Showing posts with label Falsafah. Show all posts
Showing posts with label Falsafah. Show all posts

Saturday, June 29, 2019

ILMU KAMUKSAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Sallahu allaihi wasallam;
Peksi Nala,
mulih he muliya,
he; Rengkulu, Saka Guru,
Sumuruping Kadratullah,
murub mumbul ing ngawang padhang,
haningali, hawang-hawang.
b. Awang dalem tinut dening iman;
Seg, padang teka padhang,
lah padhang, adoh katon cedhak,
katon byar padhang,
teka padhang,
Peksi Nala, wengakna lawang suwarga,
inepen lawang neraka.
c. Repp…. gregg….hiya iku Peksi Nala;
Kang misesa liyeping Karsa Mulya,
tan ana kerasa,
sampurna ing badane,
selamet sak parane,
teka sakajate! Amin, Amin, Amin!!!!
Bahasa Indonesia
a. Sallahu allaihi wasallama;
Peksi Nala,
Kembali…. hei…. kembalilah,
hei, Rengkulu, Matahari, Saka Guru,
yang meresap dikodratullah,
menyala dan membubung diangkasa cemerlang,
melihati langit dan angkasa.
b. Wahana-MU diturut oleh iman;
Seg, teranglah dan terang,
okh, terang, sekalipun jauh terlihat dekat,
kelihatan…. pyaar…. cemerlang terang,
sekonyong-konyong………. terang,
Peksi Nala, bukalah pintu surga ini,
tutuplah pintu neraka ini.
c. Repp…. gregg….yaitu Peksi Nala;
Yang misesa liyepnya Karsa Yang Mulia,
tiada terasa apa-apa,
sempurnalah dibadannya,
selamatlah kemana perginya,
sampailah segala niatnya! Amin, Amin, Amin!!!!

Makna bait-bait wirid di atas khusus bagi orang yang akan menuju keakhir kejadian, atau sewaktu kita hendak ajal! Karenanya, dilarang untuk bahan pembicaraan, menjaga kemurnian sastra tersebut, kalau memang diperlukan hanya dua kali di ucapkan untuk “menolong” orang-orang yang akan meninggal dunia, artinya hanya di peruntukkan dua orang pada hari itu bilama (di desa) tempat kita terdapat kematian!
Kalau wirid dibait-bait tersebut hanya dibaca saja tanpa pengertian yang mendalam samalah artinya kalau kita sewaktu meneriakkan slogan-slogan reklame; seyogyanya dihafal serta mengerti satu persatu apa dan dimana, surga, neraka dan akhirat serta bagaimana cara menyelaraskan wahana tersebut. Saya yakin apabila tidak disebar luaskan, maka Ilmu Kamuksan di atas akan lenyap bersama orang-orang Tua-tua yang mempunyai Ilmu itu atau Wirid Ilmu Khaq Sejati yang sempurna, dikarenakan uleh dua faktor:

Pertama, orang Tua-tua kita masih merahasiakan,
Kedua, dibawa oleh puputnya umur orang-orang tersebut!!!
Sungguh-sungguh akan berterimakasih para jiwa-jiwa yang meninggalkan badannya setelah mendapat “wisikan atau bisikan” bunyi ilmu tersebut, karena peribahasa memberikan tongkat orang yang akan tergelincir, atau memberikan obor orang yang sedang kegelapan!!!
Cara untuk mengamalkan ilmu tersebut (kepada siapa ilmu itu diberikan), terserah kepada para pembaca, kalau tidak dengan wajar sebagaimana Guru mengajar muridnya, (seyampang orang-orang selagi hidup) setidak-tidaknya “berikan ilmu” ini terhadap orang yang akan menemui ajal dengan cara membisikkan melalui telinga kirinya!!!
Dengan demikian mulai sekarang, dari pada kita dicekam rasa kecewa dibelakang hari, sebab pada alam Sakarotilma’oti tidak seorangpun akan dapat menolong kita, sekalipun dengan suatu “matram” yang dianggap ampuh!!!
Untuk lebih memudahkan dan meresapi dalam mengamalkan ilmu tersebut, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. “Peksi Nala” artinya : Peksi = burung, sedangkan Nala = hati (dari bahasa Kawi), jadi maksudnya hati laksana burung.
Sedangkan “Ilmu Kamuksan” berasal dari bahasa Kawi yang artinya : mati dengan disertai badannya, wadagnya atau jasadnya, hal-hal mana dulu banyak dilakukan para leluhur kita seperti para Raja-raja, Pandhita-pandhita pada zamanya!”.
“Rengkulu, Srengenge-srengenge (matahari), Soko Guru” artinya : Rengkulu = bantal, Srengenge-srengenge = sifat panas, Soko Guru = tiang rumah yang jumlahnya empat; kiasannya, hati manusia itu sadar-taksadar-selalu bersandar kepada empat nafsu yang selalu panas!”.
“Sumuruping Kodratullah” bahasa ini mempunyai dua makna : “sumuruping” atau dapat diartikan meresap atau telah mengetahui. Bila “sumurup” ini disamakan dengan “surup” akan menjadi “kesurupan” artinya dimasuki; jadi yang tepat adalah “meresapi”, jelasnya semua pekertinya bathin yang berpangkal dari “hati” itu, benar-benar diresapi oleh kodratnya Allah atau hati adalah benar-benar bekerja atas kuasanya Allah! Ingat bahwa semua yang lahir maupun yang bathin adalah kehendak dan af’al-Nya!.

b. Yang terpenting dalam pengamalan Peksi Nala sewaktu “mendobrak” pintu surga dan neraka, selanjutnya surga dan neraka adalah “jodohnya” atau dapat diganti dengan sebutan : senang atau susah, sehat dan sakit adalah satu rasa yang dirasakan oleh hati, di dalam dalil Qur’an diterangkan bahwa azab neraka berpangkal dari tiga pintu, tetapi pintu-pintu yang sebenarnya berjumlah tujuh!.
Uraian-uraian selanjutnya sejajar dengan Wirid Hidayat Jati. Inilah hakekatnya dari pada Roh dan Hati Surga dan Neraka :

1. HATI PU’AT : ialah jantung, pintunya di puser, rohnya disebut Rohullah; Surganya dinamakan Jannatul Na’iem, maksudnya lebih nikmat, buktinya tidur pulas. Nerakanya Jahanam, artinya lebih panas, buktinya lapar dan sakit perut!

2. HATI MUZARAT : YAITU Syulbi, pintunya di zakar, rohnya Roh Qudus, Surganya Jannatul Adnin, maksudnya lebih elok, buktinya keluar mani, Nerakanya Zakinn, artinya lebih dingin, buktinya waktu mandi zinabat, atau kencing!

3. HATI TAWAJUH : yaitu perut, pintunya di anus (zubur), rohnya Roh Syirikul’alam, Surganya Jannatul Thawwab, maksudnya puas, buktinya kentut dan berak; Nerakanya disebut Wailun maksudnya lebih sakit, buktinya waktu sakit berak dan berak darah!

4. HATI SALIM : yaitu ginjal, pintunya di hidung, nafsunya Mutmainah; warnanya putih, kerjanya mencium, membau, rohnya Roh Ruhkani; Surganya Jannatul Firdaus, artinya lebih lama, buktinya keluar masuhnya nafas; Nerakanya disebut Asfala’safilien, maksudnya sesak nafas, tandanya sakit mengi (sesak nafas)!

5. HATI SANUBARI : yaitu limpa, pintunya di mata, nafsunya Sufiyah, warnanya kuning, pekernya melihat, rohnya Roh Rabani; Surganya Jannatul Syamsi, artinya lebih terang, buktinya mengetahui segala yang ada; Nerakanya Syahhir, artinya gelap, nyatanya sakit lamur atau buta!


6. HATI MAKNAWI : yaitu empedu, pintunya di telinga, nafsunya Amarah, warnanya merah, rohnya Roh …. (?); Surganya Jannatul Ma’oti, artinya lebih elok, buktinya perpaduannya suara; Nerakanya Laliem, maksudnya pepet, nyatanya sakit telinga atau tuli!

