Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking.(Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
Tuesday, May 2, 2017
Tari Reog Ponorogo – Sejarah – Alur Pertunjukan
Indonesia kaya akan keaneragaman kebudayaan, Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan.
Tari Reog adalah salah satu budaya bangsa Indonesia yang masih eksis dan terus dikembangkan agar budaya tersebut bisa dilestarikan dan sebagai warisan yang tidak ternilai bagi anak cucu.
Sejarah/ Asal-usul Tari Reog Ponorogo
Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun cerita paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.
Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan
bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.
Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat mementaskan tariannya.
Alur Pertunjukan
Tari Reog modern sering dipentaskan dalam acara pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan dalam seni reog tidak ada skenario karena selalu terjadi interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Kontroversi Tari Reog Ponorogo
Malaysia juga mempunyai Tarian sejenis Reog Ponorogo yang dinamakan Tari Barongan tetapi memiliki unsur Islam. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, yaitu topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak. Deskripsi dan foto tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia.
Kontroversi timbul karena pada topeng dadak merak di situs resmi tersebut terdapat tulisan “Malaysia”, dan diakui sebagai warisan masyarakat keturunan Jawa yang banyak terdapat di Batu Pahat, Johor dan Selangor, Malaysia.
Hal ini memicu protes berbagai pihak di Indonesia, termasuk seniman Reog asal Ponorogo yang menyatakan bahwa hak cipta kesenian Reog telah dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004, dan dengan demikian diketahui oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Ditemukan pula informasi bahwa dadak merak yang terlihat di situs resmi tersebut adalah buatan pengrajin Ponorogo. Ribuan seniman Reog sempat berdemonstrasi di depan Kedutaan Malaysia di Jakarta. Pemerintah Indonesia menyatakan akan meneliti lebih lanjut hal tersebut.
Pada akhir November 2007, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain menyatakan bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “Barongan” di Malaysia dapat dijumpai di Johor dan Selangor, karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke negeri tersebut.
Dengan kejadian tersebut hendaklah kita sebagai pemuda penerus bangsa harus melestarikan reog ponorogo. Karena budaya adalah kekayaan bangsa.
Semoga artikel yang membahas mengenai tari reog ponorogo di atas dapat menambah pengetahuan kamu mengenal budaya bangsa Indonesia.
Tuesday, January 28, 2014
Musik Angklung: Kesenian Tradisional Khas Jawa Barat
Siapa yang tak kenal dengan alat musik angklung. Angklung tak hanya dikenal di tatar Pasundan saja, tapi sudah menasional, bahkan internasional. Baru-baru ini, di Amerika Serikat baru saja digelar memainkan alat musik angklung dengan melibatkan banyak orang, termasuk orang-orang bule. Bahkan, beberapa waktu lalu juga, Malaysia, negeri tetangga kita, begitu kesengsrem dengan alat musik yang satu ini sehingga mencapnya sebagai alat musik yang berasal dari daerahnya sendiri.Alat Musik Tradisional dan Menjadi Kebanggaan
Angklung ialah alat musik tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Bandung khususnya, dan Jawa Barat secara umum. Bahan baku yang dijadikan untuk membuat angklung yaitu bambu. Angklung sendiri banyak jenisnya, mulai dari Angklung Kanekes, Angklung Gubrag, Angklung Dogdog Lojor, dan Angklung Badeng. Jenis bambu yang biasanya digunakan untuk membuat alat musik ini adalah bambu hitam dan bambu putih (awi temen).
Angklung pertama kali ditemukan oleh Daeng Sutigma sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung ini hanya sebatas untuk kepentingan kesenian lokal ataupun tradisional. Bunyi-bunyian yang ditimbulkannya pun sangat merdu, memiliki tangga nada seperti do-re-mi-fa-sol-la-si-du dan da-mi-na-ti-la-da, sehingga angklung pun dalam perjalanannya cepat sekali berkembang. Sampai akhirnya pertunjukan angklung pun tak lagi lokal, namun sudah nasional bahkan internasional.
Berapa jumlah pemainnya? Permainan angklung sendiri bisa melibatkan banyak orang, sampai 50 orang. Permainan angklung pun bisa dipadukan dengan alat musik lainnya seperti organ, piano, gitar, drum, dan lain sebagainya. Yang menarik yakni angklung selain bisa digunakan untuk alat kesenian juga bisa digunakan untuk souvenir atau buah tangan setelah dihiasi dengan berbagai aksesoris lainnya.Udjo Ngalagena

Laiknya alat musik tradisional lainnya, angklung kalau tak diberdayakan akan mudah sekali hilang tergerus zaman. Untungnya ada Udjo Ngalagena yang concern dalam pengembangan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro dan madenda, dan mulai mengajarkannya kepada banyak orang dari beragam komunitas.

