Showing posts with label Budha. Show all posts
Showing posts with label Budha. Show all posts

Friday, July 13, 2012

Wisata Candi-Candi di Yogyakarta

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

YOGJAKARTA, siapa yang tak dengan daerah yang satu ini, sampai-sampai seorang musisi terkenal di indonesia “Katon Bagaskara” pun menuliskan lagu yang sangat indah untuknya. Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan. Ya, itulah sekilas sejarah Yogyakarta. Sebagai sebuah destinasi archaeotourism yang terkenal, Yogyakarta merupakan surga untuk menjelajahi candi-candi kuno dan menemukan reruntuhan dari “Peradaban yang hilang misterius”.
Berikut ini adalah Candi-Candi yang berada di Yogyakarta :
1. Candi Borobudur
image
Alamat : Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Phone : +62 293 788 266
Fax: fax. : +62 293 788 132
Koordinat GPS : S7°36’28.3″ E110°12’13.5″
Candi Borobudur adalah candi Budha terbesar di abad ke-9 yang berukuran 123 x 123 meter. Candi Borobudur selesai dibangun berabad-abad sebelum Angkor Wat di Kamboja.
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritagesini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.
Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi. [ Baca selengkapnya ]
2. Candi Prambanan
image
Alamat : Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Koordinat GPS : S7°45’7.1″ E110°29’28.1″
Candi Prambanan adalah mahakarya kebudayaan Hindu dari abad ke-10. Bangunannya yang langsing dan menjulang setinggi 47 meter membuat kecantikan arsitekturnya tak tertandingi. Prambanan merupakan Candi Hindu Tercantik di Dunia.
Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah. Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi. [ Baca selengkapnya ]
3. Candi Ijo
image
Alamat : Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Koordinat GPS : S7°47’2.2″ E110°30’44.2″
Candi Ijo adalah candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta yang menyuguhkan pesona alam dan budaya serta pesawat yang tengah landing. Candi inilah yang membuat landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.
Candi Ijo, Candi yang Letaknya Tertinggi di Yogyakarta
Menyusuri jalan menuju bagian selatan kompleks Istana Ratu Boko adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan, terutama bagi penikmat wisata budaya. Bagaimana tidak, bangunan candi di sana bertebaran bak cendawan di musim hujan. Satu diantaranya yang belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sebuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati. [ Baca selengkapnya ]
4. Istana Ratu Boko
image
Alamat : Jalan Raya Jogja-Solo, Prambanan, Yogyakarta, Indonesia
Phone: (0274) 496 510
Koordinat GPS : S7°46’17.9″ E110°29’24.9″
Istana Ratu Boko adalah kompleks istana megah yang dibangun pada abad ke-8. Bangunan yang bisa dikatakan termegah di jamannya itu dibangun oleh salah satu kerabat pendiri Borobudur.
Istana Ratu Boko, Kemegahan di Bukit Penuh Kedamaian
Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara(berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi. [ Baca selengkapnya ]
5. Candi Sambisari
image
Alamat : Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Koordinat GPS : S7°45’44.9″ E110°26’48.7″
Setelah terkubur selama ratusan tahun, bongkahan pertama ditemukan pada tahun 1966. Memerlukan waktu 21 tahun untuk menggali dan merangkai ratusan keping “puzzle” dari batu itu sebelum akhirnya Candi Sambisari berhasil direkonstruksi.
21 Tahun Merangkai “Puzzle”. Tak ada perasaan aneh yang menghinggapi Karyowinangun pada sebuah pagi di tahun 1966. Tapi sebuah kejadian langka dialaminya di sawah kala itu, ketika sedang mengayunkan cangkulnya ke tanah. Cangkul yang diayunkan ke tanah membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Karyowinangun dan warga sekitar pun merasa heran dengan keberadaan bongkahan batu itu.
Dinas kepurbakalaan yang mengetahui adanya temuan itu pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen sebuah candi. [ Baca selengkapnya ]
6. Candi Plaosan
image
Alamat : Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Prambanan, Jawa Tengah 57454, Indonesia
Koordinat GPS : S7°44’33.5″ E110°30’16.7″
Candi Plaosan yang dibangun Rakai Pikatan memiliki beberapa keunikan dibanding candi lain, yaitu dua candi utamanya yang “kembar” serta teras yang permukaannya halus. Di candi ini juga terdapat figur Vajrapani, Amitbha, dan Prajnaparamitha.
Anda tak perlu terburu-buru kembali ke penginapan usai berkunjung ke Candi Prambanan, sebab tidak jauh dari candi Hindu tercantik di dunia itu anda juga akan menemui candi-candi lain yang sama menariknya. Melaju ke utara sejauh 1 km, anda akan menemui Candi Plaosan, sebuah candi yang dibangun oleh Rakai Pikatan untuk permaisurinya, Pramudyawardani. Terletak di Dusun Bugisan Kecamatan Prambanan, arsitektur candi ini merupakan perpaduan Hindu dan Budha. Kompleks Plaosan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Kedua candi itu memiliki teras berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh dinding, tempat semedi berbentuk gardu di bagian barat serta stupa di sisi lainnya. Karena kesamaan itu, maka kenampakan Candi Plaosan Lor dan Kidul hampir serupa jika dilihat dari jauh sehingga sampai sekarang Candi Plaosan juga sering disebut candi kembar.
Bangunan Candi Plaosan Lor memiliki halaman tengah yang dikelilingi oleh dinding dengan pintu masuk di sebelah barat. Pada bagian tengah halaman itu terdapat pendopo berukuran 21,62 m x 19 m. Pada bagian timur pendopo terdapat 3 buah altar, yaitu altar utara, timur dan selatan. Gambaran Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya terdapat di altar timur. Stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha ada di altar utara, sementara gambaran Manjusri terdapat di altar barat. [ Baca selengkapnya ]
7. Candi Tara
image
Alamat : Jl. Jogja-Solo km 13 Kalasan, Yogyakarta 55282, Indonesia
Koordinat GPS : S7°46’2.3″ E110°28’19.8″
Candi Tara adalah candi yang dipersembahkan untuk Dewi Tara yang dinding luarnya dilapisi semen kuno. Candi Budha tertua di Yogyakarta ini dibangun oleh Rakai Panangkaran, raja dari dinasti Syailendra yang juga mengkonsep pendirian Borobudur.
Banyak orang selalu menyebut Borobudur saat membicarakan bangunan candi Budha. Padahal, ada banyak candi bercorak Budha yang terdapat di Yogyakarta, salah satu yang berkaitan erat dengan Borobudur adalah Candi Tara. Candi yang terletak di Kalibening, Kalasan ini dibangun oleh konseptor yang sama dengan Borobudur, yaitu Rakai Panangkaran. Karena letaknya di daerah Kalasan, maka candi ini lebih dikenal dengan nama Candi Kalasan. Selesai dibangun pada tahun 778 M, Candi Tara menjadi candi Budha tertua di Yogyakarta. Candi yang berdiri tak jauh dari Jalan Yogya Solo ini dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari Dinasti Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari Dinasti Syailendra. Selain sebagai hadiah perkawinan, candi itu juga merupakan tanggapan usulan para raja untuk membangun satu lagi bangunan suci bagi Dewi Tara dan biara bagi para pendeta. [ Baca selengkapnya ]
8. Candi Gampingan
image
Alamat : Piyungan, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Koordinat GPS: S7°50’7.2″ E110°26’11.9″
Candi Gampingan yang ditemukan pada tahun 1995 diduga merupakan bagian dari Situs Gampingan. Bagian kaki candi dihiasi relief beragam jenis hewan, salah satunya burung yang dipercaya mampu membawa pesan dari nirwana. Tak semua candi memiliki relief cantik yang khas sebab umumnya hanya dihias oleh arca dan relief umum yang terdapat hampir di semua candi. Salah satu yang memiliki relief cantik yang khas itu adalah Candi Gampingan, sebuah candi yang ditemukan secara tak sengaja oleh pengrajin batu bata di Dusun Gampingan, Piyungan, Bantul pada tahun 1995. Meski ukurannya kecil dan sudah tak utuh lagi, Candi Gampingan masih kaya akan relief yang mempesona. Salah satu relief cantik yang bisa dijumpai di candi ini adalah relief hewan yang ada di kaki candi. Relief hewan di Gampingan begitu natural hingga bisa diketahui jenis hewan yang digambarkan. Cukup jarang candi yang memiliki relief demikian, setidaknya hanya Candi Prambanan dan Mendut yang dikenal memiliki relief serupa. Semua relief itu dihias dengan latar sulur-suluran, yaitu padmamula(akar tanaman teratai) yang diyakini sebagai sumber kehidupan. [ Baca selengkapnya ]
9. Candi Kedulan
image
Alamat : Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
Koordinat GPS : S7°44’12.7″ E110°28’13.2″
Candi Kedulan ditemukan pada tahun 1993. Penemuan candi ini beserta dua buah prasasti di lokasi penggaliannya mengundang pertanyaan tentang keberadaan desa kuno bernama Pananggaran dan sebuah bendungan di dekatnya.
Candi Kedulan adalah sebuah candi bercorak Hindu yang terdapat di Dusun Kedulan, kurang lebih 3 kilometer dari Candi Kalasan. Candi ini ditemukan secara tak sengaja oleh para penambang pasir pada 24 November 1993. Kesenangan yang berbeda akan didapatkan bila mengunjungi candi ini, sebab anda bisa menikmati proses rekonstruksi candi yang sangatlah rumit. Lokasi penggalian sedalam 7 meter akan langsung ditemui begitu tiba di kompleks candi ini. Lokasi penggalian itu berisi batu-batu candi yang tersebar ke segala penjuru dan bagian kaki candi induk yang tampak masih menyatu. Di lokasi penggalian inilah kompleks Candi Kedulan yang terdiri dari 1 candi induk dan 3 candi perwara(pendamping) semula berdiri. Kini, bagian kaki candi induk tengah diuji kekokohannya agar dapat ditumpangi batu-batu lain pada tahap selanjutnya.  [ Baca selengkapnya ]
10. Candi Mendut
image
Alamat : Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Koordinat GPS : S7°36’17.3″ E110°13’48.1″
Candi Mendut lebih tua dari Candi Borobudur. Ada cerita untuk anak-anak pada dinding-dindingnya. Candi Mendut terletak 3 km ke arah timur dari Candi Borobudur, merupakan candi Budha yang dibangun tahun 824 Masehi oleh Raja Indera dari wangsa Syailendra. Di dalam Candi Mendut terdapat 3 (tiga) patung besar. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia.
Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya, Vajrapani. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan, ada cerita untuk anak-anak pada dinding-dindingnya. Candi ini sering dipergunakan untuk merayakan upacara Waisak setiap Mei pada malam bulan purnama dan dikunjungi para peziarah dari Indonesia maupun manca negara.
Candi ini lebih tua dari Candi Borobudur. Arsitekturnya persegi empat dan mempunyai pintu masuk di atas tangganya. Atapnya juga persegi empat dan bertingkat-tingkat, ada stupa di atasnya. [ Baca selengkapnya ]
11. Candi Pawon
image
Alamat : Desa Mendut, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Koordinat GPS: S7°36’22″ E110°13’10.3″
Candi Pawon bukan sebuah makam, melainkan sebagai tempat untuk menyimpan senjata Raja Indera yang bernama Vajranala. Candi Pawon terletak 1,5 km ke arah barat dari Candi Mendut dan ke arah timur dari Candi Borobudur, juga merupakan sebuah candi Budha. Saat diteliti secara lengkap pada reliefnya, ternyata merupakan permulaan relief Candi Borobudur.
Banyak orang mengira Candi Pawon merupakan sebuah makam, namun setelah diteliti ternyata merupakan tempat untuk menyimpan senjata Raja Indera yang bernama Vajranala. Candi ini terbuat dari batu gunung berapi. Ditinjau dari seni bangunannya merupakan gabungan seni bangunan Hindu Jawa kuno dan India. Candi Pawon terletak tepat di sumbu garis yang menghubungkan Candi Borobudur dan Candi Mendut.
Kemungkinan candi ini dibangun untuk kubera. Candi ini berada di atas teras dan tangga yang agak lebar. Semua bagian-bagiannya dihiasi dengan stupa (dagoba) dan dinding-dinding luarnya dengan gambar-gambar simbolis.
Di kutip oleh Ucup budug
Sumber : Http://Yogyes.com , id wikipedia, dll.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

