Showing posts with label Linguistik. Show all posts
Showing posts with label Linguistik. Show all posts

Sunday, October 24, 2010

Majas atau Gaya Bahasa

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya bahasa atau majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Dengan kata lain, gaya bahasa atau majas adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan atau lisan. Kekhasan dari gaya bahasa ini terletak pada pemilihan kata-katanya yang tidak secara langsung menyatakan makna yang sebenarnya.
Majas adalah cara menampilkan diri dalam bahasa. Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Menurut Goris Keraf, sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran, sopan santun, dan menarik.
Gaya bahasa dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1. Gaya bahasa perulangan
2. Gaya bahasa perbandingan
3. Gaya bahasa pertentangan
4. Gaya bahasa pertautan


A. Gaya Bahasa Perulangan
Majas perulangan yaitu majas yang cara cara melukiskan suatu keadaan dengan cara mengulang-ulang kata, frase, suatu maksud. Yang termasuk ke dalam majas ini antara lain majas anaphora, tautologi, repetisi, epifora, dan lain-lain.

1. Repetisi
Repetisi merupakan majas perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat. Majas repetisi ialah majas perulangan yang cara melukiskan suatu hal dengan mengulang-ulang kelompok kata atau frasa yang sama (Ducrot dan Todorov, 1981 : 279).
Contoh:
Seumpama eidelwis akulah cinta abadi yang tidak akan pernah layu
Seumpama merpati akulah kesetiaan yang tidak pernah ingkar janji
Seumpama embun akulah kesejukan yang membasuh hati yang lara
Seumpama samudra akulah kesabaran yang menampung keluh kesah segala muara.

2. Kiasmus
Kiasmus ialah gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat. Majas kiasmus merupakan bentuk majas perulangan yang isinya mengulang atau repetisi sekaligus merupakan inversi hubungan antara dua kata dalam satu kalimat (Ducrot dan Todorov, 1981 : 277)..
Contoh:
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya. Sudah biasa dalam kehidupan sehari-hari, orang pandai ingin disebut bodoh, namun banyak orang bodoh mengaku pandai.
Ia menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

3. Epizeukis
Epizeukis ialah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung. Maksudnya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Contoh :
Kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mengajar semua ketinggalan kita.
Ingat kami harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat.

4. Tautotes
Tautotes ialah gaya bahasa perulangan yang berupa pengulangan sebuah kata berkali-kali dalam sebuah konstruksi.
Contoh :
kau menunding aku, aku menunding kau, kau dan aku menjadi seteru
Aku adalah kau, kau adalah aku, kau dan aku sama saja.

5. Anafora
Anafora ialah gaya bahasa repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris atau kalimat. Majas anafora merupakan bentuk majas perulangan yang menempatkan kata atau frasa yang sama di depan suatu puisi (Suprapto, 1991 : 11).
Contoh :
Apatah tak bersalin rupa, apatah boga sepanjang masa
Kucari kau dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena sayang.
Kucari kau karena sayang karena bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti disayang.

6. Epistrofa (efifora)
Epistrofa ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Majas epifora merupakan majas repetisi atau perulangan yang cara melukiskannya dengan menempatkan kata atau kelompok kata yang sama di belakang baris dalam bentuk puisi secara berulang (Suprapto, 1991 : 27).
Contoh :
Kalau kau izinkan, aku akan datang,
Jika sempat, aku akan datang,
Jika kau terima, aku akan datang,
Jika tak hujan, aku akan datang,

Bumi yang kau diami, laut yang kaulayari adalah puisi,
Udara yang kau hirupi, ari yang kau teguki adalah puisi
Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.

7. Simploke
Simploke ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris (kalimat secara berturut-turut).
Contoh :
Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku.
Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku.
Ada selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak pecah.

8. Mesodiplosis
Mesodiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa pengulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau kalimat secara berturut-turut.
Contoh :
Para pembesar jangan mencuri bensin. Para gadis jangan mencari perawannya sendiri.
Pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa.
Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat.

9. Epanalepsis
Epanalepsis ialah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada akhir baris, klausa, atau kalimat mengulang kata pertama.
Contoh :
Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
Saya akan berusaha meraih cita-cita saya.

10. Anadiplosis
Anadiplosis ialah gaya bahasa repetisi yang kata atau frase terakhir dari suatu kalimat atau klausa menjadi kata atau frase pertama pada klausa atau kalimat berikutnya.
Contoh:
Dalam baju ada aku,
dalam aku ada hati.
Dalam hati : ah tak apa jua yang ada.

Dalam raga ada darah
Dalam darah ada tenaga
Dalam tenaga ada daya
Dalam daya ada segalanya

11. Pararima
Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.

12. Aliterasi
Sejenis gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi. Aliterasi merupakan majas perulangan yang memanfaatkan purwakanti atau kata-kata yang suku kata awalnya memiliki persamaan bunyi (Suprapto, 1991 : 6).
Contoh
Mengalir, mengambus, mendesak, mengepung
Memenuhi sukma, menawan tubuh
Serasa manis semilir angin
Selagu merdu, dersik bayu

Kau keraskan kalbunya
Bagai batu membesi benar
Timbul telangkai bertongkat urat
Ditunjang pengacara petah pasih

13. Asonansi
Asonansi ialah sejenis gaya bahasa perulangan yang berupa perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.
Contoh:
Segala ada menekan dada
Mati api di dalam hati
Harum sekuntum bunga rahasia
Dengan hitam kelam

B. Gaya Bahasa Perbandingan
Majas perbandingan adalah majas yang cara melukiskan keadaan apapun dengan menggunakan perbandingan antara satu hal dengan hal lain . yang termasuk majas ini misalnya majas asosiasi, metafora, personifikasi, alegori, pleonasme, dan lain-lain.

1. Perumpamaan
Perumpamaan ialah padanan kata atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa. Istilah simile berasal dari bahasa Latin ‘simile’ yang bermakna seperti. Majas simile merupakan majas yang menggambarkan suatu keadaan dengan membanding-bandingkan suatu hal dengan hal lainnya yang pada hakikatnya berbeda namun disengaja untuk dipersamakan (Ducrot dan Todorov, 1981 : 279). Hal-hal tersebut dibandingken secara eksplisit dengan penggunaan kata-kata seperi, bagaikan, laksana, umpama, dan lain-lain. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll. Simile adalah bahasa kiasan berupa pernyataan satu hal dengan hal lain dengan menggunakan kata-kata pembanding. Secara eksplisit jenis gaya bahasa ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa.
Contoh:
Seperti air di daun talas
Wajahnya bagaikan bulan kesiangan
Umpama kucing dengan tikus
Seperti air dengan minyak.
Nyalakanlah semangat bagai dian nan tak kunjung padam
Bersabarlah seperti samudra yang mampu menampug keluh kesah segala muara.

2. Metafora
Metafora berasal dari bahasa Yunani ‘metaphora’ yang artinya ‘memindahkan. Istilah metaphora diturunkan dari kata ‘meta’ yang artinya di atas dan ‘pherein’ yang artinya membawa (Tarigan, 1993 : 141).
Suatu majas yang sering lali menimbulkan penambahan kekuatan dalam suatu kalimat. Majas metafora membatu orang yang berbicara atau menulis untuk menggambarkan hal-hal dengan jelas, dengan cara membanding-bandingkan suatu hal dengan hal lain yang emiliki ciri-ciri dan sifat yang sama. Perbedaan metafora dengan simile yaitu, majas metafora bersifat implisit sedangkan majas simile bersifat eksplisit. Dibandingkan dengan majas lainnya, majas metafora merupakan majas yang paling singkat, padat, dan rapi.
Poerwadarminta menjelaskan, metafora yaitu majas dengan pemakaian kata-kata yang memiliki arti lain, tetapi merupakan lukisan yang didasarkan persamaan atau perbandingan (1976 : 648)
Contoh :
Pustaka itu gudangnya ilmu, dan membaca adalah kuncinya.
Kesabaran adalah bumi
Kesadaran adalah matahari
Keberanian menjelma kata-kata
Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata(sebuah bait dalam puisi Rendra)
Dewi malam telah keluar dari peradaannya (dewi malam = bulan)
Mereka telah menjadi sampah masyarakat (sampah masyarakat = manusia-manusia yang tak berguna dalam masyarakat)
Semangatnya berkobar-kobar untuk meneruskan perjuangannya (berkobar-kobar = semangat yang hebat diumpamakan dengan nyala api).
Aku adalah angin yang kembara.

3. Personifikasi
Personifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak. Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Adalah majas yang menerapakan sifat-sifat manusia terhadap benda mati. Personifikasi/Penginsanan adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda dengan manusia, punya sifat, kemampuan, pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki dan dialami oleh manusia.
Contoh:
Angin bercakap-cakap sama daun-daun, bunga-bunga, kabut dan titik embun.
Indonesia menangis, duka nestapa Aceh memeluk erat sanubari bangsaku.
Saat ku melihat rembulan, dia seperti tersenyum kepadaku seakan-akan aku merayunya.
Badai menderu-deru.
Lautan mengamuk.
Hatinya berkata bahwa perbuatan ini tak boleh dilakukannya.
Angin melambai-lambai.
Deru ombak memanggil-manggil para pemuda harapan bangsa.
Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.

4. Depersonifikasi
Depersonifikasi ialah gaya bahasa yang melekatkan sifat-sifat suatu benda tak bernyawa pada manusia atau insan. Biasanya memanfaatkan kata-kata: kalau, sekiranya, jikalau, misalkan, bila, seandainya, seumpama. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
Contoh:
Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya.

5. Alegori
Alegori sering mengandung sifat-sifat moral spiritual. Biasanya alegori tersebut membangun cerita yang rumit dengan maksut yang terselubung. Cerita fabel dan parabel merupakan alegori-alegori yang pendek.
Alegori yaitu gaya basa yang memperlihatkan perbandingan yang utuh, yang membentuk kemanunggalan kang paripurna, minangka cerios kang diangge kangge perlambang kangge ndidik atau menerangakan suatu hal (Suprapto, 1991 : 10).
Alegori ialah gaya bahasa yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon antara lain: fable dan parable. Alegori ialah gaya bahasa yang menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Alegori adalah kata kiasan berbentuk lukisan/cerita kiasan, merupakan metafora yang dikembangkan.
Contoh:
Sanjak “Menuju Ke Laut” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Biasanya bersifat simbolis
Contoh fable :Kancil dan Buaya
Contoh parabel: Cerita Adam dan Hawa

6. Alusio
Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Alusio adalah gaya bahasa yang menampilkan adanya persamaan dari sesuatu yang dilukiskan yang sebagai referen sudah dikenal pembaca.
Contoh:
Bandung dikenal sebagai Paris Jawa.
Bung Karno – Bung Karno kecil menunjukkan kebolehannya dalam lomba pidato membawakan fragmen “Di Bawah bendera Revolusi”.

7. Antitesis
Secara kalamiah antitesis diturunkan dari kata ‘antithesis’ yang artinya ‘musuh yang cocok’ atau pertentangan sang yang benar-benar (Poerwadarminta, 1976 : 52).
Majas antitesis tersebut sejenis majas yang sengaja mengadakan komparasi (perbandingan) antara dua antonim (yaitu dua kata yang memiliki ciri semantik yang sebaliknya).
Antitesis ialah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh:
Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.

8. Pleonasme
Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh-contoh:
Dia turun ke bawah => Dia turun
Dia naik ke atas => Dia naik
Capek mulut saya berbicara.

9. Tautologi
adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya. Tautologi adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu secara berulang dengan kata-kata yang maknanya sama supaya diperoleh pengertian yang lebih mendalam,
Tautologi merupakan suatu majas perulangan yang cara melukiskanya dengan mengulang-ulang kata yang ada dalam kalimat (Suprapto, 1991 : 85).
Contoh :
Tak ada badai tak ada topan, tiba-tiba saja ia marah.
So pasti, buku-buku bermutu banyak memberikan manfaat bagi pembacanya.
Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?

10. Perifrasis
Perifrasis ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya sengaja menggunakan frase yang sebenarnya dapat diganti dengan sebuah kata saja. Perifrase merupakan ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
Contoh:
Nissa telah menyelesaikan sekolah dasarnya tahun 2008 (lulus).

11. Antisipasi (prolepsis)
Antisipasi ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya menggunakan frase pendahuluan yang isinya sebenarnya masih akan dikerjakan atau akan terjadi.
Contoh:
Aku melonjak kegirangan karena aku mendapatkan piala kemenangan.

12. Koreksio (epanortosis)
Koreksio ialah gaya bahasa yang dalam pernyataannya mula-mula ingin menegaskan sesuatu. Namun, kemudian memeriksa dan memperbaiki yang mana yang salah. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya. Dipakai untuk membetulkan kembali apa yang salah diucapkan baik yang disengaja maupun tidak.
Contoh:
Dia adikku! Eh, bukan, dia kakakku!
Gedung Sate berada di Kota Jakarta. Eh, bukan, Gedung Sate berada di Kota Bandung.
Sudah setengah abad kita merdeka, eh bukan, 60 tahun malah, nah selama itu, kemajuan apasajakah yang sudah kita capai?
Dalam dunia sastra, kita mengenal Pelopor Angkatan ’45 yaitu Rendra, ah bukan, bukan Rendra, yang benar adalah Chairil Anwar.
Silakan Riki maju, bukan, maksud saya Rini!

13. Antropomorfisme
Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.

14. Sinestesia
Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.

15. Antonomasia
Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Majas perbandingan yang menyebutkan sesuatu bukan dengan nama asli dari benda tersebut, melainkan dari salah satu sifat benda tersebut.
Contoh:
Hei Jangkung!
Si Pintar
Si Gemuk
Si Kurus

16. Aptronim
Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
Contoh :
Sulit kalau bicara dengan Si Bolot, orang bertanya ke mana dijawab ke mana.

17. Metonimia
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Apabila sepatah kata atau sebuah nama yang berasosiasi dengan suatu benda dipakai untuk menggantikan benda yang dimaksud.
Metonemia adalah bahasa kiasan dalam bentuk penggantian nama atas sesuatu.
Contoh:
Kita harus bersyukur tinggal di negeri Zamrud Khatulistiwa yang elok permai ini
Panda banyak terdapat di negeri Tirai Bambu.
Ayah selalu mengisap Djarum Super (Djarum Super adalah merk rokok). Mengisap Djarum Super artinya mengisap rokok merk Djarum Super.
Pak guru mengendarai Kijang (Kijang adalah jenis mobil). Mengendarai Kijang artinya mengendarai mobil jenis Kijang.
Ayah mengendarai Vespa (Vespa adalah merk skuter). Mengendarai Vespa artinya mengendarai skuter merk Vespa.

18. Asosiasi
Majas asosiasi merupakan majas perbandingan yang cara melukiskan suatu hal dengan cara membandingkan suatu hal dengan hal lain, sesuai dengan keadaan hal yang dimaksud (Suprapto, 1991 : 14). Asosiasi adalah perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Gaya bahasa ini memberikan perbandingan terhadap sesuatu benda yang sudah disebutkan. Perbandingan itu menimbulkan asosiasi terhadap banda sehingga gambaran tentang benda atau hal yang disebutkan itu menjadi lebih jelas.
Contoh:
Semangatnya keras bagai baja.
Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam.
Suaranya merdu bagai buluh perindu.

19. Hipokorisme
Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.

20. Tropen
Majas tropen yaitu majas perbandingan yang cara menggambarkan suatui pekerjaan denganmenggunakan kata-kata yang memiliki pengertian yang sama (Suprapto, 1991 : 88).
Contoh :
Tiap malam ia menjual suara dari satu panggung ke panggung lainnya.
Untuk membela anak istri, kurelakan walau bermandi darah.

C. Gaya Bahasa Pertentangan
Majas pertentangan yaitu majas yang cara melukiskan hal apapun dengan mempertentangkan antara hal yang satu dengan hal yang lainnya. Yang termasuk ke dalam jenis majas ini antara lain hiperbola, litotes, oksimoron, paronomasia, ironi, paralipsis, dan lain-lain.

1. Hiperbola
Hiperbola ialah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan baik jumlah, ukuran, ataupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Hiperbola merupakan pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Adalah sepatah kata yang diganti dengan kata lain yang memberikan pengertian lebih hebat dapipada kata lain.
Contoh:
Harga-harga sudah meroket.
Ketika mendengar berita itu, mereka terkejut setengah mati
Saya ucapkan beribu-rbu terima kasih atas perkenan Bapak dan Ibu menghadiri undangan panitia.
Bertemu kamu sayang, wahai sahabatku yang elok dan indah, syahdu, hati berbunga-bunga sejuta rasanya terbang melayang di angkasa bahagia.
Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.

2. Antitesis
Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya. Majas pertentangan yang menggunakan paduan kata yang berlawanan arti.
Contoh:
Tua muda, besar kecil, semuanya hadir di tempat itu

3. Anakronisme
Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
Contoh :
Sambil menyalakan TV, sekali-sekali Hang Tuah melirik jam tangan Titusnya.
Aladin bermain golf.

4. Litotes
Litotes ialah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Apabila kita menggunakan kata yang berlawanan artinya dengan yang dimaksud dengan merendahkan diri terhadap orang yang berbicara.
Contoh:
Sekali-kali datanglah ke gubuk reotku.
Wanita itu parasnya tidak jelek.
Akan kutunggu engkau di bilikku yang kumuh di desa.
Apa yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu.

5. Ironi
Ironi ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Ironi merupakan sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Ialah salah satu majas sindiran yang dikatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud menyindir orang dan diungkapkan secara halus.
Ironi/sindiran adalah gaya bahasa berupa penyampaian kata-kata denga berbeda dengan maksud dengan sesungguhnya, tapi pembaca/pendengar, di harapkan memahami maksud penyampaian itu.
contoh:
Kuakui, kutu buku yang satu ini memang berpengetahuan luas sekali.
Hambur-hamburkan terus uangmu itu agar bias menjadi jutawan.
Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya.
Bagus benar rapormu, Bar, banyak merahnya.

6. Oksimoron
Oksimoron ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang di dalamnya mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase atau dalam kalimat yang sama.
Contoh:
Olahraga mendaki gunung memang menarik walupun sangat membahayakan.

7. Paronomosia
Paronomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang berisi penjajaran kata-kata yang sama bunyinya, tetapi berlainan maknanya.
Contoh:
Bisa ular itu bisa masuk ke sel-sel darah.

8. Zeugma
Zeugma ialah gaya bahasa yang menggunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain. Dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahkan kedua kata berikutnya sebenarnya hanya cocok untuk salah satu dari padanya. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
Contoh:
Kami sudah mendengar berita itu dari radio dan surat kabar.

9. Silepsis
Dalam silepsis kata yang dipergunakannya itu secara gramatikal benar, tetapi kata tadi diterapkan pada kata lain yang sebenarnya mempunyai makna lain. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
Contoh:
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.

10. Satire
Satire ialah gaya bahasa sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan maupun terselubung. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
Satire adalah gaya bahasa sejenis ironi yang mengandung kritik atas kelemahan manusia agar terjadi kebaikan. Tidak jarang satire muncul dalam bentuk puisi yang mengandung kegetiran tapi ada kesadaran untuk berbenah diri.
Contoh:
Aku lalai di pagi hari
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu miskin harta
(Bait II puisi “Menyesal” karya M. Ali Hasymi)

Jemu aku dengan bicaramu.
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
Budak kurus pengangkut sampah

11. Antifrasis
Antifrasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan sebuah kata dengan makna kebalikannya. Berbeda dengan ironi, yang berupa rangkaian kata yang mengungkapkan sindiran dengan menyatakan kebalikan dari kenyataan, sedangkan pada antifrasis hanya sebuah kata saja yang menyatakan kebalikan itu.
Contoh Antifrasis:
Lihatlah sang raksasa telah tiba (maksudnya si cebol).
Contoh ironi:
Kami tahu bahwa kau memang orang yang jujur sehingga tak ada satu orang pun yang percaya padamu.

12. Paradoks
Paradoks ialah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar. Majas ini terlihat seolah-olah ada pertentangan.
Paradoks adalah gaya bahasa berupa pernyataan yang mengandung kontras/pertentangan, namun ternyata mengandung kebenaran.
Contoh:
Betapa banyak orang yang dalam kesendiriannya merasa kesepian di kota sehiruk-pikuk Jakarta.
Sebagai dosen, terus terang, saya juga banyak belajar dari mahasiswa-mahasiswi saya.
Gajinya besar, tapi hidupnya melarat.
Artinya, uang cukup, tetapi jiwanya menderita.
Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.

13. Klimaks
Klimaks ialah gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting. .Klimaks, yang disebut juga gradasi, adalah gaya bahsa berupa ekspresi dan pernyataan dalam rincian yang secara periodek makin lama makin meningkat, baik kuantitas, kualitas, intensitas, nilainya. Klimaks dalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat.
Contoh :
Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran membuahkan pengalaman, dan pengalaman membuahkan harapan.
Idealnya setiap anak Indonesia pernah menempuh pendidikan formal di TK, SD, SMP, SMA/SMK, syukur S2, S3 sampai gelar Doktor dan kalau mengajar di Perguruan Tinggi bergelar Profesor/Guru Besar pula.
Dalam apresiasi sastra, mula-mula kita hanya membaca selayang pandang puisi yang akan kita apresiasi, lalu kita membaca berulang-ulang sampai paham maksudnya, merasakan keindahannya, terus mengkajidalami, bisa membawakannya penuh penghayatan, sampai kita mampu menghargai keberadaan dan mencintainnya, syukur juga terpangil untuk kreatif menciptakan bentuk-bentuk sastra.
Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.