Bahkan, Mang Udjo—sapaan akrabnya—sampai membuat pusat pembuatan dan pengembangan kreasi kesenian angklung yang disebutnya dengan “Saung Angkung Mang Udjo yang berada di Padasuka Cicaheum, Bandung.
Wednesday, August 1, 2012
Tari Gambyong Surakarta – Sejarah Seni Tari dari Surakarta Jawa Tengah

Tari Gambyong adalah Seni tari yang berasal dari Surakarta Jawa Tengah. Asal mula tari Gambyong ini berdasarkan nama seorang penari jalanan (dalam bahasa jawanya penari jalanan disebut tledek, kadang terdengar kledek). Nama seorang penari ini adalah Gambyong. Ia hidup pada zaman Sinuhun Paku BUwono ke IV di Surakarta Sekitar tahun 1788 – 1820. Gambyong ini dikenal sebagai seorang penari yang cantik dan bisa menampilkan tarian yang cukup indah. Gambyong pun terkenal di seluruh wilayah Surakarta kemudian terciptalah Tari Gambyong. Jadi tari gambyong ini diambil dari Nama seorang Penari Wanita.
Tarian Gambyong ini merupakan salah satu jenis tari pergaulan di masyarakat. Seperti Tari Jaipong dari Jawa Barat yang juga merupakan tari pergaulan. Ciri khas dari pertunjukan tari gambyong ini adalah selalu dibuka atau di awali dengan gendhing pangkur sebelum tarian di mulai. Tari gambyong akan terlihat indah dan elok jika sang penari dapat menyelaraskan antara gerakan dan irama musik gendang. Karena, gendang sendiri umumnya disebut sebagai otot tarian dan pemandu gendhing.

Tari Pendet – Seni Tari dari Bali – Sejarah Tari Pendet

Sejarah / asal usul Tari Pendet
Gerakan Tari Pendet
Kontroversi Tari Pendet
Tari Pendet pernah menjadi sorotan dan heboh saat tampil di program televisi Enigmatic Malaysia Discovery Channel.
Tuesday, July 31, 2012
Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping
Kesenian Tari Kuda lumping adalah sebuah seni tari yang dimainkan dengan menggunakan peralatan berupa kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu.Jika dilihat ritmis tarian kuda lumping ini sepertinya merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran jaman dulu ,yaitu sebuah pasukan kavaleri berkuda.Ini bisa dilihat dari gerakan seni tari kuda lumping yang dinamis,ritmis dan agresif,layaknya gerakan pasukan berkuda ditengah medan peperangan.
Mengenai Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping konon katanya sih adalah bentuk dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari Kuda Lumping adalah menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Kesenian tari kuda lumping ini lebih populer didaerah Jawa Timur khususnya Malang,Blitar,Tulungagung dan sekitarnya.Biasanya kuda lumping ini ditampilkan dalam event event tertentu misalnya menyambut Tamu Kehormatan,sebagai acara syukuran atas Doa yang dikabulkan Yang Maha Kuasa.
Seringkali yang dikenal masyarakat adalah bahwa kuda lumping ini selalu melibatkan makhluk halus dalam atraksi atraksi supranatural dan berbau magis.Misalnya makan kaca,makan bara api,berjalan diatas pecahan beling dan bara api,mengangkat benda berat,disayat pisau,dibacok dengan golok sampai menari dalam keadaan kesurupan.
Sepertinya ini adalah merefleksikan bentuk kekuatan supranatural yang berkembang dilingkungan kerajaan Jawa.Merupakan aspek non militer pada saat perlawanan terhadap penjajah Belanda
Benarkah Tari kuda lumping ini melibatkan makhluk halus?
Sebelum sebuah acara kuda lumping digelar selalu ada 2 orang pawang (pemimpin spiritual yang memiliki kekuatan supranatural) yang bertugas untuk mempertahankan cuaca agar tidak hujan.Dan yang satunya bertugas melakukan ritual pemanggilan makhluk halus dari empat penjuru mata angin.Disamping itu,datuk ini juga bertugas menjaga lingkungan dari gangguan ghaib ,memulihkan penari yang kesurupan dan mengendalikan makhluk halus yang merasuki pemain.Mereka juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar acara berlangsung aman dan tidak terjadi suatu yang tidak diinginkan.Dipersiapkan pula sesaji (sajen) sebelum acara tari kuda lumping digelar berupa bunga , pisang rajamala ,ayam muda,nasi tumpeng,kemenyan dll.