SEJARAH AGAMA BUDHA Di BALI

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Agama Buddha tidaklah asing bagi masyarakat Bali, karena di pulau ini pernah tercatat berkembangnya Agama Siwa-Buddha. Catatan ini membuktikan Agama Buddha pernah menjadi salah satu agama masyarakat Bali dan membuktikan pula bahwa Agama Buddha memiliki landasan filosofi moral cinta kasih yang universal sehingga mampu hidup berdampingan dan menyatu dengan agama-agama (sekte-sekte) lain secara harmonis.

Catatan sejarah menunjukkan Agama Buddha diperkirakan masuk ke pulau Dewata pada abad ke 7 - 8. Banyak bukti sejarah yang kini menjadi saksi keberadaannya, seperti stupika (stupa), candi, patung-patung Buddha yang ditemukan di wilayah Kabupaten Gianyar, Klungkung, Karangasem dan Buleleng. Terakhir diketemukan stupa-stupa di desa Kalibukbuk (dekat daerah wisata Lovina, ±1 km dari BVA).

Banyak tokoh Buddhis di Bali yang tercatat memiliki peran amat penting dalam menata sosial kemasyarakatan, misalnya Mpu Kuturan, Mpu Nirarta (Dang Hyang Nirarta kemudian menyebarkan Siwa, yang dalam praktek hidupnya masih kental dipengaruhi oleh filosofi Buddha), Mpu Astapaka dan lain-lainnya. Bahkan keturunan Mpu Astapaka (merupakan keponakan Dang Hyang Nirarta) hingga kini masih jelas identitas Buddhisnya.

Seperti yang kita lihat saat ini, faham-faham Buddhis telah demikian luas dan menyatu secara harmonis dengan faham-faham lainnya seperti Siwa, Bojangga, Waisnawa, Soradan lain-lainnya menjadi satu yaitu yang kita kenal sebagai Agama Hindu Bali yang kemudian menjadi Agama Hindu.