14. Anti klimaks
Antiklimaks ialah suatu pernyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang penting. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting. Antiklimaks merupakan antonim dari klimaks adalah gaya bahasa berupa kalimat terstruktur dan isinya mengalami penurunan kualitas, kuantitas intensitas. Gaya bahasa ini di mulai dari puncak makin lama makin ke bawah. Dengan demikian, antiklimaks adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun.
Contoh :
Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya.
Bagi milyader bakhlil, jangankan menyumbang jutaan rupiah, seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, seribu rupiah pun ia enggan, masih dihitung-hitung.
Jauh sebelum memperoleh mendali emas dalam Olimpiade Athena 2004 cabang bulutangkis, Taufik Hidayat niscaya telah menjadi juara nasional dan sebelumnya juga tingkat propinsi, kabupaten, malahan pula tingkat kecamatan, desa, RT/RW.
Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.

15. Apostrof
Apostrof ialah gaya bahasa yang berupa pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir.
Contoh:
Wahai dewa yang agung, datanglah dan lepaskan kami dari cengkraman durjana.

16. Anastrof atau inversi
Anastrof ialah gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan membalikkan susunan kata dalam kalimat atau mengubah urutan unsur-unsur konstruksi sintaksis. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
Contoh:
Diceraikannya istrinya tanpa setahu saudara-saudaranya.

17. Apofasis
Apofasis ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang tampaknya menolak sesuatu, tetapi sebenarnya justru menegaskannya. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan
Contoh :
Sebenarnya saya tidak sampai hati mengatakan bahwa anakmu kurang ajar.

18. Histeron Proteran
Histeron Proteran ialah gaya bahasa yang isinya merupakan kebalikan dari suatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
Contoh :
Jika kau memenangkan pertandingan itu berarti kematian akan kau alami.

19. Hipalase
Hipalase ialah gaya bahasa yang berupa sebuah pernyataan yang menggunakan kata untuk menerangkan suatu kata yang seharusnya lebih tepat dikarenakan kata yang lain.
Contoh:
Ia duduk pada bangku yang gelisah.

20. Sinisme
Sinisme ialah gaya bahasa yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
Contoh:
Anda benar-benar hebat sehingga pasir di gurun sahara pun dapat Anda hitung.

21. Sarkasme
Sarkasme ialah gaya bahasa yang mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. Gaya bahasa sindiran yang terkasar dimana memaki orang dengan kata-kata kasar dan tak sopan.
Contoh:
Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!
Kau memang benar-benar bajingan.

22. Innuendo
Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya
Contoh:
Dia memang baik, cuma agak kurang jujur.

23. Kontradiksi interminus
Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Yaitu majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudahdikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh:
Semuanya sudah hadir, kecuali Si Amir.
Kalau masih ada yang belum hadir, mengapa dikatakan “semua” sudah hadir.
semuanya telah diundang, kecuali Sinta.

24. Praterito
Majas praterito yaitu majas yang cara mengungkapkan suatu hal dengan cara menyembunyikan maksud. Pendengar atau pembaca harus mencari atau menebak apa yang tersembunyi tersebut namun pendengar atau pembaca sudah paham dan mengerti terhadap hal yang disembunyikan itu. (Suprapto, 1991 : 64).
Contoh :
Kejadian kemarin betul-beul mempermalukan warga sekampung.
Maklumlah, hal itu sudah menjadi kebiasaan murid waktu ulangan.

25. Alonim
Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.

26. Kolokasi
Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
Contoh:
Mobil itu berderit ketika sopir menginjak rem tiba-tiba, di tikungan, meninggalkan bekas ban yang tajam di jalanan yang berdebu.

27. Okupasi
Majas okupasi merupakan majas pertentangan atau berlawanan yang mengandung bantahan namun bantahan tersebut kemudian diberi penjelasan (Suprapto, 1991 : 56).
Contoh :
Candu itu dapat merusak kehidupan, oleh karena itu, pemerintah mengawasi dengan ketat, untuk pecandunya sendiri, umumnya tidak dapat menghentikan kebiasaan yang tidak baik tersebut.


D. Gaya Bahasa Pertautan
Majas pertautan yang cara menjelaskan suatu keadaan dengan mengaitkan hal yang dimaksud dengan lainnya yang memiliki sifat yang berkarakteristik sama atau mirip. Yang termasuk ke dalam jenis majas pertautan di antaranya metonimia, sinekdot, alusio, eufimisme, elipsis, inverse, dan lain-lain.

1. Metonimia
Metonimia berasal dari bajasa Yunani ‘meta’ yang artinya pertukaran dan ‘onym’ yang artinya nama. Metonimia merupakan sejenis majas yang menggunakan nama suatu benda untuk suatu hal lain yang memiliki keterkaitan dengan benda yang dimaksud. Dalam metonimia, suatu benda disebutakan tetapi yang dimaksud adalah benda lain (Dale (et all), 1971 : 234).
Majas metonimia merupakan majas yang mempergunakan nama ciri ataui ciri hal yang menjadi cirri terhadap hal yang dimaksud kemudian ditautakan denngan mausia, barang, atau apapun sebagai gantinya (Suprapto, 1991 : 50). Metonimia ialah gaya bahasa yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.
Contoh:
Parker jauh lebih mahal daripada pilot.

2. Antanaklasis
Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan. Antanaklasis merupakan bentuk majas perulangan yang memiliki pengulangan kata yang sama tetapi berbeda maksudnya. Jadi, majas antanaklasis itu majay yang menulang kata homonimi (Ducrot dan Todorov, 1981 : 227).
Contoh :
Angga membawa kembang untuk kembang desa yang dipujanya.
Enaknya lintah darat itu mulutnya disumpal lintah, biar kapok
Karena buah penanya itu menjadi buah bibir orang.

3. Simbolik
Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
Contoh :
Cintaku kepadamu tak akan pernah layu, bagai bunga surga.
Cintaku kepadamu kan selalu bergelora, bagai ombak samudra.

4. Sinekdoke
Sinekdoke ialah gaya bahasa yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri. Sinekdoke adalah bahasa kiasan dengan cara menyebutkan sesuatu bisa sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), bisa pula sebaliknya keseluruhan digunakan untuk menyebut yang sebagian (totem pro parte)
Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
Totem pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh Sinekdoke pars pro toto:
Lima ekor kambing telah dipotong pada acara itu.
Korban gelombang Tsunami 26 Desember 2004 mencapai 100 jiwa lebih.
Dalam Idul Adha tahun ini, Masjid Al-Amin berkurban 6 ekor sapi 10 ekor kambing.
Contoh Sinekdoke totem pro parte:
Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan Malaysia.
Dalam copa Amerika 2004, Brazil mengalahkan Argentina.
Karya-karya menjadi cindera mata bagi dunia

5. Alusio
Alusio ialah gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu pristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/ diketahui orang.
Contoh:
Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di sini?

6. Eufimisme
Eufimisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap merugikan atau yang tidak menyenangkan. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Eufemisme adalah gaya bahasa berupa pengungkapan yang sifatnya menghaluskan supaya tidak menyinggung perasaan, tidak terasa tajam.
Eufimisme berasal dari bahasa Yunani ‘euphemizein’ yang berarti ‘berbicara dengan menggunakan kata-kata yang jelas dan wajar’. Euphemizein diturunkan dari kata ‘eu’ yang berarti baik atau bagus ‘phanai’ yang berarti bicara. Jadi jelas, eufimisme artinya pandai berbicara baik (Dale (et all) 1971 : 239).
Contoh:
Karena melakukan sesuatu yang kurang pas, Pak Bandot akhirnya dikenai pension dini.
(Terlibat skandal, korupsi, dipecat, di PHK)
Anak itu tinggal kelas karena agak terlambat dalam mengikuti pelajaran.
(Bodoh)
Tunasusila sebagai pengganti pelacur.

7. Disfemisme
Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
Contoh :
Hati-hati, kita mulai masuk hutan larangan. Di sini banyak hantu!

8. Eponim
Eponim ialah gaya bahasa yang menyebut nama seseorang yang begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
Contoh:
Dengan latihan yang sungguh saya yakin Anda akan menjadi Mike Tyson.

9. Antonomasia
Antonomasia ialah gaya bahasa yang berupa pernyataan yang menggunakan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri.
Contoh:
Kepala sekolah mengundang para orang tua murid.

10. Epitet
Epitet ialah gaya bahasa yang berupa keterangan yang menyatakan sesuatu sifat atau ciri yang khas dari seseorang atau suatu hal.
Contoh:
Putri malam menyambut kedatangan remaja yang sedang mabuk asmara.

11. Erotesis
Erotesis ialah gaya bahasa yang berupa pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sama sekali.
Contoh:
Tegakah membiarkan anak-anak dalam kesengsaraan?

12. Paralelisme
Paralelisme ialah gaya bahasa yang berusaha menyejajarkan pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dan memiliki bentuk gramatikal yang sama. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar. Pengulangan kata-kata untuk menegaskan yang terdapat pada puisi. Bila kata yang diulang pada awal kalimat dinamakan anaphora, dan jika terdapat pada akhir kalimat dinamakan evipora. Contoh-contoh:
Kau berkertas putih
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau bersampul rapi.
Kalau kau mau aku akan datang
Jika kau menginginkan aku akan datang
Bila kau minta aku akan datang
Andai kau ingin aku akan datang
+ Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas.
- Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus memberantasnya (Ini contoh yang tidak baik).

13. Elipsis
Elipsis ialah gaya bahasa yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada. Elipsis adaklah gaya bahasa berupa penyusunan kalimat yang mengandung kata-kata yang sengaja dihilangkan yang sebenarnya bisa diisi oleh pembaca/penyimak.
Contoh:
Pembangunan mencakup dua hal yakni pembangunan material dan …….,pembangunan lahiriah dan …….., pembangunan individual dan ……….
Apa saja yang ada di dunia serta berpasangan ada siang ada ………, ada baik ada…….., ada terang ada ………, ada pertemuan ada …….., roda berputar kadang di atas kadang …………
Mereka ke Jakarta minggu lalu (perhitungan prediksi).
Pulangnya membawa oleh-oleh banyak sekali (Penghilangan subjek).
Saya sekarang sudah mengerti (Penghilangan objek).
Saya akan berangkat (penghilangan unsur Keterangan).
Mari makan!(penghilangan subyek dan obyek).

14. Gradasi
Gradasi ialah gaya bahasa yang mengandung beberapa kata (sedikitnya tiga kata) yang diulang dalam konstruksi itu.
Gradasi yaitu majas yang memiliki rangkaian atau urutan sedikitnya tiga kata atau istilah yang secara sintaksis kata atau istilah tersebut memiliki satu ciri semantik atau lebih (Ducrot dan Todorov, 1981 : 277).
Contoh :
Kita berjuang melawan musuh dengan satu tekad, tekad terus maju, maju dalam kehidupan, kehidupan yang baik, baik secara rohani ataui jasmani, rohani atau jasmani yang diridhoi, diridhoi oleh Gusti Allah, Gusti Allah yang memiliki hidup dan mati. Hidup dan mati kita semua.

15. Asindeton
Asindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Beberapa hal keadaan atau benda disebutkan berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Meja, kursi, lemari ditangkubkan dalam kamar itu.
Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah keluarga.

16. Polisindeton
Polisindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
Contoh:
Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan pelaksana.

17. Retoris
Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut. Gaya bahasa penegasan ini mempergunakan kalimat Tanya-tak-bertanya. Sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.
Erotesis/pertanyaan retoris adalah gaya bahasa berupa pengajuan pertanyaan untuk memperoleh efek mengulang tanpa menghendaki jawaban, karena jawabannya sudah tersirat di sana. Gaya bahasa ini acap digunakan oleh para orator.
Contoh:
Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sangat mahal. Bisakah rakyat kecil menyekolahkan anaknya sampai ke sana? Siapa yang bisa berkuliah kalau bukan kaum berada?
Mana mungkin orang mati hidup lagi?!
Inikah yang kau namai bekerja?!

18. Interupsi
Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat. Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sisipan di tengah-tengah kalimat pokok, denagn maksud untuk menjelaskan sesuatu dalam kalimat tersebut.
Contoh:
Tiba-tiba Ia - kekasih itu - direbut oleh perempuan lain.

19. Enumerasio
Majas enumerasio yaitu majas gaya bahasa penegasan yang melukiskan atau menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa agar seluruh maksud di dalam kalimat tersebut menjadi lebih lugas dan jelas (Suprapto, 1991 : 27).
Contoh :
Angin semilir perlahan, langit biru terlihat ringan, lazuardi cerah nilakandi, bulan pun bersinar kembali, sedang aku, cuma duduk sambil melamun. Memikirkanjantung hati, yang entah ke mana tak tahu rimbanya.
Korban meninggal saat itu juga, motonya hancur lebur, darah menganak sungai, mengalir ke mana-mana.


20. Resentia
Adalah gaya bahasa yang melukiskan sesuatu yang tidak mengatakan tegas pada bagian tertentu dari kalimat yang dihilangkan.
Contoh : “Apakah ibu mau….?”

21. Anakuloton
Majas anakuloton merupakan majas yang dalam pemakaian kalimatnya sengaja disimpangkan dari kaidah-kaidah penulisan tata basa (Suprapto, 1991 : 11).
Contoh :
Jangan berebut, coba barisnya yang tartib!
Duduklah yang manis di krosi, jangan keluyuran!

22. Meiosis
Majas meiosis merupakan penegasan yang cara mengungkapkan suatu hal atau keadaan dengan menggunakan pernyataan yang halus. Majas ini sering digunakan secara ironi, khususnya untuk menggambarkan suatu hal yang luar biasa (Suprapto, 1991 : 49).
Contoh :
Hasil panennya agak kurang baik (untuk menyatakan panen gagal)
Dia kurang aktif di karang taruna (menyatakan malas)

23. Simetrisme
Majas simetriisme merupakan majas yang menyatakan suatu kalimat dengan menggunakan kata-kata yang lain ananum sesungguhnya kalimat tersebut mengandung makna yang sama (Suprapto, 1991 : 82).
Contoh :
Anak tersebut sudah dididik, diajar, dituntun berjalan direl yang benar.
Ayahku sudah pergi dan tak mungkin kembali lagi.
Hidup harus gemi, nastiti, dan hati-hati.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Sunday, October 10, 2010

Sosiolinguistik, Suatu Tinjauan Deskriptif

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
A. Pengertian Sosiolinguistik
Secara umum sosiolinguistik membahas hubungan bahasa dengan penutur bahasa sebagai anggota masyarakat. Hal ini mengaitkan fungsi bahasa secara umum yaitu sebagai alat komunikasi. Sosiolingistik lazim didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dan pelbagai variasi bahasa serta hubungan diantara para bahasawan dengan ciri fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa (Kridalaksana, 1978:94), Fishman (1972) dalam Chaer dan Agustina (2004:3) mengemukakan bahwa sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi variasi bahasa, dan pengunaan bahasa karena ketiga unsur ini berinteraksi dalam dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur, identitas sosial dari penutur, lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi serta tingkatan variasi dan ragam linguistik. Berdasarkan teori Platt dalam (Siregar dkk 1998:54) berpendapat bahwa dimensi identitas sosial merupakan faktor yang mempengaruhi penggunaan bahasa di dalam masyarakat yang multilingual, dimensi ini mencakup kesukaran, umur, jenis kelamin, tingkat dan sarana pendidikan dan latar sosial ekonomi. Sedangkan Nababan (1994:2) mengatakan bahwa pengkajian-pengkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan disebut sosiolinguistik. Sosiolinguistik memfokuskan penelitian pada variasi ujaran dan mengkajinya dalam suatu konteks sosial. Sosiolinguistik meneliti korelasi antara faktor- faktor sosial itu dengan variasi bahasa.
Berdasarkan pengertian menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang erat kaitannya dengan sosiologi, hubungan antara bahasa dengan faktor- faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur serta mengkaji tentang ragam dan variasi bahasa.
Selanjutnya ada tujuh dimensi yang merupakan penelitian sosiolinguistik yaitu: (1) identitas sosial dari penutur, (2) identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi, (3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi (4) analisis sinkronik dan diakronik dari dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi dan ragam linguistik, (7) penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik. (Chaer, 2004:5).
Identitas sosial dari penutur dapat diketahui dari pertanyaan apa dan siapa penutur tersebut, dan bagaimana hubungannya dengan lawan tuturnya. Maka, identitas penutur dapat berupa anggota keluarga. Identitas penutur itu dapat mempengaruhi pilih kode dalam bertutur. Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi dapat berupa ruang keluarga di dalam sebuah rumah tangga, di perpustakaan, di perkuliahan, di pinggir jalan hingga di lingkungan para waria. Tempat peristiwa tutur terjadi dapat pula mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur. Misalnya, di ruang perpustakaan tentunya kita harus berbicara dengan suara yang tidak keras, sedangkan dilingkungan para waria berbicara dalam mengunakan bahasa dalam kelompok tertentu dengan bahasa yang sering mereka gunakan, seperti ragam bahasa gaul.
Tingkatan variasi dan ragam linguistik, bahwa sehubungan dengan heterogennya anggota suatu masyarakat tutur, adanya berbagai fungsi sosial dan politik bahasa, serta adanya tingkatan kesempurnaan kode, maka alat komunikasi, manusia yang disebut bahasa itu menjadi sangat beragam yang memiliki fungsi sosialnya masing- masing.
Bahasa adalah suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengindentifikasi diri (Chaer, 2004:1). Hal ini memberi gambaran bahwa bahasa adalah berupa bunyi yang digunakan oleh rnasyarakat untuk berkornunikasi. Keraf (1991:1) mengatakan bahwa bahasa mencakup dua bidang, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa arus bunyi, yang mempunyai makna. Menerangkan bahwa bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat terdiri atas dua bagian utama yaitu bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Sapir (1921) dalam Sibarani (2004:36) mengatakan bahwa bahasa adalah metode atau alat penyampaian ide, perasaan, dan keinginan yang sungguh manusiawi dan noninstingtif dengan mempergunakan sistem simbol- simbol yang dihasilkan dengan sengaja dan suka rela. Sedangkan menurut Sibarani (2004:37) Bahasa adalah bahasa sebagai system tanda atau sistem lambang, sebagai alat komunikasi, dan digunakan oleh kelompok manusia atau masyarakat.
Menurut pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap berupa bentuk dan makna, sistem tanda atau system lambang, sebagai alat komunikasi, dan digunakan oleh kelompok manusia atau masyarakat untuk mengindenfikasi diri dalam makna yang berkaitan dengan penggunaan bahasa yang terdapat dalam kata yang diucapkan.
Indonesia adalah Negara yang wilayahnya sangat luas dengan penduduk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, maka pengunaan bahasa Indonesia juga beragam. Apabila beberapa orang berbicara dalam bahasa yang tidak dapat dipahami, pertama yang terdengar adalah berbagai bunyi dan berselang- seling dan rumit sekali. Ketika ingin semakin akrab dengan bahasa itu bunyi yang berselang- seling tadi berubah menjadi bunyi yang dapat dibedakan. Tiap bahasa memiliki aturan-aturan sendiri yang menguasai bunyi- bunyi dan urutan- urutannya, kata dan bentukan- bentuknya, kalimat dan susunannya.
Indonesia adalah Negara yang multilingual. Selain bahasa Indonesia yang digunakan secara nasional, terdapat pula ratusan bahasa daerah , besar maupun kecil, yang digunakan oleh para anggota masyarakat bahasa daerah itu untuk keperluan yang bersifat kedaerahan, tetapi di samping itu banyak pula yang hanya menguasai satu bahasa, namun ada pula yang menguasai dwi bahasa (bilingual) atau lebih dari dua bahasa (multi lingual).
Sebagai sebuah subjek kajian bahasa gaul merupakan suatu fenomena penciptaan bahasa yang berbeda namun berlaku dikalangan pengguna bahasa karena seperti yang kita ketahui bahwa bahasa memiliki salah satu sifat yang arbitrer bias diartikan sewenang-wenang, berubah ubah, tidak tetap, dan mana suka. Keraf (1991 : 16) menyatakan bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Dalam praktek kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari simbol dan alat komunikasi. Bahasa adalah alat yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi serta penyampaiannya segala sesuatu dalam bentuk lisan kepada sesama manusia. Dalam pergaulan sehari- hari di berbagai kalangan mengakui adanya pluralitas orientasi seksual dikenal adanya penggunaan bahasa gaul di sekelompok waria yang secara budaya dan pengucapan menunjukkan kreasi dan kegairahan mereka tanpa menjadi terjebak pada penyeragaman bahasa yang monoton dan tidak berkembang.
Berbicara mengenai bahasa tidak hanya membicarakan satu jenis bahasa, tentu banyak pula ragamnya yang berdasarkan konteks situasi dimana mereka menggunakan bahasa yang mereka anggap sebagai alat komunikasi yang sering digunakan dalam kelompok mareka, salah satu bahasa yang digunakan ialah ragam bahasa gaul pada kalangan waria. Ragam bahasa yang disikapi dalam pengertian ini adalah fenomena bahasa pada kalangan waria. Dalam hal ini ragam bahasa yang digunakan seseorang dalam situasi non formal pada orang yang sama akan menukar bahasa tertentu, umpamanya membicarakan masalah adat di daerahnya, maka akan disesuaikan dengan bahan dan bahasa yang tepat. Begitu pula tentang bahasa pada kalangan waria yang ada di jalan Gajah Mada Medan.

