sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Rahasia Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Rahasia Ramadhan. Show all posts
Tuesday, November 4, 2014
5 Rahasia Puasa Di Dalam Bulan Ramadhan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Sebelumnya Saya dan keluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan, semoga amal ibadah kita diterima dan menjadikan berkah, Amin
Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan dan sangat ditunggu. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, banyak amalan, kedahsyatan dan manfaat yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.

Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.
5 Hal tersebut ialah
Menguatkan Jiwa
Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23).
Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).
Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:
Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).
Mendidik Kemauan
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.
Menyehatkan Badan
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
Mengenal Nilai Kenikmatan
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).
Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya. Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, pi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).
Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.
Kegembiraan terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri-sendiri yang akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Monday, November 3, 2014
Rahasia Di Balik Puasa Bulan Ramadhan
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
BAGI umat Islam di seluruh dunia, Ramadan merupakan bulan suci yang membawa berkah dan ampunan. Dalam bulan ini, umat Islam sedang menjalankan puasa selama satu bulan penuh untuk melaksanakan kewajiban salah satu dari rukun Islam. Perintah berpuasa ini terdapat dalam Alquran, surat Al-Baqarah yang berbunyi, "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".
Kalau kita perhatikan dan renungkan ayat ini sedalam-dalamnya, kelihatannya ayat ini mengandung arti dan tujuan tertentu, bukan hanya karena anjuran atau imbauan begitu saja supaya orang-orang melakukan puasa, siapa yang mengerjakan puasa akan mendapat ganjaran pahala, sedangkan yang tidak melaksanakan akan mendapatkan siksa. Di dalam ayat itu sepertinya ada suatu makna yang tersembunyi.
Untuk ini marilah kita perhatikan kata-kata "Hai orang-orang yang beriman". Ayat ini merupakan satu perintah yang hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman (beragama Islam). Padahal, orang-orang yang beriman itu barangkali sudah pasti akan menjalankan perintah berpuasa tersebut sesuai dengan rukun Islam. Akan tetapi, Allah SWT sepertinya masih merasa khawatir kalau-kalau tidak melaksanakan puasa Ramadan sebaik mungkin karena dalam ayat itu terdapat kata-kata, "sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu". Yang menjadi pemikiran kita ialah siapa "orang-orang sebelum kamu" itu sehingga perlu dimasukkan ke dalam ayat itu. Diperkirakan, apa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kamu itu adalah orang-orang yang di zaman pertama di muka bumi ini. Orang-orang zaman kita ini termasuk orang-orang zaman kedua.
Kemungkinan manusia zaman pertama tersebut peradabannya sudah tinggi. Karena pengetahuan mereka sudah tinggi tentulah cara berpikirnya sudah lain sehingga tidak percaya lagi dengan ajaran Tuhan. Segala sesuatu di alam dunia ini dipandang terjadi dengan sendirinya. Dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dapatlah mereka membuat segala seuatu yang mereka inginkan. Mereka dapat bersenang-senang dan berbuat sesuatu tanpa mempercayai lagi adanya larangan Tuhan. Mereka tidak percaya lagi dengan takdir yang mengatur alam semesta ini. Karena perbuatan mereka yang sifatnya sudah durhaka itu dan di mata Tuhan sudah menjadi orang-orang yang tidak berguna lagi, turunlah azab berupa bencana besar (hukum kausalitas) sambil mengubah sistem kehidupan di muka bumi ini. Hampir semua dari mereka dihapuskan tertimbun di dalam bumi.
Manusia yang masih tinggal hidup tersebar di muka bumi saat ini itulah manusia zaman kedua. Jadi cukup jelas pada ayat 183 dalam surat Al-Baqarah, selain berupa perintah juga berupa peringatan keras jangan sampai tidak melaksanakan puasa bagi orang-orang yang beriman. Jangan sampai sejarah zaman pertama itu terulang lagi.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita lagi ialah mengapa kita harus melakukan puasa? Perkara ini sudah banyak disampaikan oleh para ulama kita. Akan tetapi sebagai tambahan, kita harus memahami terlebih dahulu apa arti kehidupan ini? Kehidupan manusia di muka bumi sebenarnya adalah untuk sementara saja, yaitu untuk diuji. Kehidupan yang sebenarnya ialah kehidupan di akhirat nanti, kehidupan yang kekal. Proses pengembangan alam semesta, termasuk proses kehidupan bumi, semuanya diatur dengan sempurna oleh takdir yaitu hukum kausal (kausalitas).