Seiring dengan perkembangan sosial kehidupan masyarakat Indonesia secara umum, Agama Hindu dan Buddha mengalami kemunduran yang sangat berarti setelah tokoh-tokoh diatas tiada. Guru-guru spiritual yang berkualitas amat langka, kitab-kitab suci pun amat terbatas (kalau toh ada cenderung dikeramatkan oleh pemiliknya), lontar-lontar mulai ditinggalkan dan dilupakan karena desakan teknologi dan arus materialisme. Makna ritual keagamaan mulai bergeser menjadi Dogma. Keadaan seperti ini berlangsung hingga Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda dan Jepang.
Setelah jaman kemerdekaan, mulailah muncul keinginan-keinginan mempelajari agama-agama leluhur dan lahirlah kelompok-kelompok atau paguyuban-paguyuban yang khusus menggali dan mempelajari Agama dan Sastra yang pada jaman itu sangat populer dengan sebutan kelompok-kelompok kebathinan. Kitab-kitab suci agama Hindu dan Buddha mulai bisa didapatkan dari luar dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dhammaduta asing mulai datang ke Indonesia. Kaum intelektual mulai tertarik memperdalam belajar agama yang otentik/murni. Tercatat pelajar-pelajar Bali di Yogyakarta antara lain I Ketut Tangkas (kini Titha Ketuko Thera), IGN Oka Diputhera dan lain-lainnya ikut tergabung dalam kelompok-kelompok yang menggali dan mempelajari filsafat-filsafat agama yang murni. Di Bali tercatat nama Ida Ketut Jelantik dari desa Banjar Tegehe merupakan figur sastrawan yang getol mempelajari agama Buddha. Ida Ketut Jelantik yang terkenal dengan karya sastranya yang berjudul Sucita Subudi adalah paman Ida Bagus Giri (kemudian dikenal dengan nama Girirakkhito Mahathera). Ida Ketut Jelantik membangkitkan kembali ajaran Buddhisme yang otentik (yang belum dipengaruhi oleh kondisi-kondisi tertentu/murni) melalui kelompok-kelompok sastrawan di Bali Utara/Buleleng khususnya di desa Banjar dan sekitarnya.

Setelah peringatan Buddha Jayanti pada tahun 1956 di Semarang, mulailah muncul kelompok-kelompok yang senang mempelajari kebathinan khususnya menghayati Buddhisme melalui metode Meditasi Vipasana Bhavana. Figur-figur yang tergabung dalam kelompok itu di antaranya adalah I Nengah Astika (kini dikenal dengan nama Shri Pandita Buddharakshita), almarhum Ida Putu Gede Sangging, almarhum Ida Komang Gejer, almarhum Jro Dalang Nyoman Gede, almarhum Putu Mertha Purna, almarhum I Gde Sedana dan lain-lainnya.

Fungsi Brahmavihara Arama

Sesuai dengan latar belakang dan cita-cita pendirian Brahma Vihara sejak di desa Banjar hingga kini menjadi Brahmavihara Arama, maka fungsinya adalah sebagai berikut:

- Sebagai tempat tinggal para Bhikkhu
- Sebagai tempat sembahyang, praktek bakti umat Buddha
- Sebagai tempat pembabaran Dharma/dhamma dan meditasi
- Sebagai tempat menggali dan mengembangkan spiritualitas
- Sebagai sarana sosial kemasyarakatan.Dari fungsi-fungsi tersebut Brahmavihara Arama telah didesign sedemikian rupa sebagai visualisasi, tahapan-tahapan praktek yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan yaitu Nirwana.

Brahmavihara Arama ke Depan.

Tahun 2009 genap 30 tahun usia BVA. Selama 38 tahun pula pembangunan teras dilaksanakan hingga kini, meski Bhante Giri telah tiada pembangunan terus berlanjut. Ini mencerminkan laju pembangunan BVA cukup lamban, meski demikian kita tetap setia dan bersemangat untuk mewujudkan cita-cita Bhante Giri guna menjadikan BVA sebagai tempat pelatihan meditasi (Vipasana). Kesetiaan kita mengabdi kepada dhamma merupakan wujud bakti dan terimakasih kita terhadap Tri Ratna pada umumnya serta kepada almarhum Bhante Giri yang telah mewujudkan ajaran / dhamma kepada kita.

Untuk mewujudkan cita-cita Bhante Giri menjadikan BVA sebagai tempatpelatihan meditasi. sejak dua tahun lalu telah dibangun bangunan stupayangdibawahnya dapat digunakan sebagai ruang meditasi. Disebelah barat bangunan stupa akan dibangun kuti-kuti/ asrama untuk tempat tinggal para Bhikku dan peserta meditasi yang akan dilengkapi dapur dan ruang makan. Sebagai penunjangjugaakan dibangun perpustakaan dan ruang pertemuan. Semua ini akan dapat terwujud bila kita semua yang pernah dibimbing dan mendapat kasih sayang Bhante secara sadar dan iklasm1pxBtFU/TUljoegb8_I/AAAAAAAABQE/8FSVB3ydg50/s1600/4.jpg" style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: none; padding: 0px;" />
Brahmavihara Arama terdiri dari tiga kata yaitu: Brahma, Vihara dan Arama. Brahma berarti agung, sangat luhur, terpuji, mulia. Vihara berarti cara hidup, dan Arama berarti tempat. Sering pula dijumpai bahwa kata Vihara diberi arti sama dengan Arama yaitu sebagai suatu tempat tinggal. Dari arti kata tersebut, maka makna Brahmavihara Arama adalah suatu tempat untuk melatih diri, menempa perilaku luhur/terpuji yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Pemberian nama Brahma Vihara oleh Almarhum Bhante Giri selaku Founding Father sangat sejalan dengan tujuan pendiriannya.

Perilaku luhur yang meliputi Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha. Ini dapat digali, dihayati, disadari dan dipraktekkan melalui jalan meditasi Vipassana Bhavana, karena Brahma Vihara sekaligus dapat dijadikan objek meditasi. Berkenaan dengan itulah Brahmavihara Arama diproklamasikan oleh Bhante Giri sebagai salah satu tempat meditasi. Kita menyadari dan meyakini bahwa manusia itu terdiri dari Rupa dan Nama yaitu tubuh/badan dan bhatin yang juga disebut sebagai Panca khanda. Panca khandha adalah lima kelompok kehidupan yang terdiri dari badan jasmani/tubuh (Rupa), perasaan, pencerapan, pikiran dan kesadaran (Nama) Panca khandha inilah yang disebut hidup dan kehidupan atau lazim disebut manusia.