B. Konteks dan Situasi
Menurut Poerwadarminta(2008:156) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, konteks diartikan sebagai bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna. Istilah konteks dan situasi sering digunakan untuk menerangkan peristiwa bahasa sebagai salah satu petunjuk untuk lebih memahami masalah arti bahasa. Walau kata konteks dan situasi sering diiringi penggunaannya, sebaliknya diadakan juga perbedaan antara kedua kata itu. Kata- kata pada satu bahasa yang dapat kita pahami tanpa mengenal konteksnya.
Fishmam (dalam Tarigan, 3:1988) beserta pakar sosiolinguistik lainnya sangat yakin bahwa maksud dan tujuan penggunaan satu atau dua bahasa sangat beraneka ragam dan barbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya dari orang ke orang bergantung pada topik, penyimak dan konteks. Berdasarkan penggunaannya, berarti bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, apa jalurnya, dan alatnya serta bagaimana situasi keformalannya.
Bahasa menurut statusnya meliputi status bahasa itu sendiri. Hal ini berarti bahwa bagaimanakah fungsi bahasa itu serta peraanan apa yang disandang oleh bahasa. Bahsa Indonesia, dapat memiliki berbagai macam status apakah ia sebagai bahasa ibu, bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa pemersatu, atau bahasa negara. Kridalaksana (1984: 142) mengemukakan bahwa ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut penggunaanya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pengungkapan. Jadi ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut penggunaannya, yang timbul menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya variasi tersebut.
Ragam bahasa menurut topik pembicaraan mengacu pada penggunaan bahasa dalam bidang tertentu, seperti, bidang jurnalistik (persurat kabaran), kesusastraan, dan pemerintahan. Ragam bahasa menurut hubungan pelaku dalam pembicaraan atau gaya penuturan menunjuk pada situasi formal atau informal. Medium pengungkapan dapat berupa sarana atau cara penggunaan bahasa, misalnya bahasa lisan dan bahasa tulis, masing-masing ragam bahasa memiliki ciri-ciri tertentu, sehingga ragam yang satu berbeda dengan ragam yang lain.
Penggunaan ragam bahasa perlu penyesuaian antara situasi dan fungsi penggunanya. Hal ini mengindifikasikan bahwa kebutuhan manusia terhadap sarana komunikasi juga bermacam-macam. Untuk itu, kebutuhan sarana komunikasi bergantung pada situasi pembicaraan yang berlangsung. Dengan adanya keaneka ragaman bahasa di dalam masyarakat, kehidupan bahasa dalam masyarakat dapat diketahui, misalnya berdasarkan jenis pendidikan atau jenis pekerjaan seseorang, bahasa yang digunakan memperlihatkan perbedaan.
Sebuah komunikasi dikatakan efektif apabila setiap penutur menguasai perbedaan ragam bahasa. Dengan penguasaan ragam bahasa, penutur bahasa dapat dengan mudah mengungkapkan gagasannya melalui pemilihan ragam bahasa yang ada sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, penguasaan ragam bahasa termasuk bahasa gaul di kalangan waria menjadi tuntutan bagi setiap penutur, mengingat kompleksnya situasi dan kepentingan yang masing-masing, menghendaki kesesuaian bahasa yang digunakan.

C. Ragam Bahasa
Manusia merupakan mahluk sosial, manusia melakukan interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan kebutuhannya untuk hidup bersama. Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Setiap individu adalah anggota dari kelompok social tertentu yang tunduk pada seperangkat aturan yang disepakati dalam kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa.
Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Adanya kelompok-kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang dipergunakan beragam. Keragaman bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, ragam bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam. Dalam ragam bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama, pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi. ragam bahasa juga dapat dilihat dari enam segi, yaitu tempat, waktu, pengguna, situasi, dialek yang dihubungkan dengan sapaan, status, dan penggunaan ragam bahasa (Pateda dalam Chaer 1987: 52).
Tempat dapat menjadikan sebuah bahasa beragam, yang dimaksud dengan tempat di sini adalah keadaan tempat lingkungan yang secara fisik seperti di jalan, di Mall, hingga di lingkungan para waria. Dari segi penggunaannya, bahasa dapat menimbulkan keberagaman juga, istilah penggunaan di sini adalah orang atau penutur bahasa yang bersangkutan. Sedangkan ragam bahasa dilihat dari segi situasi akan memunculkan bahasa dalam situasi resmi dan bahasa yang digunakan dalam tidak resmi. Dalam bahasa resmi, bahasa yang digunakan adalah bahasa standar. Kestandartan ini disebabkan oleh situasi keresmiannya. Sedangkan dalam situasi tidak resmi ditandai oleh keintiman.
Ragam bahasa gaul ditinjau dari ilmu folklore adalah salah satu bentuk (genre) foklor yang disebut ”ujaran rakyat” (folk speech). Slang ini dapat berupa satu kalimat, tetapi dapat juga terdiri sebuah kata yang tidak lazim di dalam bahasa nasional Indonesia yang resmi.
Bahasa Slang oleh Kridalaksana (1982:156) dirumuskan sebagai ragam bahasa yang tidak resmi digunakan oleh kaum remaja, serta waria atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (1985:57) bahwa slang adalah variasi ujaran yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah, digunakan oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk komunikasi di dalamnya.
Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim digunakan di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya dipertegas lagi kedalam bentuk.
Slang ini selanjutnya dapat dipertegas lagi ke dalam bentuk cant, yaitu bahasa gaul yang diucapkan dengan nada atau intonasi tertentu sehingga terasa ringan, lucu, dan ekspresif cocok untuk suasana santai yang bersifat rahasia. Sedangkan cant yang khusus dipergunakan oleh para penjahat atau preman dikenal dengan istilah Argot menurut Kridalaksana (1982:14) bahasa dan perbendaharaan kata suatu kelompok orang, seperti bahasa pencopet. Sedangkan menurut Chear (1995:80) Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi- profesi tertentu dan bersifat rahasia. Kelompok yang dimaksud disini adalah kelompok orang muda (orang yang merasa dirinya muda), maka yang sesuai dengan penelitian adalah bahasa Cant yang berfungsi sebagai bahasa dari sekelompok orang atau kalangan tertentu terutama pada kelompok remaja dan waria. Pada tahun 1940-an cant tersebut berbentuk penggantian suku kata (syllable) terakhir dari suatu kata dari suatu kata dengan ”se”. Sebagai contoh kata genis menjadi gense. Namun pada tahun 1980-an para pemuda usia ini mengambil alih bahasa prokem yang berasal dari para penjahat atau preman di Jakarta. Jadi ujaran rakyat kelompok usia muda sejak itu telah mengubah slang nya dari sifat cant menjadi argot. Bahasa prokem ini kemudian telah berhasil menjadikan dirinya menjadi bahasa lisan dari orang Indonesia pada umumnya di daerah perkotaan.
Bahasa pada kalangan homoseksual (gay dan lesbian) sangat menarik karena para homoseksual menciptakan cant tersendiri untuk kelompoknya. Bahasa para gay dan lesbian ini juga tidak langgeng, karena pada beberapa tahun ini telah timbul jenis cant gay yang lain lagi, yang mereka namakan bahasa gaul. Bahasa gaul saat ini semakin ngetop dan ngetrend, sehingga diambil alih juga oleh para remaja dan orang muda dari kalangan pengusaha, artis, film sinetron, mahasiswa dan lain- lain.
Bahasa para gay dan lesbian ini pada beberapa tahun yang lalu, adalah cant dengan cara menyisipkan suku kata ”in”, seperti untuk banci menjadi binancini, sedangakan untuk istilah bule menjadi binuline, dan sebagainya. Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, kalagan yang mengakui adanya prularitas orientasi seksual dikenal adanya pengguaan bahasa gaul yang secara budaya dan pengucapan mempertunjukkan kreasi dan kegairahan mereka tanpa menjadi terjebak pada penyeragaman bahasa yang membosankan, tanpa daya pikir, anti-kenikmatan dan mentabukan seksual. Sebaliknya mereka aktif menciptakan keragaman, merangsang gairah- gairah (pengucapan) oral mereka selalu aktif menciptakan dan menciptakan literatur yang lebih terbuka pada kesenangan para gay dan lesbian.
Secara permukaan dimarjinalkan, masyarakat secara aktif mengagungkan satu orientasi seksual yang sakral mengadopsinya dalam bahasa keseharian mereka (contoh: ”bencong”) di bawah ini adalah penjelasan singkat bagaimana kreativitas bahasa itu diekspresikan dalam keberagaman, yang disebut bentuk bahasa ”binan” waria. Bahasa gaul khusus yang diciptakan para waria khususnys di jalan Gajah Mada Medan dalam berkomunikasi sesama kelompok termasuk kedalam gejala bahasa.

D. Gejala Bahasa
Menurut Badudu (1985:47) gejala bahasa adalah peristiwa yang menyangkut bentuk kata atau kalimat dengan secara macam proses pembentukannya. Beberapa gejala bahasa yang digunakan dalam proses pembentukan kata dalam bahasa gaul khusus adalah penghilangan fonem, penambahan fonem dan metatesis dapat dilihat sebagai berikut:
1. Penghilangan Fonem
Gejala penghilangan fonem bahasa gaul khusus tidak banyak ditemukan, karena bahasa gaul khusus lebih banyak penambahan.
2. Penambahan Fonem
Gejala penanbahan fonem banyak ditemukan dalam proses pembentukan kata dalam bahasa gaul khusus. Gejala penambahan fonem terjadi gejala bahasa yang menyimpang. sebagai contoh yaitu:
a. Tambahan awalan 'ko'
Awalan ko bisa dibilang sebagai dasar pembentukan kata dalam bahasa okem. Caranya, setiap kata dasar, yang diambil hanya suku kata pertamanya. Tapi suku kata pertama ini huruf terakhirnya harus konsonan. Misalnya kata preman, yang diambil bukannya pre tapi prem. Setelah itu tambahi awalan ko, maka jadi koprem. Kata koprem ini kemudian dimodifikasi dengan menggonta-ganti posisi konsonan sehingga prokem. Dengan gaya bicara anak kecil yang baru bisa bicara, kata prokem lalu mengalami perubahan bunyi jadi okem.
Misalnya :
mati —> komat —> (ko + mat) = mokat
bisa —> kobis —> (ko + bis) = bokis
beli —> kobel —> (ko + bel) = bokel

b. Tambah awalan 'si'
Awalan si biasanya digunakan oleh waria di Jawa Timur. Cara penggunaannya dengan menambahkan kata si pada setiap kata yang digunakan dengan terlebih dahulu memenggal suku kata pertama dari suku kata belakang, sehingga menghasilkan bunyi baru. Syaratnya setiap kata modifikasi tesebut harus berakhir dengan huruf konsonan. Misalnya :
wedhok (Jawa. perempuan) = siwed (si + wed)
pergi = siper (si+ per)
makan = simak (si + mak)

c. Tambahan akhiran 'ong'
Penambahan akhiran ong adalah modifikasi sederhana lain yang sering juga digunakan. Penggunaannya dengan menyelesaikan/ mengasimilasi setiap suku kata terakhir dalam bahasa keseharian dengan bunyi ong dan setiap huruf vokal suku kata pertama menjadi bunyi /e/.
Misalnya :
homo —> hemong (ho + mo = -he + mong)
laki —> lekong (le + ki = -le + kong)

d. Tambahan sisipan 'in'
Di banding dengan modifikasi regular lainnya , sisipan 'in' sedikit lebih sulit dalam penerapannya. Setiap modifikasi sisipan 'in' setiap suku kata dibagi diasimilasikan dengan dengan sisipan bunyi 'in'. Misalnya :
lesbi —> lines bini (les + bi = -lines + bini)
homo —> hino mino (ho + mo = -hino + mino)

3. Metatesis.
Menurut Badudu (1985:64) gejala metatesis adalah gejala yang memperlihatkan pertukaran tempat satu atau beberapa fonem.
Misalnya :
almari menjadi lemari
berantas menjadi banteras
korsi menjadi krosi

E. Semantik Sebagai Kajian Makna
Kajian tetang semantik sebenarnya merupakan istilah teknis yang mengacu pada studi tentang makna (arti, ingris: meaning). Istilah semantik baru muncul dan diperkenalkan melalui organisasi filologi Amerika (America Philological Assocition) tahun 1894 Goseriu dan Gecheler dalam Pateda (1985:3) menyatakan bahwa istilah semantik yang mulai populer tahun 50-an mula-mula diperkenalkan oleh Sarjana Prancis yang bernama M. Breal pada tahun 1883. Semantik sebagai disiplin ilmu muncul pada abad ke-19. Sematik sebagai kajian makna, yang terdapat dalam kalimat dan makna yang muncul dalam pembicaraan tentang kata yang disebut makna kata.
Pembicaraan dengan makna katapun menjadi objek semantik. Jadi merupakan bidang yang sangat luas tentang makna. Para ahli berpendapat semantik adalah studi tentang makna. Menurut mereka semantik mengamsusikan bahasa terdiri dari struktur yang menampakkan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia. Menurut Pateda (1996:7) secara empiris sebelum seseorang berbicara dan ketika seseorang mendengar ujaran seseorang terjadi proses mental pada diri keduanya baik pada pembicara maupun pihak pendengar terjadi proses pemaknaan, dengan kata lain semantik berobjekkan makna.
Menurut George (1964) dalam Peteda (1996:7) semantik adalah bahasa yang terdiri dari struktur yang merupakan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia. Sedangkan Verhaar (1988:32) mengatakan bahwa semantik berarti teori makna atau teori arti yang terdapat dalam kata. Menurut Parera (1982:16-18) Secara umum teori semantik tentang makna dibedakan atas:
1. Teori Refrensial yaitu makna sebuah kata cenderung semantik leksikal dalam arti makna yang ditujukan oleh kata itu, atau objek yang ditunjuk oleh objek.
2. Teori Kontekstual mengisyaratkan bahwa sebuah kata atau simbol ujaran mempunyai makna jika ia lepas dari konteks. Walaupun demikian ada pakar semantik yang berpendapat bahwa kata mempunyai makna dasar atau primer yang terlepas dari konteks situasi. Dan kedua kata itu baru mendapatkan makna sekunder sesuai dengan konteks situasi. Jadi begitu pentingnya konteks situasi dalam analisis makna.
3. Teori mentalisme atau konseptual yaitu makna adalah (konsep, ide, gagasan) yang ditambahkan oleh kata itu. Dalam arti sebuah kata adalah konsep atau gagasan yang berhubungan dengan kata tersebut.
4. Teori pemakiaan, adalah kata tidak mungkin digunakan dan bermakna untuk semua konteks karena konteks itu selalu berubah dari waktu ke waktu. Maka makna sebuah ujaran dibentuk oleh pengguna dalam masyarakat bahasa. Jadi jelas bahwa berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkankan semantik adalah studi yang mengkaji tentang makna yang berarti teori makna atau teori arti, makna kata, makna kalimat, makna ujar, makna harfiah, dan non harfiah.

F. Jenis Makna
Menurut Chaer (1994:289-296) ada bermacam- macam jenis makna dalam bidang semantik yaitu:
1. Makna Leksikal, Makna Gramatikal, dan Konseptual
Makna leksikal adalah makna yang memeliki atau ada pada kata tanpa konteks apapun. Contoh kata kuda memiliki makna leksikal sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai' Air bermakna leksikal 'sejenis benda cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-har'. Dengan demikian makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil indra kita atau makna apa adanya.
Makna Gramatikal adalah untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yang bermakna '2 buah buku,' menjadi buku-buku yang bermakna 'banyak buku'.

2. Makna Referensial dan Nonreferensial
Sebuah kata disebut bermakna refrensial kalau ada referensinya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, meja, kursi adalah termasuk kata- kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata seperti dan, atau, dan karen, termasuk kata yang tidak bermakna referensial, karena kata itu tidak mempunyai referensi.

3. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah kata. Jadi makna denotatif ini sebenarnya sama dengan leksikal. Contoh kata babi bermakna denotatif ”sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya”. Kata kurus bermakna denotatif ”keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran normal”. Sedangkan makna konotatif makna yang tidak sebenarnya. Contoh kata babi pada contoh di atas, pada orang yang beragama islam atau di dalam masyarakat islam mempunyai konotasi yang negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak bila mendengar kata itu. Kata kurus juga pada contoh di atas berkonotasi netral, artinya tidak memilki nilai rasa yang menyenangkan (unfavorable). Tetapi kata ramping yang sebenarnya bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotasi positif nilai rasa yang menyenangkan orang akan senang kalau dikatakan ramping. Sebaliknya, kata kerempeng yang juga sebenarnya bersinonim dengan kata kurus dan ramping itu, mempunyai konotasi yang negatif, nilai rasa yang tidak menyenangkan; orang merasa tidak senang kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.
Dari contoh kurus, ramping dan kerempeng itu dapat disimpulkan, bahwa ketiga kata itu memiliki kata itu secara denotatif mempunyai makna yang sama atau bersinonim, tetapi ketiganya memilki konotasi yang tidak sama. Kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi positif, dan kerempeng berkonotasi negatif.

4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Menurut Leech (1976) dalam chear (1994:147) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah kata terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Kata kuda memiliki makna konseptual ”sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai” dan kata rumah memiliki makna konseptual ”bangunaan tempat tinggal manusia”. Jadi, makna konseptual sesungguhnya sama dengan makna leksikal, makna denotatif, dan mmakna referensial.

5. Makna Idiom
Makna idiom satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ’diramalkan’ dari makna unsur nya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Umpamanya, bentuk membanting tulang dengan bermakna ’bekerja keras’ termasuk idiom penuh. Beberapa jenis makna di atas dalam penelitian ini dibatasi pada makna leksikal mendaftarkan kata yang diucapkan oleh para waria. Semantik sebagai studi tentang makna, merupakan pusat studi tentang pemikiran manusia, yaitu berpikir kognisi yang berkaitan dengan mengklasifikasi dan menggambarkan pengalaman manusia tentang bahasa.
Pateda (1996:74) mengatakan Semantik leksikal adalah kajian semantik yang lebih memusatkan pada pembahasan sistem makna yang terdapat dalam kata. Verhaar (1988:74) mengatakan semantik leksikal adalah memperhatikan makna yang terdapat di dalam kata sebagai satuan yang terdapat di dalam kamus. Sedangkan Djajasudarman (1999:13) makna leksikal (bahasa Inggris- lexical meaning, semantic meaning, external meaning) adalah makna unsur- unsur bahasa sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain, makna leksikal dimiliki unsur- unsure bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.
Saeed (1997:55) mengatakan makna semantik adalah kata yang mengandung atau arti yang sebenarnya. Makna semantik dapat dibagi kedalam beberapa tipe, diantaranya:
a. Makna leksikal yang berbeda apabila diletakkan dalam konteks kalimat yang berbeda. Misalnya :
Bisa ular itu sangat mematikan
Pemerintah bisa mengatasi permasalahan itu
Dari kedua contoh di atas, jelas bahwa satu kata memiliki makna yang berbeda sesuai dengan konteks kalimatnya.
b. Makna leksikal juga tergantung kepada kegunaan, fungsi dan bidang ilmu.
Contoh: Raw (mentah), memiliki arti yang berbeda apabila kita letakkan dalam konteks kalimat yang berbeda bidang ilmunya. Dengan kata yang sama, yaitu raw, tetapi menghasilkan makna kata yang berbeda khususnya dalam konteks bidang ilmu, seperti:
Raw; dapat diartikan sebagai tidak tercapainya kata sepakat di dalam bisnis, artinya kesepakatan bisnis tersebut mentah, dalam artian gagal
Raw fruit; dapat diartikan sebagai buah yang benar- benar mentah, belum dapat di makan.
Contoh lain seperti kata Kali, memiliki arti yang berbeda apabila kita letakkan dalam konteks kalimat yang berbeda bidang keilmuannya. Seperti :
Kali dalam bidang Matematika, 3 x 4 = 12
Kali dapat bermakna sungai dalam bahasa sehari- hari.
Jadi dari kedua kalimat diatas dapat disimpulkanbahwa semantik leksikal tergantung pada penggunaan, fungsi dalam bidang ilmu, dan kalimat tersebut akan berubah berdasakan konteks. Maka jelas semantik leksikal dapat berbeda berdasarkan penggunaan dan konteksnya.
Leech (2003:38) menyimpulkan tujuh tipe makna yaitu sebagai berikut:
1. Makna konseptual atau pengertian Isi yang logis, kognitif atau denotatif
2. Makna konotatif Yang dikomunikasikan dengan apa yang diacu oleh bahasa
3. Makna stilistika Yang dikomunikasikan dari keadaan sosial mengenai penggunaan bahasa
4. Makna afektif Yang terungkap dari pesan dan tingkah laku pembicara/ penulis
5. Makna refleksi Yang disampaikan melalui asosiasi dengan pengertian yang lain dari ungkapan yang sama
6. Makna kolokatif Yang disampaikan melalui asosiasi dengan kata yang cenderung terjadi pada lingkup kata yang lain
7. Makna thematik Yang dikomunikasikan dengan cara dimana pesannya disusun atas dasar urutan dan tekanan
Bardasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan semantik leksikal adalah mengkaji makna yang terdapat di dalam kata sebagai satuan yang terdapat di dalam kamus. Kamus yang relevan dengan pembahasan ini adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Kamus Bahasa Gaul karangan Debby Sahertian.
Secara linguistik bahasa gaul adalah bahasa Indonesia yang pada umumnya digunakan oleh para kalangan remaja, selebritis hingga para waria. Perbendaharaan kata dalam bahasa gaul diartikan dengan mencari arti dalam arti, arti perbendaharaan katanya, atau pemberian makna pada suatu fakta realita, atau keinginaan yang diungkapkan dalam hal tertentu serta selalu dimaknai dan dikuatkan dengan hal- hal yang sedang terjadi. Misalnya: kata cakrawala di dalam KBBI lengkung langit, sedangkan dalam kamus waria Cakap. Kata tawar di dalam makna KBBI tidak ada rasanya, kurang asin, kurang sedap (tt makanan); hambar, sedangkan dalam kamus waria tahu. Kata Capcai dalam KBBI masakan Cina, sedangkan dalam kamus waria Cepat. Berdasarkan contoh di atas kata cakrawala, kata tawar dan capcai terjadi perubahan makna KBBI, selain terjadi perubahan makna kata juga merujuk pada makna yang sama. Jadi jika dianalisis berdasarkan kata yang mereka ucapkan ternyata memiliki kaitan dengan makna sebenarnya, dengan demikian sekelompok waria dalam menggunakan bahasa tidak sembarangan tetapi ada pola tertentu berdasarkan makna secara leksikal.