Manusia, khususnya orang-orang yang beriman, akan mengalami ujian. Ujian tersebut dapat berupa godaan yang dapat dilakukan oleh apa yang dinamakan setan. Setan dapat disamakan dengan penyakit bagi manusia. Setan ialah sesuatu yang dapat merusak menusia. Yang dapat menjadi setan ialah jin, manusia, hewan, kuman, virus, dll. Setan berada di lingkungan kehidupan yang selalu mengintip mangsanya, terutama manusia.
Dalam menempuh perjuangan hidup, manusia selalu mendapat rintangan sehingga harus bekerja keras dan mengalami pengorbanan. Di dalam surat Al-'Ashr, Allah mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Penyakit (setan) masuk ke badan manusia terus ke perut melalui mulut, hidung, mata, telinga, dan lubang lainnya. Penyakit yang paling berbahaya bagi manusia ialah penyakit hati atau penyakit mental. Penyakit setan ini bersemayam di simpul-simpul saraf yang memengaruhi cara berpikir manusia dan proses pertumbuhan badan. Penyakit hati tersebut misalnya, penyakit lemah iman, sering bohong, suka menipu, suka maling dan korupsi, suka zina, malas kerja. Penyakit ini dapat disembuhkan hanya dengan jalan berpuasa.
Pertanyaan berikutnya ialah mengapa puasa mesti dilaksanakan pada bulan Ramadan? Salah satu sebabnya sudah jelas bahwa Rasulullah saw., bersabda, "Ramadan adalah bulan suci yang penuh berkah, rahmat dan ampunan". Ditambah lagi surat Al-Baqarah mengatakan bahwa Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Dari ayat ini jelas kelihatan bahwa Tuhan dengan penuh kasih sayang-Nya setiap satu tahun sekali mengadakan evaluasi kepada sistem kehidupan di muka bumi ini dan sekaligus mengadakan perbaikan. Tanah yang sudah mulai kurang subur disuburkan kembali. Tumbuh-tumbuhan dan tanaman menjadi segar memberikan buah-buahan yang lebat guna memakmurkan hewan dan manusia. Peternakan berkembang biak. Manusia yang sudah mulai kena stres disegarkan kembali agar dapat bertakwa, yaitu agar dapat menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan dan menjauhi larangan-Nya.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang melaksanakan puasa dalam bulan Ramadan dapat diibaratkan sebagai sebuah mobil yang menjalani perbaikan (reparasi) besar-besaran (turun mesin). Ramadan dikatakan bulan suci yang penuh berkah (energi dan rezeki) dan ampunan (penyembuhan). Kalau kita tinjau secara ilmiah, Tuhan menurunkan malaikat-malaikat ke bumi dapat diartikan sebagai memberikan energi baru kepada sistem kehidupan di muka bumi. Energi ini berupa radiasi (penyinaran) matahari yang penyebarannya secara meluas sehingga memberikan hawa segar kepada kehidupan. Penyinaran ini terjadi sepanjang bulan Ramadan. Puncak penyinaran terjadi pada malam Qadar, mungkin tatkala terjadi transit antara planet-planet dengan matahari.
Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan. Kalau kita renungkan kata-kata ini secara logis, kelihatan bahwa Tuhan mengevaluasi dan memperbaiki sistem kehidupan di bumi ini bukan hanya setiap satu tahun sekali, melainkan pula dilakuakn dalam setiap seribu bulan sekali. Seribu bulan sama dengan kira-kira 83 tahun. Bedanya dengan kejadian pada malam Qadar, pada tiap seribu bulan sekali selain terjadi perbaikan sistem kehidupan juga terjadi perombakan secara besar-besaran, yang kadang-kadang berupa bencana besar seperti gempa, ledakan gunung berapi, badai dan topan, gelombang pasang, dan gelombang panas.
Secara ilmiah, ini terjadi disebabkan juga oleh gravitasi secara radiasi matahari yang sebenarnya terpusat ke muka bumi, yang kadang-kadang dapat menimbulkan pembakaran, diperkirakan seperti terjadi di daerah Tunguskha Siberia pada tahun 1908. Akibat perbesaran radiasi matahari dapat memecahkan planet-planet menjadi batu-batu meteor. Batu-batu meteor ini dapat berjatuhan di muka bumi. Batu-batu itu dapat dipakai Allah untuk membinasakan kaum durhaka di zaman Nabi Luth di negeri Sodom dan Gomorah. Di samping batu-batu yang berjatuhan juga mereka dihantam oleh ledakan-ledakan petir yang membakar hangus, mereka musnah tanpa kesempatan untuk mengelak dan mendebat.
