Bahasa Inggris pertama kali dikenalkan padaku pada kelas 4, bersamaan dengan pelajaran komputer, yang waktu itu masih dikenalkan pada program DOS, menyimpan data menggunakan disket yang sangat lebar. Aku sangat pandai dalam dua pelajaran ini, makanya aku sangat menyukainya. Aku ingat bagaimana sayangnya guru bahasa Inggrisku padaku. Kala mengajar di kelas 4, di akhir triwulan, guruku itu sudah hamil tua dan cuti. Tahun berikutnya bahasa Inggris di ajar guru baru yang lebih cantik lagi, namanya miss Ana. Beliau tidak mau dipanggil ibu atau mom, karena masih muda dan belum menikah katanya. Setelah aku lulus, beberapa tahun mengajar, beliau menikah dengan kepala sekolahku, sebagai istri kedua.
Entah kapan pak Rokhim wafat, aku lupa. Tapi kenangannya sebagai guru agama di kelas 4 dan 5 sangat berkesan. Beliau sangat lucu, dan sangat suka menggangguku. Entah rayuan macam apa saja yang beliau lancarkan padaku, aku tak terlalu ingat, tapi beliau tak pernah lupa menyebut namaku ketika mengajar.
Di SD dulu, yang paling aku suka adalah pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan fiqih. Karena itulah, untuk pelajaran-pelajaran itu nilaiku paling bagus di antara pelajaran lainnya. Pelajaran paling menjemukan adalah ke-NU-an. Pelajaran satu itu diajar langsung oleh kepala sekolahku yang menjadi salah satu pengurus inti PCNU Surabaya kala itu. Pelajaran ini berisi sejarah NU, dari tokoh, tanggal-tanggal, hingga badan organisasi naungan NU yang berjibun. Di kelasku, hanya Umar yang menguasainya, nilai ujiannya tertinggi, 65, semaksimal itulah perjuangan kelasku untuk pelajaran ini. Di SD dulu, aku tak pernah keluar dari 4 besar, paling sering di ranking 2 dan 3. Juara umumnya adalah temanku yang berambut pirang, Umar Al-Faruq yang cerdas. Terakhir bertemu, dia penghuni SMAN 2 Surabaya, salah satu SMA Favorit di Surabaya.
Prestasiku di SD tak banyak, juara menggambar, juara lomba Agustus-an sekolah, dirigen sekolah untuk upacara, menjadi finalis mewakili sekolah dalam lomba nasyid SD Ma'arif se-Surabaya, dan mungkin ada sedikit prestasi lain yang tak bisa lagi kuingat. Satu hal, menjadi murid kesayangan setiap guru di sana adalah juga prestasi kebanggaan yang tak terlupa.
Aku rindu guru-guru SDku, suatu saat aku ingin bertemu guru-guruku lagi. Juga melihat sekolah dan teman-teman SD yang rata-rata rumahnya tak jauh dari sana.
Ini masih profil di SD ya. Perjalanan masih panjang ya ternyata. Aku curhat seperti anak kemarin sore. Tapi biarlah, aku sedang ingin menulis ini. Mengenang masa kecilku.
Di usiaku yang ke-4, aku masuk sekolah TK, nama TKnya seingatku TK Bhayangkara, di kota Dompu. Namun tak sampai selesai aku di sana, karena aku memang anak nakal yang tak mau pergi sekolah. Bahkan pernah suatu ketika selama 1 bulan aku tak masuk. Kenakalanku tak sampai disitu, di sekolah aku termasuk jahil. Pernah sekali kubuat menangis temanku karena iseng menekuk jari kelingkingnya. Maksudku ingin uji coba, sakit atau tidak sih, kebiasaan orang-orang melipat dan dan membunyikan tulang-tulang jarinya. Walhasil uang sakuku yang Rp 50,- kupersembahkan untuk mendiamkan tangis temanku, hehehe. Kalau diingat-ingat temanku itu mata duitan ya, mudah aja disogok. Kenakalan lainnya juga terjadi ketika bersama-sama teman lain membohongi anak baru yang culun banget. Ceritanya, si anak baru suka sekali memenuhi buku gambarnya dengan corat-coret abstrak yang tak terdefinisi, sampai habis lembarannya untuk hari berikutnya. Aku dan teman-temanku malah menyemangati dan berbohong kalau gambarnya bagus. padahal sebenarnya kami sedang mengoloknya. Wah, nakal sekali aku.
Tak sampai setahun di sekolah TK, aku diajak bapakku berkunjung ke rumah nenek di Surabaya dan tak pernah kembali ke tanah kelahiranku lagi. Aku tinggal dan besar di Surabaya sampai usiaku yang sekarang. Sesekali saja aku berlibur, tapi tak pernah benar-benar menetap di sana. Ada sejarah panjang tentang kepindahanku, lain waktu akan kuceritakan. Habislah masa kanakku di tanah Jawa, di kota metropolitan yang megah. Oleh bule' yang mengasuhku, adik bungsu bapak, aku di sekolahkan di SD Darussalam. Sebuah SD di dalam perkampungan Pesapen yang berbasis NU. Disini aku belajar tak hanya ilmu umum, tapi juga ilmu agama. Sekolahku ini meski di kota termasuk sekolah yang kecil, tempatnya saja di dalam sebuah gang. Sekolah ini juga mulai sepi dan sedikit siswanya, tak seramai zamanku dulu. Kabar terakhir yang kudapat, sekolah ini hampir tutup. Hal ini terjadi mungkin karena pengurus yayasan dan gurunya banyak yang beralih ke sekolah-sekolah negeri. Bahkan pernah kutemui wali kelas 1 ku yang sabar, pindah mengajar di SD Negeri. Seingatku dulu, guru-guruku kebanyakan memang tenaga honorer. Bahkan wali kelas enamku, bu Lika, pernah masuk surat kabar, sedang berdemo untuk kemudahan pengangkatan bagi-bagi guru-guru sekolah swasta. Nasib SDku jadi seperti kisah sekolahnya Ikal di Laskar Pelangi ya.