G. Relasi Makna
Relasi adalah hubungan makna ini menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan sebagainya, sebagai berikut:
1. Kebermaknaan
Sebuah kata disebut bermakna atau mempunyai arti apabila kata ini memenuhi satu konsep atau mempunyai rujukan (Parera 1991 : 18).

2. Polisemi
Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi kalau itu mempunyai makna lebih dari satu (Chaer 1994 : 301). jadi polisemi adalah kata yang mengandung makna lebih dari satu atau ganda. Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.

3. Homonim
Homonim adalah dua kata atau satuan ujaran yang bentuknya kebetulan sama, maknanya tentu saja berbeda, karena masing-masing merupakan kata ujaran yang berlainan (Chaer 1994 : 302).

4. Homograf
Homograf mengacu pada bentuk ujaran yang sama otografinya atau ejaannya, tetapi ucapan dan maknanya tidak sama, (Chaer, 1994 : 303). Dalam bahasa Indonesia bentuk-bentuk homograf hanya terjadi karena otografi untuk fonem /e/ dan fonem /#/ sama lambangnya yaitu huruf /e/, contoh homograf yang ada dalam bahasa Indonesia tidak banyak. Kata teras /#/ /teras/ yang maknanya ‘inti’ dan kata /teras/ yang maknanya bagian depan rumah; kata memerah /memerah/ yang berarti ‘melakukan perah’ dan kata memerah /memerah/ yang berarti ‘menjadi merah’.

5. Sinonim
Sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan dengan satuan ujarann lainnya (Chaer,1994 : 297).Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat, bunga dan kembang.

6. Antonim
Antonim adalah hubungan semantik antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan atau kontras antara satu dengan yang lain (Chaer, 1994 : 305). Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.

7. Hiponim
Hiponim adalah hubungan semantik antara sebuah bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam maknanya bentuk ujaran yang lain (Chaer, 1994 : 305).

8. Ketaksaan
Menurut Chaer (1994 : 307) ketaksaan adalah gejala yang menunjukkan terjadinya kegandaan makna akibat tafsiran gramatikal yang berbeda. Tafsiran gramatikal yang berbeda ini umumnya terjadi pada bahasa tulis, karena dalam bahasa tulis unsur suprasegmental tidak dapat diuraikan secara akurat.

9. Kemubaziran (Redundansi)
Menurut Chaer (1994 : 310) istilah redundansi biasanya diartikan sebagai berlebih-lebihan penggunaan unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Ciri semantic ini dapat menandai makna kalimat dalam bahasa minangkabau. Makna kalimat yang mubajir mengandung makna berlebihan atau lebih dari yang diperlukan.

H. Perubahan Makna
Pertumbuhan atau perkembangan bahasa, makna suatu kata dapat mengalami perubahan-perubahan. Perubahan makna itu dapat dilihatkan dari bermacam-macam sudut. Di antara bermacam-macam peristiwa perubahan makna itu Keraf (1980 : 130-131) adalah :
1. Meluas adalah cakupan makna sekarang lebih luas dari pada makna yang dulu. Contoh kata bapak, ibu, saudara, dahulu digunakan untuk menyebut orang yang bertalian darah dengan kita. Tetapi sekarang kata bapak, ibu, saudara telah meluas maknanya.
2. Menyempit adalah cakupan makna dulu lebih luas dari pada makna sekarang.
3. Amelioratif adalah suatu proses perubahan makna, baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari makna dulu.
4. Peyoratif (kebalikan dari amelioratif) adalah suatu proses perubahan makna, makna baru dirasakan lebih rendah nilainya dari makna yang dulu. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia kata bini dianggap baik pada zaman dulu, tetapi sekarang dirasakan kurang baik. Yang lebih baik adalah kata wanita sehingga ada kata wanita sarjana.
5. Sinestesia adalah perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berlainan. Contoh katanya pedas,pedas sebenarnya tanggapan indera perasa. Suara sedap didengar, sedap sebenarnya tanggapan indra perasa. Pidatonya hambar, hambar juga sebenarnya merupakan kata yang dipakai untuk indera perasa.
6. Asosiasi adalah perubahan makna yang terjadi karena persamaan sifat. Catut, alat untuk mencabut paku, kemudian berdasarkan persamaan sifat ini dipakai untuk orang yang menjual barang-barang dengan harga tinggi. Menurut (Chaer, 1994 : 313) asosiasi adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain, yang berkenaan dengan bentuk itu, sehingga dengan demikian bila disebutkan ujaran itu maka yang dimaksud adalah suatu yang lain berkenaan dengan ujaran itu.

I. Sejarah Penggunaan Bahasa Gaul
Bahasa gaul sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980-an tetapi pada waktu itu istilah bahasa prokem (okem). Lalu bahasa tersebut diadopsi kemudian dimodifikasi sedemikian unik dan digunakan oleh orang-orang tertentu atau kalangan-kalangan tertentu saja. Pada awalnya bahasa prokem digunaakan oleh para preman yang kehidupanya dekat dengan kekerasan, kejahatan, narkoba, dan minuman keras. Banyak istilah-istilah baru yang mereka ciptakan dengan tujuan agar masyarakat awam atau orang luar komunitas mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan atau yang telah mereka bicarakan. Mereka merancang kata-kata baru, mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran Pergaulan di kalang waria mengenal apa yang disebut dengan budaya teman sebaya (peer culture). Kelompok waria yang sebaya itu umumnya mempunyai nilai serta karakteristik budaya yang bebeda atau bahkan bertentangan dengan budaya orang lain. Dalam upayanya memisahkan diri dari budaya lingkungan sekitar, mereka membuat budaya tandingan, budaya yang khas waria (Alatas, 2006:59). Budaya khas waria ini kemudian menciptakan sebuah bahasa yang biasa digunakan oleh kaum waria untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa tersebut kemudian disebut dengan bahasa gaul, sesuai dengan pengertian awalnya yakni bahasa yang digunakan untuk berteman dan bersahabat di tengah masyarakat (KBBI,2008:296). Di kalangan waria sendiri kata ‘gaul’ ini memiliki prestise atau penilaian yang tinggi. Seseorang waria akan dikatakan gaul apabila ia memiliki sifat yang menarik, dan pergaulan yang luas. Jadi, seorang waria pasti akan merasa bangga apabila predikat ‘anak gaul’ dilekatkan padanya.
Menurut Wikipedia Indonesia “Bahasa gaul merupakan bentuk ragam bahasa yang digunakan oleh penutur remaja, waria untuk mengekspresikan gagasan dan emosinya.” Perkembangan teknologi informasi turut mendistribusikan penggunaan bahasa gaul ke lingkup yang lebih luas. Media komunikasi, khususnya yang membahas mengenai waria, dalam mengkomunikasikan informasi juga menggunakan bahasa gaul yang sedang menjadi trend atau populer di kalangan remaja sampai waria. Dewasa ini, bahasa gaul mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks modern, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan sebagai bentuk percakapan seharihari dalam pergaulan dilingkungan sosial bahkan dalam media-media populer seperti tv, radio, dunia perfilman nasional, dan sering pula digunakan dalam bentuk publikasi yang ditujukan untuk kalangan remaja, selebritis hingga waria oleh majalah-majalah populer.
Sebuah artikel di Kompas yang ditulis Sahertian berjudul So What Gitu Loch..... (2006:15) menyatakan bahwa bahasa gaul atau bahasa prokem sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah- istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Oleh karena sering digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari. Kosakata bahasa gaul yang belakangan ini berkembang sering tidak beraturan dan cenderung tidak terumuskan. Bahkan tidak dapat diprediksi bahasa apakah yang berikutnya akan menjadi bahasa gaul.
Pada mulanya pembentukan bahasa slang, prokem, cant, argot, jargon, dan colloquial di dunia ini adalah berawal dari sebuah komunitas atau kelompok social tertentu yang berada di kelas atau golongan bawah (Alwasilah, 2006:29). Lambat laun oleh masyarakat akhirnya bahasa tersebut digunakan untuk komunikasi seharihari.
Kecenderungan masyarakat ataupun para pelajar menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari- hari semakin tinggi, dan lebih parah makin berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampur adukkan bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum. Bahasa gaul sering digunakan sebagai bentuk percakapan sehari- hari dalam pergaulan di lingkungan sosial bahkan dalam media populer separti TV, radio, dunia perfilman nasional, dan digunakan sebagai publikasi yang ditujukan untuk kalangan waria, remaja oleh majalah- majalah remaja populer. Maka sebab itu, bahasa gaul dapat disimpulkan sebagai bahasa utama yang digunakan komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan sehari- hari.
Seperti halnya bahasa lain, bahasa gaul juga mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat berupa penambahan dan pengurangan kosakata. Tidak sedikit kata-kata yang akan menjadi kuno (usang) yang disebabkan oleh perkembangan zaman. Setiap generasi akan memiliki ciri tersendiri sebagai identitas yang membedakan dari kelompok lain. Dalam hal ini, bahasalah sebagai representatifnya. Dari segi fungsinya, bahasa gaul memiliki persamaan antara slang, dan prokem. Kosa kata bahasa remaja banyak diwarnai oleh bahasa prokem, bahasa gaul, dan istilah yang pada tahun 1970-an banyak digunakan oleh para pengguna narkoba (narkotika, obat-obatan dan zat adiktif). Hampir semua istilah yang digunakan bahasa rahasia di antara mereka yang bertujuan untuk menghindari campur tangan orang lain. Bahasa gaul merupakan bentuk bahasa tidak resmi (Nyoman Riasa, 2006).
Waria adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarah dan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek social transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan. Sebutan bencong juga dikenakan terhadap waria dan bersifat negatif.
Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum penggunaannya populer seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut adalah sejarah kata bahasa gaul tersebut:
1). Nih Yee...
Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.
2) Memble dan Kece
Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani oleh Dorce Gamalama.
3) Bow....
Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Bow…adalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini.
4) Nek...
Setelah kata Bow... popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek... yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek... pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek...
5) Jayus
Pada akhir dekade 90-an dan awal abad 21, ucapan jayus sangat popular. Kata ini dapat berarti sebagai ‘lawakan yang tidak lucu’, atau ‘tingkah laku yang disengaja untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan’. Kelompok yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di Kitaran Kemang. Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh temantemannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya.
Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau Oni Acan sering memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah yang kemudian diikuti temantemannya di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU sekitar.
6) Jaim
Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image.
7) Gitu Loh...(GL)
Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak bernama Ronny Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny. Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin kata Gitu Loh...di tiap akhir pembicaraan.

J. Pembagian Bahasa Gaul
Semua kelompok sosial di dalam masyarakat mempunyai potensi untuk mempunyai bahasa dengan ciri-ciri tertentu yang membedakannya dengan kelompok lain. Dengan kata lain, setiap kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat memiliki variasi atau ragam bahasa tersendiri didasarkan atas perbedaan faktor-faktor sosial, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya. Pengujar bahasa gaul umumnya adalah para remaja, kaum selebritis dan waria. Seperti penjelasan yang telah dipaparkan oleh penulis sebelumnya bahwa penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian-penelitian sebelumnya, penulis juga mencoba melanjutkan penelitian terhadap bahasa gaul dengan meneruskan penelitian yang telah dilakukan oleh Sondang Manik (2004) yang membagi bahasa gaul kedalam dua bagian, yakni bahasa gaul umum dan bahasa gaul khusus.
1. Bahasa Gaul Umum
Bahasa gaul umum adalah bahasa yang sering digunakan oleh muda-mudi, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan untuk bertemu atau bersahabat di tengah masyatakat. Bahasa gaul umum banyak ditemukan pada sinetron-sinetron di TV, majalah-majalah dan tabloid remaja.

2. Bahasa Gaul Khusus
Variasi atau ragam bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang akan dinilai baik apabila masyarakat memberikan penilaian yang tinggi atau baik terhadap para penuturnya. Nilai tinggi yang diberikan oleh masyarakat terhadap penutur itu memberikan prestise kepada ragam bahasanya, lebih dari ragam-ragam lain yang digunakan oleh golongan lain, begitu juga dengan bahasa gaul khusus yang pada awalnya merupakan bahasa rahasia antar sesama kaum waria. Penilaian masyarakat yang buruk terhadap kaum waria juga memberikan nilai buruk terhadap ragam bahasanya, hal inilah yang kemudian memacu penilaian bahwa setiap orang yang menggunakan bahasa kaum waria sama buruknya dengan komunitas penuturnya (Kaveriana, 1996:18) namun seiring dengan masuknya ragam bahasa waria ini ke dalam lingkungan selebritis yang di bawa oleh para waria yang hampir sebagian besar berprofesi sebagai penata rias artis.
Sedikit demi sedikit penilaian masyarakat berubah terhadap ragam bahasa waria tersebut. Anggapan masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan bahwa artis merupakan idola, pembawa trend, dan memiliki pergaulan yang luas membuat masyarakat, terutama masyarakat kalangan muda berlomba-lomba meniru apa saja yang dilakukan oleh artis pujaanya termasuk menggunakan bahasa yang mereka pakai dalam berkomunikasi agar mereka juga dikatakan sebagai anak gaul dan tidak ketinggalan zaman. Hal inilah yang kemudian memicu bergantinya nama ragam bahasa rahasia di kalangan waria tersebut menjadi bahasa gaul.
Bahasa gaul khusus tidak memliki sistem yang teratur dalam penciptaan katakatanya, hanya saja pola dasar kalimatnya sama dengan bahasa gaul umum karena sama-sama digunakan dalam siuasi non formal. Bahasa gaul khusus dapat dikategorikan sebagai bahasa rahasia, karena hanya digunakan oleh sekelompok orang tertentu, terutama kaum waria untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Bahasa gaul khusus ini pasti akan berubah kerahasiannya apabila telah dimengerti dan dipakai oleh banyak orang secara umum dalam komunikasi sehari-hari.
Penggunaan bahasa gaul di kalangan muda yang semakin tinggi intensitasnya membuat istilah kosakata dalam bahasa gaul tersebut semakin bertambah dan perumusnya menjadi tidak tetap. Istilah-istilah yang unik tersebut kemudian diangkat oleh Debby Sahertian dan dibuat menjadi sebuah buku dengan judul Kamus Bahasa Gaul (Kamasutra Bahasa Gaul).

Buku Sumber
Alwasilah, A. Chaedar. 1986. Sosiologi bahasa. Bandung. Angkasa.
Chaer, A dan Leoni A. 2004.Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Fishman, Joshua A.1972. The Sosiology of Language. Massachussetts: Newbury House Publisher.
Hudson, R.A.1980. Sosiolinguistics. London: Cambridge University Press
Nababan, P.W.J. 1984. Sosioliguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia.
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Wednesday, October 6, 2010

Semantik Basa Cirebon

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
A. Pengertosan Semantik
Semantik asale saking basa Yunani ‘sema’ kang artose lambang atanapi tanda. Semantik ngandung makna to signify atanapi kang maknai. Tembung kriyae ‘semaino’ kang artose nglambangaken atanapi nandai. Minangka istilah teknis, semantik ngandung pengertosan ‘studi ngenai makna’. Semantik ngrupiaken istilah kang diangge kangge bidang ilmu linguistik kang mlajari hubungan antawis tanda-tanda linguistik kalian hal-hal kang ditandai. Kados dene ungel lan tata basa, komponen makna selebete hal punika ugi gadah kelungguhan tingkatan kang tinemtos.
Upami komponen ungel umume gadah kelungguhan tingkat kaping setunggal, lan tata basa nglenggahi tingkatan kaping kalih, maka komponen makna gadah tingkatan kaping tiga. Hubungan ketigang komponen punika ningal saking kasunyatan nyaniya (1) basa kang kawitane ngrupiaken ungel-ungel abstrak kang ngrujuk teng lambang-lambang kang sampun temtos, (2) lambang-lambang ngrupiaken piranti sistem kang gadah tatanan lan hubungan kang tinemtos, lan (3) piranti lambang kang gadah wangun lan hubungan punika ngasosiasiaken wontene makna kang sampun temtos (Palmer selebete Aminudin, 2001 : 15). Anadene cakupan semantik nggih niku cumi makna atanapi artos kang wonten hubungane kaliyan basa minangka alat komunikasi verbal.
Teng kajian semantik, istilah tembung digentos kaliyan istilah leksem. Senajan serlerese antawis tembung kaliyan leksem punika sami kangge istilah kang biasa dipigunakaken kangge tanda-tanda linguistik, nanging saluyu kaliyan kaidah basa kang nyatakaken upami wangun tembung atanapi leksem punika benten, maka makna kang digadahi dening tembung atanapi leksem punika ugi robih. Anadene kang samie punika informasi kang wonten teng tembung atanapi leksem kang kasebat.
Istilah leksem biasa didefinisiaken minangka tembung atanapi frasa kang arupi ijenan (satuan) kang gadah makna (Kridalaksana, 1982 : 98), sedeng tembung lumrah didefinisiaken minangka ijenan (satuan) basa kang saged mangadeg mandiri teng tuturan sedinten-dinten lan saged winangun saking setunggal morfem atanapi gabungan morfem (Kridalaksana, 1982 : 76). Bentene, leksem punika istilah kang diangge teng selebete bidang semantik sedeng tembung dipigunakaken teng selebete bidang gramatika.
Makna minangka objek linguistik strukture dahat mboten pertela. Aliran semantik struktural kang nganut paham behaviorisme malah gadah pandengan nyaniya semantik punika sanes ngrupiaken bagian sentral basa nanging ngrupiaken bagian periferal basa.
Semantik gadah hubungan kang raket kaliyan ilmu sosial kados dene sosiologi, antropologi, lan filsafat. Sosiologi gadah kepentingan kang ageng sanget kaliyan semantik keranten teng kasunyatan asring dipanggihi nyaniya tembung-tembung kang sampun temtos kangge ngucapaken makna punika saged nandai identitas kelompok masyarakat.
Tembung ‘iwak’ teng basa Cerbon sejajar kaliyan tembung ‘ikan’ teng basa Indonesia. Nanging makna ‘iwak’ teng baca Cerbon pinika sanes kemawon ngrujuk teng ‘kewan toya kang wonten sisike’ nanging ngacu teng sedanten lelawuan. Asring kepireng setunggale tiyang kang ngucap ‘Mangane karo iwak ayam’. Sedanten punika saged dumados keranten seliyane asil budaya, basa punika sekaligus ngrupiaken wadah kangge maturaken budaya masyarakat piyambek.

B. Jinis-jinis Semantik
Antawis setunggal ahli linguistik atanapi linguist kaliyan ahli linguistik kang sanes punika asring wonten pibentenan anggene mbentenaken atanapi mbagi-bagi semantik. Hal punika dumados keranten pancen semantik punika ngrupiaken setunggale cabang ilmu basa kang tetalenan kaliyan unsur basa sanese.
Dumasar saking tataran atanapi bagian basa kang dados objeke, semantik saged dibentenaken dados :
a. Semantik leksikal : semantik kang ndadosaken makna leksikal minangka objek penyelidikane.
b. Semantik gramatikal : semantik kang ndadosaken makna gramatikal minangka objek penyelidikan teg tataaran morfologi.
c. Semantik sintaktikal : semantik kang tinalenan kaliyan sintaksis teng lingkungan tatabasa.