Kalau saya melihat dengan kepercayaan saya ,mustahil atraksi atraksi berat yang mereka lakukan itu dilakukan dengan sadar .Dan kelihatan sekali jika mereka memang dikendalikan oleh sesuatu yang bukan jati diri mereka sendiri.Dalam agama yang saya anut mempercayai kehidupan lain selain kehidupan manusia yaitu kehidupan alam Jin.Jadi saya meyakini bahwa yang merasuki raga mereka adalah makhluk halus dari golongan Jin.Karena saya menyaksikan sendiri ketika seorang pemimpin kuda lumping dialog dengan seorang yang kesurupan.Uniknya para pemain yang kesurupan itu berbicara dengan suara mengerang dengan logat jawa kuno.Salah satu pemain yang kesurupan mengatakan kalau dia sudah berumur 800 tahun,berasal dari gunung kidul dan mau pulang jika dipenihi permintaannya.Dan tentu saja yang berbicara itu bukan dari jiwa sendiri ,secara mana mungkin manusia bisa berumur 800 tahun.
Pemain kuda lumping mengaku bahwa jika sedang kesurupan mereka tidak sadar sama sekali sehingga tidak mengingat apa apa yang dilakukan.
Bukan itu saja,penonton yang menyaksikan acara seni kuda lumping pun bisa ikut kesurupan dan meloncat ketengah tengah arena.Dalam keadan tidak sadar,para penonton yang ikut kesurupan itupun ikut menari dengan gaya enerjik persis seperti seniman yang sudah berlatih bertahun tahun.
Mengenai keterlibatan makhluk halus ini sih tergantung dari kepercayaan masing masing.Bagi yang belum pernah melihat adegan seni kuda lumping ini datang saja ke daerah Malang.Jika beruntung Anda akan menyaksikan sajian dari seniman kuda Lumping dari Tumpang yang terkenal menegangkan dalam setiap araksinya.Anda pun bisa mengusulkan diri untuk ikut kesurupan kepada sang dukun kuda lumping,dengan senang hati permintaan Anda akan dituruti.
Bisa membahayakan.
Khususnya didaerah saya,Malang pertunjukan seni kuda lumping ini merupakan pagelaran seni yang bisa membahayakan baik penonton ataupun pemain itu sendiri.Karena pemain yang kesurupan bisa memiliki 3 kali lipat tenaga dari manusia normal dan bisa mengamuk jika diganggu.Bentuk keusilan penonton biasanya swiitt switt...dengan mulut.Pemain kesurupan yang marah bisa langsung menyerang jika terlepas dan bisa menemukan pelaku dan bahkan ngawur kepada siapa saja didekatnya.Yang ditakuti jika seorang pemain kesurupan yang marah sedang membawa Barongan (caplokan),karena dia akan memukulkan barongan yang terbuat dari kayu dengan bobot rata-rata 15-20 kg ke arah kepala.
Insiden seperti in suda seringkali terjadi dan bahkan ada yang terluka parah dikepala sampai dengan meninggal dunia.Menakutkan nggakkk?......
pada segmen Buto lawas inilah biasanya penari akan mulai kesurupan dan bahkan para penontonnya sekalian.Tari Buto lawas ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari.
Properti yang biasanya dipakai dalam tari kuda lumping
- Kuda boongan dari anyaman bambu.
- Celeng (babi hutan boongan dari anyaman bambu.
- Barongan (caplokan) Bentuk kepala Naga yang seram terbuat dari kayu dengan berat sekitar 15 kilograman.
Lebih sederhana dari seni karawitan,hanya terdiri dari kendang,gong,gamelan pelog,kenong dan selompret(terompet khas kuda lumping).Tetapi ada juga grup kesenian kuda lumping ini lebih memoderenisasi peralatan musik mereka seperti menambahkan Drum,gitar elektrik dan bass elektrik.Rupanya mereka ingin menampilkan kualitas yang bagus sekalian sound musiknya juga.Wah yang ini malah lebih menarik nih.....Jika mau beli CD nya,banyak yang beredar di toko CD.
Nyunggi Lumpang : Atraksi memanggul alat penumbuk padi tradisional yang terbuat dari batu yang memiliki berat setara dengan berat orang dewasa gemuk.