7. HATI SAWADI : yaitu usus, pintunya mulut, nafsunya Aluamah, rupanya hitam, pekertinga bicara, rohnya Roh Ilafi, Surganya Jannatul Syukhri, artinya lebih suka, nyatanya tertawa; Nerakanya Sukhra, maksudnya risi, nyatanya waktu menangis!
Makna sebenarnya dari Ilmu Kamuksan diatas terletak bulat-bulat pada kesempurnaan badaniah yang mengharuskan kesehatan disamping latihan bathin yang khusus bagi kebatinan! Apakah hanya dengan membaca wirid Ilmu Kamuksan tersebut akan otomatis begitu saja setelah ajal kita sampai, kemudian badan dan jiwa sempurna dan lenyap? Syukurlah kalau wirid diatas tanpa dipelajari dan tanpa syarat-syarat apapun dapat menyempurnakan pati dan hidup kita! Kalau jawabannya “belum” percumalah, walaupun bagaimana keampuhan wirid-wirid tersebut tetap tidak akan dapat menolong! Sesuai falsafah Jawa, asal kita dapat melatih Semedi pada jam-jam tertentu dengan melatih juga “mengembalikan” kondisi aslinya indriya-indriya tersebut misalkan : kembalikan suara, artinya melatih tidak mendengar sesuatu, kembalikan bau artinya hidung berhenti dulu tidak membau dan sebagainya; bukan berarti seperti zaman yang sudah-sudah kita diharuskan mengembalikan “suara kepada yang punya suara”, dalam pemikiran timbul gugatan “Siapa yang punya suara”?
Menurut Wirid Hidayat Jati “Iradatnya Dat” dalan bahasa Indosnesia-nya kurang lebih sebagai berikut : ………. karena sebenar-benarnya yang menjadi larangan atau pantangan dari para ulah Ilmu Kasampurnan itu hanya terletak pada “nafsu”. Kalau dapat mengikis (mengurangi) biasanya timbul hati yang awas dan ingat (awas lan emut, Jawa).
Karena benar-benar bahwa kita hidup melulu pengemban rasa dengan keterangan-keterangan Hidayat Jati tersebut benar dan nyata bahwa surga dan neraka yang berpintu tujuh dari poko asalnya (salurannya) berpintu tiga bukan di “sana-sana” tetapi disilah, dibadan kita yang keselurahannya minta perhatian khusus, agar tidak nyeleweng yang dapat menimbulkan rasa-rasa yang kita inginkan! Sesungguhnya memang Peksi Nala-lah yang dapat mempengaruhi, misesa, memerintah atau mengendalikan semua hasrat-hasrat lahir bathin; karenanya benar-benar sukses atau tercapai segala tujuan, hanya terletah pada hati!.
Harap diingat bahwa wirid tersebut sekali lagi hanya dapat “MERINGANKAN”“DARI TIADA RASA KE TIADA RASA”!! Amin, Amin, Amin. jalannya Roh waktu meninggalkan badan sewaktu ajal, agar tidak terperosok ke alam penasaran, lebih-lebih kalau mulai sekarang kita amalkan dan hayati sesuai petunjuk Guru masing-masing, insya’allah ajal kita menuju sempurna, kembali ke asal awalnya 
Sumber buku Wedaran Wirid III, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono.
—————————
Alang Alang Kumitir


sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

MENGUNGKAP SANDI ROHANI ALAS KETONGGO

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Budaya Jawa menyimpan dan menyelinapkan tabir-tabir misteri sebagai inspirasi spirit dan mental yang berwujud sanepan dengan makna yang tersirat, bukan tersurat bagi generasi-nya, agar tidak lengkang oleh perkembangan zaman. Alas Ketonggo sebagai satu contoh yang tempatnya menyimpan legenda dan mitos di dalam angan-angan dan impian di dalam pikiran, perasaan dan budi. Ada banyak masyarakat yang hanyut pengertian dan pengetahuannya untuk meyakini dan mempercayai Alas Ketonggo dengan makna tersurat atau lahiriah. Hingga tidak tanggung-tanggung secara mentah menjadikan Alas Ketonggo sebagai ajang pencarian inspirasi demi perkembangan mental dan spiritnya. 



Dimanakah letak yang hakiki untuk menyikapi Alas Ketonggo, secara tersurat atau tersirat? Guratan tinta inilah yang akan mengupas tuntas apa yang seharusnya kita mengerti dan pahami agar diri kita tidak tersesat di dalam pengetahuan dan pengertian.

Alas Ketonggo secara lokasi atau obyek bertempat di Alas Purwo. Selain itu di Kalasan Yogyakarta disebut Bathok Bolu Isi Madu, di Wonosari, di Ngawi dengan sebutan Alas Ketonggo Kapetak, di Blora di dekat masyarakat Samin juga menyebut Alas Ketonggo, juga di Temanggung tempat Angling Darmo, dll. Kesemuanya tempat itu diyakini masyarakat setempat sebagai pusat kraton gaib yang terus dibangun dan tak kunjung selesai. Inilah guratan tinta untuk menjelaskan pengertian dan pengetahuan yang sebenarnya, agar berfungsi peran di dalam pengetahuan kita bersama. 



1. Alas Ketonggo, “alas” berarti hutan, dasar pokok atau keramaian. Ketonggo berasal dari kata “katon” (terlihat) dan “onggo” (makhluk halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan.

2. Siapapun yang meyakini kekuasaan Tuhan harus meyakini adanya alam rohani, tempat kehidupan makhluk-makhluk rohani atau gaib.

3. Ada kehidupan setelah terjadi kematian, yaitu alam kehidupan gaib atau alam rohani bagi para arwah yang telah meninggalkan dunia atau alam kehidupan jasmani.

4. Siapapun yang hendak menuju kehadirat Tuhan-nya esok sebagai tujuan atau perjalanan akhir harus memahami alam kehidupan rohani. Jelasnya, siapapun untuk tertuju kehadirat-Nya harus melewati tujuh lapisan alam kehidupan rohani atau harus melewati perjalanan langit ke tujuh.

5. Selagi dirimu hanya terbelenggu oleh pengetahuan akal alam jasmani dengan mengandalkan perangkat tubuh jasmani dan inderanya, dirimu tidak akan pernah mampu mengerti dan memahami dimensi kehidupan alam gaib itu.

6. Mengetahui alam kehidupan jasmani sebagai pijakan dasar yang tidak boleh ditinggalkan selagi menjadi manusia. Namun tujuh alam kehidupan rohani juga harus kau alami dan ketahui.

7. Untuk mengetahui kehidupan alam rohani, dirimu harus memahami sinandi Alas Ketonggo, yang sesungguhnya kehidupan buwana alit-mu. 

8. Bukankah dirimu sering mengalami kekosongan, keheningan dan kesepian seperti di tengah hutan lebat yang jauh dari aktivitas manusia. Tentu di dalam kesepian, kekosongan dan keheningan akan menjumpai keramaian yang melebihi aktivitas alam jasmani yang senyatanya. Itulah pengertian dasar Alas Ketonggo. 

9. Kosong adalah isi, isi adalah kosong. Maya itu katon dan katon itu maya. Itulah pokok-pokok pengertian rohani Alas Ketonggo yang sesungguhnya menyimpan rahasia atau tabir pengetahuan dan pengertian untuk cerdas dan tangkas menyikapi kehidupan bersama.

10. Memahami sifat dan peran fenomena energi hawa dan nafsu di dalam kehidupanmu akan mengungkap segala pencarian aktivitas keramaian akan mendapatkan kesepian dan mencari keheningan dan kesepian akan mendapatkan keramaian. Hanya orang yang beralaskan kesadaran saja yang mampu mengungkap rahasia itu. 

11. Alas Ketonggo adalah ekspresi kehidupan jiwamu yang terdapat fenomena energi hawa dan nafsu yang harus kau kendalikan dan kau atur demi kebaikan hidupmu dan sesamamu. 

12. Fenomena energi hawa dan nafsu di dalam jiwamu ada pada pikiran, perasaan dan budimu yang syarat dengan adanya kegiatan maya dan samar seperti angan-angan, harapan, khayalan, imajinasi dan impian. Bukankah fenomena energi itu seperti aktivitas makhluk halus di alam maya atau alam rohani yang sulit ditentukan oleh siapapun yang tidak mengetahui dan memahaminya.

13. Siapapun yang mampu menyatakan segala perwujudan yang maya dan samar maka disebut mengalami alas ketonggo.

14. Melihat atau menyaksikan, mengalami hingga terampil bertahan hidup di alas ketonggo (jiwa) adalah yang seharusnya kau alami dalam kehidupanmu saat ini, agar dirimu membuahkan cipta, rasa dan karsa karya nyata untuk membangun hidup dunia bagi sesamamu

15. Siapapun yang telah lulus dari alas ketonggo akan menjadi pemimpin bagi umat manusia dan segenap makhluk hidup beserta alam semesta ciptaan-Nya.