Ancaman yang demikian senantisa tersedia untuk setiap bangsa yang durhaka, yang tidak peduli dengan larangan Tuhan lagi. Hanya Allah yang dapat menentukan bangsa durhaka mana yang akan disiksanya di muka bumi ini. Tentara gajah di zaman sebelum kelahiran Muhammad saw., telah dimusnahkan oleh batu-batu panas yang berjatuhan, musnah bagaikan debu kering karena mereka akan meruntuhkan Kakbah di Mekah dan mereka menentang agama Ibrahim. Simpulannya, pada bulan Ramadan terjadi perbaikan sistem kehidupan tanpa hukuman. Mudah-mudahan bangsa kita jangan menjadi kaum durhaka yang akan mendapat siksaan.
Kalau kita perhatikan dan renungkan ayat ini sedalam-dalamnya, kelihatannya ayat ini mengandung arti dan tujuan tertentu, bukan hanya karena anjuran atau imbauan begitu saja supaya orang-orang melakukan puasa, siapa yang mengerjakan puasa akan mendapat ganjaran pahala, sedangkan yang tidak melaksanakan akan mendapatkan siksa. Di dalam ayat itu sepertinya ada suatu makna yang tersembunyi.
Untuk ini marilah kita perhatikan kata-kata "Hai orang-orang yang beriman". Ayat ini merupakan satu perintah yang hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman (beragama Islam). Padahal, orang-orang yang beriman itu barangkali sudah pasti akan menjalankan perintah berpuasa tersebut sesuai dengan rukun Islam. Akan tetapi, Allah SWT sepertinya masih merasa khawatir kalau-kalau tidak melaksanakan puasa Ramadan sebaik mungkin karena dalam ayat itu terdapat kata-kata, "sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu". Yang menjadi pemikiran kita ialah siapa "orang-orang sebelum kamu" itu sehingga perlu dimasukkan ke dalam ayat itu. Diperkirakan, apa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kamu itu adalah orang-orang yang di zaman pertama di muka bumi ini. Orang-orang zaman kita ini termasuk orang-orang zaman kedua.
Kemungkinan manusia zaman pertama tersebut peradabannya sudah tinggi. Karena pengetahuan mereka sudah tinggi tentulah cara berpikirnya sudah lain sehingga tidak percaya lagi dengan ajaran Tuhan. Segala sesuatu di alam dunia ini dipandang terjadi dengan sendirinya. Dengan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dapatlah mereka membuat segala seuatu yang mereka inginkan. Mereka dapat bersenang-senang dan berbuat sesuatu tanpa mempercayai lagi adanya larangan Tuhan. Mereka tidak percaya lagi dengan takdir yang mengatur alam semesta ini. Karena perbuatan mereka yang sifatnya sudah durhaka itu dan di mata Tuhan sudah menjadi orang-orang yang tidak berguna lagi, turunlah azab berupa bencana besar (hukum kausalitas) sambil mengubah sistem kehidupan di muka bumi ini. Hampir semua dari mereka dihapuskan tertimbun di dalam bumi.
Manusia yang masih tinggal hidup tersebar di muka bumi saat ini itulah manusia zaman kedua. Jadi cukup jelas pada ayat 183 dalam surat Al-Baqarah, selain berupa perintah juga berupa peringatan keras jangan sampai tidak melaksanakan puasa bagi orang-orang yang beriman. Jangan sampai sejarah zaman pertama itu terulang lagi.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita lagi ialah mengapa kita harus melakukan puasa? Perkara ini sudah banyak disampaikan oleh para ulama kita. Akan tetapi sebagai tambahan, kita harus memahami terlebih dahulu apa arti kehidupan ini? Kehidupan manusia di muka bumi sebenarnya adalah untuk sementara saja, yaitu untuk diuji. Kehidupan yang sebenarnya ialah kehidupan di akhirat nanti, kehidupan yang kekal. Proses pengembangan alam semesta, termasuk proses kehidupan bumi, semuanya diatur dengan sempurna oleh takdir yaitu hukum kausal (kausalitas).
Manusia, khususnya orang-orang yang beriman, akan mengalami ujian. Ujian tersebut dapat berupa godaan yang dapat dilakukan oleh apa yang dinamakan setan. Setan dapat disamakan dengan penyakit bagi manusia. Setan ialah sesuatu yang dapat merusak menusia. Yang dapat menjadi setan ialah jin, manusia, hewan, kuman, virus, dll. Setan berada di lingkungan kehidupan yang selalu mengintip mangsanya, terutama manusia.
