sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Showing posts with label Buddha Dharma. Show all posts
Showing posts with label Buddha Dharma. Show all posts
Tuesday, February 18, 2014
BUKU PELAJARAN AGAMA BUDDHA
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
BUKU PELAJARAN AGAMA BUDDHA
Ivan Taniputera
17 Februari 2014

Judul: Buddhism: Beberapa Azas-Peladjaran Hinayana
Terdapat keterangan: "Diterdjemahkan setjara bebas dan disadur dari "Buddhism" karangan C.H.S. Ward, dengan sekedar pendjelasan oleh penterdjeman."
Penerbit: Duduaku d/a Tata Usaha Harian "Sin Min", Semarang 1957
Jumlah halaman: 52
Buku ini memaparkan ajaran-ajaran Agama Buddha. Berikut ini adalah kutipan dari halaman 3:
"Philosofi dari Buddhism utamakan Psychology, sedang ethikanja tidak dapat dipisahkan sama sekali dari Metaphysikanja. Tudjuan utama dari Philosofi itu bukan berdasarkan intelektuil tetapi mengenakan achlak-mentjapai pembebas dari penderitaan dan ketiada ketentraman dalam penghidupan, tudjuan jang sutji dan agung dari Buddhism, Nirvana.
Dalam Pitakas dinjatakan bahwa Gotama Buddha tidak menaruh minat dalam soal2 metaphysika, baginja soal itu merupakan persoalan jang tidak berikan manfaat dan mengsia-siakan waktu melulu. Sampaipun dalam peladjaran2nja jang keliwat sukar dapat dimengertikan tudjuannja ialah berdasarkan achlak...."
Berikut ini adalah penjelasan mengenai konsep anatta sebagaimana yang terdapat pada halaman 9:
"Dalam keadaan demikian karena kita tidak pula memiliki persepsi ataupun konsepsi bagi terdapatnja "kesatuan", mungkin karena itu Buddha katakan, bahwa pada manusia tiada terdapat sesuatu kesatuan atau suka ialah "tanpa sukma". ......"
Berikut ini adalah contoh-contoh halamannya:


Berminat foto kopi hubungi ivan_taniputera@yahoo.com.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Labels:
Agama,
Agama Buddha,
Buddha,
Buddha Dhamma,
Buddha Dharma
Monday, February 17, 2014
CACING PADA KOTORAN ANJING
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
CACING PADA KOTORAN ANJING
Artikel Dharma ke-42, Februari 2014
Ivan Taniputera
17 Februari 2014

Alkisah ada dua orang guru yang merasa bahwa mereka telah berhasil menghilangkan keakuannya. Oleh karenanya, mereka lantas bertanding guna membuktikan hal itu. Caranya adalah dengan bertanding menyebut dirinya menjadi sosok atau sesuatu yang paling hina. Siapa yang bersedia menjadikan dirinya sebagai sosok atau sesuatu paling hina, maka dialah yang menang.
Guru pertama berkata, "Aku adalah seekor anjing."
Guru kedua berkata, "Aku adalah kotoran anjing."
Guru pertama berkata lagi," Aku adalah cacing pada kotoran anjing."
Guru kedua berkata, "Baik kamu menang."
Bagaimanakah kita memaknai perlombaan di atas. Sesungguhnya perlombaan di atas adalah suatu anekdot menarik. Meskipun berlomba membuktikan keakuan siapa yang paling rendah, namun sesungguhnya perlombaan di atas justru memperkuat keakuan masing-masing. Suatu perlombaan adalah mengenai menang dan kalah: Aku menang dan kamu kalah.
Pada kenyataannya di muka bumi banyak orang yang melakukan "perlombaan spiritual" semacam itu. Mereka berlomba-lomba memperlihatkan bahwa dirinya memiliki lebih sedikit keakuan, lebih sedikit kekotoran batin, lebih sedikit kemelekatan, dan lain sebagainya. Tetapi benarkah spiritualisme adalah sesuatu yang dapat dilombakan? Inilah yang perlu kita renungkan bersama. Benarkah mereka memiliki lebih sedikit kemelekatan. Bukankah pada suatu perlombaan itu terdapat unsur "kemelekatan untuk menang"?
Guru kedua yang berkata, "Baik kamu menang," pun sebenarnya mengatakan demikian untuk menang. Karena membiarkan guru pertama menang, maka ia hendak menyatakan bahwa dirinya "lebih hina" dibandingkan guru pertama. Karena menyatakan dirinya "lebih hina" dari guru pertama, maka dirinyalah secara kata-kata yang menang. Jadi taktiknya adalah memenangkan orang lain demi memenangkan dirinya sendiri. Dengan demikian, guru kedua lebih cerdik, tetapi dari sisi realisasi spiritual tetap saja ia masih memiliki keakuan dan keakuannya tidak lebih kecil dibandingkan guru pertama.
Jadi, perlombaan tersebut adalah gagal karena perealisasian spiritual tidak bisa dilombakan. Anda memiliki realisasi spiritual lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan orang lain itu tidaklah penting.
Kini adakah di antara Anda sekalian yang masih ingin berlomba membuktikan keakuannya paling rendah atau tidak lagi memiliki keakuan? Atau siapakah di antara kalian yang tidak lagi memiliki keakuan (atta)? Silakan tunjuk jari.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Saturday, January 25, 2014
BELAJAR DARI SEONGGOK LEMPUNG
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
BELAJAR DARI SEONGGOK LEMPUNG
Artikel Dharma ke-40, Januari 2014
Ivan Taniputera.
24 Januari 2014