16. Jangan sampai hidupmu dikuasai oleh jagat onggo-onggo atau jagatnya para dedemit atau makhluk halus yang serba menebar kebingungan, kekhawatiran, ketakutan, mudah heran (gumunan) tetapi kita yang harus menguasainya. Oleh sebab itu, kuasailah Alas Ketonggo (jiwamu).

17. Menguasai Alas Ketonggo akan memahami pengertian Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwataning Diyu, agar dirimu tidak dikuasai oleh mereka yang menguasai segala hal yang samar atau yang tidak jelas, seperti kekhawatiran, kebingungan, ketakutan, dll.

18. Pada dasarnya ketakutan, kekhawatiran, kebingungan dan ketakutan hanyalah bagi siapapun yang belum genap pengertian dan pengetahuannya. 

19. Selama dirimu mengalami ketakutan, kekhawatiran dan kebingungan, berarti dirimu masih dikuasai dan dibelenggu oleh setan atau iblis beserta walinya, yang berkarya menguasai dan membelenggu hidupmu.

20. Alas Ketonggo adalah sinandi bagimu yang harus kau ketahui rahasianya, agar dirimu genap disebut manusia yang hidup karena titah Tuhan, bukan hidup karena asal atau waton hidup. 

21. Siapapun yang belum memahami apa yang tersirat dalam Alas Ketonggo akan tersesat, karena sebuah dasar pengetahuan pokok dalam melakukan perjalanan hidup yang sekaligus sebagai perjalanan rohani. 

22. Sejarah serta jati diri dan identitas bangsamu tersimpan memorinya di dalam alas ketonggo. Dirimu akan mengungkapnya dengan melihat aktivitas leluhurmu di alam rohani alas ketonggo.

23. Memasuki alas ketonggo akan membuat dirimu cerdas, berpengetahuan dan berpengertian luas untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada. 

24. Bahkan segala pengetahuan yang telah punah dan sirna oleh zaman masih tersimpan rapi di alas ketonggo, tentu mendapatkannya dengan berinteraksi di dalam pengetahuannya.

25. Siapapun yang berhasil mengupas Alas Ketonggo akan menjadi sosok pemimpin, sebab dengan pengetahuan dan pengertiannya akan membuahkan terang bagi yang mengalami kegelapan pengetahuannya dan menjadi pembebas penderitaan. 

26. Bangsa yang jaya tetap terus berjuang menemukan dan mempertahankan jati diri dan identitasnya, dengan berjuang mencapai pencerahan atau kemerdekaan menuju kedamaian, ketentraman dan kemakmuran baginya. 

27. Bukankah kesengsaraan dan derita adalah simbol daripada neraka dan simbol kebahagiaan, kemerdekaan, kebebasan, pencerahan, kemakmuran, kedamaian dan ketentraman adalah simbol surga 

28. Satria piningit akan muncul dari alas ketonggo, dengan tanda munculnya bathok bolu isi madu adalah sinandi bagi perjalanan rohani.

29. Bathok Bolu Isi Madu adalah makna tersirat dalam Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwataning Diyu yang diawali dengan pembukaan delapan lubang atau pintu gerbang energi kehidupan agar terbuka pintu yang kesembilan.

30. Hanya Satria piningitlah dalam pengertian tersirat yang mampu membuka kedelapan pintu gerbang atau yang disebut Bathok Bolu Isi Madu.

31. 32. Olehnya, ke delapan pintu gerbang terbuka di dalam bathok bolu isi madu oleh satria piningit, kemudian satria piningit mampu membuka pintu gerbang kedelapan, maka satria piningit menjadi Ratu Adil.

32. Munculnya bathok bolu isi madu sebagai tanda keberhasilan satria piningit, jika berhasil membuka pintu gerbang kebebasan dan pencerahan hidup.

33. Pintu gerbang kesembilan jika terbuka maka satria piningit akan melepaskan ikatan duniawi lapis tujuh, hingga disebut sebagai Ratu Adil atau Hingkang Sinuwun atau Ingsun.……

34. Satria piningit itu adalah dirimu atau pribadi sejatimu atau roh sejatimu yang menguasai hidupmu, yang disebut Ingsun.



Mengapa alas ketonggo menjadi sinandi pencerahan rohani dan jasmani beserta kejayaan umat manusia, di dalam pengetahuan luhur budaya Jawa?

1. Alas walaupun disebut hutan yang oleh beragam makhluk hidup seperti pepohonan, hehewanan serta makhluk halus yang berasal dari arwah-arwah para leluhur masa silam, sebagai ekspresi fenomena hawa dan nafsu kita semua, yang liar dan terkendali.

2. Sinandi alas ketonggo sebagai sinandi kehidupan jagat cilik (hawa dan nafsu-kita) dan jagat gedhe (alam semesta).

3. Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak boleh meninggalkan budaya dan sejarah masa lalu.

4. Alas Ketonggo tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat Tuhan, dan masih menyimpan rapi di dalam tubuh halus maniknya.

5. Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan identitas bangsa-mu di Alas Ketonggo. Oleh itu, kehidupan para arwah leluhur masih aristokrat, sesuai peradaban budayanya lalu. 

6. Peradaban budaya beserta nilai-nilai luhur masa silamnya menyimpan potensi kekuatan identitas dan jati diri bangsa-mu. Apabila bangsa-mu ingin jaya dan menjadi terang dunia harus berpijak pada budaya atau jati diri dan identitasmu.

7. Jangan melupakan sejarah atau budaya leluhur-mu, jika melupakan sejarah dan budaya-mu dari situlah kelemahan bangsa-mu.

8. Pahamilah sandi Alas Ketonggo, sebab dialah yang menyimpan sejarah, rahasia dan kenangan masa lalu yang membantu dirimu untuk menemukan jati diri dan identitasmu.

9. Bukankah bangsamu mengalami krisis keyakinan dan kepercayaan akan jati diri dan identitasmu. Artinya bangsamu telah asing mengenali potensi dirinya.

10. Bahkan bangsamu tidak mengetahui dan menyadari kekrisisannya. Itulah bencana akibat meninggalkan pilar dan pondasi budayanya.

11. Negara dan bangsa manapun akan mengalami kejayaan jika telah menemukan jati diri dan identitasnya (budayanya) dan itu tersimpan dalam sandi Alas Ketonggo.

12. Walaupun sandi Alas Ketonggo disebut dan dikatakan mitos bagi pemahaman modern, tetap mereka jaya sebagai pusat pemikiran dikarenakan berangkat dari mitos atau yang disebut angan-angan, harapan, cita-cita, impian, dll.

13. Bangsa manapun tidak akan maju dan jaya jika meninggalkan angan-angan, harapan, cita-cita, keinginan, kehendak, harapan, impian yang kesemuanya adalah simbol mitos. 

14. Lihatlah bangsa-bangsa yang telah jaya, mereka mengawali kejayaannya dengan kesadaran kolektif mitosnya di dalam jiwa pikiran, perasaan, budi dan perilaku indera jasmaninya atau cipta, rasa dan karsanya.

15. Alas Ketonggo sandi untuk menggali jati diri dan identitasnya sebagai awal mengumpulkan kekuatan untuk terbebaskan dari kesengsaraan, derita, ketidaktentraman dan ketidakdamaian, ketidakmakmuran, kemiskinan dan belenggu bangsa-mu.

16. Bangsa yang telah jaya menggali budaya asalnya sendiri melalui prosesi sinandi alas ketonggo dengan menghormati perjuangan leluhurnya. 

17. Bagaimana bangsamu atau dirimu akan mendapatkan pencerahan dan kemerdekaan hidup bagi bangsamu, jika dirimu saling berjuang demi kepentingan dan kekuasaan kelompok-mu. 

18. Salah satu nasehat sinandi Alas Ketonggo,“Janganlah energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan menyalakan api kesengsaraan yang menambah dirimu atau bangsamu saling terbelenggu dan membelenggu”.

19. Jika energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan atau bertabrakan maka dirimu akan saling memiliki kebingungan, saling memiliki kekhawatiran, saling memiliki ketakutan, sekalipun hal itu terungkap atau tidak terungkap.