Secara wiyar, semantik saged dibagi dados tigang kelompok bahasan, nggih niku :
a. Sintaksis : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan-hubungan formal antawis tanda-tanda kang setunggal kaliyan tanda-tanda kang sanese.
b. Semantik : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan tanda-tanda linguistik kaliyan objek-objek kang ngrupiaken wadah penerapan tanda-tanda kang dimaksad.
c. Pragmatik : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan tanda-tanda linguistik kaliyan para penutur atanapi interpretator. Ilmu basa kang tugase mlajari cakupan tigang ilmu basa teng inggil punika disebate semiotika (Searle, 1980).

Rudolf Carnapp mbagi semantik dados kalih, nggih niku :
a. Semantik deskriptif nggih niku semantik kang nglampahaken penelitian empiris dumateng basa-basa ilmiah.
b. Semantik murni nggih niku semantik kang nelaah analisis dumateng basa-basa damelan (artificial language).

C. Mupangat Semantik
Semantik gadah mupangat teng kegesangan sedinten-dinten, diantawise :
a. kangge jurnalis (wartawan), pangaweruh tentang semantik ndadosaken kinerja dados langkung gampil selebete milih lan migunakaken tembung kang gadah makna kang cocog atanapi pas selebete maturaken informasi dumateng masyarakat.
b. kangge peneliti basa, pangaweruh semantik punika saged nyukani bekal linguistik teoritis kangge nganalisis basa kang siweg diteliti.
c. kangge guru, pangaweruh semantik gadah mupangat teoritis praktis. Mupangat teoritis keranten semantik saged mbantos guru teng selebete mahami kebasaan kang diwucalken, anadene mupangat praktise nggih niku keranten guru angsal kegampilan kangge piyambeke selebete ngajaraken basa.
d. kangge tiyang awam, pangaweruh semantik diperlokaken kangge mahami lingkungan sakubenge kang supenuh kaliyan informasi.

D. Semantik kaliyan Disiplin Ilmu Sanes
Basa hakikate ngrupiaken setunggal hal kang digadahi dening janma. Ernst Cassirer teng hal punika nyebataken upami janma punika minangka animal symbolicum, nggih niku makhluk kang migunakaken media simbol kebasaan selebete nyukani artos atanapi makna selebete ngisi kegesangan. Kewontenan janma minangka animal symbolicum punika dianggep langkung gadah makna tinimbang kewontenan janma minangka makhluk kang mikir keranten datan wontene simbol, janma mboten sanggem nglampahkaken kegiatan mikire.
Wonten gangsal disiplin ilmu kang gadah hubungan kang raket kaliyan semantik, nggih niku filsafat, psikologi, antropologi, sastra, lan linguistik.

1. Hubungan Semantik kaliyan Filsafat
Filsafat minangka studi ngenai kearifan, pangaweruh, hakikat kasunyatan, atanapi prinsip gadah hubungan kang dalit kaliyan semantik. Hal punika dumados keranten dunia kasunyatan (fakta) kang dados objek perenungan (kontemplasi) ngrupiaken dunia simbolik kang kawakili dening basa. Aktivitas mikir piyambek mboten saged lumangsung tanpa basa minangka mediae.
Selajenge Bertrand Russel ngungkapaken nyaniya ketepatan nyusun simbol kebasaan secara logis ngrupiaken dasar anggene mahami adegan (struktur) realitas (kasunyatan) secara leres. Pramila punika, kompleksitas simbol ugi kedah gadah kesaluyuan kaliyan kompleksitas kasunyatan punika piyambek ngantos kekalihe gadah hubungan secara tepat lan leres (selebete Alston, 1964 : 2).

2. Hubungan Semantik kaliyan Psikologi
Hubungan kang semanten rakete antawis semantik kaliyan aspek kejiwaan janma, salah setunggale ditengeri kaliyan wontene disiplin ilmu kang ngaji linguistik saking segi psikologi, ilmu kang dimaksad nggih niku psikolinguistik. Selebete proses nyusun lan mahami weling liwat kode kebasaan, unsur-unsur kejiwaan kados kesadaran batin, pikiran, asosiasi, atanapi pengalaman mboten saged dipandeng sesisih mripat, keranten saged katingal kondisi kejiwaane setunggale tiyang saking basa kang dianggene.
John Locke ngungkapaken nyaniya pianggean tembung-tembung ugi saged diartosaken minangka penanda wangun gagasan kang tinemtos keranten basa ugi ngrupiaken instrumen pikiran kang ngrujuk teng suasana atanapi kasunyatan kang sampun temtos (selebete Alston, 1964 : 22)

3. Hubungan Semantik kaliyan Antropologi
Wates antawis sosiologi kaliyan antropologi asring samur. Hal punika dumados keranten kekalihe ngaji masalah janma lan masyarakat. Hubungan semantik kaliyan fenomena sosial kultural sampun sayogyane dumados. Diwuwus mekaten keranten aspek sosial lan kultural gadah peran kang ageng sanget selebete nemtosaken wangun, perkembangan, atanapi perobihan makna kebasaan.
Roger T. Bell mbentenaken kajian kekalih disiplin ilmu punika nyimpulaken nyaniya (1) pusat kajian antropologi nggih niku teng selebete kelompok masyarakat kang tinemtos, sedeng sosiologi teng masyarakat kang langkung wiyar, (2) antropologi punika ngaji pikembangan masyarakat kang relatif homogen kaliyan karakteristik-karakteristike, sedeng sosiologi ngaji proses pikembangan sosial-ekonomi masyarakat kang heterogen (1976 : 64).

4. Hubungan Semantik kaliyan Kesastraan
Basa teng selebete rumpaka sastra gadah kekhasan piyambek keranten basa selebete sastra ngrupiaken setunggal wangun idiosyncratic prenahing tebaran leksem kang dipigunakaken ngrupiaken asil pengolahan lan ekspresi individual penganggite. Diwuwus mekaten keranten selebete rumpaka sastra punika selerese wedalan ekspresi penganggit ningal wontene kacingcedan antawis kasunyatan kaliyan pengajengan.
Kedah diemut nyaniya sastra punika kebek kenging penggunaan leksem-leksem kang gadah makna konotatif ngantos penggunaan setunggale leksem selebete rumpaka sastra punika ngrupiaken leksem kang leres-leres diperlokaken lan pas kaliyan maksad lan prayojana penyeratan rumpaka sastra punika, kenging punapa setunggale penganggit migunakaken leksem kang dimaksad sanajan makna kang digadahi dening leksem punika sami kaliyan makna kang digadahi dening leksem sanese.
Kados basa kang dipigunakaken teng kegesangan sedinten-dinten, kode selebete sastra gadah kalih lapis, nggih niku lapis ungel atanapi lapis wangun kaliyan lapis makna. Lapis makna piyambek maksih saged dibentenaken dados (1) lapis makna literal kang secara kasirat direpresentasiaken wangun kebasaan kang dipigunakaken, (2) dunia rekaan penganggit, (3) dunia kang dipandeng saking titik pandeng kang tinemtos, lan (4) lapis dunia atanapi pesen kang sifate metafisis (Aminudin, 1983 : 63).

5. Hubungan Semantik kaliyan Linguistik
Selebete kajian linguistik kaum Stoik dipigunakaken istilah ‘signans’ minangka komponen kang paling alit saking tanda, lan signatum nggih niku makna kang dirujuk dening signans. Ferdinand de Saussure nepangaken istilah signifiant, nggih niku gambaran ungel abstrak selebete kesadaran lan signifie nggih niku gamabaran dunia jawi selebete abstraksi kesadaran kang dirujuk dening signifiant.
Saking paparan teng inggil punika, saged disimpulaken nyaniya makna nggih niku unsur kang mileti aspek ungel, tebih sederenge wontene kegiatan komunikasi. Minangka unsur kang nempel teng ungel, makna makna ugi tansah ngampili sistem relasi lan kombinasi ungel selebete ijenan (satuan) adegan kang langkung ageng kados dene kang winijud teng kegiatan komunikasi. Paramila punika saged dimaklumi upami sanajan makna lan lambang tur aspek semantik lan tata basa ngrupiaken unsur-unsur kang mboten saged dipisahaken, nanging selebete nemtosaken hubungan semantik lan linguistik maksih wonten pibentenan-pibentenan.

E. Semantik teng Studi Linguistik Basa Cerbon
Studi (penelitian) kang serius ngenai basa Cerbon dereng katah dilampahaken, boh kang dilampahaken dening sarjana asing atanapi sarjana basa saking Indonesia piyambek. Sedanten segi kebasaan kang wonten teng selebete basa Cerbon dereng katah dilampahaken tiyang. Sanajana wonten ugi dereng wonten kang tuntas, kelebet masalah semantik. Kaula sami seyogyane garjita keranten basa Cerbon modern kang cikal bakale saking basa Cerbon kuna sampun saged dianggep minangka lingua franca kang saged mangadeg mandiri.
Pemicarengan khusus ngenai semantik basa Cerbon salami punika dereng ngalami dimajengaken, boh teng seminar, gelar basa, atanapi acara-acara sanese kang sumejah diwontenaken kangge mbahas masalah punika. Anadene selebete penyeratan buku-buku kados buku babon atanapi buku pelajaran teng lembaga pendidikan kang sampun wonten punika cumi sifate umum lan teoritis.

F. Makna lan Masalahe
Sampun disebataken teng bab kang rumiyin nyaniya objek linguistik punika makna atanapi langkung pas makna kang wonten teng ijenan-ijenan pangandikan kados frasa, klausa, lan ukara. Upami penutur kaliyan penanggap tutur dereng sumerep makna setunggale leksem, frasa, klausa, lan ukara, maka penanggep tutur pesti kengelan nafsiraken makna atanapi maksad selebete tuturan kang diparengaken dening penutur keranten kangge mahami makna setunggal leksem kemawon penanggap tutur kedah mbika-mbika kamus.
Kangge mertelakaken perbentenan konsep makna, informasi, lan maksad, teng andap puniki diwicarakaken setunggal-setunggal kang dipendet dumasar teori Verhaar (1978).

1. Pengertosan makna minangka Istilah
Makna nggih niku hubungan antawis basa kaliyan kasunyatan kang sampun dados kesepakatan atanapi persetujuan (konvensional) para tiyang kang migunakaken basa ngantos punapa kang diucapaken punika saged dimengertos dening tiyang sanes kang diajak komunikasi.
Wonten tigang unsur pokok kang wonten teng selebete makna, nggih niku (1) makna ngrupiaken asil hubungan antawis basa kaliyan kasunyatan, (2) hubungan punika saged dumados keranten kesepakatan antarpengangge basa, lan (3) perwujudan makna punika saged dipigunakaken kangge nyampekaken informasi ngantos tiyang kang mirengaken atanapi maos punika ngertos teng maksad lan tujuane punapa ingkang sinerat atanapi kang inucap punika.

a. Informasi
Teng bangian kang teng inggil punika sampun dijelasaken nyaniya makna niku ngrupiaken unsur saking setunggale leksem atanapi langkung pas minangka gejala selebete ujaran (utterance internal phenomenon) atanapi gejala luar basa. Mampane, wonten prinsip umum semantik kang nyatakaken upami wangune benten maka makna kang dikandung dening leksem punika pasti robih, senajan pibentenane punika cumi sekedik. Dados, laksem ‘rama’ kaliyan ‘bapak’ punika keranten wangune benten maka makna kang dikandunge ugi benten. Hal punika saged dibuktosaken teng deret ukara teng andap puniki.

Bapa kula siweg sakit.
Rama kula siweg sakit.

Namung teng ukara ‘Bapak Presiden ingkang kaula hormati’, frasa Bapak Presiden mboten saged digentos kaliyan frasa Rama Presiden dados ‘Rama presiden ingkang kaula hormati’. Teng hal punika dumados kesalahkaprahan selebete pianggean pengertosan makna kaliyan informasi. Kang sami antawis ‘bapak’ kaliyan ‘rama’ punika informasie, nggih niku ngrujuk teng ‘tiyang sepuh jaler’ nanging maknae tetep kemawon benten. Dados, kang sami puniku informasie keranten informasi punika ngrupiaken gejala jawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran.

b. Maksad
Maksad kaliyan informasi punika sami-sami gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran. Bentene, upami informasi punika gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran ditingal saking objek atanapi hal kang didadosaken omongan atanapi topik tuturan, sedeng maksad ngrupiaken gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran ditingal saking subjek atanapi tiyang kang mitutur.
Misale :
Sesampune mrios rapor putrane, lan ningal hasil blajare punika katah angka abrite, setungggale tiyang sepuh angucap :
“Aduh, bagus temen rapore sira kuh, Cung!”.

Jelas, ucapan punika maksade sanes nggunggung sanajan nadae punika ngalem. Kaliyan ukara punika, tiyang sepuh punika selerese gadah maksad negur atanapi nyindir, malah mumkin ngece putrane.

c. Tanda, Lambang, Kode, Konsep, lan Definisi
Teng semantik, antawis tanda, lambang, kode, konsep, lan definisi punika dibentenaken keranten pancen benten informasi kang digadahie, secara struktur atanapi maknae ugi benten. Mangkane kegangsal sistem tanda, lambang, kode, konsep lan definisi punika kedah ngatos-atos nerjemahakene.
1) Tanda
Kalih istilah kang asring diorak-arik pianggeane nggih niku tanda kaliyan lambang atanapi simbol. Malah, kita asring muwusaken simbol padahal maksad kang selerese punika tanda, lan kita asring muwusaken tanda padahal selerese punika simbol.
Unggal tanda gadah korespondensi kaliyan kaliyan setunggal hal kang dados objeke, nggih niku barang, kewontenan, atanapi kedadosan kang dituduhaken. Tanda ngrupiaken setunggale punapa kang dipigunakaken dening tiyang kangge nyumerepi setunggale kedadosan atanapi peristiwa secara langsung. Misale, kepireng swantene adzan saking mesigit tanda waktos sholat sampun dumugi atanapi nalika jalan-jalan, teng margi ningal pecahan kaca pating blarat, secara langsung kita saged nebak yen nembeke mawon wonten tabrakan keranten kaca pating blarat teng margi punika satunggale tanda wontene tabrakan’. Artose antawis tanda kaliyan kang ditandai punika sifate langsung.
Dados, saking keterangan teng inggil punika saged dibentenaken nyaniya pibentenan pokok antawis tanda kaliyan lambang punika nggih niku pibentenan asosiasi lan minangka konsekuensie pibentenan selebete pianggeane dening pihak ketiga dumateng fungsi artose, nggih niku subjek atanapi jejer. Tanda nyukani sumerep objeke dumateng subjek, sedeng lambang ngantukaken subjek kangge nyumerepi objeke.

2) Lambang
Lambang ugi selerese ngrupiaken tanda, nanging bentene ari lambang mboten nyukani tanda secara langsung, nanging lewat setunggale hal kang sanese. Misale warni abrit kang wonten teng bendera merah putih nglambangaken raos kewantunan, lan petak nglambangaken kesucian.

3) Kode
Kode sumejah didamel dening setunggal tiyang atanapi kelompok kaliyan makna kang sampun dikonvensionalaken sami-sami. Kode punika ngrupiaken sistem tanda kang maknae sampun disepakati kangge maksad-maksad kang sampun temtos. Misale kode semaphore.

4) Konsep
Konsep minangka setunggale referensi saking lambang pancen mboten saged sempurna. Mangkaning umpami kula nyebat ‘korsi’ atanapi ‘pemuda’ atanapi lambang punapa mawon, tiyang asring tangled ‘Punapa kang panjenengan maksad kaliyan korsi puniku?”.

5) Definisi
Definisi atanapi batasan kang langkung rinci lan langkung teliti tentang setunggale konsep sanajan masalah definisi punika maksih katah kelemahan lan kekirangane. Definisi ngrupiaken rumusan setunggale pengertosan. Tujuan definisi nggih niku kangge nerangaken atanapi damel pertela saking setunggale pengertosan kang didefinisiaken.

d. Acuan lan Konseptualisasi
Hubungan antwis rujukan, lambang, lan konseptualisasi digambaraken dening Ogden lan Richard minangka segitiga kang dikenal kaliyan sebatan Segitiga Ogden & Richard kados teng andap puniki.


thought or reference (setunggale perabot rumah tangga kang
wonten lendeane, lan diangge kangge ndodok)






symbol (k/o/r/s/i) referent
(wujud korsi)


Saking segitiga Ogden & Richard teng inggil punika saged disumerepi nyaniya pikiran minangka unsur kang ngewontenaken signifikasi ngantos nimbulaken makna kang sampun temtos gadah hubungan secara langsung kaliyan referent atanapi acuan. Gagasan ugi gadah hubungan secara langsung kaliyan simbul. Sedeng antawis simbul kaliyan referen punika hubungane mboten langsung keranten mboten saged dimaknai kenging punapa konsep ‘setunggale perabot rumah tangga kang wonten lendeane, lan diangge kangge ndodok’ punika diwastani korsi. Mekaten sebabe hubungan simbul kaliyan referens punika ditandai kaliyan gambar garis kang tugel-tugel.

e. Kaidah-Kaidah Umum
Saking pemicarengan teng inggil punika lan kangge langkung gampil ngampili pemicarengan selajenge teng andap puniki wonten kaidah-kaidah umum kang peryogi diperhatosaken ngenai studi semantik.
1) Hubungan antawis setunggal leksem kaliyan rujukan punika sipate arbitrer, maksade hubungan punika sanes ngrupiaken hubungan wajib antawis kekalihe.
2) Secara sinkronik makna setunggale leksem mboten rinobih, nanging secara sinkronik mumkin saged rinobih.
3) Wangun setunggale leksem kang benten ugi benten makna kang digadahi, maksade upami wonten kalih leksem kang wangune benten, sanajan sekedik makna kang digadahi pasti benten.
4) Unggal basa gadah sistem semiotik piyambek kang benten kaliyan sistem semiotik basa kang sanese keranten sistem semantik punika tinalenan kaliyan sistem budaya masyarakat, sedeng sistem kang nglatarpengkeri basa punika mboten sami.
5) Makna setungal leksem teng selebete setunggal basa dahat dipengaruhi dening pandengan gesang lan sikap anggota masyarakat kang sinangkutan.
6) Wiyare makna kang digadahi setunggale wangun gramatikal bebanding kewalik kaliyan wiyare wangun kang kasebat.
Misale :
a) sepur
b) sepur ekspres
c) sepur ekspres dalu
d) sepur ekspres dalu jawi anggong

Makna sepur dahat wiyar, langkung wiyar tinimbang sepur ekspres, makna sepur ekspres langkung wiyar tinimbang sepur ekspres dalu, sedeng makna sepur ekspres dalu langkung wiyar tinimbang sepur ekspres dalu jawi anggong.

2. Jinis-Jinis Makna
Jinis-jinis makna kang wonten teng selebete semantik saged digolongaken dumasar jenis semantik, referensi, wirasane, ketepatan maknae, hubungane kaliyan tembung kang sanes, lan gaya basa atanapi ijenan (satuan) basa kang diangge.
a. Dumasar teng jinis semantike, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna leksikal :
Makna kang gadah sifat leksikon, artose makna kang saluyu sareng referensi (hal kang diacu), saluyu kaliyan asil observasai alat indra, makna setemene nyata kang wonten teng kegesangan kaula sami. Misale : tikus nggih niku srunggale kewan pengeret kang nyebaraken penyakit pes.

2) Makna gramatikal :
makna kang dumadose keranten proses gramatikal, kados dene proses kompositumisasi, reduplikasi, lan afiksasi. Makna punika gumantung teng konteks ukara, konteks suasana. Misale : tembung kembang teng ukara ‘Nissa kembang desa kang siweg megar.’ gadah makna kang benten kaliyan ‘Nissa siweg nyiram kembang.’.

b. Dumasar teng referensie (hal kang dirujuk), makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna referensial :
Makna kang wonten teng setunggale basa kang saged dirujuk dening setunggale barang. Cekake, makna referensial nggih niku makna kang gadah referensi lan umume saged ditampi kaliyan alat indra. Misale ‘mega’, hal kang diacu nggih niku ‘setunggale benda kang wonten teng gegana wiyati kang warnie petak, bakal tumurune jawoh’.

2) Makna non-referensial :
Makna kang wonten teng jawie basa kang dirujuk dening tembung kang mboten gadah referensi nanging gadah tugas lan fungsi piyambek. Umpamae tembung tugas.

c. Dumasar teng wirasane, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna denotatif :
asring disebat makna denotasi, makna konseptual, atanapi makna kognitif. Makna denotatif selerese dasare sami kaliyan makna referensial keranten saged dijelasaken kaliyan makna kang saluyu kaliyan asil observasi alat indra. Misale : wadon kaliyan istri puniku denotasie sami nggih niku ‘sanes jaler atanapi kang bakale nglairaken’.