Dalam menempuh perjuangan hidup, manusia selalu mendapat rintangan sehingga harus bekerja keras dan mengalami pengorbanan. Di dalam surat Al-'Ashr, Allah mengatakan bahwa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Penyakit (setan) masuk ke badan manusia terus ke perut melalui mulut, hidung, mata, telinga, dan lubang lainnya. Penyakit yang paling berbahaya bagi manusia ialah penyakit hati atau penyakit mental. Penyakit setan ini bersemayam di simpul-simpul saraf yang memengaruhi cara berpikir manusia dan proses pertumbuhan badan. Penyakit hati tersebut misalnya, penyakit lemah iman, sering bohong, suka menipu, suka maling dan korupsi, suka zina, malas kerja. Penyakit ini dapat disembuhkan hanya dengan jalan berpuasa.
Pertanyaan berikutnya ialah mengapa puasa mesti dilaksanakan pada bulan Ramadan? Salah satu sebabnya sudah jelas bahwa Rasulullah saw., bersabda, "Ramadan adalah bulan suci yang penuh berkah, rahmat dan ampunan". Ditambah lagi surat Al-Baqarah mengatakan bahwa Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Dari ayat ini jelas kelihatan bahwa Tuhan dengan penuh kasih sayang-Nya setiap satu tahun sekali mengadakan evaluasi kepada sistem kehidupan di muka bumi ini dan sekaligus mengadakan perbaikan. Tanah yang sudah mulai kurang subur disuburkan kembali. Tumbuh-tumbuhan dan tanaman menjadi segar memberikan buah-buahan yang lebat guna memakmurkan hewan dan manusia. Peternakan berkembang biak. Manusia yang sudah mulai kena stres disegarkan kembali agar dapat bertakwa, yaitu agar dapat menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan dan menjauhi larangan-Nya.
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Orang-orang yang melaksanakan puasa dalam bulan Ramadan dapat diibaratkan sebagai sebuah mobil yang menjalani perbaikan (reparasi) besar-besaran (turun mesin). Ramadan dikatakan bulan suci yang penuh berkah (energi dan rezeki) dan ampunan (penyembuhan). Kalau kita tinjau secara ilmiah, Tuhan menurunkan malaikat-malaikat ke bumi dapat diartikan sebagai memberikan energi baru kepada sistem kehidupan di muka bumi. Energi ini berupa radiasi (penyinaran) matahari yang penyebarannya secara meluas sehingga memberikan hawa segar kepada kehidupan. Penyinaran ini terjadi sepanjang bulan Ramadan. Puncak penyinaran terjadi pada malam Qadar, mungkin tatkala terjadi transit antara planet-planet dengan matahari.
Malam Qadar lebih baik dari seribu bulan. Kalau kita renungkan kata-kata ini secara logis, kelihatan bahwa Tuhan mengevaluasi dan memperbaiki sistem kehidupan di bumi ini bukan hanya setiap satu tahun sekali, melainkan pula dilakuakn dalam setiap seribu bulan sekali. Seribu bulan sama dengan kira-kira 83 tahun. Bedanya dengan kejadian pada malam Qadar, pada tiap seribu bulan sekali selain terjadi perbaikan sistem kehidupan juga terjadi perombakan secara besar-besaran, yang kadang-kadang berupa bencana besar seperti gempa, ledakan gunung berapi, badai dan topan, gelombang pasang, dan gelombang panas.
Secara ilmiah, ini terjadi disebabkan juga oleh gravitasi secara radiasi matahari yang sebenarnya terpusat ke muka bumi, yang kadang-kadang dapat menimbulkan pembakaran, diperkirakan seperti terjadi di daerah Tunguskha Siberia pada tahun 1908. Akibat perbesaran radiasi matahari dapat memecahkan planet-planet menjadi batu-batu meteor. Batu-batu meteor ini dapat berjatuhan di muka bumi. Batu-batu itu dapat dipakai Allah untuk membinasakan kaum durhaka di zaman Nabi Luth di negeri Sodom dan Gomorah. Di samping batu-batu yang berjatuhan juga mereka dihantam oleh ledakan-ledakan petir yang membakar hangus, mereka musnah tanpa kesempatan untuk mengelak dan mendebat.
Ancaman yang demikian senantisa tersedia untuk setiap bangsa yang durhaka, yang tidak peduli dengan larangan Tuhan lagi. Hanya Allah yang dapat menentukan bangsa durhaka mana yang akan disiksanya di muka bumi ini. Tentara gajah di zaman sebelum kelahiran Muhammad saw., telah dimusnahkan oleh batu-batu panas yang berjatuhan, musnah bagaikan debu kering karena mereka akan meruntuhkan Kakbah di Mekah dan mereka menentang agama Ibrahim. Simpulannya, pada bulan Ramadan terjadi perbaikan sistem kehidupan tanpa hukuman. Mudah-mudahan bangsa kita jangan menjadi kaum durhaka yang akan mendapat siksaan.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)