20. Masuklah ke alam alas ketonggo, disitulah banyak pengetahuan yang mengisi kekurangan dan kelemahanmu, agar dirimu tidak mudah bingung, takut, khawatir, menderita dan sengsara, dll.

21. Jika dirimu mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, ambillah potensi lebihnya dan jadikan kelemahannya menjadi hikmah, agar dirimu trampil menghimpun kekuatan dan mengerti keinginan dan kehendak energi hawa dan nafsu untuk menyelamatkan generasi muda bangsa-mu.

22. Jika telah mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, para leluhurmu akan berinteraksi denganmu dan memberikan pengetahuan yang memubuat bangsa-mu jaya dan maju. 

23. Memasuki alas ketonggo diperlukan seni ketrampilan melepaskan belenggu tubuh jasmani, jika tidak memiliki hanya akan dapat kesunyian dan aktivitas kesendirian tanpa arti dan makna seperti melamun atau menghayal. 

24. Alangkah lebih lengkapnya jika dirimu yang memiliki kecerdasan akal jasmani, kemudian memiliki kecerdasan rohani di dalam pikiran, perasaan dan budimu, maka pengetahuan dan ketrampilanmu akan disebut seimbang. 

25. Sungguh keseimbangan diperlukan jika memasuki alas ketonggo, agar akal jasmani dipersiapkan agar tidak mengalami gejolak keterbatasan dengan kehidupan rohani.



sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

NASEHAT DARI AKSARA JAWA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

Oleh : BRM Panji Anom Resiningrum

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

A. Pembukaan Huruf Jawa

1. Huruf Ha

Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:

a. Api

b. Angin

c. Bumi

d. Air

2. Huruf Na

Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

3. Huruf Ca

Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.

4. Huruf Ra

Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.

5. Huruf Ka

Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.

6. Huruf Da

Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

7. Huruf Ta

Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

8. Huruf Sa

Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.

9. Huruf Wa

Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.

10. Huruf La

Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

11. Huruf Pa

Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).

12. Huruf Dha

Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.

13. Huruf Ja

Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.

14. Huruf Ya

Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

15. Huruf Nya

Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.

16. Huruf Ma

Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

17. Huruf Ga

Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.

18. Huruf Ba

Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.

19. Huruf Tha

Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).

20. Huruf Nga

Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20

1. Huruf Ha + Nga

Hanga berarti angan-angan.



Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:

1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.

2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.

3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.

4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.

5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.

2. Huruf Na + Ta

Noto, berarti ‘nutuk’.

3. Huruf Ca + Ba

Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

4. Huruf Ra + Ga

Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.

5. Huruf Ka + Ma

Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.

6. Huruf Da + Nya

Danya atau donya atau dunia.

Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.

7. Huruf Ta + Ya

Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.

8. Huruf Sa + Ja

Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.

9. Huruf Wa + Da

Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.

Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.



Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.

Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.



Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

10. Huruf La + Pa

Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.

Wallahua’lam

By alang alang







sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

KAWRUH DUMADING MANUNGSA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info


Sekar Dhandhanggula

Duk ing nguni ujar para winasis

Dumadining manungsa sakjagat

Kun fayakun sasabdane

Gusti Allah Maha Agung

Kang kacipta tumuli dadi

dhisik dhewe swasana

Nuli cahyanipun

Gusti Allah amasesa

Anyunari candra kartika myang rawi

Sakambaning swasana.

Nuli tirta Kamandanu mijil

Witing urip keh isining jagat

Kang wujud sari-sarine

Surya lan kamandanu

Sang Maruta yekti mratani

Sasaring maruta

Ireng warnanipun

Kang asma Manik Ismaya

Sari soroting surya rekta awarni

Asma Sang Manik Mulat.

Sari tirta kamandanu iki

Warna seta ran Manik Idama

Manunggaling manik kabeh

Tri Murti wastanipun

Sampurna yekti Dumadi

Kang nduwur Guru Loka

Sisih tengahipun

Ingkang asma Endra Loka

Jana Loka neng ngandhap dunungireki

Asarira Bathara

Tri Murti kang sumebar mratani

Ing akasa kacipta dumadya

Mahluk raga Cahya rane

Ing darat kang tumuwuh

Tetuwuhan myang satoweni

Jron bumi tuwuh dadya

Materi puniku

Wujud barang pamelikan

Wesi waja emas perak manik-manik

Tan gingsir owah

Dene kotoran maruta iki

Kasorot bentering bagaskara

Nuli malih dadi cuwer

Kang alus mili ngumpul

Yekti dadya pusating bumi

Inggih buwana punika

Kang kasar ya ngumpul

Aneng sisih pinggirira

Sampurnane dadi tirta Jalanidhi

Ing tengah wadhukira

Inggih asmane catur anasir

Inggih sadaya sari-sarinya

Agni tirta bantalane

Kapat marutanipun

Sampurnane manungggal yekti
Dadya wewadhagira
Wulu kulit balung
Daging otot lan ludira
Sampun pepak sampurna catur anasir wewadhaging manungsa
Guru Loka apa kang sayekti
Ngen angen nalar pikir lan akal
Endra Loka panganggone
Panca driya satuhu
Lawan rasa nepsu nireki
Kang nama Jana Loka
Rasa mulyanipun
Saking mriku mijilira
Tumuruning manungsa jalu lan estri Ngebaki jagat raya
Terjemahan lagu tentang ilmu terjadinya manusia
( Kawruh Dumadining Manungsa )
Dahulu kala kata para bijak
Terjadinya manusia di dunia
Kun Fayakun sabdaNya
Allah Yang Maha Agung
Apa yang dikehendaki lalu jadi
Yang pertama keadaan
Kemudian cahayanya
Gusti Allah yang berkuasa
Minyinari bulan bintang dan matahari
Seluruh angkasa raya.
Kenuddian Air kendhi keluar
Pepohonan hidup banyak mengisi bumi
Yang berupa intisarinya
Sinar dan air kendhi
Sang Angin sungguh merata
Inti sarinya angin
Hitam warnanya
Yang bernama Manik Ismaya
Inti sinar surya berwarna merah
Bernama Manik Mulat.
Inti sari air kendi
Warna putih dan inti keinginan
Bersatunya semua ini
Tri murti namanya
Kesempurnaan yang sungguh-sungguh terjadi
Yang diatas Guru Loka
Ditengahnya Yang bernama Endra Loka
Jana Loka dibawah tempatnya
Itulah bertubuhkan Bathara.
Tri Murti yang menyebar merata
Di angkasa tercipta kejadian
Mahluk yang bertubuh Cahaya namanya
Di darat yang bertumbuh
Tumbuhan dan binatang
Di bumi tumbuhan jadilah
Itulah yang tertancap
Wujud benda yang mempunyai maksud
Tak boleh gerak berubah
Sedangkan kotoran angin ini
Tersinari kecepatan cahaya matahari
Kemudian berubah menjadi encer
Yang halus mengalir berkumpul
betul-betul menjadi pusat bumi.
Yang kasar juga berkumpul
Disebelah pinggirnya
Yang akhirnya menjadi lautan
Ditengah perutmu.
Yang dinamakan empat unsur
Ya semua inti sarinya
Api, air, tanah keempatnya angin
Kesempurnaan sungguh2 bertemu
Jadilah badan kasarnya
Bulu, kulit, tulang, daging, otot dan darah
Sudah lengkap sempurna empat unsur Badan Jasmani manusia.
Guru Loka apa yang sungguh2
Angan-angan nalar dan pikiran
Endra Loka pakaiannya
Lima indra sebenar-benarnya
Juga rasa nafsu manusia.
Yang bernama Jana Loka
Rasa kemuliaan
Dari situlah keluar (jadi)
Yang menurunkan laki-laki dan perempuan
Memenuhi alam raya.