2) Makna konotatif :
makna kang nimbulaken wirasa (nilai rasa). Misale wirasa kang ditimbulaken dening leksem mati, pejah, ninggal, seda, palastra, gugur, modar, lan tutup yuswa punika benten makna lan pianggeane. Makna konotatf punika katah ragam atanapi warnie. Anadene makna ragam makna konotatif punika langkung dominan hubungane kaliyan raos basa. Ragam makna konotatif saged dibentenaken dados :
a) konotasi inggil, konotasi punika nuduhaken efek prestise (intelek, kapelajar, ilmiah, gengsi), misale teng selebete ukara ‘Sejarah sampun nyukani buktos nyaniya setunggale pengolaborasian kultur antaretnis kang dipaksaaken punika saged nimbulaken error concept kang mbahayakaken teng tataran nations state, hal punika kedah sigra difollow up-i”.
b) konotasi ramah, ngrupiaken pianggean leksem atanapi varian basa kang ngorientasikaken teng aspek keakraban, santun, lan familier. Misale, “Alah… alah…, iku wong Jakarta, masih kelingan tah kita bengen guyang sambir goler ning empang bareng?”.
c) Konotasi bahayakaken, konotasi puniki raket petaliane kaliyan faktor kepercantenan setunggale kelompok masyarakat keranten penggunaan leksem kang dipamalikaken. Umpamane, “Alas iki ngrupakaken alas larangan, ning kene akeh kang nunggue (roh alus), ana nini-nini (maksade macan) lan ketimange Raja Suleman (maksade sawer kang ageng)”.
d) Konotasi mboten pantes, konotasi puniki ngrupiaken pianggeyan leksem-leksem kang mboten pantes diucapaken teng selebete situasi kang sampun temtos. Misale, tiyang nem atanapi tiyang kang gadah pangkat langkung andap tenimbang kang diajak micareng, mboten pantes yen ngucap :
“Hey, Pak!, Arep mendi kih? Timbang nganggur, luru cewek mall, yuk!.
e) Konotasi mboten sekeca, pianggean leksem puniki saged nimbulaken peraosan kang mboten sekeca dumateng pemirenge. Misale, “Ari wong kampung kuh pancen angel dijak ngomong ilmiah senajan wis lawas merad ning Jakarta, dasare wong udik ya angger bae kampungan”.
f) Konotasi kasar, ngrupiaken penganggean leksem kang lumrahe diangge dening tiyang kang siweg nyewot. Misale, “Bangsat! Dasar ketek budug, liwat ning arepe wong tuwa aja bara ngomong punten, malah ngentut. Babi kuh!.
g) Konotasi akas, ngrupiaken penganggean leksem hiperbolis kang nuduhaken pengiatan setunggale hal kang diomongaken. Misale, “Sawah lan kebone baris sing awit pugas wetan tumekeng pugas kulon. Mas, inten, raja branae pepetian lan parie pirang-pirang lumbung”.
h) Konotasi wangenan sekolahan, ngrupiaken pianggean leksem kang nimbulaken kesan resmi, kaku, lan redundansi. Misale, “Mengko isun teka ning umahe sampeyan jam nem belas (maksade jam sekawan sonten)”.
i) Konotasi kelare-larean, ngrupiaken penganggean leksem kelawan niru kemampuan micarenge lare alit atanapi kang biasa diucapaken dening lare alit atanapi balita. Misale, “Mah…, Ade pengen nenen” ujare bapa sing jero kamer.

d. Dumasar teng ketepatan maknae, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna tembung : secara sinkronis gadah sifat angger, nanging keranten setunggale hal kang wonten teng kegesangan, makna punika saged dumados makna kang sifate umum kang nembe gadah artos kang jelas sesampune tembung punika wonten teng selebete ukara. Misale : tawanan = tiyang kang ditawan atanapi barang kang asale saking panggawe atanapi tindakan nawan.
2) Makna istilah : makna kang gadah sifat angger (tetap) lan pasti kang dipigunakaken teng setunggale bidang kegiatan atanapi keilmuan kang sampun temtos. Misale bentene istilah ‘lengen’ kaliyan ‘tangan’ teng istilah kedokteran.

e. Dumasar teng hubungane kaliyan tembung kang sanes, secara umum makna kaperang dados kalih golongan, nggih niku makna konseptual lan makna asosiatif :
1) Makna konseptual : makna kang saluyu kaliyan konsep, makna kang saluyu kaliyan referensie, lan ucul saking asosiasi atanapi hubungan punapa mawon. Makna puniki sami kaliyan makna referensial, makna leksikal, lan makna denotatif.

2) Makna asosiatif : makna kang tinalenan kaliyan kewontenan sejawining basa. Misale ‘melati’ gadah asosiasi kaliyan kesucian, ‘abrit’ gadah asosiasi kaliyan kewantunan, lan sapanunggalane. Kang kelebet teng jenis makna puniki nggih niku :
a) Makna konotatif atanapi makna kamus, nggih niku makna kang wonten selebete kamus
b) Makna stilistika atanapi gaya pemilihan tembung keranten bentene status social lan bidang kegiatan sanese kang wonten teng kegesangan masyarakat. Misale : gubug, umah, gedong, wisma, hotel, istana, lan sapanunggalane,
c) Makna afektif nggih niku makna kang tinalenan kaliyan peraosan pengguna basa piyambek, mbuh kaliyan tiyang kang diajak ngobrol atanapi kaliyan objek tuturan,
d) Makna refleksi, lan
e) Makna kolokatif nggih niku makna tembung sanes kang gadah tempat kang sami teng setunggale frasa. Misale ‘gadis punika ayu’, ‘jejaka punika kasep’. Mboten saged ‘gadis punika kasep’ atanapi ‘jejaka punika ayu’.

f. Dumasar teng gaya basa atanapi ijenan (satuan) basa kang diangge, makna saged digolongaken dados kalih macem, nggih niku :
1) Makna idiomatikal: makna satuan basa kang nyimpang saking makna leksikal atanapi makna gramatikal unsur-unsur pangwangune. Misale : koran kuning, adol cangkem, adol swanten, lan sapanunggalane.

2) Makna pribasa : makna satuan basa kang sampun temtos kang maksih saged diramalaken keranten wontene asosiasi atanapi kaitan kaliyan antawis makna leksikal kaliyan makna gramatikal unsur-unsur pangwangune kaliyan makna kang sanes. Umpamane, Ngajeng-ajeng tigane Si Blorok, Endas gundul dikubuti, Ana gula ana semut lan sapanunggalane.

3) Makna pocapa : disebat ugi makna kias, nggih niku sedanten wangun basa (tembung, frasa, atanapi klausa) kang mboten ngrujuk teng artos kang selerese (makna kamus) kang ngrupiaken oposisi saking artos kang selerese. Misale : kembang desa, abang-abang lambe, aki-aki pitung mulud, lan sapanunggalane.

Sementawis punika ahli basa kang sanese nggih niku Heatherington (1980 : 135) mbagi makna dados kalih, nggih niku makna referensial kaliyan makna presedensial.
a) Makna referensial : makna referensial puniki setunggal leksem kang ngrujuk dumateng setunggale objek kang wonten teng alam eksternal.
b) Makna presedensial : teng hal puniki asosiasi-asosiasi kolektif mumkinaken penutur omong-omongan kaliyan penutur kang sanese sedawaneng waktos.

G. Penamian, Pengistilahan, lan Pendefinisian
Aristoteles (384 – 322 SM) njelasaken yen penamian punika ngrupiaken masalah konvensional atanapi perjanjian diantawis sesami setunggale masyarakat pengangge basa. Senajan mekaten, secara kontemporer maksih saged diilari sebab-sebab atanapi peristiwa-peristiwa kang nglatarpengkeri kedadosan penamian atanapi penyebatan dumateng sejumlah leksem kang wonten teng selebete leksikon basa punika.

1. Penamian
Penamian saged digolongaken dados golongan onomatopeia atanapi tetiron ungel, penyebatan sebagian, penyebatan sifat khas, penyebatan kang manggihi, penyebatan kang damel, penyebatan tempat asal, penyebatan bahan, penyebatan keserupian, penyebatan pencekakan, lan penyebatan enggal.
a. Anomatopeia atanapi tetiron unen-unen
Anomatopeia punika ngrupiaken penamian dumasaraken swanten kang digadahi dening setunggale barang atanapi makhluk.
Misale :
anggonge diwastani cecek keranten swantene, cek…., cek…., cek….,
anggonge diwastani tekek keranten swantene, tek…., tek…., tek…., tekek…, tekek…,
anggonge diwastani gugug keranten swantene, gug…., gug…., gug….,
anggonge diwastani sempritan keranten swantene, priiit…., priiit…., priiit….,

b. Penyebatan sebagian
Penyebatan sebagian punika ngrupiaken penamian dumasaraken setunggale bagian kang digadahi dening barang atanapi makhluk.
Misale :
Nggal endas olih sewu perak.
Wong tuwa kari setugel bli bisa diarepaken.

c. Penyebatan sifat kas
Penyebatan sifat khas punika ngrupiaken penamian dumasaraken sifat khas kang digadahi dening setunggale barang atanapi makhluk.
Misale :
Si Ceret kangge nyebat lare kang mboten saged ageng.
Si Botak kangge nyebat tiyang kang sirahe mboten wonten remane.
Golongan Putih kangge kelompok kang mboten purun milih.
Ekstrem kiri kangge nyebataken kelompok kang kontra kaliyan pemerintah.

d. Penyebatan keserupian
Penyebatan keserupian punika ngrupiaken penamian dumasaraken serupie barang kang setunggal kaliyan barang sanese kados kang dimaksad.
Misale :
sikil meja
raja dangdut
bintang lapangan
layar putih
raja wana

e. Penyebatan tempat asal
Penyebatan tempat asal punika ngrupiaken penamian dumasaraken tempat asale setunggale barang atanapi peristiwa punika dipanggihaken atanapi dumados.
Misale :
magnet dipanggihaken teng Magnesia
Perjanjian Linggarjati
dimejaijoaken
dinusakambangaken

f. Penyebatan bahan
Penyebatan anomatopeia punika ngrupiaken penamian dumasaraken bahan kang kang dipigunakaken kangge damel setunggale barang.
Misale :
goni karung kang didamel saking serat goni
kaca kaca mata, kaca mobil
kaleng kaleng susu, kaleng krupuk, kaleng minyak
perak perak bakar, duit perakan
pring rajeg pring, pring cucukan

g. Penyebatan kang manggihi atanapi kang damel
Penyebatan kang manggihi punika ngrupiaken penamian dumasaraken namie tiyang kang manggihi atanapi kang nyiptakaken setunggale barang.
Misale :
kondom alat kontrasepsi dipanggihaken dening Dr. Condom
mujaer sejenis ulam kang dipanggihaken dening Pak Mujair saking Kediri
volt satuan kekiatan arus listrik dipanggihaken dening Alexander Volta

h. Penyebatan pencekakan
Penyebatan pencekakan punika ngrupiaken penamian dumasaraken abreviasi saking kalih tembung atanapi langkung.
Misale :
depdiknas -> Departemen Pendidikan Nasional
rudal -> peluru kendali
tilang -> bukti pelanggaran
radar -> radio anti detecting and ranging

i. Penyebatan enggal
Penyebatan enggal punika ngrupiaken penamian dumasaraken kosa tembung enggal kang tujuane kangge ngalusaken makna pedamelan, kedadosan, atanapi peristitiwa kang dimaksad.
Misale :
pemecatan -> pemutusan hubungan kerja
pembantu rumah tangga -> pramuwisma
buta huruf -> tuna aksara
budeg -> tuna rungu
harga naik -> penyesuaian harga

2. Pengistilahan
Benten kaliyan proses penamian atanapi penyebatan kang langkung katah lumangsunge secara arbitrer, pengistilahan langkung katah lumangsunge secara prosedural lan konvensional. Hal punika dumados keranten pengistilahan punika dilampahaken kangge manggihaken ketepatan atanapi kecermatan makna setunggale hal kegiatan atanapi keilmuan.
Teng ngrikilah bentene antawis istilah minangka asil pengistilahan kaliyan nami minangka asil penamian. Misale : leksem ‘telinga’ kaliyan ‘kuping’ teng istilah kedokteran nuduhaken referens kang benten. Upami ‘telinga’ punika ngrupiaken alat kangge mirengaken bagian lebet, sedeng ‘kuping’ ngrupiaken alat kangge mirengaken bagian jawi. Mekaten ugi leksem ‘lengen’ lan ‘tangan’. Upami ‘lengen’ puniku bagian anggota badan awit kelek tumekang pagelangan, sedeng leksem ‘tangan’ punika nuduhaken bagian pagelangan tumekang driji.

3. Pendefinisian
Pendefinisian punika setunggale usaha kang dilampahaken kelawan sumejah kangge ngungkapaken kaliyan leksem-leksem teng atase setunggal peristiwa, kedadosan, barang, proses, hal, aktivitas, lan sapanungalane. Secara garis ageng, definisi dipasing dados definisi nominal kaliyan definisi real. Definisi nominal nggih niku setunggale usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara mertelakaken artos saking setunggale istilah kemawon.
Misale :
Filsafat asale saking tembung ‘philo’ lan ‘sophia’. ‘phillo’ artose tresna lan ‘sophia’ artose kewicaksanaan. Dados, filosofi nggih niku tresna dumateng kewicaksanaan.

Kelemahan saking definisi punika nggih niku wontene kenyataan nyania mboten sedanten tembung atanapi istilah saged didefinisiaken kaliyan defionisi nominal puniki.
Misale :
Nagasari asale saking tembung ‘naga’ lan ‘sari’. ‘naga’ artose sawer lan ‘sari’ artose inti atanapi pati.
Padahal nagasari punika nami setunggale barang dahar.

Sedeng definisi real nggih niku setunggale usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nyaketi kesunyatan (realitas). Sareng mekaten, definisi punika saged nyukani pengertosan tinemtos kaliyan pertela lan kawates, ngantos kasimpang saking wontene sawon pengertosan.

Secara rinci, pendefinisian saged dibentenaken dados :
a. Definisi sinonimis :
definisi kang tingkat kejelasane paling andap atanapi paling asor. Nggih niku setunggale leksem didefinisiaken kaliyan leksem kang sanes kang dianggepe gadah informasi kang sami. Misale, ‘rama’ didefinisiaken kaliyan ‘mama’ atanapi ‘bapak’, ‘tirta’ didefinisiaken kaliyan ‘toya’.
b. Definisi peragaan :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken setunggale hal atanapi barang sambir ningalaken barang punika. Misale : ‘Iki lhi, kang diarani OHP’.
c. Definisi formal :
definisi kang tingkat kejelasane langkung sae tinimbang definisi sinonimis. Definisi formal langkung rumiyin nyebataken ciri-ciri umume, lajeng tetenger khusus kang mbentenaken. Misale, bis, ciri umume kendaraan umum ciri khususe saged ngemot tiyang ngantos pulonan. Sepur ciri umume kendaraan umum tetenger khususe saged ngemot tiyang ngantos atusan lan glindingane katah sanget saluyu kaliyan jumblah gerbonge.
d. Definisi wiyar :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken sekaligus nyukani contoh. Misale : ‘Mobil ngrupiaken salah setunggale srana transportasi kang dipigunakaken dening tiyang-tiyang kados dene bis, sedan, bemo, lan sapanunggalane’.
e. Definisi logis :
definisi puniki ngidentifikasi objek, ide, atanapi konsep kang dimaksad secara nyata bentene kaliyan objek kang sanes secara tegas. Misale : Toya nggih niku zat cair kang tumurune saking mendung minangka jawah kang ngliputi 2/3 bagian kang arupi unsur pokok kegesangan makluk, campuran hidrogen, oksigen, H20, mboten kraos, mboten mambet, mboten mawarni, mboten ngandung zat padet,mboten ngandung kuman-kuman coli, lan umeb teng suhu 100 drajat celcius’.
Definisi logis ugi ngrupiaken usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara mbentenakan genuse (kelase) lan ngewontenaken diferensiasi (pibentenan) saking setunggale istilah. Misale : ‘Mahasiswa nggih niku sekelompok tiyang kang angsal kesempatan blajar teng perguruan inggil’.
f. Definsi uraian :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken nganalisa bagian-bagian setungal per setunggal. Misale : ‘Negara nggih niku wewengkon kang jelas watese, gadah rayat kang manggon teng wewengkon punika, lan wonten pemerintahan kang merdika teng selebete wewengkon punika’.
g. Definisi ensiklopedi :
definisi punika langkung wiyar tenimbang definisi logis keranten definisi ensiklopedis nerangaken secara ajeg lan jelas, ugi cermat. Misale : Toya nggih niku senyawa hydrogen lan oksigen, wontene teng pundi-pundi mawon, lan saged awujud (a) gas kados dene uap toya, (b) cairan kados dene toya sedinten-dinten, (c) madet kados es lan salju.
h. Definisi operasional :
definisi puniki dipigunakaken kangge keprayogian kang sampun temtos lan winates dening setunggale topik tuturan. Misale : Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku :
1) Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku zat cair kang ngrupiaken kebutuhan tiyang sedinten-dinten.
2) Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku toya kang asale saking tetuwuhan.

Sumber kang sanes nyebataken nyaniya macem-macem definisi nggih niku kados teng andap punikii.
a. Definisi nominal :
definisi kang gadah maksad mertelakaken artos istilah kemawon. Selebete wangun kang basajan, definisi nominal punika sami kaliyan definisi sinonim. Misale : Macan punika sami kaliyan harimau.
b. Definisi denotatif :
definisi kang nuduhaken contoh individual. Definisi punika asring dipigunakaken. Misale : warna nilka iku kaya kenen (sambir ningalaken warni punika).
c. Definisi konotatif :
definisi kang njelasaken cekap lengkap dumateng definiendum, keranten sampun nuduhaken tetenger pembenten saking genus kang caket (per genus et differentia). Damel definisi kaliyan cara puniki nggih niku cara kang kawalik.
d. Definisi operasional :
definisi kang nerangeken langkah-langkah kegiatan kang kang dipigunakaken lan dumados dateng definiendum (kang didefinisiaken). Misale : Damel definisi ‘renang gaya kupu-kupu’. Supados tiyang sanes jelas, maka kedah diterangaken langkah-langkah ngenai gerakan suku lan gerakan tangan saluyu kaliyan renang gaya kupu-kupu.
e. Definisi kausal
definisi kang njelasaken cara nyeriosaken asal-usul dumadose hal kang didefinisiaken. Misale : ‘Udan yaiku uap banyu kang mabur dados mega, terus ngembun lan tigel dadi udan’.

H. Relasi Makna
Unggal basa kalebet teng basa Cerbon, asring dipanggihi wonten hubungan makna atanapi relasi semantik antawis setunggal leksem atanapi ijenan basa kaliyan leksem atanapi ijenan basa kang sanese. Hubungan punika saged arupi kememperan atanapi kemiripan makna kados sinonim, kewalikan makna kados kontras, kegandaan makna kados polisemi lan ambiguitas, kecinakupan makna kados hiponimi, kelianan makna kados homonimi, ketalanjukan makna kados redundansi, lan sapanunggalane.

1. Sinonim
Secara semantik, Verhaar mertelakaken makna sinonim minangka ungkapan (tembung, frasa, ukara) kang maknae kirang langkung sami kaliyan ungkapan (tembung, frasa, ukara) kang sanes. Artose, kalih tembung, frase, atanapi ukara punika kesamiane mboten satus persen ajeg atanapi sami, kesamiane mboten mutlak keranten wonten prinsip semantik kang nyatakaken umpami wangenan tembunge benten, maka makna kang dikandung tembung punika ugi benten. Sanajan makna tembung punika meh sami, nanging pianggean tembung teng konteks ukara punika mboten secara ujug-ujug saged disubstitusikaken.
Sinonim simetris atanapi sinonim mutlak disebat ugi sinonim absolut mboten wonten teng selebete basa Cerbon. Hal punika saged dumados keranten :
(a) teng prinsipe upami wangene benten maka artose benten,
(b) faktor waktos, misale leksem ‘hulubalang’ cumi cocok kaliyan waktos jaman sengiyen, kangge jaman saniki diangge istilah ‘komandan’,
(c) faktor tempat, misale leksem ‘abdi’ cumi cocog kaliyan konteks basa Sunda, lan leksem ‘ingsun’ dipigunakaken dening masyarakat Cerbon,
(d) faktor sosial, misale leksem ‘isun’ digunakaken upami micareng kaliyan rencang, lan leksem ‘kula’ dipigunakaken upami micareng kaliyan tiyang kang yuswane langkung sepuh,
(e) faktor bidang kegiatan, misale leksem ‘tassawuf’ diangge dening tiyang muslim, sedeng leksem ‘kebatinan’ diangge dumateng tiyang non-muslim,
(f) faktor nuansa makna, misale bentene leksem ‘ndeleng, ngimpleng, nginte, mlotot, nongton, nglirik’, lan sapanunggalane.

a. Hal-hal kang perlu diperhatekaken teng sinonim
Katah hal-hal kang perlu diperhatekaken teng sinonimi, nggih niku kados teng andap puniki.
1) Mboten sedanten leksem wonten sinonime, misale beras, salju, watu, kuning, lan sapanunggalane.
2) Wonten leksem kang sinonim teng wangun dasare nanging mboten sinonim teng wangun andahane, misale ‘bener’ kaliyan ‘estu’ sinonim teng wangun lingga nanging mboten sinonim teng wangun andahan keranten ‘kebeneran’ mboten sinonim kaliyan ‘kaestuan’, ‘kebeneran’ sinonim kaliyan ‘ndilalah’.
3) Wonten leksem kang mboten sinonim teng wangun lingga nanging sinonim teng wangun andahan, misale ‘peh’ mboten wonten sinonime nanging ‘ngepeh’ wonten sinonime nggih niku ‘nggaringaken’.
4) Wonten leksem kang teng artos selerese mboten sinonim nanging teng makna pocapane wonten sinonime. Misale ‘putih’ teng makna pocapane sinonim kalian ‘bersih, suci, murni, asli, lan sapanunggalane’.

b. Ragam Sinonim
Sinonim ngrupiaken setunggale relasi makna kang katah ragam atanapi jinise. Anadene ragam sinonim saged dibentenaken kados teng andap puniki.
1) Sinonim antarmorfem
Sinonim antarmorfem nggih niku kememperan makna kang dumados antawis morfem kang setunggal kaliyan morfem sanese.
Misale :
Kula nyuwun bantuan piyambeke = Kula nyuwun bantuan piyambekipun.
Buku kang teng Pak Kuwu sampun kula pendet = Buku kang teng Pak Kuwu sampun tekpendet.