Monday, September 19, 2011
Seni Budaya dalam Perputaran Zaman
Karakteristik budaya Jawa itu terbuka. Seni budaya Jawa sebagai bagian budaya Jawa juga terbuka. Ketoprak Mataram termasuk di dalamnya. Mempertahankan ketoprak Mataram dalam bentuk aslinya hampir mustahil. Jika kemudian lahir ketoprak garapan, ketoprak ringkes, ketoprak plesetan, ketoprak humor, dan ketoprak campursari, merupakan konsekuensi logis dari pengaruh “budaya asing”. Inilah makna separo dari wong Jawadalam konteks ketoprak mataram. Ketoprak mataram menurut pakem yang kental muatan pendidikan karakter mulai terkoyak.
Thursday, May 12, 2011
Obituari
Menghadap Sang Maha Dalang
Ki Timbul Hadiprayitno atau Mas Tumenggung Cerma Manggala adalah dalang wayang kulit purwa senior. Lahir di desa Jenar, Bagelan, Purworejo pada tahun 1932. Darah seni dan bakatnya mendalang harus diakui tidak datang secara tiba-tiba, meskipun jelas dari garis keturunannya.
Pada awalnya Timbul yang masih bocah itu memang sudah menunjukkan kelebihannya dalam bermain wayang. Kemampuan ini didapat dari kakeknya, Ki Gunawarto.Hidup dan kehidupannya sejak kecil yang berada dalam lingkungan pedhalangan, sebab semua kerabatnya adalah dhalang, merupakan proses mematangkan kemampuan penguasaan pedhalangannya.
Di dorong oleh motivasinya yang tinggi, pada tahun 1956, Timbul masuk ke Habirandha, pawiyatan pedhalangan milik Kraton Yogyakarta. Disinilah Timbul mendapatkan gemblengan, pengetahuan baik teori, retorika serta filsafat tentang wayang yang menjadi bekalnya kemudian sebagai dalang.
Kerja kerasnya tidak sia-sia. Mula-mula Timbul menggelar pementasanya di daerahnya. Eksistensinya sebagai dalang semakin mendapat pengakuan luas, terbukti kemudian Ki Timbul Hadiprayitno menguasai Yogyakarta bagian Selatan, Utara, Timur dan Barat. Namanya terus melambung. Pada dekade 80-an, Ki Timbul Hadiprayitno melawat ke Lampung, Lombok, dan ke London (Inggris) dan India.
Banyak lakon yang sudah digarapnya disamping menyajikan lakon-lakon baku yang sudah ada. Sebagai dalang Ki Timbul Hadiprayitno menampakkan cirinya yang khas yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecintanya: sabet, filsafat serta kesetiaannya yang tidak bisa ditawar pada dunia seni pewayangan klasik gagrak Yogyakarta dengan pakem yang sangat kental. Prinsip ini seakan tidak tergoyahkan bahkan sampai sekarang ketika para dalang-dalang muda bermunculan.

Kompetensi seorang dalang, lengkap melekat pada Ki Timbul Hadiprayitno. Disamping penguasaan, sanggit, sabet, antawecana, dan kemampuan dasar lainnya yang sangat kuat, Ki Timbul Hadiprayitno juga menguasai wirama dan “gecul” sekalipun. Maka tidak mengherankan dalam pementasan, peran alus, kasar, luruh, lucu, ada di dalamnya. Jika pada umumnya para dalang “ngebon” penyanyi campursari untuk “nembang” dan pelawak untuk “ndhagel”, tidak demikian dengan Ki Timbul Hadiprayitno. Dirinya dengan dibantu para waranggana mampu untuk melakukan itu semua. Hal yang demikian juga dilakukan Ki Hadi Sugito (almarhum).
Berkait dengan penghargaan, Ki Timbul Hadiprayitno pernah menerimanya dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kodam V Brawijaya, Polda Jateng, TVRI Stasiun Yogyakarta, RRI Nusantara II Yogyakarta, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Fakultas Sastra UGM, mingguan Buana Minggu Jakarta, Pepadi dan masih banyak lainnya.
Sementara dari Kraton Yogyakarta tempat dimana ia mengabdikan dirinya sebagai abdi dalem, Ki Timbul Hadiprayitno mendapat paringan asma Mas Tumenggung Cerma Manggala, dan budaya dalam serat bratayuda (Cetakan I terbit Maret 2004), Teori Estetika untuk Seni Pedalangan (Cetakan I, terbit September 2004).
Selain itu juga mengerjakan penulisan Naskah dan Karya Seni, antara lain Smaradahana (1995), Ontran-ontran Mandura (1996), Dewa Ruci (1997), Prigiwa-Pregiwati (1997), Babad Alas Mertani (1999), Harjuna Wijimulya (2000), Sang Palasara (2001), Apologi Rama (2001) Tele Wayang serial Gathutkaca (1999-2000).