By alang alang





sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

FALSAFAH PANUNGGALAN

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
Asas Dasar Budaya Spiritual Jawa

(Tinjauan Selayang Pandang KAWRUH KEJAWEN)

Oleh: Ki Sondong Mandali

Pendahuluan

Hamit-hamit tabik kaliman,

Tertera dalam susunan acara pada Sarasehan Selasa Kliwon Yayasan Kanthil malam ini, temanya ‘Budaya Spiritual’. Maka saya yang didhawuhi sesorah menjadi gedandaban menyusun makalah yang sesuai tema. Apalagi saya sadar audiens yang akan saya sesorahi para tokoh

pinunjul semua. Jujur kawula rumaos grogi saestu. Meski didera kegamangan, maka malam ini saya mencoba ngaturaken ‘wacana bawarasa’ tentang ‘Falsafah Panunggalan’ sebagai Aras Dasar Budaya Spiritual Jawa. Wacana ini juga saya maksudkan sebagai tinjauan selayang pandang ‘Kawruh Kejawen’. Semoga saja wacana pemikiran saya ini bisa diterima dengan legawa. Sebagaimana kita ketahui, sejarah panjang Jawa telah ‘menerima’ sebaran budaya dan peradaban dari luar. Setidaknya ada sebaran budya dan peradaban besar dunia (Hindu, Buddha, Islam, Kristiani, dan modern sekuler) yang mengalir masuk ke ranah budaya dan peradabanJawa.

Melalui jejak sejarah kita bisa mengetahui bahwa budaya Hindu dan Budha dari Asia Daratan (India) pernah mengkooptasi dan mewarnai budaya Jawa selama lebih seribu tahun. Anehnya, ketika rejim wangsa-wangsa yang berasaskan budaya Hindu dan Budha tersebut surut, ternyata tidak meninggalkan komunitas Jawa pemeluk dua agama tersebut yang signifikan. Hal ini menarik untuk dikaji, karena mengesankan penerimaan Jawa terhadap agama Hindu dan Buddha sepertinya hanya di lapis luar atau ‘lamis’. ‘Inner’ budaya dan peradaban Jawa tetap utuh tidak banyak berubah.

Ketika masuknya budaya dan peradaban Timur Tengah (Arab dan Persia) melalui agama Islam, ‘inner’ budaya dan peradaban Jawa masih tidak bergeming. Bukti nyatanya, terlalu sedikit jumlah kaum ‘muslim Jawa’ yang mengerti dan paham ‘bahasa panembah’ mereka kepada Tuhan. Malah-malah terkesan ada pen-Jawa-an Islam yang dibuktikan dengan diadopsinya laku budaya selamatan Jawa oleh komunitas Muslim Jawa. Demikian pula ketika Jawa menerima aliran budaya dan peradaban yang berasaskan Kristiani. Pen-Jawa-an agama Katolik dan Kristen Protestan terjadi pula. Kedua agama Kristiani tersebut pada kenyataannya juga ‘mengadopsi’ laku budaya Jawa selamatan kelahiran, perkimpoian, dan kematian.

Di era modern jaman ini, Jawa menerima ‘aliran masuk’ budaya dan peradaban modern sekuler Barat yang ujung tombaknya ilmu pengetahuan dan tehnologi. Namun kenyataannya orang-orang Jawa yang ‘terintelekkan’ masih juga percaya ajaran leluhurnya. Setidaknya terindikasi dengan masih banyak yang ‘tunduk tak berani menentang’ terhadap kepercayaan Jawa tentang adanya ‘hari baik’ dan ’hari buruk’. Bisa dikatakan wong Jawa intelek pun masih menganut dan mengikuti pilihan ‘hari baik’ untuk menikahkan anak, bahkan dalam hal melaksanakan ‘serah terima jabatan’ di pemerintahan. Indikasi-indikasi tersebut di atas menunjukkan ada ‘ketangguhan’ budaya dan peradaban Jawa. Makalah ini mewacanakan penelisikan ketangguhan Jawa tersebut.

Falsafah Panunggalan.



‘Ketangguhan Jawa’ dalam bersinggungan dan berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain, sudah barang tentu disebabkan ketangguhan aras dasar budaya spiritualnya. Atau boleh dikatakan ada ‘ideologi’ yang terinternalisasi paripurna sampai ‘mbalung sungsum’ dan menjadi ‘otot bayu’ Jawa. Aras dasar budaya spirituil atau ideologi yang tangguh tersebut adalah ‘Falsafah Panunggalan’. Yaitu ajaran atau konsep pandangan hidup yang menyatakan bahwa ‘semua yang ada’ di alam semesta ini ‘manunggal’, merupakan ‘Maha Kesatuan Tunggal Semesta’.

Struktur sistim ‘Panunggalan’ berupa hubungan pancer mancapat (inti-plasma). Bertingkat-tingkat dari yang terkecil (misal: atom dan sel hidup) sampai dengan yang tak terhingga besarnya (alam semesta). Keseluruhannya tersatukan dalam jaringan ‘panunggalan’ secara ‘kosmis-magis’. Dalam Kawruh Kejawen, jaringan hubungan kosmis-magis tersebut diibaratkan sebagaimana hubungan antar ‘jaringan sel’ yang membentuk ‘tubuh manusia hidup’. Semua jaringan sel dalam tubuh saling terhubungkan secara harmonis oleh ‘Urip’ sehingga ‘Ada’.

Piwulang Jawa tentang awal mula tergelarnya alam semesta dinyatakan dengan simbolisasi peristiwa diremasnya ‘antiga’ oleh Hyang Wisesaning Tunggal sehingga tercipta 3 (tiga) unsur semesta: bumi lan langit, cahya lan teja, dan Manikmaya. Bumi lan langit merupakan unsur semesta berupa materi, cahya merupakan unsur cahaya yang terindera, teja merupakan cahaya yang tidak terindera semisal gravitasi bumi dan medan kosmis antar benda angkasa. Sedang Manikmaya merupakan roh atau suksmanya seluruh alam semesta serta seluruh isinya.

Ketiga unsur semesta tersebut sama-sama merupakan derivasi (tajali, emanasi) dari ‘Hyang Wisesaning Tunggal’ yang dalam Kawruh Sangkan1 disebut dengan istilah ‘Guruning Ngadadi’. Maka, karena sesame derivasi ‘Guruning Ngadadi’ ketiga unsur semesta tersebut manunggal, ‘Ada’.

Seluruh ‘titah hidup’ menurut pandangan Kejawen tersusun dari ketiga unsur semesta tersebut. Artinya, bahwa ‘ada’-nya titah hidup (termasuk manusia) ‘dijadikan’ dari unsur bumi lan langit (materi), cahya lan teja, dan Manikmaya atau ‘Dzat Urip’ yang disebut juga ‘Pangeran’. Pemahaman ini rujukannya pada wejangan 1 s/d 3 dari ‘Wejangan Wolung Pangkat” sebagai berikut:

1.Wejangan pituduh wahananing Pangeran :

Sajatine ora ana apa-apa, awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhihin iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun sajatining kang urip luwih suci, anartani warna, aran, lan pakartining-Sun (dzat, sipat, asma, afngal).

Sejatinya tidak ada apapun, sejak masih awang-uwung belum ada pembilangan, belum ada nama dan belum ada sesebutan (durung ana sawiji-wiji) yang ada terdahulu itu Aku (Ingsun). Tiada Pangeran kecuali Aku yang hidup lebih daripada suci, menyatakan wujud, warna, nama, dan pekerti-Ku (dzat, sipat, asma, apngal).

2.Wejangan pambuka kahananing Pangeran :

Satuhune Ingsun Pangeran Sejati, lan kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi ana padha sanalika saka karsa lan pepesthening-Sun, ing kono kanyatahane gumelaring karsa lan pakartining-Sun kang dadi pratandha :

Kang dhihin, Ingsun gumana ing dalem alam awang-uwung kang tanpa wiwitan tanpa wekasan, iya iku alaming-Sun kang maksih piningit.

Kapindho, Ingsun anganakake cahya minangka panuksmaning-Sun dumunung ana ing alam pasenedaning-Sun.

Kaping telu, Ingsun anganakake wawayangan minangka panuksma lan rahsaning-Sun, dumunung ana ing alam pambabaring wiji.

Kaping pat, Ingsun anganakake suksma minangka dadi pratandha kauripaning-Sun, dumunung ana alaming herah.

Kaping lima, Ingsun anganakake angen-angen kang uga dadi warnaning-Sun ana ing sajerone alam kang lagi kena kaupamakake.

Kaping enem, Ingsun anganakake budi kang minangka kanyatahan pencaring angen-angen kang dumunung ana ing sajerone alaming badan alus.

Kaping pitu, Ingsun anggelar warana (tabir) kang minangka kakandhangan paserenaning-Sun. Kasebut nem prakara ing ndhuwur mau tumitah ing donya, yaiku sejatining manungsa. (Dzat Urip kang ana ing raganing manungsa).