2) Sinonim antarleksem
Sinonim antarlekse nggih niku kememperan makna kang dumados antawis leksem kang setunggal kaliyan leksem sanese.
Misale :
Nissa metik pelem = Nissa metel pelem.

3) Sinonim antawis leksem kaliyan frasa
Sinonim antawis leksem kaliyan frasa nggih niku kememperan makna kang dumados antawis leksem kaliyan frasa.
Misale :
Ramae sampun ninggal = Ramae sampun tutup yuswa

4) Sinonim antarfrasa
Sinonim antarfrasa nggih niku kememperan makna kang dumados antawis frasa kang setunggal kaliyan frasa sanese.
Misale :
Tiyang sepuh kula ketingal silih asih. = Rama lan ibu kula ketingal silih asih.

5) Sinonim antarukara
Sinonim antarukara nggih niku kememperan makna kang dumados antawis ukara kang setinggal kaliyan ukara sanese.
Misale :
Hafizh nendang bal. = Bal ditendang Hafizh.

2. Kontras
Seliyane gadah kememperan makna atanapi sinonimi, setunggal leksem mumkin gadah kewalikan makna. Diwuwusaken mumkin keranten mboten unggal leksem gadah kontrase. Istilah kontras ngliputi oposisi lan antonimi.

a. Oposisi
Oposisi nggih niku setunggale leksem kang gadah hubungan tinentangan atanapi kontras kang nuduhaken hubungan komplementif atanapi silih nglengkepi. Wontene setunggal leksem atanapi referens punika disebabaken wontene referensi kang sanese. Hubungan kontras komplementif atanapi mutlak kados mekaten sampun mboten saged digradasiaken, artose teng antawis kekalihe mboten wonten malih istilah atanapi leksem sanese.
Contoh oposisi :
lanang >< wadon guru >< murid mbok >< bapa

b. Antonimi
Antonini nggih niku setunggale leksem kang dianggep gadah makna tinentangan antawis setunggal leksem kaliyan leksem kang sanese, nanging hubungan punika maksih saged digradasiaken, artose teng antawis kalih leksem punika maksih wonten kemumkinan dugie leksem sanese. contoh antonim : blesak >< kirang sae, rada sae, cekap sae, sae, langkung sae, sae pindah, … kopral >< sersan, letnan, kapten, mayor, … Teng lebete hubungan oposisi kados lanang >< wadon hubungan komplementer atanapi mutlak linaku sanget keranten ‘kang mboten gadah ciri lanang pesti wadon’, mekaten ugi sewangsule, upami ‘mboten gadah ciri wadon pesti lanang’. Proses mikire kados teng andap puniki :
(a) lanang nggih niku sanes wadon
(b) kang sanes wadon puniku pesti lanang
(c) wadon nggih niku sanes lanang
(d) kang sanes lanang puniku pesti wadon Teng hubungan tata tingkat atanapi kontraries, hubungan dikotomi mutlak kados dene teng inggil punika mboten linaku atanapi mboten saged dilaksanakaken sanajan :
(a) panas nggih niku mboten adem
(b) adem nggih niku mboten panas nanging mboten saged dirambangaken dados :
(a) kang ‘mboten panas’ artose mboten pesti adem, keranten kang mboten panas punika saged ‘rada adem, anget, cukup adem, adem, adem pisan, paling adem, adem ces’, lan sapanunggalane
(b) kang ‘mboten adem’ artose mboten pesti panas, keranten kang mboten ‘adem punika’ saged ‘rada panas, cukup panas, panas, panas pisan, paling panas’, lan sapanunggalane. Relasi tinentangan kados mekaten lumrah disebat polaritas positif lan polaritas negatif. Pranata leksem kang gadah kemumkinan kangge dipitentangaken kados leksem teng inggil punika disebat ortagonal, sedeng relasi pitentangane disebate antipodal. Dumasar sipate, oposisi dibentenaken dados :
1) Oposisi Mutlak Kang dimaksad kaliyan oposisi mutlak ngggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem minangka oposisie punika pesti dumados. Maksade wontene istilah punika tumimbul keranten wontene isrilah oposisie. misale : laki >< rabi lanang >< wadon duda >< rangda
2) Oposisi Kutub Kang dimaksad kaliyan oposisi kutub nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan relatif kang gradatif keranten wates kang fleksibel. misale : adoh >< parek dawa >< cendek duwur >< endep
3) Oposisi Relasional Komplementif Kang dimaksad kaliyan oposisi relasional komplementif nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan nglengkepi. misale : guru >< murid bujang >< majikan adol >< tuku
4) oposisi hierarkilal Kang dimaksad kaliyan oposisi hierarkilal nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan kang nyatakaken deret dawa, jenjang, atanapi tetingkatan. misale : meter >< kilometer gram >< ton kopral >< jendral
5) Oposisi Majemuk Kang dimaksad kaliyan oposisi majemuk nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan kang antawis leksem-leksem punika maksih mumkin dugie leksem sanese. misale : ndodok glelengan turu >< ndongkok nongkrong ngadeg
3. Homonimi, Homofoni, lan Homografi
Homonimi nggih niku ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang wangune lan lafale sami kaliyan wangun lan lafale sami kaliyan ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) sanese nanging maknae benten. Homonim ngrupiaken leksem kang sami lafal lan ejaane, nanging makna ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) punika benten.
Misale :
adang = mbetek ngangge dangdang
adang = ngalang-alangi, nunggu
pacar = demenan
pacar = inai
selang = pipa
selang = jangka waktos
bandar = pelabuhan
bandar = cukong judi
abang = nami setunggale warni
abang = kakang lanang
kang = tiyang kang yuswane langkung sepuh (kakang)
kang = sing (kang abang = sing abang)
dada = tabe (nglambe-lambeaken tangan)
dada = bagian badan
wedi = mboten wantun
wedi = pasir
betok = ulam kados mujaer
betok = angus kenging toya keras
calak = penter ngomong
calak = alat kangge nggosok inten
ceret = wadah toya
ceret = mboten saged ageng

Homofoni nggih niku ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang lafale sami kaliyan leksem kang sanese nanging ejaan lan maknae benten.
Misale :
bank = lembaga peryatraan
bang = kakang lanang
sangsi = ragu-ragu atanapi ham-ham
sanksi = ukuman
Homografi nggih niku setunggale ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang ejaane sami kaliyan leksem kang sanese nanging lafal lan maknae benten.
Misale :
godeg = rambut ning pilingan mengandap
godeg = gerakan sirah kang nandakaken mboten
bebek = kambangan
bebek = numbuk kaliyan alu supados alus
sedeng = cekap
sedeng = rada edan
betek = ngliwet
betek = panggonan sementawis teng proyek
beres = kasusun rapi, priyad
beres = adem pisan

a. Tataran Homonimi
Tataran homonimi saged digolongaken dados sekawan tataran, nggih niku tataran antar morfem, tataran antarleksem, tataran antarfrasa, lan tataran antarukara.
1) Tataran Antarmorfem
Tataran homonimi antarmorfem nggih niku persamian wangun morfem kang setunggal kaliyan morfem kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih morfem punika benten.
misale :
Kiyen bukue isun, sedeng kang nggletak ning meja tamu bukue deweke. (pronomina)
Nalika kula ajeng blajar nanging bukue mboten wonten. (nyatakaken buku)

2) Tataran Antarleksem
Tataran homonimi antarleksem nggih niku persamian wangun leksem kang setunggal kaliyan leksem kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih leksem punika benten.
misale :
Isun bisa ngerjakaken soal. (saged)
Amir gering kenang bisa ula. (wisa)
Aqshal ngiling banyu sing ceret.
Dulatip kapanjing wong sing ceret.

3) Tataran Antarfrasa
Tataran homonimi antarfrasa nggih niku persamian wangun frasa kang setunggal kaliyan frasa kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih frasa punika benten.
misale :
lukisan Yusuf = lukisan gadahe Yusuf
lukisan Yusuf = lukisan hasil nglukise Yusuf
lukisan Yusuf = lukisan wajah Yusuf

4) Tataran Ukara
Tataran homonimi antarukara nggih niku persamian wangun ukara kang setunggal kaliyan ukara kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih ukara punika benten.
misale :
Istrie lurah kang enggal punika ayu. (lurah enggal gadah istri kang ayu)
Istrie lurah kang enggal punika ayu. (lurah gadah istri enggal kang ayu)

b. Faktor-faktor kang nyebabaken dumadose homonimi
1) saking dialek kang benten
misale :
bisa = racun sawer (Melayu)
bisa = saged (Jawa)

2) minangka akibat proses morfologis
misale :
ukur + N- = ngukur (Petugas lagi ngukur dalan.)
kukur + N- = ngukur (Mimi lagi ngukur krambil.) (ngeruk)
kukur + N- = ngukur (Aja ngukur bae sih ngkoe pada lecet!)

4. Hiponimi lan Hipernimi
Hiponimi nggih niku ungkapan / leksem kang maknae dados bagian makna ungkapan atanapi leksem kang sanese. Hiponimi ngrupiaken leksem-leksem hierarkis kang nyakup makna wiyar / arti umum, sedeng hipernimi ngrupiaken leksem-leksem hierarkis kang nyakup makna khusus / makna ciut. Hubungan antawis hiponimi kaliyan hipernimi cakupan maknae punika searah.
Misale :

MAKHLUK


makhluk gesang benda mati


janma kewan tuwuhan
hiponim

mainda gajah ulam maisa super ordinat
kohiponim

tongkol kakap mujaer layur subordinat


5. Polisemi
Polisemi lazim diartosaken minangka satuan basa (terutami tembung, saged ugi frasa) kang gadah makna langkung saking setunggal. Teng pekembangan kang langkung lami, komponen-komponen makna punika saged ngrembaka (ngembang) dados makna-makna sanese. Saged dinyatakaken upami makna kang wonten teng selebete wangun polisemi punika maksih wonten kait-kaitane atanapu hubung-hubungane kaliyan makna asal keranten sunyatane makna punika dijabaraken saking makna kang wonten teng tembung asal punika.
Misale :
sirah :
(a) bagian gulu menginggil
(b) bagian kang paling penting
(c) bagian kang bentuke buled
(d) pemingpin atanapi ketua
(e) jiwa atanapi tiyang
(f) akal budi

a. Bentene Homonimi kaliyan Polisemi
1) Homonimi sanes setunggal leksem kang sami nanging kalih leksem kang wangen lafal, lan ejaane keleresan sami. Teng selebete kamus, wangen homonimi punika didaftaraken kaliyan entri kang benten. Sedeng polisemi punika setunggal leksem kang sami nanging leksem punika gadah makna kang benten-benten, artose makna kang dikandung teng leksem punika langkung saking setunggal. Teng kamus, polisemi didaftaraken dados setunggal entri.
2) Makna teng wangun homonimi mboten wonten kaitan makna atanapi hubungan maknae antawis leksem kang setunggal kaliyan leksem kang sanese, sedeng polisemi makna kang dikandung punika maksih wonten kaitan makna atanapi hubungan maknae keranten senyatae dikembangaken saking komponen-komponen punika.

b. Faktor-faktor kang ndadosaken polisemi
1) Spesifikasi ilmu pangauningan, misale pianggean wangun leksem teng ilmu kebasaan, benten kaliyan pianggean leksem teng bidang arsitektur, ugi benten kaliyan pianggean leksem teng bidang seni rupa, mekaten ugi benten teng bidang kedokteran..
2) Spesifikasi pianggean teng kegesangan sedinten-dinten kang rineka werna. Misale leksem ‘tarik’ dening supir dimaknai kaliyan ‘jalan/kesah’. Nanging dening tukang kajeng dimaknai kaliyan ‘sered’.
3) Pianggean teng gaya basa misale leksem ‘getih’ lan ‘kentel’ teng sajake Chairil Anwar sampun ngalami perobihan, penambihan, lan pengalihan makna.
4) Tuturan lisan atanapi penulisan kang sawon.

Antawis polisemi kalaiyan homonimi punika asring keder mbentekanene, kangge punika, teng andap puniki wonten cara kang kedah diperhatekaken selebete mbentenaken wangen polisemi kaliyan homonimi, nggih niku :
(a) tingal kamus lan pahami etimologi lekseme,
(b) pahami konteks penganggeane,
(c) pahami makna kang intie atanapi core of meaning,
(d) kaji hubungan strukturale

6. Ambiguitas
Ambiguitas atanapi ketaksaan basa asring diartosaken minangka leksem kang gadah makna ganda atanapi ngrangkep artos. Bentene antawis ambiguitas kaliyan polisemi nggih niku ari kerangkepan makna polisemi asale saking leksem, sedeng kerangkepan makna ambiguitas saking satuan kang langkung ageng, nggih niku frasa atanapi ukara kang kedadosane sami minangka akibat penapsiran struktur makna kang benten.
Misale :
Buku sejarah enggal : buku sejarah kang nembe medal
buku kang isie sejarah jaman kang enggal
Wong males mambah mono : arang tiyang kang kiyeng lintang ngambah mrika
cumi tiyang males kang lintange ngambah mrika

Pebentenane Ambiguitas kaliyan Homonimi
(a) ditingal minangka wangun kalih leksem kang keleresan wangune sami kaliyan makna kang benten, sedeng ambiguitas nggih niku wangun kaliyan makna kang benten minangka akibat kesawonan penafsiran struktur gramatikal.
(b) Ambiguitas cumi dumados teng taran frasa atanapi ukara, sedeng homonimi saged dumados teng sedanten wangun satuan gramatik.

7. Redundansi
Redundansi asring diartosaken minangka kelangkung-langkungan pianggean unsur suprasegmental teng selebete setunggal ujaran atanapi tuturan.
Misale :
Bal ditendang dening Hafizh.
Bal ditendang Hafizh.

Pianggean tembung ‘dening’ teng ukara kang wonten teng inggil punika dianggep redundansi atanapi kelangkung-langkungan pianggean leksem kang mboten diperyogiaken, keranten sanajan umpamae leksem ‘dening’ punika dibucal, makna kang dikandung dening ukara punika mboten robih. Artose makna ‘Bal ditendang dening Hafizh’ punika sami kaliyan ‘Bal ditendang Hafizh’.

I. Medan Makna
Medan makna nggih niku bagian sistem semantik basa kang nggambaraken bagian saking kebudayaan atanapi realitas teng selebete alam semesta kang direalisasiaken dening seperangkat unsur leksikal kang gadah hubungan maksad. Medan makna punika ngaji pengelompokan leksem kang gadah hubungan makna. Hubungan kang dimaksad nggih niku hubungan kolokasi lan hubungan set. Kolokasi nuduhaken hubungan sintagmatis kang dumados antawis tembung-tembung atanapi unsur leksikal. Hubungan sintagmatis puniki sipate hubungan linier atanapi hubungan segaris.
Misale :
Mang Amin kapanjing wong kang open ning pite. Senajan pit iku wis ora bagus, nanging masih enak ditumpakane. Sadele digawe sing kulit, setange jejer loro, bane masih katon anyar lan bersih, reme pakem, peleke keling bae, becongane ditambah karo busa tabeke korsi kang epuk, lan ora klalen kriningane nggal dina digemuk supaya munie melung waktu ditabuh. Mang Amin uga wong kang ngati-ati yen numpak pit, ora ning dalan kang branjal-brinjul ora ning dalan kang alus. Apa maning ning dalan kang aspalan kang rame karo kendaraan sejene lan ngadepi pengkolan atawa ning prapatan lampu abang ijo.

Kolokasi
1. pit : ban, sadel, setang, pelek, rem, becongan, kriningan.
2. dalan, branjal-brinjul, alus aspal, pengkolan, prapatan, lampu abang ijo.

Upami kolokasi nduhaken hubungan sintagmatis, maka set nuduhaken hubungan paradigmatis. Hubungan paradigmatis nggih niku hubungan silih gumanti. Artose leksem-leksem kang wonten teng selebete ukara punika saged disulihaken atanapi diggentos kaliyan leksem sanese.
Misale :
Waktu arep subuh, wetengisun kemruyuk, untung ning meja masih ana ….
Leksem kang didelisiaken teng ukara teng inggil punika saged diisi kaliyan rujak, roti, sekul, oncom goreng, jagung bakar, intip goreng, lan sapanunggalane barang atanapi penganan kang saged didahar minangka geganjel weteng ngantos weteng punika mboten ngraos kempong malih. Nanging kang kedah diperhatekaken selebete ngisi titik-titik punika nggih niku :
a. Frasa ‘arep subuh’. Frasa punika nuduhaken wanci enjing njeput, dados mboten mumkin yen titik-titik punika diisi kaliyan ‘rujak’ atanapi dedaharan kang wonten sambele.
b. Pronominal kataforis ‘isun”. Pronominal punika saged diidentifikasi, kepripun upami ‘isun’ punika referensie tiyang sepah kang gadah waos (untu) cumi setunggal (nini-nini atanapi kaki-kaki), maka titik-titik punika mboten mumkin diisi kaliyan jagung bakar atanapi intip goreng.

1. Komponen Makna
Komponen ngrupiaken wujud pranata makna kang gadah tetenger khusus atanapi tetenger piyambek kang digadahi anggota kelas makna minangka tetenger pembenten. Kewontenan ciri kusus teng selebete setunggale fitur semantik punika ditandai kaliyan (+), mboten wontene tetenger kusus ditandai kaliyan ( – ), lan kemumkinan wonten mbotene ditandai kaliyan ( ± ).

jago
+ tiyang + sato kewan – benda
(+ lanang) (+ lanang) (– lanang)
– wadon – wadon – wadon

2. Kesaluyuan Semantis lan Gramatis
Setunggale bahasawan atanapi penutur basa saged mahami lan migunakaken basa mboten keranten piyambeke amengku samubarang ukara kang wonten teng basa punika, nanging keranten wontene kesaluyuan atanapi kepanujuan tetenger semantik antawis unsur leksikal kang setunggal kaliyan unsur leksikal kang sanese. Misale, tiyang istri lan siweg bobot wonten kesaluyuan tetenger semantik. Nanging antawis tiyang jaler lan siweg bobot mboten wonten kesaluyuan tetenger semantik. Mekaten ugi sewalike misale tiyang jaler kaliyan kumis wonten kesaluyuan tetenger semantik.
Mekaten ugi antawis leksem dahar kaliyan baso jelas wonten kesaluyuan tetenger semantike. nanging antawis leksem dahar kaliyan korsi mboten wonten kesaluyuan tetenger semantik keranten leksem baso gadah tetenger ( + daharan ) sedeng leksem korsi gadah tetenger semantik ( – daharan ). Dados, pernyataan dahar baso saged ditampi sedeng pernyataan dahar korsi mboten saged ditampi. Keranten korsi punika sanes daharan.
Kesaluyuan tetenger punika mboten cumi linaku teng unsure-unsur leksikal kemawon, nanging ugi linaku antawis unsure leksikal kaliyan unsur gramatikal. Misale leksem setunggal cumi saluyu kaliyan leksem sawung, lan mboten saluyu kaliyan leksem sawung-sawung, nggih niku wangun reduplikasi saking leksem sawung. Pramila punika, ukara Mimi tumbas setunggal sawung saged ditampi nanging ukara Mimi tumbas setunggal sawung-sawung mboten saged ditampi. Hal punika dumados keranten leksem setunggal saluyu kaliyan leksem sawung gadah tetenger semantik ( + tunggal ) sedeng leksem setunggal kaliyan leksem sawung-sawung mboten gadah tetenger semantik (– tunggal).

3. Makna teng Sistem Tanda
Konsep makna minangka sstem tanda sampun lami dibahas dening para ahli basa. Ferdinand de Saussure teng naun 1916 sampun nylidiki konsep makna minangka sistem tanda. Kesimpulane miturut Ferdinand de Sussure, basa minangka sistem tanda diindikatori dening wontene hubungan kang raket antawis (1) signifiant, nggih niku gambaran tatanan ungel-ungel secara abstrak teng kesadaran batin para penganggene, (2) signifie, nggih niku gambaran makna secara abstrak sehubungan kaliyan wontene kemumkinan hubungan antawis ungel kaliyan dunia jawi, (3) form, nggih niku kaidah abstrak kang ngatur hubungan antwis butir-butir abstraksi ungel ngantos kemumkinane kangge ngekspresi diri, lan (4) substance, nggih niku perwujudan ungel - ungel ujaran kang kas.