Oleh karena terdiri dari dua kelompok (Nama dan Rupa) maka dalam kehidupan memerlukan dua kelompok makanan/kebutuhan yaitu:
  1. Untuk kelompok Rupa (badan, jasmani/tubuh) memerlukan 4 (empat) kebutuhan pokok yaitu: makanan (pangan), pakaian (sandang), tempat tinggal (papan) dan obat-obatan. Tempat tinggal jasmani disebut juga Vihara-fisik.
  2. Untuk Nama (bathin) memerlukan Dharma/Dhamma/ajaran spiritual, Ilmu pengetahuan dan juga tempat tinggal yang juga disebut vihara. Vihara disini merupakan suatu kondisi bathin-abstrak.
Berdasarkan kelompok tersebut maka Vihara sebagai tempat tinggal bathin adalah sebagai berikut:

1. Brahmavihara Arama terdiri

a. Metta/Maitri
Cinta kasih yang murni yang diberikan kepada semua mahkluk (universal) yang menembus tirai-tirai manusia berupa ras, suku, bangsa, agama, jenis kelamin, usia, tempat tinggal dan lain sebagainya. Cinta kasih ini hakekatnya menghendaki semua mahkluk dapat hidup sejahtera (dalam arti kebutuhan pokok terpenuhi, damai, terlindung, aman, sehat).
- Metta/Maitri juga dapat diartikan sebagai sahabat yang setia. Sedangkan lawan langsung dari Metta /Maitri adalah kebencian dan itikad buruk. Lawan tidak langsungnya adalah nafsu, keinginan yang bersifat jasmani, keterikatan terhadap nafsu-nafsu indrya dan kegiuran atau kemelakatan terhadap "Aku"(Pema/Prema). Metta adalah suatu keadaan bathin yang bersih seperti air raksa yang tidak melekat pada apapun.
- Metta menempati suatu tempat sebagai subjek tetapi tidak melekat pada subjeknya.
- Metta menyasar suatu objek tetapi tidak melekat pada objek atautanpapamrih.
- Metta merupakan bahasa hati yang menghubungkan satu sama lain serta menyatukannya (sebagai alat pemersatu).
- Metta membantu tetapi tidak mencampuri.
- Metta mencintai tetapi bijaksana, tidak melekat dan sekaligus tidak menyakiti.
- Metta memberi tetapi tidak menuntut dan tidak bangga.
- Metta tidak lemah tetapi lembut dan tegar.
Perbuatan Metta dilakukan dengan tekad untuk menolong, membebaskan, membahagiakan dan melapangkan jalan.
Cara-cara untuk mengembangkan Metta adalah:
Membuang sifat jahat, kebencian, marah dan dendam.
Merenungkan manfaat mengasihi, mencintai melalui pemusatan pikiran pada hukum karma.

b. Karuna:
kasih sayang yang tulus kepada semua mahkluk yang menderita. Ikut merasakan beban penderitaan serta membantu mengeliminir penderitaan yang dialami. Lawan langsung Karuna adalah kekerasan dan kekejaman. Sedangkan lawan tidak langsung atau terselubung adalah kesedihan. Karuna akan menghindari kejahatan dan kekejaman sekecil apapun serta berupaya melenyapkan penderitaan mahkluk lain tanpa memandang ras, agama, jenis kelamin, suku, bangsa, usia dan tempat tinggal (Universal) dan memberikan sesuatu yang menentramkan. Semua perbuatan baik, sifat-sifat baik mempuhyai dasar Karuna sebagai pangkal pijakan (Karuna Nidhanam Nisilam).

c. Mudita:
merupakan kegembiraan yang timbul dari hati nurani atas keberhasilan orang lain. Mudita adalah simpati tanpa keakuan. Lawan langsungnya adalah irihati, dengki dan ketidak-senangan. Sedangkan lawan terselubungnyaadalah luapan emosi. Sifat Karuna dan Mudita ibarat sekeping matauang: berbeda tetapi tak dapat dipisahkan.

d. Upekka/Upeksa:
keseimbangan bathin yang timbul akibat perenungan terhadap sebab-akibat/Hukum Karma serta memiliki pengertian tentang kesunyataan sehingga membuat pikirannya tenang dan tidak tergoyahkan. Lawan langsung dari Upekka adalah keterikatan, sedangkan lawan terselubung adalah sifat acuh tak acuh yang diakibatkan oleh kebodohan bathin. Metta merangkul semua mahkluk, Karuna menyentuh orang yang sedang menderita, Mudita menumbuhkembangkan semangat bagi yangberhasil dan yang tidak berhasil, yang baik dan yang jahat yang dikasihi maupun yang terlantar, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang tampak buruk maupun yang cantik dengan tanpa pilih kasih. Upekkha tidak hanyut atau terlena terhadap atthaloka dhamma atau perubahan delapan macam dari kehidupan yaitu: untung-rugi, tidak mashur-termashur, dipuji-dicela, suka-duka.

2. Dibba Vihara, terdiri dari: 
  • Hiri:   Rasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. 
  • Ottapa:  Rasa takut akan akibat dari perbuatan yang tidak baik.
3. Dhamma Vihara adalah merupakan jantung kehidupan manusia, yaitu:
  • Jangan berbuat jahat

2. Dibba Vihara, terdiri dari: 
  • Hiri:   Rasa malu untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. 
  • Ottapa:  Rasa takut akan akibat dari perbuatan yang tidak baik.
3. Dhamma Vihara adalah merupakan jantung kehidupan manusia, yaitu:
  • Jangan berbuat jahat
  • Berusahalah untuk menambah kebaikan
  • Sucikan hati dan pikiran
  • Inilah ajaran paraBuddha.
4. Arya Vihara, terdiri dari:
  • Sila : Latihan kedisiplinan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang/mahluk lain.
  • Samadhi: Pengembangan bathin untuk mencapai ketenangan dan pandangan terang.
  • Panna: Kebijaksanaan yang timbul sebagai akibat dari pelaksaan sila yang baik. Merekayang memiliki ke bijaksanaan akan mencapai kebahagian sejati.
Untuk membangun vihara sebagai tempat tinggal kita butuh material, kemauan, tenaga dan uang. Sedangkan untuk membangun vihara dalam bathin kita membutuhkan Sati dan Sampa janna. Sati adalah keadaan yang selalu sadar, penuh perhatian dan kesadaran yang ditujukan kepada Brahmavihara, Dibhavihara, Dhammavihara dan Arya vihara. Sampajanna berarti sadar akan apa yang sedang dilakukan, selalu mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh mata, hidung, telinga, anggotatubuh lain- nya serta pikiran.

Brahmavihara, Dibbavihara, Dhammavihara dan Aryavihara sangat baik dan tepat digunakan sebagai landasan filosofis hidup berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara sehingga mampu menciptakan kedamaian dan perdamaian dunia.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