Sesungguhnya Aku Pangeran Sejati, dan berkuasa menciptakan segala sesuatu, menjadi ada seketika dengan kehendak dan kepastian-Ku, yang merupakan manifestasi kehendak dan pekerti-Ku dengan tanda-tanda:

Yang pertama, Aku bersemayam dalam jagad awang-uwung yang tiada awal dan tiada akhir, yaitu jagad-Ku yang masih dirahasiakan.

Yang kedua, Aku mengadakan cahaya sebagai media manifestasi-Ku menjelma di Jagad persemayaman-Ku.

Yang ketiga, Aku mengadakan bayangan sebagai media penjelmaan dan rahsa-Ku, bersemayam di jagad penggelaran wiji (benih kejadian).

Yang keempat, Aku mengadakan suksma sebagai pertanda kehidupan-Ku, bersemayam di jagad herah (hakekat darah).

Yang kelima, Aku mengadakan angan-angan yang juga menjadi warna-Ku ada di dalam jagad yang baru dapat diperumpamakan.

Yang keenam, Aku mengadakan budi sebagai kenyataan penangkaran angan-angan dan bersemayam di dalam jagad ruhani.

Yang ketujuh, Aku menggelar tabir (warana, hijab) pembatas persemayaman-Ku.

Enam perkara yang di atas Aku titahkan di dunia, yaitu sejatining manungsa (dzat urip yang ada dalam raga manusia).

3.Wejangan gegelaran kahananing Pangeran :

Sajatining manungsa iku rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake wiji kang cacamboran dadi saka karsa lan panguwasaning-Sun, yaiku sasamaning geni bumi angin lan banyu, Ingsun panjingi limang prakara, yaiku: cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen lan budi. Iku kang minangka embanan panuksmaning-Sun sumarambah ana ing dalem badaning manungsa.

Sejatinya manusia itu adalah rahsa-Ku, dan Aku adalah rahsa-nya manusia, karena Aku menitahkan ‘wiji cacamboran’ (benih campuran) yang maujud sebagai kehendak dan kekuasaan-Ku, yaitu hakekat: api, bumi, angin dan air yang Aku berkati lima perkara yaitu: cahya, cipta, suksma (nyawa), angan-angan dan budi. Itu semua seagai bingkai (embanan) penjelmaanKu meliputi dalam raga manusia.

Wejangan atau wirid tersebut di atas dengan sangat jelas menerangkan ‘ide panunggalan’ manusia dengan alam semesta. Diistilahkan dengan ‘jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’. Panunggalan’ untuk seluruh mahluk disebutkan pada Piwulang adanya ‘saudara gaib’ bagi manusia: ‘Sedulur tunggal dina kelairan’, yaitu semua anak titah ciptaan Tuhan yang bersamaan kelahiran dengan si manusia.

Panunggalan antar titah dumadi yang menyaudarakan manusia dengan semua ‘titah hidup’ bukan sekedar ‘wacana kepercayaan’, namun sudah menjadi laku budaya spirituilnya wong Jawa.

Contoh laku budaya spiritual tersebut:

1.Laku budaya ‘wiwit’, ritual sesaji saat akan memanen padi. Dalam ritual tersebut ada acara ‘mbuwaki’ sesaji di empat sudut bidang sawah dan tulakan (saluran pengairan ke sawah). Dilakukan anak-anak peserta ritual yang diajari pembacaan rapal: “Kaki Dhanyang Nyai Dhanyang Semara Bumi kang manggon ing pojok papat lan tulakan sawah, aku disraya mBok ……… menehake pepancenmu kang wus melu njaga lan ngreksa sawahe”. Ritual wiwit dan rapal ‘mbuwaki’ tersebut menunjukkan sikap menyaudaranya wong Jawa dengan ‘titah gaib’ yang disebut Dhanyang Semara Bumi. Dimana dalam hal ini, titah gaib tersebut ‘dianggap’ ikut membantu menjaga dan ‘ngreksa’ sawah hingga tanaman padinya selamat dan bisa dipanen.

2.Laku budaya ‘bancakan dhawet’ untuk hewan ternak yang melahirkan. Suatu laku budaya Jawa yang dilakukan pemilik ternak saat ternaknya melahirkan. Mangga direnungkan, laku budaya ini kiranya sangat mendalam kandungan wawasan spiritualnya.

3.Tradisi Jawa, pada setiap malam Jumat Kliwon atau malam hari wetonan melakukan sesaji sederhana dengan ‘kembang setaman’. Pagi harinya, kembang setaman disebarkan di ‘perempatan jalan’. Banyak yang menganggap laku budaya ini klenik dan tahayul. Namun kiranya perlu direnungkan rapal ketika membuang kembang setaman tersebut: “Ora nyebar kembang nanging nyebar kabecikan. Sejatining Gusti Ingkang Maha Kuwasa keparenga paring kawilujengan lan karahayon dhumateng sedaya titah Paduka ingkang nglangkungi prapatan punika.”

Masih banyak laku budaya spiritual yang ada di ranah budaya dan peradaban Jawa. Bagi yang tidak mengerti banyak yang menganggap primitif dan bodoh. Namun coba disimak ‘kecerdasan’ Jawa dalam memanipulasi sesaji untuk ritual yang mengharuskan ‘penghilangan nyawa’ hewan. Sesaji kepala kerbau dimanipulasi dengan ‘kerbau-kerbauan’ yang dibuat dari tuntut pisang.

Sesaji kucuran darah segar ayam hitam mulus (ritual penyembuhan ‘kesurupan’) dimanipulasi dengan wujud anak ayam hitam yang masih kuthuk hidup-hidup. Sesaji yang butuh kurban ‘sepasang penganten’ diganti dengan ‘bekakak penganten’. Demikian pula perlu direnungkan tradisi ‘Grebeg Besar’ yang semestinya berupa penyembelihan hewan qurban, diganti dengan ‘tumpeng’ yang terbuat dari penganan dan ‘hasil bumi’ pertanian. Semua ‘kecerdasan’ manipulasi sesaji tersebut menunjukkan konsep bersaudaranya manusia dengan semua ‘titah urip’ yang landasannya ‘Falsafah Panunggalan’. Penghilangan nyawa sesama titah urip nampaknya tidak sejalan dengan rasa pangrasa Jawa.

Berdasarkan konsep ‘pancer mancapat’ (hubungan inti-plasma) banyak kita temukan istilah-istilah dalam KAWRUH KEJAWEN. Yang paling terkenal adalah istilah ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Merupakan capaian tertinggi ‘laku spiritual’, tetapi juga bermakna sebagai pandangan Jawa tentang: sisitim tata semesta, sistim tata negara dan pemerintahan, serta sistim tata kemasyarakatan.

Dalam hal pandangan ‘tata semesta’, maka Gusti (Sesembahan, Tuhan) sebagai inti (pancer), sedang seluruh kawula (ciptaan) sebagai plasma (mancapat). Dalam hal ‘tata negara dan pemerintahan’ maka ide (cita-cita) mendirikan negara sebagai inti (Gusti), sedang seluruh warga negara (apapun poisisinya) sebagai plasma (kawula)2.

Dalam hal ‘tata kemasyarakatan’, Jawa mengkonsepkan ide ‘tata tentrem kerta raharja’. Maka untuk mewujudkannya, perlu nilai rukun dan selaras. Maka ide ‘tata tentrem kerta raharja’ dalam bermasrakat tersebut dijadikan inti (pancer). Seluruh warga masyarakat menempatkan diri sebagai plasma (mancapat) terhadap ide tersebut.

Sistim hubungan ‘pancer-mancapat’ (inti-plasma) juga terdapat pada sistim giliran pasaran (ekonomi), Kliwon sebagai pasaran pusat ‘wilayah pasaran’, sedang Legi, Paing, Pon dan Wage sebagai pasaran di sekeliling ‘wilayah pasaran’. Sistim giliran ‘hari pasaran’ ini pada kenyataannya berkait-mengkait antar ‘wilayah pasaran’ sedemikian rupa teratur tidak ada yang ‘dhumpyuk’ antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dengan demikian, dalam hal kegiatan ‘wilyah pasar’, masyarakat Jawa sudah mengenal suatu sistim yang dinamis, teratur, manunggal, dan mampu mencakup suatu wilayah yang luas.