Meski kecil, guru-guru di sekolahku sangat hebat. Aku tak pernah lupa bagaimana guru-guru yang hebat itu sangat sabar mengajar, memberi tambahan pelajaran sampai tambahan uang jajan pada murid-muridnya. Masa sih? Ini berlaku hanya padaku lho, karena aku termasuk murid kesayangan ibu-ibu guru. Pernah suatu ketika aku liburan kenaikan kelas 3, aku hendak liburan ke Dompu, untuk pertama kalinya setelah tak pernah bertemu ibuku, Bu Zahroh, wakil kepala sekolahku, memberiku uang jajan dengan menangis dan mencium pipiku sambil berpesan, "hati-hati di jalan ya." Aku yang masih ingusan hanya mengangguk saja. Waktu itupun bu Zahroh yang sebenarnya arah rumahnya berlawanan dengan rumahku mengantarku pulang, karena khawatir. Memang, di antara teman-temanku, hanya aku yang rumahnya paling jauh dan kala itu sedang terjadi kerusuhan besar. Ingatkan masa reformasi 1998? Dimana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana orang merasa khawatir dan tidak tenang. Pun Surabaya, di kampung-kampung sering terjadi perampokan di toko-toko warga keturunan Tionghoa, sekan-akan kejahatan menjadi halal sejak itu.
Lain bu Zahroh, lain Bu Min. Beliau wali kelasku di kelas 3 dan 4. Dialah ibu keduaku. Setiap kali pulang sekolah, beliau selalu menggandeng tanganku sampai persimpangan jalan antara rumahku dengan rumah beliau. Orang-orang yang selalu kulewati rumahnya, berangkat dan pulang sekolah sampai mengira aku adalah anak beliau. Selain pintar, aku juga tidak pernah nakal di sekolah. Mungkin karena di negeri orang, aku tak pernah senakal masa TKku dulu. Terakhir kali, aku bertemu bu Min di mall dekat rumahku, beliau meski terlihat lebih tua, masih cantik dan sebaik dulu.
Di kelas 4, aku sangat suka pelajaran bahasa Inggris yang diajar guru cantik bernama bu Atik Selain cantik beliau pintar sekali, namun sedikit galak. Bahasa Inggris pertama kali dikenalkan padaku pada kelas 4, bersamaan dengan pelajaran komputer, yang waktu itu masih dikenalkan pada program DOS, menyimpan data menggunakan disket yang sangat lebar. Aku sangat pandai dalam dua pelajaran ini, makanya aku sangat menyukainya. Aku ingat bagaimana sayangnya guru bahasa Inggrisku padaku. Kala mengajar di kelas 4, di akhir triwulan, guruku itu sudah hamil tua dan cuti. Tahun berikutnya bahasa Inggris di ajar guru baru yang lebih cantik lagi, namanya miss Ana. Beliau tidak mau dipanggil ibu atau mom, karena masih muda dan belum menikah katanya. Setelah aku lulus, beberapa tahun mengajar, beliau menikah dengan kepala sekolahku, sebagai istri kedua.
Entah kapan pak Rokhim wafat, aku lupa. Tapi kenangannya sebagai guru agama di kelas 4 dan 5 sangat berkesan. Beliau sangat lucu, dan sangat suka menggangguku. Entah rayuan macam apa saja yang beliau lancarkan padaku, aku tak terlalu ingat, tapi beliau tak pernah lupa menyebut namaku ketika mengajar.
Di SD dulu, yang paling aku suka adalah pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan fiqih. Karena itulah, untuk pelajaran-pelajaran itu nilaiku paling bagus di antara pelajaran lainnya. Pelajaran paling menjemukan adalah ke-NU-an. Pelajaran satu itu diajar langsung oleh kepala sekolahku yang menjadi salah satu pengurus inti PCNU Surabaya kala itu. Pelajaran ini berisi sejarah NU, dari tokoh, tanggal-tanggal, hingga badan organisasi naungan NU yang berjibun. Di kelasku, hanya Umar yang menguasainya, nilai ujiannya tertinggi, 65, semaksimal itulah perjuangan kelasku untuk pelajaran ini. Di SD dulu, aku tak pernah keluar dari 4 besar, paling sering di ranking 2 dan 3. Juara umumnya adalah temanku yang berambut pirang, Umar Al-Faruq yang cerdas. Terakhir bertemu, dia penghuni SMAN 2 Surabaya, salah satu SMA Favorit di Surabaya.
Prestasiku di SD tak banyak, juara menggambar, juara lomba Agustus-an sekolah, dirigen sekolah untuk upacara, menjadi finalis mewakili sekolah dalam lomba nasyid SD Ma'arif se-Surabaya, dan mungkin ada sedikit prestasi lain yang tak bisa lagi kuingat. Satu hal, menjadi murid kesayangan setiap guru di sana adalah juga prestasi kebanggaan yang tak terlupa.
Aku rindu guru-guru SDku, suatu saat aku ingin bertemu guru-guruku lagi. Juga melihat sekolah dan teman-teman SD yang rata-rata rumahnya tak jauh dari sana.
Ini masih profil di SD ya. Perjalanan masih panjang ya ternyata. Aku curhat seperti anak kemarin sore. Tapi biarlah, aku sedang ingin menulis ini. Mengenang masa kecilku.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)