SEJARAH AGAMA BUDHA Di INDONESIA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Pada jaman dahulu orang-orang di Indonesia menyembah dan memuja roh leluhur. Leluhur dianggap sebagai yang telah berjasa dan mempunyai banyak pengalaman. Roh leluhur, Hyang, atau Dahyang, demikian beberapa sebutan yang biasa dipakai, menurut kepercayaan pada waktu itu dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat digunakan oleh orang-orang yang masih hidup. Kekuatan gaib itu diperlukan jika orang mulai suatu pekerjaan yang penting. Misalnya akan berangkat perang, akan mulai mengerjakan tanah, dan lain sebagainya.
Mereka percaya juga bahwa benda-benda seperti pohon besar, batu besar, gunung dan sebagainya dihuni oleh roh-roh. Ada kalanya benda-benda atau senjata-senjata juga dianggap bertuah dan sakti sehingga dijadikan jimat oleh pemiliknya. Upacara pemujaan roh leluhur harus diatur sebaik-baiknya, agar restu mudah diperoleh. Pertunjukan wayang erat hubungannya dengan upacara tersebut. Kepercayaan kepada Hyang masih dapat kita lihat sampai saat ini.
2. JAMAN SRIWIJAYA
Kerajaan Sriwijaya bukan saja termasyur karena kekuatan angkatan perangnya, melainkan juga karena merupakan pusat ilmu dan kebudayaan Buddhis. Di sana terdapat banyak vihara dan dihuni oleh ribuan Bhikkhu. Di Perguruan Tinggi Agama Buddha di Sriwijaya, selain kuliah-kuliah tentang Agama Buddha, orang dapat mengikuti juga kuliah-kuliah tentang bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno (Kawi). Pujangga-pujangga Agama Buddha terkenal seperti Dharmapala dan Sakyakirti pernah mengajar di Perguruan Tinggi tersebut. Pada waktu itu Sriwijaya merupakan mercusuar Agama Buddha di Asia Tenggara. Sriwijaya memancarkan cahaya budaya manusia yang cemerlang.
Tentang Agama Buddha di Sriwijaya juga banyak diberitakan oleh Sarjana Agama Buddha dari Tiongkok yang bernama Itsing. Tahun 672 ia berangkat berziarah ke tempat-tempat suci Agama Buddha di India. Dalam perjalanan pulang sekitar tahun 685, ia singgah di Kerajaan Sriwijaya. Ia tinggal di sana selama 10 tahun untuk mempelajari dan menerjemahkan buku-buku suci Agama Buddha dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Cina.
Kerajaan Sriwijaya yang didirikan pada ? abad ke-7 dapat bertahan terus hingga tahun 1377.
3. JAMAN SAILENDRA DI MATARAM
Sekitar tahun 775 sampai dengan 850 di daerah Bagelan dan Yogyakarta berkuasalah raja-raja dari wangsa Sailendra yang memeluk Agama Buddha. Inilah jaman keemasan bagi Mataram dan negara di bawah pemerintahannya karena keadaan saat itu aman dan makmur.
Ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan tentang Agama Buddha, sangatlah maju. Kesenian – terutama seni pahat, mencapai taraf yang sangat tinggi. Pada waktu itu seniman-seniman Bangsa Indonesia telah menghasilkan karya seni yang mengagumkan, misalnya Candi Borobudur, Pawon, Mendut, Kalasan, dan Sewu.
Selain candi-candi tersebut di atas, sebenarnya masih banyak lagi candi-candi yang didirikan atas perintah raja-raja Sailendra. Tetapi yang paling besar dan paling indah adalah Candi Borobudur. Setelah Raja Samarottungga meninggal dunia, Mataram kembali diperintah oleh raja-raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, namun Agama Buddha dan Agama Hindu dapat berkembang terus berdampingan dengan rukun dan damai.
4. JAMAN MAJAPAHIT
Di bawah raja-raja Majapahit (tahun 1292 sampai dengan tahun 1478) yang menganut Agama Hindu, Agama Buddha masih dapat berkembang dengan baik. Toleransi dalam bidang keagamaan dijaga baik-baik, sehingga pertentangan antar agama tak pernah terjadi.
Pada waktu pemerintahan Raja Hayam Wuruk, seorang pujangga terkenal, Mpu Tantular, menulis sebuah buku yang berjudul “Sutasoma”, di mana di dalamnya terdapat kalimat Ciwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tanhang Dharma Mandrawa. Dari kata-kata inilah kemudian diambil semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang kini dijadikan lambang Negara Republik Indonesia yang melambangkan motto toleransi dan persatuan.
Setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478, maka berangsur-angsur Agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh Agama Islam.
5. JAMAN ABAD KE-20
Agama Buddha mulai bangkit kembali di Pulau Jawa ditandai dengan datangnya Y.M. Bhikkhu Narada Thera dari Sri Lanka (Ceylon) pada bulan Maret 1934. Selama berada di Pulau Jawa, Y.M. Bhikkhu Narada telah melakukan sejumlah kegiatan. Antara lain sebagai berikut:
* Memberikan khotbah-khotbah dan pelajaran-pelajaran Buddha Dhamma di beberapa tempat di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
* Memberkahi penanaman Pohon Bodhi di pelataran Candi Borobudur pada 10 Maret 1934.
* Membantu dalam pendirian Java Buddhist Association (Perhimpunan Agama Buddha yang pertama) di Bogor dan Jakarta.
* Menjalin kerja sama yang erat dengan Bhikshu-Bhikshu (hweshio-hweshio) dari klenteng-klenteng Kim Tek Ie, Klenteng Toeng San Tong di Jakarta, Klenteng Hok Tek Bio di Bogor, Klenteng Kwan Im Tong di Bandung, Klenteng Tin Kok Sih di Solo, dan perhimpunan-perhimpunan Theosofie di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
* Melantik upasaka dan upasika di tempat-tempat yang dikunjungi.
Nama-nama dari para perintis bangkitnya kembali Agama Buddha di Pulau Jawa pada waktu itu adalah antara lain:
1. Pandita Josias van Dienst, Deputy Director General Buddhist Mission, Java Section (Headquarter-nya berada di Thaton, Birma) dan
2. Kwee Tek Hoay, Direktur dan Redaktur Kepala dari Majalah Moestika Dharma, Jakarta.
Tahun 1938 berdirilah Sam Kauw Hwee di beberapa tempat di Indonesia. Pada tahun 1952 Sam Kauw Hwee-Sam Kauw Hwee tersebut bergabung menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI), kemudian mengganti nama menjadi Gabungan Tri Dharma Indonesia.
Pada tahun 1953 The Boan An dari Bogor ditahbiskan menjadi Bhikkhu Therav?da di Birma oleh Ven. Mahasi Sayadaw dan diberi nama Ashin Jinarakkhita. Sekitar tahun 1955-1956 berdiri Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI).