Struktur sistim ‘pancer-mancapat’ juga berlaku dalam mitologi kesemestaan Jawa. Penguasa Jagad dipersonifikasi sebagai Hyang Manikmaya. Terdiri dari Hyang Manik (inti, pancer) dan Hyang Maya (plasma, manca pat). Dalam pewayangan, Hyang Manik dipersonifikasi sebagai Hyang Jagadnata alias Bethara Guru, sedang Hyang Maya (Taya, Ismaya) dipersonifikasi sebagai Semar, pamomong Jagad. Keduanya merupakan anak derivatif dari Hyang Wisesaning Tunggal (sebutan untuk Sesembahan Jawa).

Inti Kawruh Kejawen

Ajaran atau Piwulang yang ada pada Kawruh Kejawen pada dasarnya mengajarkan kepada manusia untuk memiliki 3 (tiga) aras kesadaran sebagai berikut:

1.Kesadaran ber-Tuhan

Artinya bahwa filosofi Jawa menyatakan adanya Tuhan sebagai Kang Murbèng Alam (Penguasa Alam Semesta). Ujudnya ‘tan kêna kinayangapa’, artinya tidak bias didekati (dihampiri) daya nalar, daya rasa pangrasa, dan daya spirituil yang dimiliki manusia. Maka kemudian, dalam mitologi Jawa, Tuhan berderivate (bertajali, beremanasi) secara bertingkat-tingkat sedemikian rupa sampai bisa dipahami oleh daya nalar, daya rasa pangrasa, dan daya spirituil manusia. Oleh karena itu, sikap dasar wong Jawa terhadap ekpresi kesadaran ber-Tuhan sangat toleran terhadap adanya perbedaan ‘panembah’.

2.Kesadaran Semesta

Merupakan ekspresi kesadaran adanya hubungan kosmis-magis manusia dengan alam semesta dengan seluruh isinya. Wujud ekspresinya berupa pandangan Jawa tentang ‘Bapa Angkasa’ dan ‘Ibu Bumi’. Menurut pandangan Jawa ini, maka ‘uripé manungsa’ disangga unsur-unsur dari angkasa dan bumi yang kemudian ‘kasuksma’ oleh ‘dzat sejatining urip’. Dari filosofi ini pula diturunkan konsep kewajiban manusia menyangga ‘Panunggalan’ atau ‘Kesatuan Tunggal Semesta’, “melu memayu hayuning bawana”. Dari konsep kewajiban manusia tersebut, maka keluarannya berupa ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ yang wajib dioperasionalkan oleh setiap manusia Jawa.

3. Kesadaran wajib beradab bagi umat manusia.

Mengoperasionalkan ‘nilai rukun’ dan ‘nilai selaras’ merupakan ekspresi keberadaban manusia. Di dalamnya terkandung ajaran ‘budi luhur’ guna mewujudkan: kesejahteraan umum dan nuansa damai dalam kehidupan bersama. Bukan sekedar hidup bersamanya sesame manusia, tetapi juga dengan semua mahluk ciptaan Tuhan. Kesadaran bersaudara dengan semua ‘titah dumadi’ merupakan tingkat tertinggi dari keberadaban manusia.

Ketiga aras kesadaran tersebut di atas merupakan ajaran pokok dalam hal melaksanakan ‘Falsafah Panunggalan’.

Panunggalan sebagai Ideologi Jawa.

Sebagai suatu peradaban manusia, maka Jawa memiliki nilai-nilai (values) yang berguna dan mampu memandu bagi manusianya untuk menjalani hidup. Pada kenyataannya, hidup manusia tidaklah sendirian tetapi bersama manusia yang lain maupun semua mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Secara umum nilai-nilai budaya dan peradaban suatu komunitas manusia ada yang bersifat universal, tetapi juga ada yang hanya berlaku untuk ‘komunitas etnis’ manusia yang bersangkutan.

Dalam konteks Jawa sebagai bagian Indonesia dan bagian peradaban seluruh umat manusia, maka nilai-nilai ke-Jawa-an yang perlu diselisik adalah yang berkaitan dengan kepentingan ke-Indonesia-an dan kemanusiaan sejagad. Maka dengan demikian, bisa diselisik ‘ideologi’ Jawa yang bertolak dari nilai-nilai budaya dan peradabannya.

Ketika nilai-nilai ke-Jawa-an bisa diangkat menjadi ideologi, maka dimungkinkan untuk berdialog ‘ideologi’ di kancah internasional. Tidaklah muluk-muluk sekiranya ajaran-ajaran ‘sejatining urip’ (hakekat hidup) Jawa yang bertolak dari ‘Falsafah Panunggalan’ bisa dijadikan ideologi pemersatu umat manusia. Setidaknya bisa dijadikan jembatan penghubung antara kutub peradaban religius berdasar ajaran agama dengan kutub peradaban sekuler berdasar rasionalitas moderen.

Untuk mengantar kepada wacana ini, menarik untuk dikaji carakan aksara Jawa yang oleh banyak pujangga dimaknai sebagai ajaran ‘hakekat urip’. Diantaranya sebagaimana sebagaimana Pratelan wirid Filsafat Nusantara (Penjelasan wirid Filsafat Nusantara)3:

Ha : Hananira sejatining wahananing Hyang

(Keberadaanmu sesungguhnya adalah media adanya Tuhan).

Na : Nadyan nora kasat mata pasti ana

(Walaupun tidak kasat mata, tetapi pasti ada).

Ca : Careming Hyang yekti tan cetha wineca

(Kemanunggalan Tuhan sesungguhnya tidak secara gamblang dijelaskan).

Ra : Rasakena rakete lan angganira

(Rasakan eratnya dengan badanmu).

Ka : Kawruhana jiwanira kongsi kurang weweka

(Ketahuilah akan jiwamu hingga sejelas-jelasnya).

Da : Dadi sasar yen sira nora waspada

(Tersesat bila kamu tidak waspada).

Ta : Tamatna prabaning Hyang sung sasmita

(Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberi pertanda/petunjuk).

Sa : Sasmitane kang kongsi bisa karasa

(Pertanda yang hingga dapat terasakan).

Wa : Waspadakna wewadi kang sira gawa

(Perhatikan rahasia-rahasia ilahi yang kau bawa).

La : Lalekna yen sira tumekeng lalis

(Lupakanlah, bahwa engkau itu akan mati).

Pa : Pati sasar tan wun manggya papa

(Mati tersesat tidak urung menderita hina-dina).

Dha : Dhasar beda kang wus kalis ing godha

(Berbeda dengan mereka yang sudah terbebas dari godaan).

Ja : Jangkane mung jenak jenjeming jiwaraga

(Keinginannya hanya serba tenang dan tenteramnya jiwaraga).

Ya : Yatnana liyep luyuting pralaya.

(Rasakanlah keadaan liyep luyuting pralaya = trance).

Nya : Nyata sonya nyenyet labeting kadonyan

(Benar-benar sepi dan sunyi dari keduniawian).

Ma : Madyeng ngalam pangrantunan aywa samar

(Berada di alam pangrantunan = mati sajroning urip, jangan bimbang).

Ga : Gayuhaning tanna liyan jung sarwa arga

(Tujuan hidupnya tak lain hanyalah sampai di sarwa arga = surga).

Ba : Bali murba misesa ing njero njaba

(Kembali menguasai keadaan lahir batin = jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe).

Tha : Thakulane widadarja tebah nistha

(Demi keselamatan dan kesejahteraan sertta jauh dari kenistaan).

Nga : Ngarah ing reh mardi-mardiningrat

(Berkehendak mendapatkan ilmu (reh) menjaga keselarasan jagad).

Adalah hanya ‘krenah’ Jawa yang memaknai huruf-hurufnya dengan ajaran mendalam tentang ‘sejatining urip’. Hal ini pasti ada maksud dan tujuannya. Setidaknya sebagai upaya untuk menempatkan aksara Jawa pada posisi ‘penting’ dan ‘baku’ bagi wong Jawa sendiri. Posisi penting baku tersebut dalam hal wong Jawa belajar mengerti tentang inti pokok piwulangJawa.