Banyak umat Buddha masih melekat pada "sosok" dalam mempelajari Dharma. Dalam artian hanya mau mendengarkan Dharma dari "sosok-sosok" yang mereka kagumi. "Sosok-sosok" yang pandai berbicara dan sanggup menyentuh sanubari mereka. Jika ada "sosok" yang tidak mereka sukai namun sama-sama mengajarkan Dharma, kemungkinan besar mereka akan menolaknya. Padahal, Dharma itu tidak ada kaitannya dengan sebuah "sosok." Jika masih melekat pada "sosok," maka itu masih bukan merupakan Dharma yang "sejati."
Sebagai contoh, dapatkah kita belajar pada seonggok lempung? Seonggok lempung adalah sesuatu yang kerap kita pandang sebagai kotor dan menjijikkan. Sesuatu yang ingin kita jauhi, berbeda dengan "sosok-sosok" agung dengan banyak pengikut yang duduk di atas singgasana Dharma sebagaimana sumber kekaguman kita. Padahal seonggok lempung mengajarkan banyak kebenaran hakiki pada kita. Yang pertama adalah mengenai ketidak-kekalan (anicca, anitya). Seonggok lempung itu saat ini ada, namun entah beberapa saat lagi. Mungkin ada kendaraan yang melindasnya dan bentuknya sudah berubah. Mungkin pula hujan turun dan lempung itu menjadi larut, sehingga tidak meninggalkan jejak keberadaannya lagi. Lempung adalah sesuatu yang mudah sekali berubah. Demikianlah hakikat ketidak-kekalan.
Pelajaran kedua, mari kita renungkan, seonggok lempung mengajarkan pada kita kebenaran tersebut, tanpa tendensi atau niat tersembunyi apa pun. Kita tidak mengetahui apakah "sosok" yang kita kagumi memendam niat atau tendensi tersembunyi atau tidak dalam mengajarkan Dharma. Apakah ia mengajar Dharma secara tulus atau tidak, kita tidak mengetahuinya. Namun seonggok lempung sudah pasti tidak memendam tendensi apa pun. Seonggok lempung adalah seonggok lempung. Tidak lebih dan tidak kurang.
Marilah kita menghaturkan hormat pada seonggok lempung yang telah mengajarkan kita kebenaran berharga.
Dalam mendengarkan Dharma, perhatian kita janganlah terpaku pada "sosok" melainkan pada Dharma yang diajarkannya. Kebenaran apakah yang disampaikannya? Kita pelajari dan serap semuanya. Bahkan dari gemerisik dedaunan dan orang awam yang menyelamatkan nyawa seekor anjing pun kita dapat menimba kebenaran berharga. Termasuk dari ajaran-ajaran yang kita "labeli" sebagai bukan-Dharma pun kita dapat memperoleh pengetahuan sejati. Dharma atau kebenaran sejati itu sesungguhnya tiada terbatas, oleh karenanya ia disebut anuttara atau melampaui segalanya.
sepatu orthopadi
orthoshoping.com
sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita
kelainan kaki pada balita
Ads orthoshop
Subscribe to:
Posts (Atom)