Tanggal 3 Mei 1958 dibentuk Perhimpunan Buddhis Indonesia (disingkat PERBUDI) yang berkedudukan di Semarang. Tetapi sejak tahun 1965 dipindahkan ke Jakarta. Tahun 1970 PERBUDI menjadi PERBUDDHI sebagai gabungan dari PERBUDI, PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia), GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia), dan Wanita Buddhis Indonesia.
Pada tahun 1959 Y.M. Narada Mahathera kembali datang ke Indonesia disertai 12 orang Bhikkhu senior dari beberapa negara, yaitu:
1. H.E. Somdach Choun Nath Mahathera dari Kamboja.
2. Ven. Ung Mean Chanavanno Mahathera dari Kamboja.
3. Ven. Agga Maha Pandita Mahasi Sayadaw dari Birma.
4. Ven. Narada Mahathera dari Sri Lanka.
5. Ven. Tudawe Arivawangsa Nayaka Thera dari Sri Lanka.
6. Ven. Piyadasi Mahathera dari Sri Lanka.
7. Ven. Walane Satthisara Mahathera dari Sri Lanka.
8. Ven. Kamburugamuwe Mahanama Mahathera dari Sri Lanka.
9. Ven. Ransegoda Sarapala Thera dari Sri Lanka.
10. Ven. Phra Visal Samanagun dari Thailand.
11. Ven. Phra Sumreng Arnuntho Thera dari Thailand.
12. Ven. Phra Kru Champirat Threra dari Thailand.
13. Ven. Phra Kaveevorayan dari Thailand.
Tanggal 21 Mei 1959, Ong Tiang Biauw (dari Tangerang) ditahbiskan menjadi Bhikkhu di “International Sima” di Kassap, Semarang oleh H.E. Somdach Choun Nath Mahathera dari Kamboja dengan nama Jinaputta. Pada hari yang sama I Ktut Tangkas (dari Mengwi, Bali) ditahbiskan menjadi Samanera Jinapiya dan Sontomihardjo (dari Kutoarjo) menjadi Samanera Jinananda. Tanggal 3 Juni 1959 di Pura Besakih, Samanera Jinapiya ditahbiskan menjadi bhikkhu (pada tanggal 12-2-1976 sempat lepas jubah) oleh Ven. Narada Mahathera. Tanggal 26 Juli 1988 ia ditahbiskan kembali di Wat Bovoranives, Bangkok dan diberi nama Thitaketuko.
Antara 1963 sampai dengan 1965 terdapat perbedaan pendapat dan pandangan di kalangan pimpinan umat Buddha, sehingga di sana-sini didirikan organisasi-organisasi Buddhis baru yang dalam prakteknya satu dengan yang lain saling menjatuhkan.
Pada 15 November 1966, Samanera Jinagiri (dari Banjar, Singaraja Bali) ditahbiskan menjadi Bhikkhu di Wat Benchamabophit, Bangkok oleh Ven. Chau Kun Dhammakittisophon dan diganti namanya menjadi Girirakkhito. Pada kesempatan yang sama juga ditahbiskan Samanera Jinaratana menjadi bhikkhu. (Pada tanggal 18 Desember 1976 ikut menyusul rekannya Bhikkhu Jinapiya untuk lepas jubah, dan kembali menjadi umat Buddha biasa). Selanjutnya pada tahun 1967 Soenaryo (dari Solo) ditahbiskan manjadi Bhikkhu di Sri Lanka dan diberi nama Sumanggalo (meninggal di Belanda pada 2 September 1987).
Pada 14 Mei 1967 di Lawang dibentuk Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD) untuk seluruh Jawa Timur dengan Ketua Umum Ong Kie Tjay dari Surabaya.
Di tahun 1969 datanglah Ven. Chau Kun Phra Dhepvoravethi dari Wat Paknam, Thonburi, Bangkok. Setelah kembali ke Bangkok, ia mengirim, melalui Y.M. Bhikkhu Jinaratana, buku-buku bagian dari Kitab Suci Tipitaka dalam Bahasa Pali dan Inggris dan patung-patung Buddha dari kuningan untuk vihara-vihara di Banten, Bogor, Garut, Muntilan, Purworejo, Bali, Ujung Pandang, Samarinda, Palembang, Jambi, dan tempat-tempat lainnya.
Selain candi-candi tersebut di atas, sebenarnya masih banyak lagi candi-candi yang didirikan atas perintah raja-raja Sailendra. Tetapi yang paling besar dan paling indah adalah Candi Borobudur. Setelah Raja Samarottungga meninggal dunia, Mataram kembali diperintah oleh raja-raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu, namun Agama Buddha dan Agama Hindu dapat berkembang terus berdampingan dengan rukun dan damai.
Pada tahun itu juga datang di Indonesia empat orang Dhammaduta dari Thailand untuk membantu mengembangkan Agama Buddha di Indonesia. Mereka adalah Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich (sekarang memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn), Ven. Phra Kru Pallad Viriyacarya, Ven. Phra Maha Prataen Khemadas, dan Ven. Phara Maha Sujib Khemacharo.
Tahun 1969 juga, untuk pertamakalinya mahasiswa Buddhis di Jakarta mengadakan Upacara Asadha di Gandhi School, Jakarta. Dua tahun kemudian terbentuklah Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta (KMBJ).
Menjelang perayaan Waisak tahun 1971, datang rombongan Bhikkhu dari Thailand untuk meresmikan Brahma-Vihara yang terletak di Banjar, Singaraja Bali. Rombongan tersebut terdiri dari Ven. Chau Kun Phra Dhammakittisophon dari Wat Benjamabophit, Ven. Chau Kun Phra Dhepgunaphon dari Wat Sraket, Ven. Chau Kun Phra Patrasaramuni dari Wat Prabatmingmaung, Prae, dan Ven. DR. Phra Maha Singhaton Narasabho dari Wat Prajetubon.
Pada 12 Januari 1972 terbentuk Sangha Indonesia yang terdiri dari Y.M. Bhikkhu Jinapiya, Y.M. Bhikkhu Girirakkhito, Y.M. Bhikkhu Jinaratana, Y.M. Bhikkhu Sumanggalo, dan Y.M. Bhikkhu Subhato.
Tanggal 28 Mei 1972 dicetuskan ikrar persatuan dan kesatuan dari tujuh organisasi Buddhis menjadi satu organisasi tunggal dengan nama Buddha Dharma Indonesia (BUDHI). Di samping itu, berdiri juga sebuah Majelis yang diberi nama Majelis Buddha Dharma Indonesia yang kelak akan menetapkan pedoman-pedoman mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan Agama Buddha di Indonesia. Ketujuh organisasi yang menandatangani ikrar tersebut di atas adalah:
1. Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDDHI),
2. Buddhis Indonesia,
3. Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUBSI),
4. Gabungan Tri Dharma Indonesia,
5. Persaudaraan Umat Buddha Salatiga,
6. Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI), dan
7. Dewan Vihara Indonesia.
Perlu diketahui, Gabungan Tri Dharma Indonesia dan Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI), karena sesuatu hal, tidak meleburkan diri ke dalam Buddha Dharma Indonesia (BUDHI).
Atas prakarsa Dirjen Bimas Hindu dan Buddha, pada tahun 1974 terbentuk Sangha Agung Indonesia (SAI).
Pada 23 Juli 1975 alm. Ibu Tien Soeharto meresmikan Arya Dwipa Arama di Taman Mini Indonesia Indah dan menyerahkan penggunaannya kepada umat Buddha Indonesia yang diterima oleh Suraji Ariakertawijaya.