Asumsi lain bisa dibangun, bahwa pemberian makna huruf-huruf aksara Jawa tersebut sebagaui upaya para ‘intelektual Jawa’ dalam mewariskan dan menginternalisasikan ‘ideologi Jawa’. Dasar pemikirannya, bahwa lahirnya pemaknaan aksara Jawa tersebut pada saat Jawa sedang mengalami deraan budaya religiusitas agama (Islam) dan budaya rasionalitas sekuler penjajah Belanda. Himpitan kedua kutub budaya dan peradaban tersebut dirasakan para pujangga bisa berdampak ‘mematikan’ budaya spiritual Jawa. Maka para ‘intelektual Jawa’ tersebut mewariskan ‘ide-ide’ Jawa melalui pemaknaan aksara Jawa. Asumsi para pujangga, memperkirakan bahwa carakan aksara Jawa akan tetap eksis sepanjang jaman. Maka ideologi Jawa akan bisa bertahan sepanjang jaman juga.

Untuk itu, penulis secara subyektif mencoba memahami pesan para pujangga yang mengganggit urutan Carakan tersebut :

Ha Na Ca Ra Ka : Di dunia ini ada dua kutub peradaban (ideologi) : religius agama dan rasionalitas sekuler.

Da Ta Sa Wa La : Kedua kutub tersebut selalu bertentangan (konflik).

Pa Da Ja Ya Nya : Sama-sama memiliki landasan yang kuat.

Ma Ga Ba Tha Nga : Konflik diantara keduanya menuju kemusnahan (peradaban).

Dengan pemaknaan subyektif tersebut, maka bias dipahami pemaknaan aksara Jawa sebagai ajaran ‘hakekat urip’ yang tyerkandung dalam Pratelan Filsafat Nusantara. Ajaran hakekat hidup kiranya bias menjembatani ‘pertentangan’ religiusitas agama dengan rasionalitas sekuler.

Sebagai ideologi, Jawa memang memiliki konsep untuk ‘hidup bersama’ dan ‘bernegara’. Bahwa konsep ‘Negari eka adi dasa purwa panjang punjung pasir wukir gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja’ yang arti ringkasnya: negara berdaulat lahir batin dihormati negara lain, berwawasan lingkungan, mampu mencukupi kebutuhan seluruh rakyatnya, subur makmur, amantenteram dan sejahtera. Kiranya konsep bernegara yang demikian mewakili idealisme bernegara yang paripurna.

Kesimpulan

Sesungguhnya masih cukup banyak hal tentang Falsafah Panunggalan yang belum tersajikan. Namun sedikit wacana tersampaikan bisalah kiranya untuk dijadikan masukan dalam rangka memulai kegiatan penelisikan terhadap budaya dan peradaban Jawa.

Berikut kiranya bisa diambil kesimpulan dari wacana pemikiran ini:

1. Aras dasar budaya dan peradaban Jawa (termasuk budaya spiritual) berpangkal tolak dari Falsafah Panunggalan. Aras dasar dimaksud sudah ‘mbalung sungsum’ pada diri setiap manusia Jawa sehingga menjadi ‘pertahanan alamiah’ ketika bersinggungan, beradaptasi, dan mengadopsi nilai-nilai dari budaya dan peradaban lain.

2. Inti ajaran Kawruh Kejawen bersumber dari ‘Falsafah Panunggalan’ dan fokus utama piwulangnya untuk kepenting ‘hidup bersama’ dengan semua titah Tuhan penghuni alam semesta.

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info

AJARAN RANGGAWARSITA

sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info
sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info



Pembukaan :

Amenangi jaman edan 

ewuh aya ing pambudi 

Melu edan nora tahan 

yen tan melu anglakoni 

boya kaduman melik 

Kaliren wekasanipun 

Dilalah karsa Allah 

Begja-begjane kang lali

luwih begja kang eling lawan waspada”

(pupuh 7, Sent Kalatidha)

Terjemahan :

Mengalami jaman gila

sukar sulit (dalam) akal ikhtiar

Turut gila tidak tahan 

kalau tak turut menjalaninya 

tidak kebagian milik 

kelaparanlah akhirnya 

Takdir kehendak Allah 

sebahagia-bahagianya yang lupa

lebih berbahagia yang sadar serta waspada”. 

- Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku yang benar.

- Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat kesusahan yang terjadi pada jaman itu . . . 

Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah mereka yang sadar/ingat dan waspada.

- Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup.

I. Tawakal marang Hyang Gusti

- Pedoman yang pertama; yaitu kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan. 

- Pedoman inilah yang menjadi dasar hidup, perilaku dan karya manusia.

1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan” 

(pupuh 6, Kalatidha).

Arti :

Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban. Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan. 

2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling lawan waspada”

(pupuh 7, Kalatidha)

Arti :

- Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar ingat dan waspada.

- Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa) Allah. 

- Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur. 

3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma.

(pupuh 8, Kalatidha)

Arti:

Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih sayang Tuhan.

- Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu harus terlepas dari hal keduniawian.

- Supayantuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih sayang Tuhan.

4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung.

(pupuh 9, Kalatidha)

Arti :

Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan.

- Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong manusia dalam kesusahannya.

- Mangunah : Pertolongan Tuhan

Prapti : Datang.

5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.

(pupuh 10, Kalatidha)

Arti:

Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang Tuhan.

6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih.

(pupuh 11, Kalatidha)

Arti :

Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih.

7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga mesti martaya.

(pupuh 12, Kalatidha)

Arti

(Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan.

- Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia.

Pupuh-pupuh tambahan:

8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip, uripe tansah tungga”.

(pupuh 88, Nitisruti)

Arti:

Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan; tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci.

- Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang), pada tahun saka atau 1591 M.

- Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya.

- Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan Gusti-Nya.

9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda, binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing widi.

(Dari serat Pranawajati)

Arti:

Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup, menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan.

- Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita

- Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan.

10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”.

(Dari serat Sabda Jati)

Arti:

Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati.

11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera; sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati. 

II. Eling lawan Waspada

- Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan waspada.

- Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan malapetaka.

Pupuh-pupuh :

1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling lawan waspada.

(Pupuh 1, Kalatidha)

Arti :

akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar / ingat dan waspada.

2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor.

(Pupuh 8, Sabda Jati)

Arti:

Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya, kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau meniru (hidupnya} menjadi rendah.

3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Monon”.

(Pupuh 9, Sabda Jati)

Arti :

Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang, itulah kemurahan Tuhan.

- Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita.

- Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar.

- Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan datang membawa kebahagiaan batin.

4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip.

(Pupuh 83, Wedhatama)

Arti :

Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup.

5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal, kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir.

(Pupuh 86, Wedhatama)

Arti :

Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala kehendak, disegenap alam seluruhnya.

- Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV.

6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”; yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat; untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat.

7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan, baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup.

III. Rame ing gawe.

- Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya dan kerja keras. 

- Menggantungkan diri pada wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir.

Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya?

1. Ada tertulis:

Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”.

(Ayat 5, Bagian II Kitab Nitiyastra).

2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila kegagalan menghampiri kerjanya?

3. …. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.

(Pupuh 10, Kalatidha)

Arti :

…. Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh, pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan.

- Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha.

4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora ana.

(Tembang Dandanggula, Serat Rama)

Arti :

Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama : Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar, itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha).

5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu.

Catatan:

Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki Yosadipura.

(1729 – 1801 M)

IV. Mawasdiri:

- Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan jiwa sendiri; yang merupakan tugas semua mamusia hidup.

Pupuh-pupuh:

1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning Hyang Suksma.

(Pupuh 8, Kalatidha)

Arti :

Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat/kasih sayang Tuhan.

- Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat.

2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun, samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi.

(Pupuh 2, Pangkur, Wedhatama)

Arti:

Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam pergaulan, kurang adat memalukan.

3. …. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri, lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul.

(Dari babad Giyanti)

Arti :

….Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi, lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya).

- Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati.

4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan lahir dan batin.

5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane, dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”.

(Dari babad Giyanti)

Arti :

Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul.

6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya teguh timbul).”

(Tembung Mijil, Dari babad Giyanti)

Arti :

Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata tersingkirkan, menjadi teguh kebal.

7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan.

Cita-cita kemasyarakatan.

1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu.

2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya.

3. Dengarlah!

4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama.

(Dari Serat Sabdapranawa)

Arti :

Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan.

5. Ngarataning mring saidenging bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh tama.

(Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa)

Arti:

Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera.

6. Demikianlah yang dicita-citakan pujangga agung Ranggawarsita. 








sepatu orthopadi orthoshoping.com sepatu untuk koreksi kaki pengkor/ bengkok pada balita kelainan kaki pada balita arrow
Ads orthoshop info