Pengalaman dalam program Pengabdian Masyarakat : Tim Penyuluhan Seni ISI Yogyakarta bidang seni pedalangan di DIY dan sekitarnya (1999 s/d 2001); Ketua PEPADI (Perstuan Dalang Indonesia) Prop. DIY dua periode sejak 1998 – 2001 dan 2001 – 2004; Anggota Dewan Kebijaksanaan SENA WANGI Jakarta (2001-2004); Ketua tim Sibermas ISI Yogyakarta (2001-2004) di Kab Gunung Kidul DIY Ketua Pendampingan UKM Perajin Kulit di Kec. Pajangan Bantul, Yogyakarta (2001).
Kecuali menjadi dosen tamu di ISI Yogyakarta, Ki Timbul juga membagi ilmunya sebagai pengajar di Pawiyatan Pedhalangan “Habirandha” Kraton Yogyakarta.
Selasa, 10 Mei 2011 pukul 01.25 Ki Timbul Hadiprayitno telah menghadap Sang Maha Dalang untuk selamanya dalam usia 79 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Dusun Panjangjiwo, Patalan, Jetis, Bantul pada hari yang sama pukul 14.00 Wib. Upacara pemakaman jenazah dihadiri oleh ribuan pelayat. Termasuk di dalamnya para pejabat pemerintah, budayawan, seniman, dan masyarakat luas. Tampak hadir pula Gusti Bandara Pangeran Hariyo Yudhaningrat dan Gusti bandara Pangeran Hariyo Prabukusuma dari Kraton Ngayogyokarta. Selamat jalan Ki Timbul, semoga khusnul khatimah. Karyamu tak terbatas oleh usiamu ………
(Dirangkum dari berbagai sumber oleh Ki Sugeng Subagya, Pemerhati Pendidikan dan kebudayaan).
Monday, August 16, 2010
Cakepan Sekar Macapat
“Duh Gusti Katampiya Tobat Kawula”
Karipta dening :
Ki Sugeng Subagya
Duh Gusti kang maha kwasa,
Maha mirah welas asih sayekti,
Luber ing kadarman tuhu,
Kawula anglenggana,
Mungkur saking pitedah sinartan kufur,
Laku nistha kebak dosa,
Nerak awisan wis mesthi,
Duh Gusti kula mertobat,
Tampi panguji tan kuwawi nyanggi,
Estu awrat sakelangkung,
Pemut kersa paduka,
Tinebihna walat ing salajengipun,
Punika sambat kula,
Mugi Gusti ngijabahi,
Duh Gusti enggal binuka,
Lawang tobat pangapura katampi,
Kori jahanam tinutup,
Swarga loka ingajab,
Pasrah lan sumarah ing pepadanipun,
Hidayah kaparingna,
Tumrap kula ingkang ringkih,
Duh Gusti Pangeran kula,
Paduka sesembahan mung sawiji,
Datan wonten sanesipun,
Kang saged mangapura,
Sedaya dosa lawan lepat ulun,
Sampun pasrah sumarah,
Ing pangajab wangsul fitri,
Ngayogyakarta, 1 Oktober 2006
Dipun tembangaken Ki Ngabdul ing Giyaran Pangkur Jenggleng TVRI Yogyakarta, Senin 16 Agustus 2010.
Cakepan Sekar Macapat
“Duh Gusti Katampiya Tobat Kawula”
Karipta dening :
Ki Sugeng Subagya
Duh Gusti kang maha kwasa,
Maha mirah welas asih sayekti,
Luber ing kadarman tuhu,
Kawula anglenggana,
Mungkur saking pitedah sinartan kufur,
Laku nistha kebak dosa,
Nerak awisan wis mesthi,
Duh Gusti kula mertobat,
Tampi panguji tan kuwawi nyanggi,
Estu awrat sakelangkung,
Pemut kersa paduka,
Tinebihna walat ing salajengipun,
Punika sambat kula,
Mugi Gusti ngijabahi,
Duh Gusti enggal binuka,
Lawang tobat pangapura katampi,
Kori jahanam tinutup,
Swarga loka ingajab,
Pasrah lan sumarah ing pepadanipun,
Hidayah kaparingna,
Tumrap kula ingkang ringkih,
Duh Gusti Pangeran kula,
Paduka sesembahan mung sawiji,
Datan wonten sanesipun,
Kang saged mangapura,
Sedaya dosa lawan lepat ulun,
Sampun pasrah sumarah,
Ing pangajab wangsul fitri,
Ngayogyakarta, 1 Oktober 2006