Pada 12-14 Maret 1976 diselenggarakan Pasamuan ke-I Majelis Buddha Dharma Indonesia di Lawang. Pasamuan itu berhasil membuat beberapa ketetapan mengenai berbagai aspek Agama Buddha di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut juga terbentuk Badan Pekerja Majelis Buddha Dharma Indonesia.
Tanggal 29 September 1976 terbentuk Gabungan Umat Buddha Seluruh Indonesia (GUBSI) dengan Ketua Umum Rd. Eko Sasongko Praptomo, SH., dan Sekjen Drs. Pannajiwa AT. GUBSI terdiri dari gabungan umat dari tujuh organisasi, yaitu:
1. Buddha Dharma Indonesia (BUDHI),
2. Gabungan Tri Dharma Indonesia (GTI),
3. Gabungan Vihara Buddha Mahayana Indonesia,
4. Majelis Agama Buddha Nichiren Shoshu Indonesia,
5. Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI),
6. Pamong Umat Buddha Kasogatan,
7. Perhimpunan Buddha Dharma Indonesia (PERBUDHI).
Pada tanggal 3 Oktober 1976 di Bandung terbentuk Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia (MAPANBUDHI), dengan Sekjen MPU Khemanyana Karbono dan Wakil Sekjen MPU (alm.) Sumedha Widyadharma.
Tanggal 11 Oktober 1976 terbentuk Majelis Agung Buddha Indonesia (MABI) sebagai forum konsultasi dari Majelis-majelis Agama Buddha yang ada, yaitu Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI), Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI). Majelis Buddha Dharma Indonesia. Gabungan Tri Dharma Indonesia (GTI). Majelis Kasogatan. Nichiren Shoshu. Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma (PTITD).
Tanggal 23 Oktober 1976 merupakan tanggal yang bersejarah bagi Agama Buddha mazhab Theravada di Indonesia. Karena pada hari itu berdirilah Sangha Theravada Indonesia di Vihara Maha Dhammaloka, Semarang (sekarang Vihara Tanah Putih). Para Bhikkhu yang tercatat sebagai pendirinya adalah Y.M. Bhikkhu Aggabalo, Y.M. Bhikkhu Khemasarano (alm.), Y.M. Bhikkhu Suddhammo (alm.), Y.M. Bhikkhu Khemiyo, dan Y.M. Bhikkhu Nanavuttho.
Pada 7 – 8 Mei 1978 telah dilangsungkan Kongres Umat Buddha di Yogyakarta dan terbentuklah Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI) sebagai wadah tunggal umat Buddha di Indonesia dengan Suparto Hs. Sebagai ketua dan anggota-anggotanya adalah Suwarto Kolopaking, S.H., Ir. T. Soekarno, Gunawan Sindhumarto, S.H., Drs. Oka Diputhera, Bhaggadewa Siddharta, Herman S. Endro, S.H., dan Hartanto Kulle.
Tanggal 9 Maret 1981 dibentuk Yayasan Jakarta Dhammacakkha Jaya dengan Ketuanya adalah (alm.) Bapak O. P. Koesno dan sebagai Sekretaris diangkatlah (alm.) Drs. Teja S. M. Rashid .
Pada 8 – 11 Juli 1986 di Jakarta diadakan Kongres I WALUBI yang dibuka oleh Presiden Soeharto.
Pengukuhan Uposathagara yang terletak di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jakarta dilakukan pada 24 Agustus 1985. Upacara dipimpin oleh Somdet Phra Nyayasamvara dari Wat Bovoranives, Bangkok, Thailand yang datang bersama lebih dari sepuluh orang Bhikkhu dari Thailand. Yang juga banyak perannya dalam pembangunan Uposathagara tersebut adalah Phra Sombat Pavito Thera (juga dari Thailand). Dengan adanya Uposathagara tersebut, maka para calon Bhikkhu dari Indonesia tidak perlu lagi harus ke Thailand untuk ditahbiskan. Maka, untuk pertama kalinya, tepatnya pada 6 Desember 1987, Uposathagara itu dipergunakan untuk menahbiskan tiga orang Bhikkhu Indonesia dengan Y.M. Sukhemo Thera sebagai Upajjhaya. Tiga orang Bhikkhu adalah Y.M. Bhikkhu Jagaro, Y.M. Bhikkhu Gandhako (alm.), dan Y.M. Bhikkhu Khantidharo.
Sidang Khusus Widyeka Sabha WALUBI pada 8 Juli 1987 dan Sidang DPP WALUBI (9-10 Juli 1987) menjadi sidang-sidang yang penting. Karena melalui sidang-sidang itu, Widyeka Sabha WALUBI mengambil keputusan bulat mengenai NSI (Nichiren Syosyu Indonesia) dengan tidak mengakuinya sebagai sebuah Majelis Agama Buddha di Indonesia. Dasar yang dipakai antara lain, NSI ternyata berisi ajaran dan doktrin yang menyimpang/menyeleweng dari Agama Buddha yang berpedoman pada Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka secara utuh terpadu sebagaimana yang diajarkan oleh Sang Buddha Gautama/Sakyamuni. Keputusan ini kemudian dilaksanakan oleh DPP WALUBI dengan mengeluarkan NSI dari keanggotaan WALUBI melalui Pernyataan DPP WALUBI No.01/DPP/WALUBI/87. Setelah peristiwa itu, WALUBI terdiri dari 3 (tiga) Sangha dan 6 (enam) Majelis Agama Buddha.
Pada Juli 1991 Sangha Therav?da Indonesia (STI) menyerahkan upadi (tanda penghargaan) kepada tiga orang tokoh umat Buddha, bertempat di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jakarta. Ketiganya adalah Sumedha Widyadharma mendapat gelar SASANA CARIYA, (alm.) Anton Haliman mendapat gelar SASANA PALA, dan Visakha Hartati Tjakra Murdaya mendapat gelar SASANA PALA. Gelar penghargaan ini merupakan gelar kehormatan tertinggi saat itu dan juga yang pertama kali diberikan oleh STI.
Mulai 1993 sampai dengan 1994 kembali terjadi kemelut di dalam tubuh WALUBI. Kemelut kali ini berakhir dengan diberhentikannya Sangha Agung Indonesia dan Majelis Buddhayana Indonesia dari keanggotaan WALUBI pada 15 Oktober 1994.
Pada 12 Juli 1994 untuk pertama kalinya, Presiden Soeharto (saat itu) dan (alm.) Ny. Tien Soeharto bersedia menghadiri Dharmasanti Waisak 2538/1994 di Jakarta Hilton Convention Centre bersama dengan Wakil Presiden Tri Sutrisno dan Ny. Tuti Try Sutrisno serta sejumlah menteri.
Pada 18 Agustus 1994 dibentuk satu lembaga Buddhis baru yang diberi nama Keluarga Cendekiawan Buddhis Indonesia (KCBI) dengan Siti Hartati Murdaya, MBA sebagai Ketua Umum dan Drs. Oka Diputhera sebagai Sekjen.
Tanggal 2 April 1995 bertempat di Vihara Mendut, Mungkid, Jawa Tengah, Sangha Theravada Indonesia menganugerahkan tanda penghormatan kepada tiga orang Pengurus Pusat Majelis Pandita Buddha Dhamma Indonesia (MAPANBUDHI, sekarang Magabudhi -red). Penghargaan itu diberikan karena pengabdian terus menerus disertai dedikasi yang tinggi selama lebih dari dua puluh lima tahun dan turut aktif mengembangkan Agama Buddha Theravada di Indonesia. Mereka adalah Drs. Teja S. Mochtar Rashid (mendapat gelar DHAMMA VISARADA), Herman Satriyo Endro, S.H. (DHAMMA LANKARA), dan dr. R. Surya Widya (SASANA DHAJA).
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sejarah Masuknya Hindu Budha di Indonesia