J. Perobihan Makna
Makna setunggale leksem secara sinkronis saged rinobih. Pernyataan punika nyirataken pengertosan nyaniya mboten unggal tembung maknae kedah rinobih atanapi rinobih secara diakronis. Kang dimaksad sinkronis nggih niku penyelidikan makna kang dilampahaken teng setunggale waktos atanapi jaman kang sami, sedeng kang dimaksad diakronis nggih niku penyelidikan makna kang dilampahaken teng waktos atanapi jaman kang benten. Katah leksem kang maknae sing awit sengiyen mboten ngalami perobihan, malah cacahe mumkin langkung katah tinimbang kang rinobih atanapi ngalami perobihan.

1. Sebab-Sebab Perobihan Makna
Katah faktor kang ndadosaken perobihan makna setunggale leksem. Perobihan leksem punika saged dumados keranten perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan sosial budaya, perkembangan bidang pianggean, wontene asosiasi kang benten, tetukeran tanggapan indera, perbentenan tanggapan, wontene panyindekan, mawiyar, nyiuti, perobihan total, pengalusan, lan pengasaran.
a. Perkembangan Ilmu Pengetahuan lan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan lan teknologi saged nyebabaken dumadose perobihan makna setunggal leksem. Teng ngrika, setunggal leksem kang waune ngandung konsep makna ngenai setunggale makna kang basajan angger dipigunakaken senajan konsep makna kang digadahi punika sampun rinobih minangka pamrah saking pandengan enggal atanapi teori enggal selebete setunggal ilmu atanapi pamrah perkembangan teknologi. Misale perobihan makna teng leksem sastra saking makna ‘tulisan’ robih dados ‘rumpaka imajinatif’.

b. Perkembangan Sosial Budaya
Wangun leksem teng perobihan makna keranten perkembangan sosial budaya punika angger sami, nanging makna kang digadahi punika sampun rinobih. Misale leksem saudara (sederek) teng basa Sansekerta ngandung makna ‘seweteng’ atanapi setunggal kandungan, nanging makna punika seniki sampun rinobah lan dipigunakaken kangge nyebat tiyang sanes kang dianggep sederajat atanapi gadah status sosial kang sami kados teng ukara Surat saudara sampun kula tampi atanapi Teng pundi sederek dilairaken?

c. Perkembangan bidang Pianggean
Perobihan bidang pianggean saged nyebabaken perobihan setunggal leksem. Misale teng bidang tetanen saged dipanggihi leksem bibit, tandur, panen, nggarap, mupuk, nawur, mbajak (mluku), lan sapanunggalane. Leksem mbajak sengiyen diangge kangge makna ngolah siti teng sabin, nanging saniki leksem punika gadah makna setunggale panggawe kang ngrugiaken tiyang atanapi pihak sanes, misale teng ukara ‘Saniki mboten sekedik pencipta lagu terutami lagu dangdut kang mbajak rumpaka tiyang sanes, khususe lagu-lagu saking India atanapi Arab.

d. Wontene Asosiasi
Wontene Asosiasi saged ngrobih makna setunggale leksem. Perobihan makna keranten wontene asosiasi punika keranten wontene hubungan antawis kedadosan atanapi peristiwa atanapi hal kang setunggal kaliyan kedadosan, peristiwa atanapi hal sanese. Misale perobihan makna leksem amplop teng ukara Hafizh dikengken tumbas amplop teng toko kaliyan makna leksem amplop teng ukara ‘Ambir samubarange gage beres, paien bae pejabate amplop’.

e. Tetukeran Tanggapan Indera
Alat indera janma kang cacahe gangsal punika satuhune sampun gadah kardi piyambek-piyambek kangge nanggapi gejala-gejala kang wonten teng dunia punika. Upamie raos manis, asin, getir, lan asem kedah ditanggapi kaliyan indera pengraos nggih niku lati. Raos panas, adem, lan atis kedah ditanggapi kaliyan indera peraba nggih niku kulit. Gejala kang kinait kaliyan cahaya kados padang, peteng, lan remeng-remeng kedah ditanggapi kaliyan indera paningal nggih niku mripat. Gejala kang tinalenan kaliyan swanten kados melung, hawar-hawar, atanapi lamat-lamat kedah ditanggapi kaliyan indera pemireng nggih niku kuping, sedeng gejala kang kinait kalian ambet punika kedah ditanggapi kaliyan indera pangambung nggih niku grana.
Teng penggunaane katah dumados kasus tetukeran antawis alat indera kang setunggal kaliyan alat indera kang sanese. Raos pedes misale kedah ditanggapi kaliyan indera pengraos nggih niku lati, nanging teng pianggean asring dituker kaliyan indera pemirengan, misale teng ukara Omongane pedes pisan. Kasar kang kedahe ditanggapi kaliyan indera peraba nggih niku kulit asring dituker kaliyan indera paningal nggih niku mripat, misale teng ukara Tumindake kasar temen. Contoh liyane misale ukara Suarane enak dirungokaken atanapi Wong wadon kae sedep dipandenge. Leksem enak kaliyan sedep punika kedah ditanggapi kaliyan indera pangraos, nanging teng ukara punika ditanggapi kaliyan indera pemirengan lan paningalan. Tetukeran tanggapa alat indera kados kang sampun diserataken punika disebate sinaestesis.

f. Perbentenan Tanggapan
Unggal wangun leksikal atanapi leksem satuhune secara sinkronis sampun gadah makna leksikal kang angger. Nanging keranten wontene pandengan gesang lan ukuran selebete norma kegesangan kang benten kang wonten teng selebete masyarakat, katah leksem kang saged gadah nilai raos kang dianggep asor atanapi kang mboten nyenengaken, nagging katah ugi leksem kang dados gadah nilai raos kang dianggep inggil atanapi nyenengaken.
Leksem kang dianggep gadah nilai raos kang mrosod dados asor punika disebate peyoratif, sedeng leksem kang dianggep gadah makna kang manek atanapi langkung inggil disebate amelioratif. Leksem laki lan rabi dianggepe gadah makna langkung asor atanapi peyoratif tinimbang leksem semah lan istri, atanapi leksem bung (kados teng sebatan Bung Tomo, Bung Hatta, Bung Karno) dianggep gadah nilai raos kang langkung inggil atanapi amelioratif tinimbang leksem bang (kados teng sebatan Bang Dul)

g. Wontene Penyindekan
Selebete basa Cerbon katah leksem atanapi ungkapan kang lantaran asring dipigunakaken lajeng datan diucapaken atanapi diserat secara lengkap malih keranten senajan mboten diucapaken atanapi diserataken ugi penanggap tutur sampun sumerep punapa kang dimaksad dening penutur punika. Misale ukara Ramae ninggal, temtos maksade Ramae ninggal dunia. Dados, ninggal punika ngrupiaken penyindekan saking ninggal dunia. Bapa teng Jakarta ngrupiaken penyindekan saking Bapa (siweg) kesah teng Jakarta. Mekaten ugi penyindekan teng tebruk saking teh tubruk, dubang saking idu sing abang, lan sapanunggalane.

h. Mawiyar
Katah leksem kang ngalami pemiyaran makna. Leksem punika kawitane cumi diangge teng bidang-bidang kang sampun temtos, nanging saniki leksem-leksem punika ngalami pewiyaran makna keranten sampun diangge teng bidang-bidang sanese. Misale leksem nyitak awale diangge teng bidang percitakan kados buku, majalah, koran lan sanese-sanese, nanging saniki leksem nyitak punika asring diangge teng bidang tetanen, misale teng ukara Pemerentah bade nyitak sabin-sabin enggal, atanapi teng bidang olahraga kados teng ukara Persib Bandung sampun nyitak tigang gul teng gawang Persija.

i. Nyiuti
Kang dimaksad perobihan nyiuti nggih niku gejala kang dumados teng setunggale leksem kang kawitane gadah makna kang wiyar nanging saniki leksem punika diangge teng setunggal makna kemawon. Misale leksem sarjana, sengiyen leksem sarjana punika gadah makna tiyang kang pinter (cendekiawan), nanging saniki leksem punika cumi diangge kangge tiyang kang sampun lulus saking setunggale perguruan inggil jenjang S.1, S.2, atanapi S.3 kados teng frasa Sarjana Pendidikan, Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi, Sarjana Pendidikan Islam, lan sapanunggalane.

j. Perobihan Total
Kang dimaksad perobihan total ngih niku perobihan makana kutub setunggale makna saking makna kawitane. Karuan wonten kemumkinan makna punika maksih wonten sangkut paute kaliyan makna kawitan, nanging sangkut paute punika sampun tebih sanget atanapi melenceng sanget. Misale leksem ceramah punika makna kawitane rewel, cerewet, atanapi katah omonge, nanging saniki leksem ceramah punika rinobih dados pidato aatanapi urean ngenai setunggal hal kang dimaturaken. Leksem pena makna kawitane nggih niku wulu, saniki makna pena sampun robih total dados alat tulis kang migunakaken mangsi.

k. Pengalusan
Selebete basa Cerbon, pengalusan makna sanes barang kang enggal teng tuturan sedinten-dinten. Tiyang sengiyen kang kewentar keranten kepercantenan atanapi sebab-sebab sanese nggentos leksem buaya atanapi macan kaliyan nini-nini, nggentos sawer kaliyan ketimange Nabi Suleman, nggentos makhluk alus kaliyan penunggu, lan sanes-sanese. Mekaten ugi istilah tuna daksa, tuna netra, tuna grahita, lan sapanunggalane ngrupiaken cara pengalusan makna leksem (eufemia).

l. Pengasaran
Kewalikan saking pengalusan nggih niku pengasaran (disfemia). Disfemia nggih niku usaha kangge nggentos leksem kang maknae alus atanapi biasa dados leksem kang maknae kasar. Anadene prayojana penggunaan leksem punika kangge ngiataken maksad leksem teng setunggale peristiwa. Misale leksem nggondol gadah konotasi mboten sae lan kasar kados teng ukara Maling nggondol rupa-rupa barang sing umae pengusaha krupuk mlarat nanging leksem punika asring digunakaken kangge bidang sanes kang nguntungaken malah mbanggakaken kados teng ukara Regu bulu tangkis Indonesia suskes nggondol Piala Thomas.

2. Latar Perobihan Makna
Perobihan makna kang digadahi dening setunggal leksem saged disebabaken dening faktor-faktor kados dene tetenger dasar kang digadahi dening internal basa, wontene proses gramatik, sifat generik leksem, wontene spesifikasi, unsur kesejarahan, faktor emotif, lan tabu basa.

a. Tetenger dasar digadahi dening internal basa
Makna setungal leksem sanese saged nggadahi hubungan kang raket kaliyan leksem kang sanese, misale teng setunggal kolokasi, makna lan wangun leksem ugi saged tumpang tindih misale teng polisemi lan homonimi. Tetenger dasar kang digadahi dening setunggal leksem saged nyebabaken perobihan makna setunggal leksem. Misale konotasi kang raket sanget antawis ‘kopi’ kaliyan ‘inuman’ nyebabaken perkembangan makna teng leksem ‘kopi’ sanese ngrujuk teng ‘woh kopi’ ugi ngrujuk teng ‘bubuk kopi’ lan ‘inuman kopi’.

b. Pamrah Wontene proses gramatik
Wontene proses gramatika setnggal leksem ngrupiaken setunggal latar kang saged nyebabaken robihe makna kang digadahi dening leksem kang dimaksad. Misale leksem ‘ibu’ ngalami relasi gramatik kaliyan ‘kota’ ngantos mboten cumi ngrujuk teng ‘wadon/istri’.

c. Sipat generik leksem
Leksem-leksem teng setunggale wangun kebasaan umume makna kang digadahi dening leksem-leksem punika mboten kaku nanging lentur. Pamrah kesamuran lan kelenturan leksem punika makna leksem asring ngalami pergeseran saking makna kawitane. Misale leksem ‘blajar’ sanes mawon blajar teng sekolahan, nanging saged ugi ‘blajar nyopet, blajar nembang, blajar nyupir, blajar bal-balan, lan sapanunggalene’.

d. Wontene spesifikasi
Wontene spesifikasi bidang pianggean ngrupiaken setunggale latar kang nyebabaken perobihan makna setunggal leksem. Misale leksem ‘ranah’ awale ngrujuk teng ‘wilayah atanapi daerah’ nanging leksem ranah punika saniki ngalami kekususan lan disejajaraken kaliyan ‘domain’, (inget teng istilah ranah kognitif, afektif, lan psikomotor kang disejajaraken kaliyan istilah domain kognitif, afektif, lan psikomotor kang diwedalaken Benjamin S. Bloom kang dikenal kaliyan istilah Taksonomi Bloom).

e. Unsur kesejarahan
Unsur kesejarahan kang nyebabaken robihe makna setunggal leksem tetalenan kaliyan (1) perjalanan basa saking setunggal generasi teng generasi kang sanese, (2) perkembangan konsep ilmu pangauningan, (3) kebijakan institusi, lan (4) perkembangan idea lan objek kang dimaknai. Misale leksem ‘perjuangan’ sengiyen cumi dimaknai kaliyan ‘perang nglawan penjajahan’ saniki leksem ‘perjuangan’ punika dimaknai kaliyan ‘usaha ningkataken taraf kegesangan’.

f. Faktor emotif
Unsur motif kang saged nyebabaken pergeseran makna ditandai dening wontene asosiasi, analogi, lan bebandingan selebete pianggean wangun basa. Hal punika mamrahaken wangun metaforis kados metaforis antromorfis, mataforis bebandingan kewan, lan metaforis sinaestesis.
Metaforis antromorfis nggih niku penataan relasi leksem kang kedahe khusus kangge fitur janma nanging dihubungaken kaliyan barang-barang kang mboten gadah ambekan. Metaforis kewan nggih niku pianggean khusus kaliyan kewan dipigunakaken kangge barang kang mboten wonten ambekane atanapi tiyang. Sementawis metaforis sinaestesis nggih niku pengalihan asosiasi fitur semantic setunggale refere kang sampun temtos teng referen sanese kang secara analogis gadah kesetataan sifat. Misale leksem ‘pedes’ kangge sambel kaliyan ‘pedes’ kangge omongan, ‘manis’ kangge raose gendis kaliyan ‘manis’ kangge wajah.

g. Tabu basa
Unsur tabu basa ngrupiaken setunggal latar kang saged nyebabaken wontene perobihan lan pergeseran makna. Tabu basa punika ngrupiaken setunggale leksem kang pianggeane dianggep tabu atanapi pamali, hal punika tinalenan kaliyan faktor kepercantenan setunggal masyarakat dumateng hal-hal kang dianggep tabu atanapi pamali. Tabu basa punika saged dibentenaken dados :
(1) tabu keranten rasa hormat, misale ‘penunggu’ digunakaken kangge nyebat roh alus, atanapi leksem ‘kyai’ digunakaken minangka gegantos nyebat macan, lan
(2) tabu kangge ngalusaken, misale frasa ‘bade teng pengker’ kangge seni/nguyu, atanapi ‘tetoya’ kangge ngising.

3. Asosiasi Hubungan Makna
Makna teng setunggale leksem kaliyan leksem kang sanese teng selebete kesadaran penganggene saged nimbulaken asosiasi hubungan kang sampun temtos, kados dene :
a. Kesejajaran sifat atanapi tetenger umum, misale antawis leksem ‘mbakta’ kaliyan ‘ngangkut’, antawis ‘nyukakaken’ kaliyan ‘masrahaken’, antawis ‘ningal’ kaliyan ‘nonton’.
b. Sebab – akibat, misale antawis leksem ‘dawah’ kaliyan ‘tangi’, ‘ningal’ kaliyan ‘sumerep’, ‘blajar’ kaliyan ‘mahami’, ‘usaha’ lan ‘asil’.
c. Hubungan kualitas, misale antawis leksem ‘toya’ kaliyan ‘seger’, ‘geni’ kaliyan ‘panas’, ‘es’ kaliyan ‘atis’.
d. Fakta lan gejala, misale antawis leksem ‘mesem’ kaliyan ‘seneng’, ‘nangis’ kaliyan ‘nelangsa’, ‘angob’ kaliyan ‘ngantuk’.
e. Asosiasi hubungan tinentangan, misale antawis leksem ‘males’ kaliyan ‘wekel’, ‘blesak’ kaliyan ‘esak’, ‘robih’ kaliyan ‘angger’.
f. Asosiasi hubungan kohiponim, misale antawis leksem ‘tetuwuhan , sato kewan, janma’, kaliyan ‘makluk gesang’.

K. Tingkat Keleresan Informasi Semantik
Minangka setunggale struktur formal, basa gadah kewinatesan selebete makili kasunyatan (realitas). Mangkane, ngubungaken basa kaliyan logika sejeb sengiyen tansah nimbulaken kontroversi. Pibentenan pendapat punika dumados keranten basa secara wutuh pancen mboten sanggem makili realitas tur ngandung tetenger illogical.
Kajian logika basa satuhune mboten tinolak saking basa kang dipigunakaken teng pianggean sedinten-dinten. Upami lambang lan relasi lambang saluyu kaliyan kewontenan selebete pianggean, salah setunggale dados kajian linguistik deskriptif, maka lambang selebete hubungane kaliyan lambang piyambek dados kajian logika.
Kewontenan semantik minangka teori referensi lan teiri makna ugi ketingal teng kewontenan semantik kang seliyane gadah hubungan kaliyan unsur sintaktik ugi gadah hubungan kaliyan unsur-unsur pragmatik. Pramila punika, makna kaliyan keleresan teng tataran sintaktik akhire kedah dihubungaken kaliyan realitas kegesangan, basa selebete komunikasi padinan, ugi komunikasi antarjanma. Teng tataran punika, keleresan makna ugi kedah dikaitaken kaliyan kasunyatan (realitas) lan kasunyatan kondisionalitas. Mangkane, abstraksi proposisi ugi diadepaken kaliyan kalih kemumkinan, nggih niku leres atanapi sawon.
Yadiastun inggil keleresan proposisi selebete abstraksi lan ekspresi, keleresan maksih keancam dening ketaksaan wangun kebasaan. Ketaksaan wangun kebasaan punika seliyane dumados pamrah wontene
(1) polivalensi selebete polisemi lan homonimi,
(2) tetenger genetik leksem-leksem kang gadah fitur semantik kang benten,
(3) kembotenjelasan wates leksem kang gadah makna umum kaliyan leksem kang gadah makna khusus, (4) wangun metaforis,
(5) pemaknaan wangun silihan kang maksih samur,
(6) kolokasi lan sinonimi selebete kajian logika basa,
(7) ekuivokasi,
(8) amfiboli,
(9) aksentuasi,
(10) komposisi, lan
(11) devisi.
Ekuivokasi nggih niku ketaksaan makna setunggale wangu kebasaan kang senajan sampun wonten teng selebete konteks, angger nuansakaken kemumkinan-kemumkinan makna. Misale (1) Akhir setunggale hal saged nuju teng kesempurnaan, (2) kematian nggih niku akhir saking kegesangan, (3) maka kematian punika akhir kesempurnaan saking kegesangan.
Amfiboli ngih niku ketaksaan makna pamrah kembotenjelasan hubungan setunggal term selebete struktur ukara. Misale ukara Adie mahasiswa kang ayu iku tabet demenanisun. Leksem ayu selebete ukara punika rujukane mboten jelas, nuduhaken teng adi atanapi teng mahasiswa?
Aksentuasi puniku pawewehan tekanan setunggal leksem teng selebete ijenan paparan kang mboten pas ngantos ngaburaken makna kang kedahe direpresentasiaken. Paparan kang ungele Pembina masyarakat ora duwe pendidikan iku kudu umusaha ningkataken pangaweruh, lan seliyane duwe mupangat sajrone ningkataken kahuripan masyarakat dewek uga duwe mupangat kanggo masyarakat sejene. Seumpami pembina lan masyarakat mboten disukani aksentuasi secara pertela ngantos sanggem mbentenaken term (a) pembina, (b) masyarakat, lan (c) pembina masyarakat kang dituduhaken penjelas selajenge, informasi kados punika saged mblasaraken makna kang dityampi dening reseptor.
Komposisi gadah kaitan kaliyan kembotenjelasan setunggale pernyataan kang akhire saged nyebabaken kekaburan makna selebete pernyataan selajenge. Misale Pangaweruh iku seliyane duwe mupangat kanggo masyarakat dewek, uga duwe mupangat kanggo masyarakat sejene. Pamrah kekaburan makna kang dumados teng makna sederenge, maka pesen atanapi amanat kang wonten teng ukara punika dados mboten jelas.
Devisi punika kesawonan kang gadah hubungan kang raket kaliyan kang dumados teng komposisi. Misale
(a) samubarang kang mboten ketingal punika atom,
(b) Tuhan punika mboten ketingal,
(c) dados, Tuhan punika atom.
Saking sedantene tetelan teng inggil punika saged disimpulaken nyaniya tingkat keleresan informasi semantik gadah tingkatan
(1) tingkatan keleresan semantik ditemtosaken dening tepat atanapi mbotene proposisi kang diabstraksiaken,
(2) tingkat keleresan informasi semantik ditemtosaken dening tepat atanapi mbotene penghubunga antawis proposisi kang kawadahan selebete basa kaliyan dunia jawi kang dirujuk,
(3) tingkat keleresan informasi semantik ditemtoskaken dening pemilihan tembung, penataan relasi tembung, atanapi penentosan ciri hubungan saking relasi antarukara.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info