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

 
Pada permulaan tarikh masehi, di Benua Asia terdapat dua negeri besar yang tingkat peradabannya dianggap sudah tinggi, yaitu India dan Cina.Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas perdagangan dan pelayaran berlangsung melalui jalan darat dan laut. Salah satu jalur lalu lintas laut yang dilewati India-Cina adalah Selat Malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan, yaitu:
  1. Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia,
  2. Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar,
  3. Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas, dan
  4. Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha.
Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu. Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang proses masuknya budaya Hindu-Buddha ke Indonesia.

1. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.

2. Hipotesis Ksatria
Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, di masa lampau di India sering terjadi peperangan antargolongan di dalam masyarakat. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang pendukung hipotesis ksatria.

3. Hipotesis Waisya
Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J. Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.

4. Hipotesis Sudra
Von van Faber mengungkapkan bahwa peperangan yang tejadi di India telah menyebabkan golongan sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum waisya. Dengan jumlah yang besar, diduga golongan sudralah yang memberi andil dalam penyebaran budaya Hindu ke Nusantara.

Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Buddha ke India. Di perantauan mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak, mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat semacam ini disebut Teori Arus Balik.
Pada umumnya para ahli cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa masuknya budaya Hindu ke Indonesia itu dibawa dan disebarluaskan oleh orang-orang Indonesia sendiri. Bukti tertua pengaruh budaya India di Indonesia adalah penemuan arca perunggu Buddha di daerah Sempaga (Sulawesi Selatan). Dilihat dari bentuknya, arca ini mempunyai langgam yang sama dengan arca yang dibuat di Amarawati (India). Para ahli memperkirakan, arca Buddha tersebut merupakan barang dagangan atau barang persembahan untuk bangunan suci agama Buddha. Selain itu, banyak pula ditemukan prasasti tertua dalam bahasa Sanskerta dan Malayu kuno. Berita yang disampaikan prasasti-prasasti itu memberi petunjuk bahwa budaya Hindu menyebar di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi.
Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Buddha dari India telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.

1. Agama
Ketika memasuki zaman sejarah, masyarakat di Indonesia telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat mulai menerima sistem kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Buddha sejak berinteraksi dengan orang-orang India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan, misalnya dalam hal tata krama, upacara-upacara pemujaan, dan bentuk tempat peribadatan.

2. Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan, seperti Kutai, Tarumanegara, dan Sriwijaya.

3. Arsitektur
Salah satu tradisi megalitikum adalah bangunan punden berundak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan Candi Borobudur, akan terlihat bahwa bangunannya berbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini menjadi bukti adanya paduan budaya India-Indonesia.

4. Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia meninggalkan beberapa prasasti yang sebagian besar berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa Indonesia memperkaya diri dengan bahasa Sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa Sanskerta, yaitu Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dan sebagainya.

5. Sastra
Berkembangnya pengaruh India di Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal yang mereka bawa adalah kitab Ramayana dan Mahabharata. Adanya kitab-kitab itu memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya sastra yang muncul di Indonesia adalah:
  1. Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa,
  2. Sutasoma, karya Mpu Tantular, dan
  3. Negarakertagama, karya Mpu Prapanca.

Agama Hindu
Agama Hindu berkembang di India pada ± tahun 1500 SM. Sumber ajaran Hindu terdapat dalam kitab sucinya yaitu Weda. Kitab Weda terdiri atas 4 Samhita atau “himpunan” yaitu:
  1. Reg Weda, berisi syair puji-pujian kepada para dewa.
  2. Sama Weda, berisi nyanyian-nyanyian suci.
  3. Yajur Weda, berisi mantera-mantera untuk upacara keselamatan.
  4. Atharwa Weda, berisi doa-doa untuk penyembuhan penyakit.
Di samping kitab Weda, umat Hindu juga memiliki kitab suci lainnya yaitu:
  1. Kitab Brahmana, berisi ajaran tentang hal-hal sesaji.
  2. Kitab Upanishad, berisi ajaran ketuhanan dan makna hidup.
Agama Hindu menganut polytheisme (menyembah banyak dewa), diantaranya Trimurti atau “Kesatuan Tiga Dewa Tertinggi” yaitu:
  1. Dewa Brahmana, sebagai dewa pencipta.
  2. Dewa Wisnu, sebagai dewa pemelihara dan pelindung.
  3. Dewa Siwa, sebagai dewa perusak.
Selain Dewa Trimurti, ada pula dewa yang banyak dipuja yaitu Dewa Indra pembawa hujan yang sangat penting untuk pertanian, serta Dewa Agni (api) yang berguna untuk memasak dan upacara-upacara keagamaan. Menurut agama Hindu masyarakat dibedakan menjadi 4 tingkatan atau kasta yang disebut Caturwarna yaitu:
  1. Kasta Brahmana, terdiri dari para pendeta.
  2. Kasta Ksatria, terdiri dari raja, keluarga raja, dan bangsawan.
  3. Kasta Waisya, terdiri dari para pedagang, dan buruh menengah.
  4. Kasta Sudra, terdiri dari para petani, buruh kecil, dan budak.
Selain 4 kasta tersebut terdapat pula golongan pharia atau candala, yaitu orang di luar kasta yang telah melanggar aturan-aturan kasta.
Orang-orang Hindu memilih tempat yang dianggap suci misalnya, Benares sebagai tempat bersemayamnya Dewa Siwa serta Sungai Gangga yang airnya dapat mensucikan dosa umat Hindu, sehingga bisa mencapai puncak nirwana.


Agama Buddha

Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta Gautama di India pada tahun ± 531 SM. Ayahnya seorang raja bernama Sudhodana dan ibunya Dewi Maya. Buddha artinya orang yang telah sadar dan ingin melepaskan diri dari samsara.
Sutrantapittaka : Berisi wejangan-wejangan atau ajaran dari sang Buddha.
  • Abhidarmapittaka : Berisi penjelasan tentang soal-soal keagamaan.
  • Pemeluk Buddha wajib melaksanakan Tri Dharma atau “Tiga Kebaktian” yaitu:
    1. Buddha yaitu berbakti kepada Buddha.
    2. Dharma yaitu berbakti kepada ajaran-ajaran Buddha.
    3. Sangga yaitu berbakti kepada pemeluk-pemeluk Buddha.
    Disamping itu agar orang dapat mencapai nirwana harus mengikuti 8 (delapan) jalan kebenaran atau Astavidha yaitu:
    1. Pandangan yang benar.
    2. Niat yang benar.
    3. Perkataan yang benar.
    4. Pandangan yang benar.
    5. Niat yang benar.
    6. Perkataan yang benar.
    7. Perbuatan yang benar.
    8. Penghidupan yang benar.
    9. Usaha yang benar.
    10. Perhatian yang benar.
    11. Bersemedi yang benar.
    Karena munculnya berbagai penafsiran dari ajaran Buddha, akhirnya menumbuhkan dua aliran dalam agama Buddha yaitu:
      Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
    1. Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
    2. Pemeluk Buddha juga memiliki tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat yaitu:
    1. Kapilawastu, yaitu tempat lahirnya Sang Buddha.
    2. Bodh Gaya, yaitu tempat Sang Buddha bersemedi dan memperoleh Bodhi.
    3. Sarnath/ Benares, yaitu tempat Sang Buddha mengajarkan ajarannya pertama kali.
    4. Kusinagara, yaitu tempat wafatnya Sang Buddha.
    sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
    Ads orthoshop info